Makassar Identik dengan Makanan Enak

18 Maret 2015. Makassar trip hari pertama.

Sebetulnya, ini perjalanan yang tidak terlalu dipersiapkan matang-matang. Sudah niat dari lama memang, saya dan Djantjuk (Giri Prasetyo), ingin ke Makassar. Tapi lalu kami impulsif beli tiket dan berangkat di akhir Maret ini. Out of the blue.

Selain memang mau bakudapa (bertemu, berkumpul, –bahasa Ambon) dengan kawan kami yang bekerja sebagai Air Traffic Controller (ATC) di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, Gilang Ramadhan, saya pribadi punya ngidam yang sudah tiga tahun lalu belum juga kesampaian. Tiga tahun ngidam? Iya, waktu dulu Djantjuk ekspedisi Ring of Fire Adventure untuk MetroTV, ia cerita tentang betapa menarik dan rupawan sekali tujuan wisata di Makassar dan sekitarnya. Tanjung Bira, Selayar, Tana Beru, Maros, dan lain-lain. Serunya, tempat-tempat ini belum banyak diserbu pengunjung. Maka, ketika tiga tahun berselang saya akhirnya betul-betul berangkat ke Makassar dan beruntungnya bisa ditemani sama Djantjuk, saya senang betul. Kebetulan, Djantjuk baru pulang dari Monaco dan Milan, Italia, maka sekalian sajalah melepas rindu-rindu itu bersama di perjalanan.

Kami berangkat naik Sriwijaya Air. Sebetulnya, biasanya itu kami seringnya pilih Lion Air, lepas dari maskapai yang ini sering menunda jadwal penerbangan. Tapi, saat kami sibuk-sibuknya membeli tiket, di tubuh Lion Air sedang ada desas-desus bahwa mereka hendak menutup beberapa rute penerbangan mereka. Karena agak ngeri kalau rute Makassar adalah salah satunya yang ditutup, jadi kami pilih yang aman saja; Sriwijaya. Toh, ketika cek di internet, kami lihat keterangannya bahwa Sriwijaya itu disediakan makanan. Waktu itu, kami dapat tiket PP Jakarta-Makassar seharga Rp1,5 juta/ orang. Standar, sih.

Pengalaman pertama kali naik Sriwijaya itu sebetulnya heboh ya. Baru tahu kalau ternyata “dapat makanan” yang dimaksud itu adalah roti-dengan-rasa-yang-nggak-jelas-tapi-kalo-lagi-lapar-emang-lumayan-banget-daripada-lu-manyun dan air mineral gelas. Lalu, hebohnya lagi rasanya pesawatnya berisik sekali dan banyak anak kecil yang kebetulan lagi rewel. Saya dan Djantjuk cuma senyam-senyum saja merasa seperti sedang naik kereta ekonomi. Alhasil, perjalanan sekitar 2 jam di pesawat, kami gagal tidur.

Tiba di Makassar tepat ketika makan siang, kami disambut Gilang yang kebetulan hari itu libur. Asheek, dia bisa ajak kami keliling-keliling. First stop, penginapan tentu saja. Kami menginap di Tune Hotels, budget hotel yang cukup oke seharga Rp250.000/ malam (tanpa sarapan). Enaknya Tune Hotels di Makassar itu, hotelnya bersinergi dengan Kopitiam Oey. Saya pribadi sih suka memang dengan kopi dan makanan Kopitiam Oey ini.

Kalau dipikir-pikir, sudah lama ya saya tidak menulis cerita perjalanan yang sesantai ini. Lagi mood-nya menulis yang semacam ini. Semoga maklum, ya.

Lanjut. Hari pertama itu kami diajak Gilang untuk makan siang menu khas Makassar; pallu bassa. Salah satu pallu bassa yang terkenal dan enak di Makassar adalah Pallu Bassa Serigala di Jalan Serigala.

Saya awalnya sama sekali tidak ada bayangan bentuk pallu bassa seperti apa. Maka, ketika semua orang sudah memesan, saya masih sibuk celangak-celinguk ke mangkok pengunjung lain yang sudah memesan. Seketika, perut lapar langsung berbunyi krucuk-krucuk. Pallu bassa itu seperti soto tapi dengan kuah yang lebih kental dan sangat gurih. Isinya bisa saja hanya daging, tapi bisa juga minta campur; babat, ati, ampela, daging, sampai telor mentah yang dicelupkan ke dalam kuah panas, yang ketika didiamkan ia akan menjadi telor setengah matang. Biasanya, makan pallu bassa ini dengan nasi putih panas, taburan kremes/ serundeng, dan sambal yang pedas. Alamak, ini enak betul! Tapi hati-hati, kolesterol langsung melonjak. Jadi, jangan banyak-banyak! (Motret makanan nggak ada yang beres, soalnya makanannya semua menggoda, lalu lapar, lalu sikat habis si makanan).

