Melihat dari Dekat Lomba Kebut Kuda khas Bima: Pacoa Jara

Pacoa jara?

Bangun pagi hari di Sumbawa yang panas, tapi saya tidak kepanasan. Kebetulan, tepatnya di wilayah Dompu, saya mengingap di pinggir pantai, di sebuah mess dari kayu bekas perusahaan penebangan kayu yang sekarang sudah gulung tikar katanya. Pagi itu, sembari bengong-bengong manis di balkon yang menghadap laut ditemani segelas kopi hitam setengah manis, saya, Giri Prasetyo, Gilang Tama, Sukma Dede, Gemala Hanafiah, dan Alvi Zarkasya merasa sepertinya harus melihat pacu kuda khas NTB yang terkenal. Rasanya itu ide yang sempurna, mengingat kita sedang ada di tanahnya para kuda kuat dan perkasa.

Di Dompu dan Bima, pacu kuda ini disebut dengan nama lokal “pacoa jara”. Kuda sendiri memang salah satu ikon Bima. Bentuk pacoa jara itu tidak terlalu beda dengan kebanyakan balap kuda di daerah-daerah lain. Tapi, pacoa jara di Bima memang sudah menjadi tradisi yang dilakukan oleh Suku Mbojo.

Pacoa artinya pacuan. Sementara, jara artinya kuda.

Semula, sesuai tradisi, pacoa jara hanya digelar tiga kali setahun, yaitu di hari-hari besar, terpusat di lapangan pacoa jara di Panda, Kabupaten Bima. Tapi kini, sudah banyak balapan yang diselenggarakan di luar tiga hari besar itu. Balapan kuda jadi hiburan warga dan bahkan jadi ajang pasang taruhan.

Hari itu, saya dan kawan-kawan bermobil tidak jauh dari mess. Kami tiba di sebuah lapangan pacu yang sudah banyak diisi ringkikan kuda.

Ada kuda-kuda yang sedang dipersiapkan untuk balapan; diikat di pohon besar dan oleh pawangnya, dilatih dan diajak pemanasan dengan cara berlari-lari kecil berkeliling pohon itu. Ada juga kuda-kuda yang baru datang. Mereka diangkut oleh mobil-mobil pick up berdesak-desakkan. Ada juga kuda-kuda yang sudah berkompetisi di lapangan, meninggalkan bias-bias debu dari tanah merah di belakangnya yang terbawa gesekan tapal mereka. Cepat betul larinya.

Masyarakat menonton pacuan itu dari tepi lapangan, duduk di atas pagar-pagar kayu yang melingkari lapangan. Kebanyakan mereka memilih sisi lapangan di bawah pohon rindang. Semakin siang, Dompu hari itu memang terik betul.

Sementara saya diarahkan oleh masyarakat lokal untuk ke tengah lapangan. Di sana, ada bangunan kayu dua lantai serupa menara tempat kita bisa melihat 360 derajat sisi lapangan. Biasanya, menara ini tempat para juri melihat pertandingan.

Di depan menara ini, di tepi lapangan, saya lihat ada satu bangunan kayu lagi dengan tempat duduk yang berlapis-lapis meningkat, seperti di stadion. Banyak orang di sana sembari meninju-ninju tangan ke udara dan berteriak. Lalu, ada yang membisiki saya, “Itu tempatnya para penonton yang suka pasang taruhan.” Ooooohhh…

Saya lalu melebarkan pandangan lagi. Banyak kuda di tengah lapangan ini. Mereka dipegang oleh masing-masing satu orang yang mengajak si kuda untuk berlari-lari kecil. Beberapa hanya membelai-belai leher kudanya dan mengajak kuda itu ngobrol.

Tapi saya mulai ngeh. Banyak sekali anak kecil. Di mana-mana, anak kecil memegang cambuk. Di tengah lapangan itu, orang-orang yang memegang kuda-kuda mereka pun juga anak kecil. Orang yang mengajak kudanya bicara juga anak kecil. Lalu, saya melihat para joki yang sedang balapan di lapangan dari viewfinder kamera saya, yang ada di atas kuda itu pun anak kecil.

pacoa jara-joki cilik

Ah ya ini bagian menariknya. Ternyata, balap kuda ini menjadikan anak-anak sebagai jokinya. Joki-joki itu umumnya berusia 5-11 tahun. Setelah lewat dari 11 tahun, anak-anak ini tidak diperbolehkan lagi menjadi joki.

“Ini bukan pertandingan,” kata orang asli sana yang saya tidak tahu namanya. Ini ternyata hanya sesi latihan para kuda itu untuk pertandingan mendatang.

“Kalo cuma latihan, kenapa mereka tetap bertaruh?” kata saya sembari menunjuk menara penonton.

Orang itu tertawa. “Petaruh itu senangnya ya bertaruh. Apa saja dipertaruhkan, walaupun itu cuma latihan,” katanya lagi. Saya cuma mengangguk tipis.

Saya lalu menikmati pacoa jara versi latihan lagi. Kuda-kuda itu berwarna-warni. Ada yang hitam, putih, cokelat muda, dan cokelat tua. Kuda-kuda itu cepat betul, dan gagah. Karena tanah sedang kering, debu-debu naik ke udara setiap kali kuda-kuda menapakkan kaki.

Ada satu kuda dengan satu joki yang eksentrik, yang selalu masuk garis finis di peringkat pertama. Joki yang berusia belum juga 10 tahun itu, mengenakan pakaian loreng-loreng seperti militer dengan wajahnya ditutup masker.

Foto: Sukma Dede

 

Semua orang di menara tempat saya berada, kebanyakan menjagokan anak itu. Saya sempat bertanya nama anak itu, tapi sekarang saya lupa.

Saya cuma bisa berdecak kagum. Ketika kuda-kuda itu berlari sekencang yang mereka bisa di lapangan, para joki pasti akan terguncang di atas kuda mereka. Saya kagum karena anak-anak bisa bertahan di atas kuda dengan beragam manuver. Ada yang agak mencondongkan bahu mereka ke depan, sampai ada yang memeluk leher kuda mereka berharap mereka tidak terbang terbawa angin.

Ah mungkin jika suatu hari kembali lagi ke Sumbawa, saya bisa menonton pacoa jara yang sebenar-benarnya pertandingan. Pasti seru, karena sesi latihannya saja sudah seru!

 

* Untuk bisa tiba di Dompu, dari Jakarta, naik pesawat dengan tujuan Bandara Sultan Muhammad Salahuddin di Bima. Dari Bima, cukup menempuh satu jam jalan darat untuk sampai ke Dompu. Sebetulnya, di Bima juga ada pacoa jara, tapi kebetulan saat itu, saya dkk harus ke Dompu untuk syuting dan untungnya di Dompu juga sedang ada pacoa jara–meskipun latihan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s