Pertama Kali Mendaki Gunung Papandayan

Mata saya silau pada bebatuan kapur yang menutupi daratan yang saya injak. Bau belerang merasuk-rasuk lewat kedua lubang hidung. Asap-asap menguar dari kawah-kawah aktif yang tersebar melubangi daratan kapur. Saya mengernyit terus selama menjalani daratan ini. Salah sendiri tidak bawa kacamata hitam penangkal silau. Yang saya tidak tahu, leher saya ternyata pelan-pelan terpanggang matahari.

“Yang adem-adem saja, bisa tahu-tahu membakar.”

Ini pertama kalinya saya mendaki Papandayan. Banyak kawan pendaki yang bilang, Papandayan itu adalah gunung mudah. Tapi saya rasa, setiap gunung punya misterinya sendiri. Baik yang tinggi, atau yang landai sekalipun. Maka, meskipun ini adalah perjalanan mode liburan, persiapan mulai logistik sampai perlengkapan sebisa mungkin saya lengkapi. Biar tenang.

Gunung Papandayan adalah gunung api di Cisurupan, Garut. Ketinggiannya circa 2.665 mdpl. Kawah-kawah aktif yang berada di daratan kapur ini punya nama Kawan Mas, Kawah Baru, Kawah Nangklak, dan Kawah Manuk. Arah angin kadang-kadang membiarkan asap-asap memasuki teritori jalan setapak pendakian. Asap bukan sembarang asap. Itu adalah uap belerang yang keluar dari perut kawah. Bawa masker jika tidak kuat akan bau belerang. Mau masker motor, masker perawat, masker debu, asal jangan masker perawatan wajah apalagi masker diving.

Setelah kawah-kawah itu tertinggal di belakang, saya menemukan jalan berbatu dan berkerikil yang berkemiringan kira-kira 45 derajat. Ada papan penanda yang bilang bahwa jalur ini baru saja longsor. Jadi kita mesti melewati jalan agak memutar yang  aman. Mungkin perlu diberi tahu, saya ke Papandayan ini pada akhir Desember 2013. Tidak lama sebelum itu, Papandayan mengalami longsor. Beberapa jalan ditutup, dan dialihkan ke jalan lain yang lebih landai–meskipun lebih jauh.

Foto: Sukma Dede

Saya yang tugasnya di trip itu hanya menikmati panorama yang ada di depan penglihatan, tidak terlalu keberatan jika harus berjalan lebih jauh dan memutar.

“Carrier 35 liter saya meski berat, tapi tidak bikin langkah dan hati saya terbebani.”

Bukit-bukit batu yang berwarna coklat muda berganti-ganti dengan bukit-bukit pepohonan yang hijau. Sembari mendaki, saya melihat awan-awan tipis bergerak pelan. Angin semilir enak. Dari jauh, saya mengenali pohon-pohon magnolia dan edelweis. Pohon-pohon sisanya saya tidak tahu namanya. Mungkin, itu sejenis pohon suagi, saninten, kihujan, atau jamuju yang katanya memang adalah vegetasi yang bisa ditemukan di Papandayan. Saya sendiri kurang paham.

Yang jelas, selama pendakian, saya dan kawan-kawan yang kerap berhenti karena sembari syuting berpapasan dengan pendaki lainnya. Selayaknya kebiasaan, selalu ada sapaan setiap kali berpapasan dengan sesama pencinta alam. Minimal senyum. Hangat.

Agak menyenangkan adalah ketika saya dan kawan-kawan sampai di hutan mati. Hampir mirip dengan di Kawah Putih Ciwidey, Papandayan punya satu area berisi pepohonan yang kesemuanya mati. Tapi yang bikin indah adalah pohon-pohon yang tanpa daun itu masih berdiri tegak; meski hanya tinggal ranting-ranting, meski warnanya menghitam. Pepohonan ini mati karena terkena muntahan lahar dari letusan Papandayan di awal 2002. Sekarang, banyak orang menyebut dengan area ini dengan nama hutan mati.

