Suatu Hari Tiba di Situ dan Candi Cangkuang, Garut

Banyak orang sering memanggil saya Atre saja. Beberapa masih ada yang menyapa Astri. Tapi itu sedikit sekali. Di antara banyak yang mengenal saya, mereka seringkali bertanya, “Habis dari mana? Lama nggak kelihatan?” Saya cuma bisa nyengir.

Sejak awal 2012, saya bekerja di ‘jalanan’. Tidak tercantum sebagai karyawan, tidak punya kantor tetap. Itu artinya juga tidak punya gaji tetap; kadang-kadang dark age yang terlalu gelap, kadang-kadang masa kejayaan gilang-gemilang (ha-ha). Memang banyak menghabiskan waktu di perjalanan, tetapi itu pun bukan jalan-jalan. Inilah si pekerjaan.

Agak kabur jadinya saat beperjalanan, tubuh dan otak harus cakap-cakap mengatur pikiran dengan mode yang begitu kontras: “apakah kerja” atau “apakah liburan”. Jika memang bekerja, lengkaplah sudah barang-barang yang dibawa, mulai dari kamera hingga alat perekam. Panorama seindah apa juga tidak bakal menyerap sampai ke mana-mana. Senja secantik apa pun juga tidak bakal bisa dihirup penuh sampai mengisi paru-paru.

Lain jika mode yang dipasang adalah “liburan”. Kalau bisa tidak membawa apa-apa–bahkan ransel dan pakaian–, saya senang betul. Tapi, liburan adalah ketika pekerjaan ditinggalkan di rumah, ponsel bekerja tidak untuk menerima kabar kerja, tetapi hanya kabar senang-senang, dan kamera merekam bukan apa yang sekiranya hendak kita jual tetapi merekam momen atau panorama yang tidak ingin kita lupakan.

Maka, ketika beranjak keliling Garut tempo hari, saya mengatur otak saya dengan mode “liburan”. Meskipun berangkat dalam tim yang bekerja untuk televisi. Saya tinggalkan laptop, kamera “berat”, dan tape recorder yang biasa jadi senjata saya kala kerja. Yang saya bawa adalah buku bacaan, buku catatan, dan ponsel untuk fungsi liburan.

Mode bekerja akan membuat tubuh saya bergerak berkeliling dan memotret lalu bertanya sana-sini jika baru menginjakkan kaki di sebuah destinasi baru. Mode liburan tidak. Ketika tiba pertama kali di Situ Cangkuang yang berada di Kampung Pulo, Cangkuang, Leles, Garut, saya cuma duduk menghadap situ di gazebo dekat penjualan tiket. Airnya hijau gelap sekali; membuat pikiran saya tidak tahan ingin mereka-reka apa yang ada di dasar situ. Situ artinya danau.

Saya menunduk membuka internet untuk mencari apa-apa tentang si situ. Tidak banyak. Hanya dikatakan, di tengah situ ada daratan tempat Candi Cangkuang berada. Saya mendongakkan kepala, dan memandang lurus ke daratan yang berpohon-pohon rindang. Tidak kelihatan candi dari tempat saya duduk. Mata saya malah berkeliling. Beberapa gunung gagah betul berdiri kelihatan dari jauh. Setelahnya saya baru tahu kalau yang kelihatan paling besar adalah Gunung Guntur.

Beberapa rakit panjang yang dicat warna-warni sedang merapat di tepian situ. Mereka diam saja. Tidak ada orang. Dari gazebo, saya berjingkat-jingkat sebentar di antara rakit-rakit. Memandang dengan sangat dekat air hijau yang gelap itu. Ada cerminan saya di air. Lalu saya kembali lagi duduk di gazebo.

Situ Cangkuang-Sukma Dede

Beberapa kawan memanggil siapa saja di bangunan yang seperti kantor tempat wisata ini. Maka, ketika muncul satu lelaki kurus, kawan-kawan langsung bertanya soal candi dan keinginan menyewa rakit yang bentuknya seperti rumah kayu kecil berhalaman kayu. Lelaki ini mondar-mandir memanggil siapa saja si empunya rakit yang bisa membawa kami ke sini. Saya masih duduk di gazebo.

