[Fiksi] Negeri Dikangkangi Cumi-cumi

Ada hari-hari ketika manusia tidak terlalu suka pada apa yang dijalani tapi toh harus ia jalani juga. Bukan untuk sekadarnya, tapi untuk tahu bahwa ia kuat dan mampu bertahan. Mungkin seperti yang sedang Dama rasakan belakangan ini.

Beberapa minggu terakhir, Dama tidak suka betul pada perasaannya setiap kali terbangun di pagi hari; lengket karena keringat dan letih karena napas tersengal-sengal. Di dalam mimpi-mimpinya, ia seperti hewan buruan yang dikejar-kejar satu sosok besar membawa gada. Dama kadang-kadang yakin kalau kulit si besar itu berwarna biru tua yang transparan seperti jeli. Tapi, kadang-kadang Dama tidak yakin juga kalau sosok itu bahkan ada.

Begitu Dama lupa pada mimpinya yang melelahkan, ada-ada saja keanehan yang terjadi di sepanjang hari-harinya. Seperti kemarin, pas betul saat Dama ketemu Tina dan baru mulai mengajak ngobrol perempuan yang sudah lama ia suka diam-diam itu, eh, tiba-tiba, Dama seperti melihat mata Tina menjingga, memercik, lalu berapi-api. Dama yang sebelum kejadian itu suka sekali pada mata Tina yang teduh, jadi takut hanya untuk melirik ke arah wajah Tina. Dama menunduk terus memandang sepatu Tina yang datar seperti sepatu para pebalet. Tina yang capek dicuekin, akhirnya pergi.

“Mungkin api itu tanda kalau Tina suka banget sama kamu, Dam!” si Toro berkomentar sembari mengunyah siomay berbumbu kacang di kantin.

Pala lu suka! Tina jadi serem gitu,” Dama bergidik.

“Lha ya iya, on fire, men, berapi-api. Hot. Naksir berat itu dia.”

Tauk ah. Takut gue jadinya,” Dama ngeluyur pergi.

Sekarang, setiap kali melihat Tina bahkan dari kejauhan, Dama berbelok, melipir, bahkan sampai putar arah hanya supaya tidak berpapasan dengan Tina. Dama membenak, perempuan kalau sudah terlalu mendamba-damba sesuatu, malah jadi menyeramkan.

Sempat beberapa hari, Dama bersyukur tidak ada keanehan yang terjadi dalam hidupnya. Persoalan raksasa dan Tina sudah ketinggalan di belakang. Sudah ia lupakan. Dama sudah berpikir, mungkin hidup tidak seaneh itu. Ia berpikir, hanya ia sendiri saja yang berpikir hidup itu aneh. Tapi ternyata, hidup itu memang aneh seaneh-anehnya.

Di berita pagi hari ini, Dama yang sedang menikmati sarapannya, bubur ayam, tiba-tiba tersedak. Di belakang reporter yang melaporkan berita, istana megah di Ibukota dikangkangi cumi-cumi raksasa yang besarnya lebih dari atap istana. Tentakel-tentakel si cumi menjalar ke mana-mana, termasuk menempel ke kamera-kamera dan reporter-reporter.

Cumi-cumi raksasa itu bergeming saja di atap istana. Dua matanya mengerjap-ngerjap pelan ke satu arah. Memandang jauh. Cumi-cumi memang tidak bisa nengok. Ia tidak punya leher. Tapi tentakel-tentakelnya bisa ke mana-mana. Mereka mulai meraih jalanan, warga yang sedang jalan kaki, sampai ke gedung dewan. Entah, panjang juga tentakelnya si cumi.

Dama jadi mual. Reporter-reporter yang masih tenang membacakan berita, tidak sadar bahwa tubuhnya sudah lengket karena cairan. Rambut-rambut mereka lepek. Layar-layar di kamera juga ikut basah karena cairan. Gambar di televisi jadi tidak jelas.

Ketika Dama mengira hal-hal menjijikan sudah berakhir, kamera menangkap si cumi-cumi itu melotot. Dua matanya tidak lagi sayu, tapi garang. Lalu, beberapa detik kemudian, cairan hitam menguar ke segala penjuru negeri. Negerinya si Dama kotor karena cairan hitam. Juga bau amis karena cairan lengket dari tubuh si cumi. Di sini, barulah para reporter sadar dan menoleh ke tempat cumi-cumi itu bertengger. Tapi, seperti dihipnotis, mereka tidak lari. Mereka diam saja di tempat mereka itu. Meskipun apa yang mereka lihat di hadapannya itu terlalu memualkan perut. Tapi mereka diam saja di situ.

Dama yang sudah tidak lagi terlalu mual, menggoblok-goblokkan awak-awak media itu, dan si cumi tentu saja. Dama baru berhenti bersumpah serapah ketika ada bunyi berdebam keras sekali di dinding rumahnya. Dari jendela, Dama melihat salah satu tentakel si cumi sudah menempel kuat di rumahnya. Dama muntah lagi.

3 Comments Add yours

  1. nice, sy jga suka bkin cerpen

  2. Deliadeaa says:

    Pertama liat judulnya, kirain itu cuma kayak kata2 kiasan buat nggambarin sikap para petinggi atau semacamnya, eh ternyata…
    Aku suka sama ceritanya!

    1. Atre says:

      Terima kasih ya Delia🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s