[Fiksi] Cemas

Angin berdesir-desir menenangkan. Katanya, sisakan kecemasanmu untuk nanti. Akan tiba waktunya kamu cemas menunggu ia pulang untuk membetulkan saluran air yang rusak, sementara air mulai menggenangi dapurmu atau musang entah dari mana, tersangkut di langit-langit rumahmu.

Sisakan kecemasanmu untuk nanti, ketika kamu suatu hari terbangun terlalu siang dan lupa untuk menyiapkan kopi hangat kesukaannya, sementara ia sudah telanjur memulai kerja tanpa kopimu. Cemaslah karena mungkin ia tidak bakal jadi membuatkanmu rak buku yang baru, atau malah batal membelikan sepeda roda tiga untuk si bungsu.

Sisakan kecemasanmu untuk nanti, suatu saat kamu betul-betul butuh.

Meskipun tidak ada yang sia-sia di dunia ini, toh pada akhirnya kamu mesti mengerti bahwa ada yang perlu dan tidak perlu–seperti kecemasan itu sendiri. Setelah berpikir demikian, terserah apakah kamu merasa sekarang perlu untuk cemas, atau tidak perlu?

Pasar Minggu, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s