“Hati-hati Kau…”

atre-giri

Saya sudah tahu sejak sangat awal sekali bahwa apa yang disebut perasaan itu tidak pernah bisa mudah diselami. Saya sendiri tidak pernah tahu sedalam apa perasaan saya sendiri. Maka, ketika di saat awal sekali saya bertemu dengan kau, Tjuk, saya sudah mewanti-wanti diri sendiri, “Hati-hati, sekalinya kau jatuh cinta pada lelaki sehangat musim semi itu, kau akan jatuh yang terlalu dan sayang yang sedemikian.”

Pernah ada kalanya pagi terlalu lambat sekali datang. Saya sudah bersajak panjang sekali dan bicara pada langit-langit kamar yang menguning, pagi masih saja terlalu pagi. Mungkin, hari-hari seperti inilah yang membuat manusia yang punya rindu, tidak pernah enak berpikir. Pram pernah mengungkapkan kegelisahan Minke yang terbayang-bayang wajah cantik Annelies di mana pun dan kapan pun si monyet itu berada. Minke tidak bisa enak makan, enak belajar, sampai enak tidur. Tapi saya tidak pernah berani menyamakan rindu yang saya punya untuk kau, Tjuk, dengan rindu Minke untuk Annelies, Tjuk. Sungguh tidak berani.

Pernah di suatu waktu, sayang itu penuh sekali. Saya yang punya hati hanya satu–untuk kau saja, Tjuk–sampai megap-megap karena sayang. Ibu sempat bilang, “Tutup saja sebentar mata kau, Nak. Bayangkan daun-daun yang mengepak-ngepak karena angin yang usil. Nanti megap-megap kau akan hilang, dan bebanmu akan hilang lalu tubuhmu akan seringan angin sore.” Ibu mengatakan hal itu sembari ujung jarinya bertebaran benih-benih dandelion yang lepas-lepas.

Ibu mana tahu kalau meski mata saya menutup rapat dan saya membayangkan yang macam-macam, bau tubuh kau, Tjuk, tetap lengket di pikiran. Tidak bosan-bosan, malah selalu menyenangkan. Sampai hari ini, ketika saya dan kau sama-sama jatuh cinta selama dua tahun lebih satu hari.

Saya akhirnya mengakui diri sendiri, bahwa ketika sekalinya saya jatuh cinta pada kau, Tjuk, saya akan jatuh cinta yang teramat. Dan memang betul. Seperti tidak ada lagi musim-musim lain yang bisa menggantikan hangatnya musim yang kau punya. Seperti tidak ada lagi bau di dunia ini yang semenyamankan bau tubuh kau. Seperti rasanya saya dan kau adalah satu kesatuan yang tidak hidup lagi jika terpisah.

Saya menyayangimu, Tjuk. Sebesar apa yang terkatakan ataupun tidak pernah bisa dikatakan. Seindah rasa sayang itu sendiri yang sebenarnya tidak pernah ada yang benar-benar bisa mendeskripsikan.

Selamat hari ini, Sayang :*

4 Comments Add yours

  1. Tulisannya hangat sekali. Saya membayangkan, sang Tjuk itu tentu sumringah sekali saat membaca ini. Walaupun mungkin, di paragraf kedua sebelum terakhir itu, ia akan sempat mencium-cium ketiaknya sendiri sebelum lanjut sumringah🙂 Salam kenal, akan melanjutkan membaca tulisan-tulisanmu yang lain.

    1. Atre says:

      Tjuk-nya saya itu lelaki yang tidak banyak tingkah. Mungkin dia ketika baca ini cium ketiak dulu, tapi yang ada di hadapan saya, cuma kedua pipinya yang merona merah jambu gitu deh🙂

      Makasih ya sudah mampir.

  2. titiw says:

    Mengapa aku merinding bacanya ya.. Berasaaa banget rasa sayang kamu ke dia. Langgeng ya kalian berdua.. :’)

    1. Atre says:

      Nak Titiwww, aminnnn.

      Kamu juga langgeng-langgeng sama Mahe yaaa :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s