Cerita dari Karst Maros dan Kampung Berua

Atre & Giri di Kampung Berua

Saya memandang hutan mengagumkan begitu tiba di Rammang Rammang, Maros, Sulawesi Selatan. Ia sama sekali bukan hutan biasa. Alih-alih pepohonan, hutan ini adalah hutan batu yang dipenuhi jajaran karang dan bukit kapur.

Panas mulai menusuk ubun-ubun, saya bisa rasakan. Tapi, kesakitan yang belum seberapa itu teralihkan oleh batin saya yang terheran-heran memikirkan cara karang-karang besar itu ada di tengah permukiman, di tengah daratan.

Melipir ke Maros
Setelah kemarin perut dibuat penuh oleh makanan-makanan khas Makassar, saya dan Djantjuk (si pacar) tidak ada yang berhasil bangun pagi. Ketika cahaya matahari menyelip di sela tirai jendela dan menyilaukan mata, saya baru terlonjak kaget.

“Jam berapa ini?”

Mungkin trip ke Makassar ini bukan perjalanan kami yang ambisius, tetapi toh kami masih punya rencana-rencana. Seperti hari ini, kami hendak berangkat ke Maros, ke perbukitan kapur yang konon terluas kedua di dunia. Tadinya sih mau berangkat jam 08.00 dari Makassar ke Maros. Tapi, begitu saya selesai membersihkan diri, jam dinding sudah serta-merta menunjukkan pukul 10.00.

Dalam gerak yang tidak sigap, saya dan Djantjuk kemudian menunggu Gilang datang menjemput. Gilang hari ini libur kerja, jadi kesenangan bakal bertambah karena ia bisa ikut kami ke Maros. Yeayness!

Makassar hari itu panas sekali. Saya mengingat perasaan panas itu sampai meresap ke balik jeans. Awalnya hangat, lalu burn. Tapi tak apa, lebih baik ketimbang hujan yang bisa membuat langit gelap dan tentu saja, hasil foto bisa jadi suram.

Perjalanan ke Maros diketuai oleh Gilang yang sekaligus menyetir mobil. Kami berangkat akhirnya jam 11.00–yang belakangan kami ketahui terlalu siang. Gilang yang sudah beberapa lama tinggal di Makassar karena bekerja (tadinya tinggal di Sidoarjo), mengaku belum sempat pula ke Maros. Maka, kami pasang saja GPS dan mengarahkan diri ke Maros. Untungnya, Makassar bukan salah satu daerah yang sulit sinyal, ya. Jadi, GPS berjalan baik. Perjalanan Makassar-Maros membutuhkan waktu lazimnya 1 jam, tetapi tempo hari, kami menempuh waktu 1,5 jam.

Maros adalah sebuah kabupaten yang berada sekitar 33 km dari Kota Makassar. Sepanjang perjalanan Makassar-Maros, kami melewati jalan aspal yang bagus dan mulus. Lalu lintas tidak terlalu ramai. Macet tiada. Dari Makassar, kami cukup hanya mengikuti penunjuk jalan yang mengarah ke wilayah Pangkep.

Begitu tiba di Pangkep, untuk mudahnya, cukup mengikuti truk molen (semen) bertuliskan Bosowa. Atau dengan kata lain, berjalanlah ke arah pabrik semen Bosowa di Maros. Jika melihat truk semen Bosowa masuk ke gang di sebelah kanan, ikuti saja karena Karst Maros memang dekat dari Bosowa tersebut. Jika tidak yakin, bertanyalah kepada masyarakat setempat. Kebetulan, ini masih daerah ramai. Masih banyak orang yang bisa ditanyai.

Ketika masuk ke gang yang sama dengan Bosowa, saya ingat betul, saya segera terpesona pada hamparan sawah yang sangat hijau. Saat itu sedang musim tumbuh. Padi sedang bertumbuh subur. Aura semangat segera menguar seisi mobil. Artinya, kami hampir sampai.

