Mengenal Perth Lewat Jalan Kaki

Pepatah ini selalu jadi andalan saya ketika bersinggungan dengan kota dan jalan kaki. Saya mendengar kalimat ini dari mulut seorang perempuan yang menurut saya tangguh yang tinggal di Surabaya, aktif di C2O Library dan menciptakan komunitas jalan kaki di Surabaya bernama Manic Street Walker. Anita Silvia namanya. Banyak orang lebih senang memanggilnya Tinta.

Tinta, di medio 2012, ketika saya pernah mewawancarainya untuk Majalah Intisari, pernah menyatakan, “Jika ingin mengenal sebuah kota, jalan kaki lah!” Saat itu, konteks yang ia bicarakan memang tentang Kota Surabaya, yang ternyata di dalamnya memiliki kampung-kampung atau desa-desa yang hidup dan mampu mendatangkan keuntungan bagi kota.

Dua tahun kemudian, saya masih saja sepakat dengan kalimat Tinta itu ketika sedang berhadapan dengan Ryan Mossny dari Two Feet & A Heartbeat di bawah sinar matahari pagi dan pohon ek tua di Stirling Garden, Perth, Western Australia. Ryan adalah penggagas komunitas Two Feet & A Heartbeat, yang setelahnya baru saya paham bahwa ia nyaris serupa dengan Manic Street Walker milik Tinta.

Two Feet & A Heartbeat adalah sebuah komunitas yang dibangun pada 2007 untuk memperkenalkan Perth dengan cara yang persis sama dengan yang dilakukan Anita Silvia di Surabaya, yaitu berjalan kaki.

We are realized that some cities are harder to understand than others. Perth being the case,” kata Ryan Mossny, guide sekaligus founder dari Two Feet.

Stirling Garden-Atre

Di ujung September 2014, Perth sedang dalam kondisi tidak stabil. Bicara musim, musim dingin sudah lewat dan musim panas hampir tiba. Maka, musim semi sedang jatuh di kota ini. Angin yang banyak bertiup, masih terasa dingin. Tapi, langit sangat cerah dan biru. Jadi, Perth seperti sedang sangat bersahabat untuk dieksplorasi dengan berjalan kaki.

Jangan lagi ditanya seberapa baik dan mumpuninya trotoar, zebra cross, dan fasilitas-fasilitas khusus untuk pejalan kaki di kota keempat terpadat di Australia itu. Ntap! Mau tidak mau saya yang “hanya orang Indonesia biasa” sigra berkhayal, seandainya Jakarta senyaman ini untuk jalan kaki. Walaupun sedetik kemudian, khayalan itu buyar karena tiba-tiba ada suara motor bising yang naik ke trotoar.

Ryan memulai trip jalan kaki ini dari Stirling Garden di Cnr Barrack Street & St. Georges Terrace, kebetulan hanya 5 menit jalan kaki dari Mercure Hotel, tempat saya menginap.

Pagi di Perth adalah sinar matahari yang tipis-tipis sampai ke kulit. Alih-alih membakar, ia menghangatkan di sela angin yang sibu-sibu.

Terutama di Stirling Garden, daun-daun maple kering gugur di atas padang rumput. Satu-dua orang melintas di taman kota ini, mengenakan setelan jas dan pakaian kantor. Sempat sekali saya melihat seorang lelaki tua duduk di kursi taman, lalu membuka korannya. Cara tepat untuk mengawali hari, saya pikir.

Stirling Garden sendiri adalah taman tertua di Perth. Ia sudah ada sejak 1846. Tepat sebelum pintu masuk taman, ada Patung Alexander Forrest buatan Pietro Porcelli berdiri gagah.

Taman ini bernama Stirling mengikuti nama penemu kota ini, yaitu Captain James Stirling. Bukan berarti saat itu, Perth adalah kawasan kosong. Ia sudah dihuni oleh salah satu suku Aborigin yaitu Whadjuk Noongar yang sudah mendiami kawasan itu selama 40.000 tahun.

Setelah dirasa cukup menikmati matahari pagi di Stirling Garden, Ryan mengantar saya dan kawan-kawan memasuki taman semakin dalam. Di musim seperti ini, bunga-bunga sedang mekar. Rerumputan sedang hijau-hijaunya.

Ryan selintas mengatakan bahwa dibangunnya Perth awalnya sebetulnya adalah akal-akalan. Ketika bangsa Belanda datang ke kota itu sekitar abad 17, Perth digadang-gadang sebagai kawasan subur dengan potensi tanah yang besar. Padahal, sebenarnya, jenis tanah di Perth cenderung berpasir. Sulit menumbuhkan tanaman di tanah semacam itu. Perth sendiri dinamai Perth atas permohonan Sir George Murray asal Inggris untuk mengenang tanah kelahirannya, Perth di Skotlandia. Menarik.

