King’s Park dalam Saturasi Rendah

King's Park-atre

 

King's Park-atre

 

King's Park-atre

Angin bersiup-siup pelan pada daun-daun cokelat kemerahan yang nyaris gugur, pada helai-helai rambut kakek dan nenek yang berjalan santai mengelilingi taman, pada lavender ungu yang mekar seindah-indahnya, pada berpasang-pasang kekasih yang memadu percakapan di tengah padang rumput.

Ada tawa hari itu dari seorang perempuan pembawa balon putih-merah jambu, dan ibu-bapaknya yang turut gembira akan kelulusan belajarnya. Entah apakah ia sudah sadar bahwa kita ini adalah murid seumur hidup, dan belajar tidak akan berhenti sampai di situ.

Seorang ibu muda berlutut pada anak lelakinya yang berbahagia melihat keluasan pemandangan Perth yang sibuk dan Sungai Angsa yang luas dari King’s Park. Ibu itu bilang kepada anaknya, “Lihat mobil-mobil yang kelihatan kecil-kecil itu, Nak. Itu seperti Tuhan melihat kita.” Dan, anak lelaki itu menganga takjub sembari satu tangannya menggenggam telapak ibunya, dan tangan lainnya menggenggam pagar besi taman.

Angin masih bersiup-siup sampai sore semakin sore. Orang-orang yang merebahkan diri di padang rumput taman ini semakin banyak. Sebagian besar dari mereka tampak bahagia. Sebagian lagi tidak terbaca mimiknya, karena mereka memilih memejamkan mata. Entah mereka punya terlalu banyak mimpi, atau mereka tidak punya mimpi.

Saya sendiri takjub pada langit yang sangat biru di Perth sore ini. Kebiruan itu seolah begitu selaras dengan hijau-hijau tanaman, bebungaan yang memang sedang musimnya untuk mekar, api abadi di tengah taman, serta monumen-monumen batu di beberapa titik King’s Park; State War Memorial, Honour Avenues, Fraser Avenue, sampai Bali Memorial. Semua seperti sudah dipikirkan.

Burung-burung bahagia di taman ini. Anak-anak pun demikian. Saya yang hanya sempat beberapa jam menikmati taman ini pun, sudah merasa bahagia hanya dengan duduk-duduk tenang di King’s Park. Waktu seperti melambat di sini. Kesibukan tidak punya tempat sama sekali. Dan, seperti dalam sebuah film bersaturasi rendah, King’s Park sore itu begitu nyaris hitam-putih; kebahagiaan dan keruwetan hidup terasa kentara batasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s