Betul saja, masih di kawasan persawahan, di tengah-tengah sawah tepatnya, kami mulai bisa melihat karang-karang besar berwarna abu-abu tua, menegak. Tidak banyak pepohonan tinggi dan rindang di kawasan ini, hanya ada beberapa pohon kelapa dan pinus yang sedang-sedang saja. Maka, ketika matahari ada di atas kepala, terik merajalela. Maka, saya pribadi menyarankan, bawalah pelindung kepala; entah topi, selendang, dan semacamnya.

Melihat karang-karang di tengah sawah itu, Gilang menepikan mobil lalu berhenti di dekat dua pohon kelapa berdampingan. Di sana, ada jalan setapak membelah sawah yang mengarahkan kita ke kawasan batu karang. Kami memutuskan turun dan berjalan.

Beberapa anak kelihatan berjalan kaki. Saya dan Djantjuk berkenalan dengan dua di antaranya yang bernama Izham dan Ardi. Mereka adalah anak-anak Desa Selendrang, desa tempat perbukitan kapur ini berada. Karena berjalan ke arah yang sama, kami lalu berjalan bersama.

“Mau pergi ngaji, Kak,” kata Ardi. Rupanya, anak-anak Desa Selendrang ini biasa mengaji selepas Dzuhur dan selesai sebelum Magrib (sekitar pukul 17.00).

Izham dan Ardi

Kami lalu tiba di kawasan karang yang tadi hanya kelihatan dari jauh. Dari dekat, karang-karang itu rupanya sangat tajam, berlubang-lubang, dan beberapa bagiannya runcing. Tingginya 2-3 kali tinggi tubuh saya yang ‘hanya’ 155 cm. Karang-karang ini besar banget!

Konon, karang-karang ini adalah penanda bahwa Maros dulunya adalah lautan. Bagian karang yang menipis di tengah itu menjadi bukti ketinggian air laut kala itu.

Karst Maros - atre

Sempat melewati rongga-rongga karang itu, kami lalu tiba di komplek bebatuan yang lebih banyak lagi. Kali ini, bentuk batunya beragam dengan ukuran yang juga beragam. Letaknya pun ada yang berbaris rapi, ada yang berkumpul mengguyub. Di beberapa titik, ada kolam-kolam berisi air kecokelatan dengan ikan-ikan kecil berenang-renang.

Karst Maros

Begitu saya memandang sekeliling, tidak hanya karang-karang besar saja yang ada di sana. Banyak bukit yang tertutup tumbuhan (mungkin pakis atau lumut) yang rupanya adalah bukit kapur. Ah, rupanya itulah barisan bukit kapur yang terkenal itu. Cantik sekali. Teriknya matahari jadi terlupakan. Digantikan oleh hijau-hijau dan eksotisme Karst Maros yang penuh cerita.

Izham dan Ardi lalu pamit dan bergabung dengan teman-temannya lagi. Rupanya, tempat pengajian mereka yang berupa rumah panggung ada di tengah-tengah perbukitan karang itu. Pengajian mereka sudah dimulai, maka mereka harus segera masuk kelas.

Anak-anak Desa Selendrang, Maros

Saya dan Djantjuk melanjutkan perjalanan berkeliling Karst Maros. Karst Maros berupa bentangan bukit kapur dan karang yang mencapai hingga 30.000 hektar yang memanjang di Kabupaten Pangkep-Maros. Luar biasa luas. Kawasan ini termasuk dalam wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung (TN Babul) yang bergelar sebagai kawasan karst terluas kedua di dunia, setelah Karst Guiling di Tiongkok. Karena berada di Desa Rammang Rammang, Karst Maros ini kerapkali juga disebut dengan Karst Rammang Rammang.

Djantjuk sempat beberapa kali mencoba memanjat karang-karang ini, tapi terlalu tajam dan terlalu berbahaya. Saya saja linu melihatnya. Ia pun urung.

Setelah menapaki hutan batu, kami bermobil kembali, memasuki jalan beraspal lebih dalam hingga bertemu dengan dermaga kecil bernama Dermaga Rammang Rammang.

Dermaga Rammang Rammang

Beberapa perahu kayu terlihat bersandar di dermaga sederhana itu. Ada yang berukuran sedang. Ada yang lebih besar. Seorang lelaki tua lalu menghampiri kami. Djantjuk pernah ke tempat ini tiga tahun lalu, dan mengatakan dari dermaga ini kita bisa sampai ke sebuah kampung bernama Kampung Berua.