Kami berjalan terus menelusuri taman. Sampai kemudian menemukan gedung kecil nan sederhana yang berdampingan dengan bangunan besar megah. Si gedung kecil itu rupanya adalah Old Court House Law Museum. Ia merupakan gedung pengadilan tertua di Perth. Sudah mulai digunakan sejak 1837 sebagai gedung pengadilan. Sementara, bangunan megah di sampingnya adalah Supreme Court Building. Sayang, museum tutup ketika kami tiba di sana. Ia hanya buka Rabu-Jumat pukul 10.00-14.30. Jadi, tidak banyak yang bisa saya ceritakan di sini, selain bahwa gedung ini didesain oleh H.W. Reveley dan telah beberapa kali berganti fungsi, mulai dari gereja, sekolah, toko, sampai kantor komunitas hukum WA.

Old Court Museum-atre

Matahari semakin tinggi. Suhu udara kalau saya boleh kira-kira adalah sekitar 12 derajat C siang itu. Dari Old Court House Law Museum dan Supreme Court, kami melintasi Supreme Court Gardens yang setipe dengan Stirling Garden, hanya saja lebih lapang. Keluar gerbang taman, ternyata kita sampai di bangunan ikonik Perth, yaitu Swan Bell Tower. Dari jauh, gedung yang sudah mulai beroperasi sejak tahun 2000 ini sudah kelihatan menarik. Swan Bell setinggi 82,5 m berdampingan dengan Swan River.

The Bell Tower ini memiliki 18 bel di dalamnya. Bel-bel ini bukan sembarang bel. Sebanyak 12 bel di antaranya berasal dari gereja tua yang sudah ada sejak abad 14 bernama St. Martin-in-the-Fields di Trafalgar Square, London. Sisanya, adalah bel-bel dari Whitechapel Bell Foundry. Setiap beberapa waktu, bel-bel itu berbunyi, bergaung di udara Perth.

Swan Bell Tower-atre

Kami lalu berjalan lagi. Kali ini melalui jalanan yang lebih ramai dan kawasan yang lebih sibuk. Ryan bicara tentang investasi-investasi dan pembangunan-pembangunan yang sedang terjadi di Kota Perth–meski saya lebih tertarik mengamat-amati taksi-taksi bergaya vintage di kota itu, jalan raya yang sepi kendaraan bermotor, dermaga-dermaga pribadi, dan gedung-gedung pencakar langit.

Private jetty Perth-atre

Di Perth, para penduduk kota banyak yang lebih memilih untuk berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum, seperti bus atau trem, ketimbang kendaraan pribadi. Lalu, jalanan Jakarta yang padat mobil dan motor menyalip-nyalip di pikiran. Ruwet, tapi ngangenin.

Setelah melewati gang-gang dengan grafiti menarik di dinding, kami tiba di sebuah komplek toko yang sangat Inggris. Namanya saja London Court. Tempat yang segera mengingatkan saya pada Diagon Alley di film Harry Potter ini adalah shopping arcade yang lokasinya tepat di pusat bisnis Perth, dekat dengan City Plaza dan gedung Commonwealth of Australia. Di dalamnya, berjajaran banyak kafe, butik, toko suvenir, hingga kantor. Total, ada sekitar 53 toko dan 55 kantor di sana. Banyak orang lalu lalang, keluar-masuk toko, sampai yang duduk-duduk di kafe menikmati secangkir kopi serta cake.

London Court-atre

 

Commonwealth of Australia-atre

Segala tentang London Court memang sangat Inggris. Mulai dari interior arcade yang dipenuhi para ksatria berkuda berbendera Inggris, lantai dengan terracotta tiles, perisai-perisai, baju zirah, gargoyle, hingga lampu-lampu bergaya Tudor.

Menariknya, semula komplek ini dibangun oleh Claude de Bernales, seorang pengusaha besar, pada tahun 1937. Dan, menurut cerita Ryan, London Court ini dibangun demikian untuk memenuhi kerinduan orang-orang Inggris yang sedang bertugas di Australia kala itu.

Ah, harus diakui, Perth adalah salah satu kota yang bersih, tertata apik, dan teratur. Sungguh loveable. Dan, tidak terasa, walking tour sudah berlangsung hingga 2 jam. Ah, akhirnya ada waktu untuk duduk-duduk santai…

Private jetty Perth-atre

 

Info Renjana:
Two Feet & A Heartbeat

Founder: Ryan Mossny
E-mail: ryanm@twofeet.com.au
Alamat: PO BOX 1234 Scarborough WA 6922
Telp.: 0433 328 717
Website: www.twofeet.com.au

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s