[Fiksi] Ujian Kerasukan Setan

Sebutlah saja ini sebuah dongeng, bisa saja ini betul terjadi atau hanya dalam khayalan si pendongeng. Hanya saja yang berbeda, tidak seperti layaknya dongeng yang manis serta berbunga-bunga, cerita ini lebih serupa mimpi buruk–yang ketika kita tidak mengingatnya, ia
terlupakan, dan ketika kita mengingatnya, kita tidak punya jalan keluar meski memikirkannya masak-masak.

Katakanlah ada sebuah kampung bernama Kampung Kahil. Ia bisa saja masih termasuk wilayah Nusantara, bisa juga tidak. Sebebas-bebasnya Anda yang membaca saja. Yang jelas, di Kampung Kahil ini, jalan raya beraspal hanya ada satu jalur. Sisanya adalah jalan-jalan berbatu kerikil atau bertanah pasir–karena memang di kampung ini, tanah mereka cenderung berpasir dan tidak liat.

Tidak ada macet, memang, di Kampung Kahil. Tidak ada pemandangan seperti di kota-kota besar tentang rumah yang berderet-deret dengan bentuk yang seragam, lalu membuat ruang jadi padat sehingga tiba-tiba dalam waktu yang sekelebat, tanah kosong semua penuh oleh bangunan. Kampung Kahil masih beruntung karena dikelilingi oleh segala yang hijau, meskipun itu perkebunan kelapa sawit, meskipun itu perkebunan karet.

Tidak ada pula langit yang kelabu dan senja yang samar-samar karena tertutup polusi. Sebab, di Kampung Kahil, langit masih sangat biru dengan awan yang putih gemuk-gemuk serta sinar matahari yang berwarna kuning lalu menjingga jika sudah tiba sore.

Ketika memandang ke sekeliling Kampung Kahil, yang kelihatan dari jauh bisa jadi adalah ketenangan– walaupun ketika Anda memandang lebih cermat lagi, yang ada adalah kesepian. Beberapa orang kerap kali kelihatan mondar-mandir terpisah-pisah; buruh, asisten manajer, guru, mantri, atau ibu rumah tangga yang menunggu anaknya pulang sekolah.

Dongeng ini menjadi mimpi buruk bukan karena kesepian yang sudah biasa jadi makanan sehari-hari masyarakat Kampung Kahil. Kadang-kadang, warga Kampung Kahil merasa bersyukur atas sepi yang hadir di kampung mereka. Biar bagaimanapun, sepi itu baik kadang-kadang. Ia membuat manusia punya waktu untuk bicara pada hatinya. Jadi, bukan itu.

Kita hanya perlu bicara tentang sekolah di Kampung Kahil untuk tahu mimpi buruk yang tersembunyi itu. Di kampung ini, kebanyakan sekolah adalah milik swasta atau perusahaan. Letaknya di tengah-tengah kebun, seperti yang tadi dikatakan, entah kebun sawit atau kebun karet. Sekolah-sekolah negeri terletak jauh di pinggir atau pusat kota. Banyak orangtua yang memilih memasukkan anak-anaknya di sekolah swasta karena takut ada raksasa jahat yang menyulik anak-anak mereka jika mereka sekolah terlalu jauh di kota. Meski entahlah bagaimana pula rupa dan wujud raksasa yang para orangtua itu pikirkan.

Maka, anak-anak mereka sekolah di sekolah terdekat, kebanyakan swasta. Anda tidak perlulah bayangkan sekolah dengan bangunan bertingkat-tingkat, toilet duduk yang bersih, atau taman di pelataran yang berbunga-bunga. Yang disebut sekolah itu adalah bangunan dari papan-papan kayu yang disusun-susun dengan atap dari kayu pula, WC yang bau pesingnya sampai ke tenggorokan, dan pelataran yang botak-botak. Kalau pemerintah daerahnya baik hati, kadang-kadang bisa Anda lihat juga bangunan sekolah yang baru saja diperbaiki dari kayu menjadi semen. Catnya masih segar. Genting-gentingnya masih mengilap. Meskipun, seragam murid-muridnya tetap saja lusuh. Walaupun, mata-mata para murid tetap saja sayu dan sebagian besar lagi, nakal.

Ketika bel pulang sekolah berbunyi, murid-murid ini lekas-lekas membuka sepatu. Mereka meregang-regangkan jemari kaki. Mereka seperti lebih suka bertelanjang kaki untuk pulang ke rumah. Ada yang memilih jalan saja, ada juga yang ikut bus sekolah yang disediakan sekolah.

Murid-murid ini mungkin saja selamat dari raksasa yang dibayangkan orangtua mereka. Tapi, rupa-rupanya, di Kampung Kahil ini, murid-murid ini tidak bisa selamat dari setan-setan yang berkeliaran di sekolah-sekolah mereka.

Mimpi buruk ini sudah dimulai entah sejak tahun berapa, dan entah kutukan dari mana. Apakah karena pernah ada satu murid yang meminta setan-setan ini masuk ke sekolah-sekolah? Ataukah, karena ada seorang guru yang punya niat baik membantu murid, tapi kemudian diombang-ambing setan jadi niat buruk? Kalau Anda tanya saya, saya juga tidak punya jawabannya. Tapi, perkara bahwa ini memang mimpi buruk yang buruk, saya bisa bilang, “Iya.”