Ini Sukma Dede yang beberapa fotonya saya gunakan.
Ini Sukma Dede yang beberapa fotonya saya gunakan atas seizinnya. Danke, Bang!

Papandayan rupanya adalah gunung berapi yang masih aktif. Luasnya mencapai 10 hektar. Selama itu, saya menikmati betul naik-turun bukit. Papandayan termasuk gunung yang sudah memiliki jalur pendakian yang jelas. Mungkin, inilah yang menyebabkan banyak pendaki bilang ia adalah gunung yang mudah.

Melewati hutan mati, saya menemukan jalan setapak dengan kiri dan kanan jalan penuh dengan pepohonan. Di sini barulah jalan-jalan setapak ini kerap bercabang dan menipu. Banyak pendaki yang lebih berpengalaman bilang, untuk bisa tahu mana jalan yang benar di antara banyak jalan bercabang adalah dari jejak sepatu yang tercetak di tanah. Jika tidak ada jejak sepatu, bisa lihat ceceran sampah yang ada di jalan. Sampah kadang-kadang bisa berguna untuk mengenali jalan yang benar–walaupun bukan artinya kita bisa seenaknya saja membuang sampah banyak-banyak dan sembarangan.

Setelah melewati pepohonan yang cukup rapat itu, saya mendapatkan lahan luas di hadapan saya. Ini ternyata yang bernama Pondok Saladah (2.288 mdpl) yang luasanya 8 hektar. Ketika sampai di Pondok Saladah sore hari, banyak tenda sudah berdiri. Dari dalam beberapa tenda, terdengar bunyi cekikikan beberapa perempuan dan lelaki. Di tenda-tenda lain, terlihat para lelaki rebah-rebahan di atas rumput dan bercakap-cakap.

Saya menengadah. Langit sedang cerah hari itu, meski senja tidak terlalu jingga. Kawan-kawan lalu menemukan tempat di antara pepohonan untuk mendirikan tenda. Lahan di tengah-tengah sebetulnya kosong, tapi gila sih kalau memilih lahan terbuka untuk mendirikan tenda. Angin akan sangat kencang sekali di malam hari. Bayangkan betapa dinginnya. Maka, adalah keputusan yang bijak jika memilih lahan yang berlindung di antara pepohonan untuk tempat kemping.

Pondok Saladah mengingatkan saya pada Surya Kencana di Gunung Gede. Bebungaan edelweis terhampar di sana. Sungai Cisadalah mengalir di dekatnya sepanjang tahun, tidak pernah kering. Sayang, saat itu edelweis sedang tidak berbunga subur. Tapi tidak apa-apa, saya sudah cukup senang karena dikelilingi bebukitan hijau dan ilalang-ilalang yang pelan-pelan bergerak tertiup angin. Maka, sementara kawan-kawan mengambil gambar banyak-banyak, saya beruntung karena sempat duduk-duduk di atas rumput, bersembunyi di balik ilalang-ilalang dan edelweis, lalu menulis beberapa sajak di sana.

Foto: Sukma Dede

Hari itu saya sadar, bahwa kadang-kadang traveling bukan persoalan ingin mencari yang tidak kita temukan di kehidupan sehari-hari. Bukan juga persoalan mencari jati diri. Kadang-kadang traveling hanyalah persoalan meresapi pemandangan sepuas-puasnya tanpa banyak pikir, untuk kemudian mengingat-Nya yang menciptakan semua itu.

 

* Beberapa foto dipotret oleh Sukma Dede.

3 Comments Add yours

  1. hellocels says:

    papandayan emang bagus ka,,,,, akkkkkk anyway, good shoot hehehe

    1. Atre says:

      terima kasih🙂

  2. kazwini13 says:

    Papandayan itu yang asiknya di Tegal Alun… edelwisnya banyaaaak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s