Pallu bassa Jalan Serigala

Kelar makan siang di Jalan Serigala, kami lalu mampir di Zodiac Cafe di Jalan Botolempangan. Jadi, rupanya kalau kita ke Makassar dan pingin ngopi-ngopi di kafe-kafe modern semacam di Kemang atau Tebet, ya kita mesti ke Jalan Botolempangan. Sepanjang jalan ini berjajar kafe-kafe kekinian. Kalau di Zodiac sendiri, saya menikmati betul Kopi Kalosi-nya. Kebetulan waktu itu lagi ngantuk berat, dan menunggu sore karena mau ke Pantai Losari, jadi ngopi item dulu!

Ngopi di Zodiac Cafe

Sudah jelang sore, Gilang mengajak kami ke tempat paling ikonik di Makassar, yang meski mainstream tetaplah harus kita datangi setidaknya sekali seumur hidup: Pantai Losari. Saya sebetulnya sebelumnya tanya, di mana tempat kita bisa ngemil-ngemil sore yang asyik di Makassar? Camilannya tentu saja camilan khas Makassar. Maka ketika Gilang bilang Pantai Losari, ya kami berangkat sudah.

Pantai Losari adalah kawasan pesisir yang sudah dibangun secara modern. Di sana, ada banyak jajaran huruf yang membentuk kata, yaitu Pantai Losari, Makassar, Bugis, sampai City of Makassar. Di sana juga ada masjid terapung bernuansa biru dengan desain yang cantik. Dan betul kata Gilang, di sana memang banyak sekali camilan-camilan yang dijual, mulai dari pisang ijo, pisang epe, dan saraba.

Sebelum mulai ngemil, kami duduk-duduk sejenak di bawah tulisan Makassar. Senja di sana lumayan juga. Hanya saja, ketika saya melongok ke bawah, ke arah air laut, banyak sekali sampahnya. Meski tidak mengeluarkan bau yang menyengat, tapi tetap saja tidak enak dipandang. Kekurangan lainnya adalah begitu banyak pengamen yang beberapa di antara mereka terlalu memaksa minta uang ke pengunjung. Saya lalu ingat video yang dikirimkan Djantjuk ketika ia pergi ke Amerika Serikat, betapa para pengamen itu hanya perform saja dan membiarkan para pengunjung yang menghampiri mereka untuk memberikan uang. Tidak ada paksaan.

Pantai Losari, Makassar

Bahkan, ketika akhirnya kami pindah tongkrongan di tempat pisang epe, para pengamen yang lain juga kelihatan sama memaksanya. Agak kesal juga, tapi ya sudah, saya sendiri cuek dan menikmati pisang epe coklat-keju pesanan saya.

Ini pertama kalinya saya makan pisang epe. Pisang epe adalah pisang yang diasapi sampai pisang itu empuk. Lalu, ia diberi taburan sesuai pesanan. Ternyata, saya tidak terlalu menggemari pisang epe. Lebih suka pisang goreng!🙂

Pisang epe khas Makassar

Waktu mulai gelap dan saya baru hendak menyerah karena kekenyangan (hari pertama di Makassar sudah makan melulu), eh, Gilang masih kekeuh mengajak kami makan malam di tempat enak lain; Mie Awa. Ini adalah kedai bakmi yang legendaris dan sudah ada sejak lama. Di Makassar, Mie Awa ini ada di beberapa tempat, di antaranya Somba Opu (pindahan dari Pattimura) dan Sulawesi. Nah, Gilang mengantar kami ke Somba Opu. Karena kekenyangan tapi penasaran, saya dan Djantjuk memesan bakmi satu mangkok berdua. Untung saja keputusan kami tepat. Satu porsi bakmi apa pun di Mie Awa itu betul-betul jumbo.

Malam itu, saya dan Djantjuk pesan bakmi kering yang saya lupa namanya. Enak. Gurih. Tambah enak jika kita minta sambal cabe, di luar saus sambal yang memang langsung diberikan ketika kita baru duduk.

Ya Allah, perut saya sudah lama tidak pernah sekenyang ini. Dan, saya tidak menyesal. Makassar memang betul-betul surga kuliner.

2 Comments Add yours

  1. adhyasahib says:

    kalau kata suami saya naik pesawat indonesia berasa kayak naik bus, gunjangannya sama🙂, jalan2 ke makassar berasa jadi wisata kuliner ya, semua makanan khasnya di coba🙂

    1. Atre says:

      Hahaha…

      Kebetulan aku baru sekali ini aja yang ngerasain naik pesawat mirip bus kota. Iya, Mbak, ke Makassar maunya makan terus🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s