Ada satu guru yang ketika tidak dirasuki setan, berbisik cepat-cepat kepada saya, kalau setan-setan ini pertama kali mendatangi kepala sekolah. Setan-setan ini pertama-tama menampilkan wujud cantik dengan mulut yang manis. Mereka bicara tentang nama kepala sekolah yang nantinya akan dipuja-puja. Para setan itu juga bicara tentang martabat kepala sekolah yang nantinya akan terbang ke khayangan kalau menuruti kata-kata mereka. Ah, kata-kata para setan itu begitu membuai dan membuat kepala sekolah mudah dirasuki. Hingga akhirnya, kepala sekolah kerasukan setan.

Sekelebatan detik kemudian, guru tadi kembali kerasukan setan. Ia bukan lagi dirinya. Ia menjadi salah satu setan di antara banyak guru yang juga kesetanan. Ia meninggalkan saya sendirian di pelataran sekolah. Seperti masih ada rasa penasaran yang penuh, saya mengikutinya dengan diam-diam masuk ke sebuah ruang kelas yang kosong.

Hari kian sore. Murid-murid sudah pulang saat itu; anak-anak kelas 6 SD, 3 SMP, dan 3 SMA. Minggu itu adalah minggu ujian akhir, atau UN, atau zaman dulu EBTANAS. Ujian-ujian yang membuat pendidikan jadi lebih rumit dan politis. Yang membuat setan-setan girang untuk ikut ambil bagian.

Guru tadi melongo di meja kerjanya di depan kelas. Di sebelahnya, ada papan tulis kapur yang bertuliskan, “SELAMAT MENGERJAKAN”. Saya mengintip dari balik pintu. Saya melihat si guru menatap amplop cokelat di hadapannya, membolak-baliknya sebentar, lalu membukanya. Ia kemudian mengeluarkan lembar-lembar kertas dari amplop tersebut. Isinya banyak. Saya berjingkat-jingkat ke arahnya, berupaya keras supaya langkah-langkah saya tidak mengeluarkan suara. Entah untung atau tidak, saya baru ingat guru itu sedang kerasukan setan. Ia tidak sadarkan diri, bahkan untuk sekadar mengetahui kalau ada orang lain yang memata-matainya.

Walah, itu kertas-kertas LPJ murid-murid, benak saya teriak-teriak. Jadi, si guru ini mengeluarkan lembar-lembar jawaban murid-murid–yang seharusnya haram untuk dibuka kembali setelah disegel–, lalu ia meneliti satu per satu lembar jawaban tersebut, menghapusnya jika salah, dan mengisinya dengan jawaban yang benar. Setan betul!

Si guru dalam gerakan yang robotik dan tergesa-gesa, memperbaiki satu-satu LPJ tersebut. Tapi, matanya lesu. Pandangannya kosong. Dengkul saya lemas. Bayangkan jika semua guru di Kampung Kahil atau bahkan di Nusantara ini melakukan hal serupa si guru ini? Setan-setan pasti riang gembira.

Ketika tubuh saya hampir merosot ke lantai, si guru tersentak. Pandangannya beralih ke arah saya. Kedua matanya menangkap mata-mata saya. Panas.

“Tolong saya,” katanya berbisik tapi cepat.

“Sudah, stop saja, Guru,” saya juga ikut-ikutan bicara dengan berbisik-bisik, takut suara saya kedengaran setan.

Si guru menggeleng-geleng pelan. “Saya bakal dipanggil kepala sekolah kalau menolak. Surat peringatan sudah siap di laci meja kerja kepala sekolah, jika sewaktu-waktu ada guru yang berulah dan berontak. Saya tidak mau dipecat.” Gelengannya terlihat putus asa.

“Ayo, pulang saja, Guru. Pulang saja,” kata saya.

“Tidak bisa. Di saat-saat seperti ini, setan-setan pasti menunggu di balik pintu, menunggu di sebelah pagar sekolah, menunggu di dalam tubuh kepala sekolah, menunggu di gedung-gedung departemen.”

Rupanya, di minggu ujian nasional seperti ini, guru-guru di Kampung Kahil biasa pulang malam; sekitar jam 9. Itu pun jika seluruh lembar jawaban selesai guru-guru itu periksa–jika tidak bisa dibilang “diperbaiki”.

“Saya cuma pesan, kalau ini bukan mau saya. Saya tidak berdaya. Kepala sekolah yang sudah kerasukan setan, mengancam akan mempersulit urusan tunjangan-tunjangan siapa pun yang menolak perintah. Saya masih butuh tunjangan-tunjangan itu. Saya cuma pesan, ini bukan mau saya. Saya masih mau makan.”

Detik berikutnya, si guru kembali sibuk dengan lembar-lembar kertas di hadapannya. Ia melihat, menghapus, lalu melingkar-lingkari lembar jawaban itu.

“Guru, tapi murid-murid selamat? Guru? Guru?!” saya mendekatkan wajah saya ke wajah guru, tapi ia bergeming. Ia kembali kerasukan setan.

Saya yang ngeri cepat-cepat keluar dari ruang kelas itu. Meski dengkul masih lemas, saya paksakan untuk menyeret badan jauh-jauh dari sekolah. Takut kalau-kalau–meskipun saya bukan guru–, setan-setan itu tiba-tiba iseng ingin juga merasuki seorang pengembara.

Ketika tiba di gerbang sekolah, salah satu guru menyeringai kepada saya. Kedua matanya semerah darah. Gigi-giginya tajam bertaring. Saya–meski kasihan pada anak-anak di kampung ini–tanpa pikir banyak, langsung saja lari keluar kampung, pergi jauh, tidak mau kembali lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s