Tidak lama, saya sudah ada di atas rakit dengan headphone besar di kedua telinga saya. Saya jadi soundman dadakan. Terdengar perbincangan mereka yang sedang syuting di kejauhan sana. Suara mereka terdengar sangat jelas, begitu dekat, seperti bicara kepada saya tapi tidak tapi seperti iya. Dengan suara-suara itu di telinga, saya memandang Guntur lekat-lekat. Saking besarnya, ia memantulkan bayangan dirinya di situ. Dari bayangan itu saya sadar, banyak bunga teratai sedang rekah di situ sebelah itu. Beberapa perempuan juga sedang berenang-renang di dekat teratai. Kata pengayuh rakit, “Mereka ambil lumut-lumut di danau.”

Begitu sampai di daratan seberang, kawan-kawan bergegas mengambil gambar-gambar. Jalan mereka seperti cepat sekali. Saya tahu saya akan melakukan itu juga jika bekerja. Tapi kali ini tidak. Saya tertinggal di belakang. Ketika mereka ke kiri, menuju langsung Kampung Pulo dan Candi Cangkuang, saya berbelok sebentar ke kanan. Saya meraih tepian paling dekat dengan Guntur dan menikmati bunga-bunga teratai yang rekah-rekah itu di situ sebelah itu. Beberapa perempuan yang kelihatan kecil yang sedang tenggelam sedada di situ, menengok ke arah saya. Entah karena dorongan apa, saya malah dadah-dadah ke arah mereka. Sok kenal betul, pikir saya. Ha-ha.

Daratan ini sepi. Lebih sepi ketimbang daratan yang tadi tempat gazebo berada. Pohon-pohon tumbuh begitu tinggi. Setua apa mereka? Setua nenek saya yang sudah menginjak 80-an, atau tidak? Saya lalu bisa mendengar cicit-cicit burung-entah-apa di atas pohon. Pohon yang mana pastinya saya tidak tahu. Tapi, keadaan ini enak sekali. Langkah saya jadi saya pelan-pelankan.

Ada enam rumah kayu berbentuk panggung tiba-tiba muncul. Hanya ada enam. Warna dindingnya putih dan kuning dengan genting tanah liat. Rumah-rumah itu sepi. Saya hanya melihat seorang nenek yang hilang-datang dalam sekelebatan mata. Mau ditanya, kabur. Pas sayanya sudah jauh, dia duduk di teras. Mungkin si nenek pemalu. Yang unik dari Kampung Pulo yang statusnya sudah menjadi cagar budaya adalah, ia merupakan kawasan pemukiman atau kampung yang terdiri dari 6 rumah dan 6 kepala keluarga. Jumlah rumah dan KK ini tidak boleh ditambah karena sudah merupakan ketentuan adat. Jadi, jika ada anggota keluarga yang menikah harus keluar dari lingkungan Kampung Pulo #barutahu

Kampung Pulo Garut - Sukma Dede

Keluar dari kawasan pemukiman itu, ada jalan setapak mendaki. Di atas sana, menyembul sedikit pucuk sebuah candi. Kawan-kawan sudah di sini sejak lama. Mereka kelihatan sibuk. Saya hanya melihat candi bernama Candi Cangkuang itu sebentar lalu duduk-duduk di bawah pepohonan tinggi di jalan setapak. Saya membaca Zaman Edan beberapa halaman, lalu menutupnya untuk kemudian menikmati suasana. Saya lalu ingat pada apa kata Frank L. Wright, alam memang tidak akan pernah mengecewakan kita jika kita selalu dekat padanya. Ketika kita merasa dekat pada sesuatu, kita akan terikat, lalu cinta, dan tidak mau pergi-pergi.

Candi Cangkuang ini kabarnya candi Hindu yang pertama kali ditemukan dan satu-satunya candi Hindu di Tatar Sunda. Ada sebuah makam di sebelah candi, yaitu makam Embah Dalem Arief Muhammad. Konon, ia adalah pemuka agama Islam yang dipercaya sebagai leluhur Desa Cangkuang. Nama cangkuang sendiri berasal dari nama pohon yang banyak tumbuh di daerah itu; pohon cangkuang.

DSC_3098

Situ dan Candi Cangkuang ini begitu tenang. Entah itu artinya baik atau buruk. Karena ketika saya senang pada ketenangan itu, saya melihat deretan toko suvenir dalam perjalanan pulang dari candi ke pelabuhan rakit dan mendapati bisnis itu lesu juga kesepian. Serba salah.

 

Credit title photo: Sukma Dede

One Comment Add yours

  1. sayang sekali gan candi nya sudah mulai terbengkalai, mohon lebih di perhatikan lagi ya gan
    sayangilah budaya kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s