Serenade from Wadjemup: Mari Keliling Rottnest Island

Basin Beach-Atre

Dari pulau berjarak 19 km dari Perth, saya bisa mendengar serenata merdu yang tercipta dari debur ombak, pepohonan berdaun kemerahan, dan langit biru. Mungkin, jika Louis Armstrong ada di sini, ia akan menyenandungkan, “And I think to myself what a wonderful world.”

Orang-orang dari Suku Noongar, masyarakat asli Australia yang tinggal di barat daya Western Australia, menyebut pulau ini dengan nama Wadjemup. Artinya, “tempat di seberang perairan”. Wadjemup dan Perth memang dipisahkan oleh lautan. Dulu, mungkin Suku Noongar perlu menggunakan sampan berdayung untuk bisa ke Wadjemup. Namun, jika ditanya sekarang, kita hanya cukup numpak kapal feri, salah satunya Rottnest Express—operator kapal feri terbesar di Rottnest Island.

Pagi-pagi benar, sekitar pukul 06.00, saya sudah tiba di B-shed Fremantle, dermaga tempat saya akan menyeberang ke Wadjemup. Beberapa hari ini di bulan September, udara di Western Australia masih dingin; berkisar antara 10-15 derajat Celcius setiap hari. Musim dingin baru usai, berganti musim semi, tapi WA masih begitu berangin. Maka, menunggu Rottnest Express tiba di dermaga yang terbuka seperti ini, cukup membuat badan gigil dan perut cepat lapar. Ha-ha…

Ketenangan Pulau Sarang Tikus
Jarak tempuh dari B-shed Fremantle ke Wadjemup hanya 45 menit. Setelah itu, saya tiba di pulau tanpa mobil. Ya, tidak ada satu pun mobil yang saya temukan di sini. Jessica Panton, kawan dari Tourism Western Australia, mengatakan, “Orang-orang di sini, turis atau masyarakat lokal, memilih sepeda sebagai alat transportasi. Atau, banyak juga yang memilih jalan kaki. Mobil bukan favorit di sini.” Nice.

Jika tidak familiar dengan nama Wadjemup, mungkin Anda lebih akrab dengan sebutan lain pulau ini, yaitu Rottnest Island. Lucu jika mengingat bagaimana nama itu akhirnya muncul dan menjadi nama pulau ini.

Seseorang bernama William de Vlamingh, penjelajah asal Belanda, datang ke Rottnest Island tahun 1696. Ia menemukan banyak hewan serupa tikus—tapi sangat besar—hidup di sini. Vlamingh pikir, itu memang tikus. Maka, ia menamai pulau tersebut dengan rotte nest; dalam bahasa Belanda artinya “sarang tikus”.

Tidak seperti Perth yang mulai dipenuhi gedung-gedung pencakar langit dan orang-orang yang sibuk lalu-lalang, Rottnest Island lebih tenang. Yang lalu-lalang di pulau ini adalah sepeda-sepeda yang sibuk saling kring-kring. Suaranya tidak mengganggu, malah menyenangkan.

Begitu menjejakkan kaki di pulau ini, sudah terlihat batas pantai yang sangat putih untuk pasirnya, dan sangat biru untuk airnya yang terlihat tidak berombak. Rotto’ memang dikenal sebagai kawasan teluk dan perairan yang tenang.

Gagak-gagak hitam beterbangan bebas. Begitu pula camar yang berbulu putih. Sesekali terlihat peacock asyik main sebebas ia mau.

Peacock Rottnest Island-Atre

Sepagi ini, di padang rerumputan yang hijau segar di dekat pantai, para perempuan dan lelaki berkulit putih, tua dan muda, berjemur sembari berbincang-bincang santai. Waktu seolah melambat di sini, dalam artian yang baik.

There’s No Turning Back
Jessica dan Emily, keduanya berambut pirang, segera membawa saya ke Pedal & Flipper, tempat penyewaan sepeda. Ini waktunya menghabiskan hari dengan bersepeda di Rottnest Island, atau disingkat Rotto’. Iya, bersepeda seperti menjadi aktivitas wajib jika sudah sampai di pulau ini.