Si lelaki tua itu menawarkan sewa perahu kayu dengan muatan sekitar 8 orang dengan harga sewa Rp200.000 PP. Saya rasa cukup adil. Maka, kami segera naik ke perahu yang menurut perasaan saya, sering sekali tidak stabil dan bergoyang-goyang. Saya pribadi ngeri naik perahu ini. Jadi, ketika sepanjang perjalanan dari Dermaga Rammang Rammang ke Kampung Berua, selama 30 menit menelusuri sungai itu, saya beberapa kali teriak-teriak panik. Ha-ha-ha. Kayak naik rollercoaster begitu lah!

Naik perahu kayu, ngeri-ngeri sedap!

Sepanjang telusur sungai, di kanan-kiri kami adalah pakis-pakis tinggi. Bukit-bukit kapur kelihatan dari kejauhan. Megah. Hari ini, mata saya segar karena hijau-hijau. Beberapa kali, kami melewati jembatan kayu yang sederhana. Hingga saat bertemu jalan menyempit yang diapit oleh batu di kanan-kirinya, kami tiba di dermaga kecil Kampung Berua. Pas 30 menit.

Menuju Kampung Berua

Kampung Berua adalah sebuah kampung yang dikelilingi oleh bukit kapur. Di kampung ini, hanya ada 17 kepala keluarga yang tinggal, dan jumlahnya tidak bertambah. Menurut salah seorang warga Kampung Berua yang tidak ingin disebutkan namanya, anak-anak muda di kampung ini banyak yang memutuskan untuk keluar kampung dan mencari kerja di kota. Karena itu, jumlah rumah dan KK di Kampung Berua tidak bertambah.

Kampung Berua

Rumah-rumah di Kampung Berua berbentuk rumah panggung. Kata warga Berua tadi, rumah panggung ini dipilih karena setiap bulan 12 (Desember) dan bulan 1 (Januari) kampung ini pasti kebanjiran. Air dari Sungai Pute seringkali meluap di bulan-bulan itu.

Lahan-lahan sawah dan ladang berdamping-dampingan di kampung ini. Kerbau-kerbau di siang hari terlihat malas. Warga setempat juga tidak banyak yang kelihatan di luar rumah. Hanya beberapa orang sedang duduk-duduk di gazebo kayu dekat ladang.

Tidak banyak yang saya lakukan di kampung ini. Angin yang sepoi-sepoi sungguh bikin betah dan tidak ingin berbuat apa-apa. Walaupun ada beberapa goa yang menarik untuk dikunjungi, bernama Goa Sikki Berlian dan Goa Baru Berlian.

Ada beberapa tempat lain yang sayang jika dilewatkan ketika berkunjung ke Maros, yaitu:
1. Goa Leang-Leang
Salah satu goa yang menjadi saksi sisa-sisa aktivitas manusia prasejarah, terlihat dari sampah dapur, artefak batu, dan lukisan di dinding goa yang berwujud telapak tangan, gambar manusia, gambar hewan, atau garis-garis lengkung, yang ada di goa tersebut.

2. Kawasan Taman Nasional Bantimurung
Tempat ini kaya akan vegetasi tropis yang subur, sehingga memiliki air terjun dan fauna yang cantik, seperti kupu-kupu, burung, dan serangga.

Pernah pada 1856-1857, seorang naturalis Inggris bernama Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan ini untuk menikmati dan meneliti 150 spesies kupu-kupu yang terbilang langka dan tidak dijumpai di daerah lain, seperti spesies Papilio Androcles.

Ada yang mau menambahkan?

 

*Foto: saya dan Djantjuk

3 Comments Add yours

  1. Fachri wae says:

    Ada yang belum sempat kk lihat di kampung berua.. Yaitu ribuan koloni kalelawar yang kluar dari goa dan dapat kita lihat pada saat hari mulai gelap..

  2. justwae says:

    Ada yang belum sempat kk liat di kampung berua. Yaitu ribuan koloni kalelawar kluar dari goa yang dapat dilihat pada saat sore menjelang malam hari..

    1. Atre says:

      Wah iya, berarti lain kali harus kembali lagi ke sana.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s