Pagi di Malang

Ketika pagi pertama datang, lonjakan semangat menendang-nendang perut. Kaki-kaki saya bergegas keluar kamar yang bukan kamar saya tapi nyaman, mereguk segelas air yang meluncur ke gelas dari dispenser, lalu membuka pintu belakang. Hawa sejuk serta-merta menelusup ke seluruh bagian tubuh. Saya kuat-kuatkan diri saya akan kesejukan itu. Hanya bertahan lima menit. Saya masuk kembali ke kamar, lalu meraih cardigans hitam pekat kemudian mengenakannya.

Sepi masih mengiris-ngiris udara pagi itu. Sebagian besar isi rumah masih terlelap. Dini hari tadi, kami baru tiba dari Kota Pahlawan, menerabas jalanan yang lengang dan menghajar habis udara dingin yang menggapai-gapai lewat kaca jendela mobil yang tertutup rapat. Dingin gagal masuk, hanya bekas-bekas ciumannya saja yang menempel pada kaca jendela.

Melewati beberapa kamar yang masih kosong karena ditinggalkan penghuninya mudik, lalu beberapa anak tangga dari keramik yang dingin, saya sampai di lantai atas. Kosong. Bunyi telapak kaki saya yang berdecit-decit karena bergesekan dengan lantai keramik yang kesat saja sampai terdengar tipis di telinga.

Debu-debu pada lantai membuat telapak kaki menghitam. Terlambat bagi saya untuk mencari-cari sandal dan mengenakannya. Maka, saya lanjutkan saja melangkah ke balkon. Saya mendapat kedamaian di sini. Entahlah apakah kedamaian ini bisa disetarakan dengan gambaran kedamaian yang dikatakan Siddhartha Gautama, bahwa ia tercipta jika hati dan dalam diri kita tenang.

Peace comes from within. Do not seek it without.

Pemandangan pagi yang tidak pernah saya temukan di Ibukota, terhampar di sini. Meski tertutup beberapa atap rumah, siluet gunung entah apa, lalu pemandangan kota yang tertutup kabut, terlihat di kejauhan.

Beberapa ekor burung memutuskan untuk menghiasi pagi itu dengan cicitnya yang melenakan. Saya berdiri dalam damai yang tercipta dengan sendirinya. Seketika, hal-hal kecil terasa begitu nyata, begitu kentara.

Semut-semut yang berjalan di untaian kabel-kabel listrik terasa bergerak pelan dan jelas. Mereka berhenti sejenak ketika berpapasan. Dua baris yang berlawanan arah itu tidak habis-habis. Tanaman-tanaman yang menjuntai di dalam pot, bergerak-gerak kecil tertiup angin yang sepoi. Hingga kemudian, aroma kopi yang baru diseduh, menguar terbang.

Kesayangan datang membawa segelas kopi susu hangat, menyodorkannya, lalu duduk bersama saya mengamat-amati pagi yang cepat datang tapi juga cepat pergi. Pagi itu semakin damai sudah.

Saya membayangkan betapa tenangnya hidup ini jika ia selalu ada di samping saya. Mulai dari menikmati pagi bersama kopi, hingga menghabiskan senja sama-sama di dermaga, lalu bersemayam dalam pelukan ketika malam.

Entah bagaimana, Scott dan Zelda Fitzgerald menelusup dalam pikiran. Keduanya adalah pasangan menyenangkan dari era ’20 yang kebahagiaannya tenar hingga sekarang. Saya rasa, saya ingin berbahagia dengan lelaki kopi seperti Scott dan Zelda–meski tanpa pesta-pesta dan alkohol yang mereka agung-agungkan, tapi dengan senja dan hari-hari yang banyak cinta.

Dan, demikianlah pagi di Malang. Sederhana, tapi ingin saja saya ulang dan kenang terus. Karena kedamaian dan cinta ada di sini dan sana, …dan karena kesayangan selalu ada di sisi dengan cangkir berisi kopi susu hangat dan renjana yang banyak.

One Comment Add yours

  1. titiw says:

    🙂 Malang memang menyenangkan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s