Rottnest Island-Atre

Angin masih dingin. Namun, gowes membuat tubuh lebih hangat. Yang paling enak, jika biasanya bersepeda di Jakarta yang udaranya berpolusi, bersepeda di Rotto’ segar sekali. Ada beberapa jalur sepeda di sini. Mulai dari jalanan beraspal yang halus, hingga jalanan setapak berkerikil. Semuanya menawarkan panorama di kanan-kiri yang saujana. Pepohonan ek, maple, eucalyptus, sampai bunga-bunga asli Australia, seperti grevillea, flame pea, dan anggrek. Semua daun dan rumput mulai kecokelatan. Membuat saya sekilas-sekilas membayangkan Afrika atau Baluran.

Wildflower-Atre

Di tengah perjalanan bersepeda, saya melihat seekor hewan yang serupa tikus raksasa. Mungkin inilah hewan yang dilihat oleh Vlamingh di abad 17. “Quokka,” sebut Emily ringkas. Ia bukan tikus raksasa, tetapi adalah quokka—sejenis hewan marsupial (berkantong) pemalu asli Western Australia. Ia hewan yang jinak, tapi cepat kabur jika terlalu banyak orang mengerubunginya.

Quokka-Atre

Setelah bersepeda 1,8 km, saya tiba di Kingstown Barrack. Hari masih pagi, sekitar pukul 09.00. Di sinilah, saya bertemu Eddy dan Andy dari Segway Tours Western Australia. Jantung mulai berdetak lebih kencang. Perasaan kebelet pipis tiba-tiba muncul melihat benda beroda dua bernama Segway yang bertenaga motor listrik itu. Segway mengutamakan keseimbangan tubuh. Ia digerakkan oleh gerakan tubuh kita, seperti menyondongkan bahu ke depan untuk maju, ke belakang untuk mundur, dan mengarahkan stang untuk kendali kanan-kiri.

“Jangan menggerakkan badan terlalu ke depan atau terlalu ke belakang, karena itu akan membuat Segway meluncur terlalu cepat. Kita bisa-bisa menabrak. Buat gerakan tubuh yang lembut. Semakin tubuh kita rileks, semakin kita bisa mengendalikan Segway,” kata Eddy.

Tubuh saya malah tambah kaku setelah mendengar penjelasan Eddy. Wajah pias. Gugup. Disediakan waktu setengah jam untuk latihan mengendarai Segway ini, sebelum tur selama 1,5 jam berkeliling Rotto’. Oh, there’s no turning back!

Di sesi latihan, saya satu kali melindas traffic cone yang dipasang zigzag oleh Andy, juga satu kali menyerempet tiang kayu. Memang ketakutan harus dihadapi, setelahnya kita akan bebas, seperti kata Jim Morrison, lead singer The Doors. Setelah latihan beberapa menit, saya sadar bahwa mengendalikan Segway ternyata tidak semenakutkan itu.

Segway-Foto: Giri Prasetyo

Rasanya sungguh berbeda antara menikmati pemandangan Rotto’ dari atas sepeda atau dari atas Segway. Mengenai letih, memang lebih letih bersepeda. Tapi, mengenai perasaan, jauh lebih mendebarkan Segway. Selama 1,5 jam, saya berkeliling Rotto’ di atas dua roda Segway. Melewati jalan setapak berpasir, taman oak, sampai bertemu pantai yang tersembunyi, untuk kemudian kembali lagi ke Kingstown Barrack.

Rottnest Island-Atre

Setelah Segway selesai, saya bersepeda lagi untuk kembali ke Pedal & Flipper. Dalam perjalanan, saya sempat singgah di sebuah pantai bernama Basin; sekitar 2 km dari titik akhir. Dua perempuan berambut coklat berbikini, sedang berjemur. Kulit mereka sudah mulai memerah. Seorang lelaki sedang menemani anak perempuannya main-main air. Saya menjentikkan jemari ke air. Dingin. Segera mengurungkan niat saya untuk berenang, tapi sudah merasa cukup hanya duduk-duduk saja di tepi pantai—masih membayangkan Segway-ing tadi. Dan, sekali lagi saya dengar, serenata yang merdu dari Wadjemup.

 

*Tulisan ini terbit di Majalah area #265 Oktober 2014
**Foto Segway ride oleh Giri Prasetyo

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s