[Fiksi] Daun Ek dan Perempuan Poni

Original photo by Paul Duncan.

Aku merasa salah satu daun ek yang jatuh sore itu di Central Park tidak gugur langsung ke jalan setapak yang bertumpuk salju di hadapanmu. Ia terbang jauh menyisir-nyisir udara, kadang-kadang terbang sangat tinggi, kadang-kadang nyaris sekali menyentuh daratan, tapi kemudian ia sampai di lautan dan tertiup angin yang membuatnya tinggi lagi.

Daun ek itu lalu tampil di muka sebuah rumah berdinding gading. Ia mengetuk-ngetuk pintu, tapi ketika seorang perempuan paruh baya bermata sepi membuka pintu, daun merah kekuningan itu bersembunyi di balik dedaunan pandan di teras rumah. Kehilangan nyali.

“Wow, tubuhmu wangi,” kata ek kepada pandan.

“Dan, kamu cantik. Cantik sekali sampai-sampai tadi aku nyaris terperangkap napasku sendiri,” pandan bersuara tipis.

Tapi, daun ek menerbangkan diri lagi, mengintip lewat seluruh kaca jendela yang ada di rumah itu. Ia mencari-cari sesuatu yang sudah hidup di pikirannya sejak sangat lama. Tapi, ia hanya mendapati sepi yang sama sepinya seperti mata perempuan tadi.

Ek melompat-lompat di genting, mencari perhatian siapa pun yang tidak kesepian. Karena ia tidak mencari sepi. Ia takut sepi. Ia mencari sesuatu yang lain yang bukan kesepian.

“Tuk…tuk tuk…,” batang daun ek mengetuk genting-genting.

Suara derit pintu kedengaran di kejauhan. Daun ek mengintip hanya seujung daun. Ia melihat perempuan muda berponi mendongak ke genting, lalu ke langit, lalu ke genting lagi, lalu ia hilang di balik pintu coklat tua.

Daun ek memburu kembali jendela-jendela yang belum ia intip. Hingga ada di jendela paling belakang rumah, ia mendapati perempuan tadi sedang duduk menghadapi sebuah mesin tik. Wajahnya rindu. Tangan-tangannya bermain-main di atas tombol tik. Tak tik tak tik tak tik…

Daun ek mengintip sedikit sekali hingga hanya paling ujung daunnya yang kelihatan menyembul di balik jendela. Sekali waktu si perempuan tiba-tiba menatap ke arah jendela lama sekali. Si ek sudah berpikir, bahwa ia tertangkap basah mengintip. Tapi, perempuan itu hanya memiringkan wajahnya sedikit memikirkan sesuatu lalu mengetik lagi.

Daun ek tidak pernah tahu apa yang ia inginkan ketika ia di Central Park, sampai akhirnya ia menemukannya di rumah berdinding warna gading ini. Ya, karena kadang-kadang kita tidak tahu apa yang kita inginkan sampai kita menemukannya.

Ek lalu menginginkan mata teduh perempuan itu hanya untuknya. Ia ingin yang ada di pikiran si perempuan hanya dirinya saja. Ia ingin tangan-tangan yang lihai dan manis itu hanya untuk dirinya saja yang menggenggam, bukan yang lain-lain. Ia malah inginnya hanya dirinya saja yang melulu ia ketik, ia tulis, tidak ada yang lain.

Aku merasa mendengar daun ek itu berbisik untuk dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, daun ek tidak mau terbang-terbang lagi. Ia ingin ada di sini saja bersama perempuan gading itu; menjadi sangat kuning lalu coklat bersama-sama.

Daun ek itu lupa kalau ia sampai ke rumah itu untuk menyampaikan rindumu yang kau tiup-tiupkan di udara untuk perempuan itu. Karena, perempuan itu ternyata menunggumu pulang, bukan menunggu datangnya yang lain. Dan, yang ia ketik-ketikkan sepanjang hari di mesin itu hanyalah kata “rindu” yang berulang-ulang, berulang-ulang hingga beribu-ribu halaman.

10 Maret 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s