Ramadhan dan Rindu yang Purba

Jari-jari saya memilin-milin benang-benang di ujung sajadah yang menjuntai. Saya duduk di dalam shaf di antara ratusan orang yang menunggu tarawih. Bisikan-bisikan tasbih, takbir, tahmid, tahlil, dan istighfar, tipis-tipis saya dengar dari banyak hati yang berpasrah pada-Nya. Subhanallah. Alhamdulillah. Allahu Akbar. Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.

Gaung adzan Isya belum juga terdengar. Para perempuan satu per satu mulai berdatangan, semakin menambah jumlah shaf di masjid ini. Para perempuan, sebelum menggelar sajadah dan mengenakan mukenanya, menyempatkan diri untuk salam-salaman atau ngobrol-ngobrol sejenak yang tidak begitu kentara di telinga saya apa topiknya. Para lelaki, dari balik hijab yang membatasi jamaah lelaki dan perempuan, kelihatan juga bermunculan–meski hanya saya bisa lihat hingga sebatas leher saja. Mata-mata mereka kadang-kadang menatap lurus ke depan. Kadang-kadang, ada juga yang mengintip ke para jamaah perempuan dan melambai-lambai pada orang-orang yang ternyata tetangganya.

Saya bertambah tua beberapa tahun sejak terakhir tarawih di masjid yang dekat sekali dari rumah ini. Maka, ketika malam ini berada di tengah-tengah masyarakat yang tumbuh bersama sejak saya kecil, ada kehangatan yang menjalar-jalar di sekujur tubuh saya.

Perempuan-perempuan yang datang malam itu sebagian adalah wajah-wajah familiar yang sudah lama tidak saya akrabi. Beberapa perempuan bertambah tua. Ceruk di pipi mereka tambah dalam. Kerut-kerut di tepian bibir dan ujung mata juga tambah semrawut, tapi wajah mereka cerah dan tentram, seperti wajah-wajah ikhlas yang sering dibasuh air wudhu. Satu dua perempuan itu mengenali saya, dan membuat saya bangkit untuk menyalaminya.

Dari sekian banyak yang datang, ada pula beberapa perempuan yang saya rindu betul tapi tidak pernah lagi bisa datang-datang ke masjid. Mereka sudah tenang di sisi Allah yang Maha Manis. Ada salah satu perempuan yang saya bayangkan hadir di masjid malam ini. Lalu, seperti Ramadhan-Ramadhan yang lalu, ia akan menggelar sajadahnya, salat masjid, lalu akan menyapa, “Eh, Si Cantik…” Perempuan paruh baya yang sederhana ini punya nama sapaan sendiri untuk saya. Yang akan selalu–nyaris selalu–saya respons dengan pelukan. Tahun lalu, ia meninggalkan dunia dalam tidur, tidak sakit, tidak apa, beberapa bulan setelah suaminya yang sudah lama stroke juga meninggal dunia. Allah itu Maha Manis, memang. Tapi, malam ini perempuan itu tidak ada di sini. Ia mungkin sudah lebih bahagia di sana bersama-Nya dan cinta sehidup-sematinya.

Saya melihat wajah ibu sedang melihat wajah saya. Ia tersenyum, dan kembali bertahmid lamat-lamat.

Saya melanjutkan istighfar yang sempat terputus tadi karena lamunan. Tepat ketika menyelesaikan 33 pertama, adzan menggema. Allahu akbar, allahu akbar…

Ingatan saya kembali pada masa remaja. Saya mengenali suara ini. Lelaki empunya suara adalah kerabat sepupu yang sebaya, teman sepengajian, yang sudah tumbuh menjadi muadzin masjid ini. Muadzin. Gagah betul kedengarannya. Hanya tipis sekali ingatan saya tentang wajahnya yang senang betul berlelucon itu. Ia tertawa ke arah saya, dalam bayangan.

Laillahailallah.

Saya memandangi sajadah yang terbujur di lantai. Rakaat pertama salah sunnah sebelum Isya tidak bisa sejernih biasanya. Ada kilatan-kilatan tidak berbentuk yang meronta-ronta di dalam pikiran. Ingatan masa kecil saat huruf-huruf hijaiyah masih dibaca terbata-bata, dan saya merasa gembira ketika akhirnya lancar. Ingatan di masa ketika ayat-ayat Al-Quran adalah bacaan paling favorit di antara semua buku di dunia. Ingatan yang kemudian merangsek ke masa remaja, saat hari yang paling ditunggu-tunggu adalah hari pengajian setiap Rabu dan Minggu malam.

Sajadah saya mungkin saja baru. Begitu pula dengan mukena. Tapi, ada perasaan haru yang pernah saya rasakan tapi sudah lama tidak muncul. Ia muncul hari ini. Hangat yang aneh kembali menjalari tubuh saya tanpa diminta. Allah menjaga orang-orang yang menjaga ibadahnya. Allah selalu bersama mereka yang tidak pernah melupakan-Nya.

Ketika rangkaian Isya itu berakhir, saya menatap kaligrafi-kaligrafi di dinding masjid ini lama sekali. Saya mengenali tulisan-tulisan ini sejak ketika catnya masih basah di awal ia baru dituliskan. Pandangan saya berpaling pada kipas angin-kipas angin yang menempel di langit-langit. Warna-warna mereka mulai pudar. Saya mengenal mereka sejak warna mereka masih cerah.

Dzikir yang sejak tadi bergaung seisi masjid, baru terdengar oleh saya yang baru sadar dari lamunan. Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarikala… Saya kenal pula suara ini. Ada seorang anak lelaki paling kecil yang seringkali ikut kakaknya–kawanku–mengaji. Anak lelaki ini kurus sekali, juga pendiam sekali, tapi kedua matanya selalu tajam melihat Ustadz yang membagi-bagi ilmu. Kini, suaranya merdu sekali mengucapkan dzikir-dzikir. Saya bukan orang yang sangat amat religius, atau orang yang paling suci di dunia, bukan juga ahli ibadah, tapi saya mengerti, ibadah-ibadah dan dzikir-dzikirlah yang membuat hidup tetap waras dan tetap tentram. Tidak hanya saat Ramadhan.

Ingatan-ingatan masa kecil itu membuat saya ingat lagi rasanya dipeluk hangat oleh Allah. Ingatan-ingatan masa remaja itu membuat saya merasakan lagi perasaan tenang yang hanya lahir ketika merasai-Nya.

Tiba-tiba ada kerinduan yang rasanya begitu purba pada Yang Maha Esa. Rindu yang selalu ada, dan tidak pernah bakalan lunas-lunas… sampai mati. Ah, manusia memang tidak akan pernah lepas dari penciptanya. Dari-Nya, kita akan selalu kembali kepada-Nya. Berkat-Nya, kebahagiaan, kesedihan, cinta, rindu, dan segala perasaan yang kita punya itu bermekar-mekaran dan melukis-lukis hidup. Laillahailallah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s