Serunya Road Trip Naik Motor ke Bulukumba

Kota Makassar masih terik. Di hari ketiga trip ini, saya dan Djantjuk sudah punya rencana untuk melipir sejenak dari Makassar. Kami hendak melakukan perjalanan ke Bulukumba, sebuah kabupaten di Sulawesi Selatan yang beribukota juga di Bulukumba.

Awalnya, kami mau menyewa motor saja di Makassar. Banyak jasa penyewaan motor yang tersebar di Makassar. Tapi, atas kebaikan kawan kami, Gilang Ramadhan, yang saat ini bekerja sebagai Air Traffic Controller di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, kami mendapat pinjaman motor untuk road trip kami ke Bulukumba. Perkenalkan, Glorya–nama motor kesayangan milik Gilang.

Sebelum road trip hari ini, saya dan Djantjuk sudah punya rencana hendak ke mana ketika sudah tiba di Bulukumba. Bahkan, rute yang akhirnya kami pilih pun karena memang ingin melipir ke satu tempat di tengah perjalanan.

Soal rute dari Makassar ke Bulukumba, setidaknya ada dua rute utama yang bisa kita tempuh, yaitu rute via Jalan Poros Jeneponto sejauh 196 km dengan estimasi waktu tempuh sekitar 4 jam, dan satu lagi, rute via Jalan Poros Malino dengan jarak sekitar 197 km dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari Jeneponto. Estimasi kilometer dan jarak tempuh ini kami dapat dari GoogleMaps. Dari kedua rute ini, kami memilih rute via Jalan Poros Malino. Sebab, kami memang ingin singgah sebentar di Malino Si Kota Bunga itu. Djantjuk pernah cerita tentang keindahan tempat ini; hutan pinus, bebungaan, kebun strawberry, dan hawa sejuk Malino yang memang ialah dataran tinggi. Tapi, ternyata estimasi waktu tempuh versi GoogleMaps itu melenceng jauh dari kenyataan yang sebenarnya.

Kami dan Glorya sudah beranjak dari Makassar pada pukul 10 pagi. Siap dengan beberapa pakaian, kamera, dan jas hujan, kami berangkat.

Perjalanan Makassar-Bulukumba
Hijau-hijau pemandangan Makassar-Bulukumba via Malino

 

Semula, langit terang dan biru, dengan aspal dari jalanan yang panasnya memantul dan silau. Di satu jam pertama, rumah-rumah penduduk masih rapat di kanan-kiri jalan. Beberapa orang melihat Glorya berlalu sampai tertekuk kepalanya. Mungkin karena ransel yang saya bawa cukup besar, jadi menarik perhatian.

Sekitar dua jam berlalu, kami mulai memasuki jalan aspal halus yang sangat panjang. Inilah Jalan Poros Malino. Sisi kanan dan kiri mulai jarang perumahan. Berganti dengan pepohonan dan persawahan. Hawa mulai sejuk, tapi kok langit juga mulai gelap. Hujan ternyata turun!

Saya masih bisa merasakan betapa berdebar-debarnya saya saat itu, karena ketika hujan mulai deras, kami masih berada di tengah-tengah jalan poros sepi yang dikelilingi hutan. Tidak ada tempat berteduh, tidak ada halte, tidak ada rumah, tidak ada apa pun. Hingga akhirnya, Djantjuk melajukan Glorya dengan tergesa, dan jalan kosong mulai kembali diisi rumah-rumah. Kebetulan, ada satu warung yang bisa diteduhi. Berita bagusnya, warung itu menyediakan mie instan dan kopi. Jadi bisa ditebak kemudian, sembari menunggu hujan agak reda, saya dan Djantjuk memesan mie instan rebus dan kopi hangat. Sementara, Glorya termangu disiram hujan.

Ketika makanan dan kopi sudah tandas, hujan ternyata tidak kunjung berhenti. Akhirnya, kami memutuskan kenakan jas hujan lalu meneruskan perjalanan. Kalau terlalu lama berteduh, takut kemalaman sampai di Bulukumba.

Begitulah, kami menghajar jalanan dalam hujan. Sempat mampir tidak jauh dari warung itu untuk membeli stok Tolak Angin, pencegah supaya tidak sakit dan masuk angin. Tolak Angin itu penting, he-he. Setelah itu, dalam hujan, kami lanjutkan perjalanan. Meski hujan, perjalanan tetap menyenangkan. Kami mengeluarkan GoPro beserta tongsis pinjaman dari Gilang. Sepanjang perjalanan yang mulai berkelok-kelok dan mendaki, kami wefie (we-selfie) tidak henti-henti–meski tubuh diselimuti jas hujan kebesaran; punya saya warna biru sehingga membuat saya seperti balon udara yang terang.

Road trip Makassar-Bulukumba
#OOTD: Jas hujan kebesaran

 

Jalan semakin tambah basah. Hujan masih awet, ketika kami tiba di sebuah gapura besar bertuliskan “Malino Kota Bunga”. Kami sudah sampai di Malino!

Sayang sekali, karena hujan masih mengguyur dan kabut ternyata tebal, keindahan Malino tidak memancar terlalu gemilang. Pepohonan pinus di kanan-kiri jalan terlihat digayuti banyak air dan segar berwarna hijau. Bebungaan yang menyebabkan Malino dijuluki Kota Bunga, tidak sempat bisa kami lihat. Ladang-ladang sayuran di kanan-kiri jalan pun hanya terlihat samar-samar karena tertutup kabut. Beberapa orang yang berkelompok dan membawa carrier mereka yang besar-besar kelihatan sedang berteduh. Malino memang juga adalah tempat kemping yang favorit. Kebun strawberry yang berbuah banyak dan biasanya kita bisa petik sendiri buah strawberry itu, tidak bisa kita singgahi.

Tapi, demi menikmati sejenak Malino meskipun kelabu, kami mampir di sebuah penginapan sekaligus kafe bernama D’Strawberry. Ditemani kabut yang menebal, kami memesan kopi hitam panas. Saya memandang berkeliling, ada kebun strawberry di pelataran D’Strawberry. Lalu, di seberangnya ada lahan-lahan hijau didampingi oleh pepohonan pinus yang kini hanya berbentuk siluet. Hening jadi nyaman, dan hujan jadi hangat.

Singgah di Malino
Singgah di Malino

Kami menghabiskan waktu tidak sampai sejam menikmati kekelabuan yang menyenangkan itu. Setelah itu, kami harus melanjutkan perjalanan.

Lepas dari Malino Kota Bunga, ketika jalanan mulai menurun–walaupun masih berkelok-kelok–, hujan reda. Awan gelap hilang. Di samping sawah-sawah yang hijau, saya dan Djantjuk menepi untuk melungsurkan jas hujan kami. Ahhh, betapa leganya. Kali ini perjalanan diiringi langit yang cerah.

Langit cerah, akhirnya!
Langit cerah, akhirnya!

Rupanya, karena memilih rute yang mendaki dan menurun serta berkelok-kelok, waktu tempuh lewat rute Malino menjadi lebih lama. Kecepatan Glorya tidak bisa lebih dari 80 km/ jam karena jalanan yang berliku-liku. Maka, ketika di jam kelima dan kami masih di tengah Jalan Poros Malino, kami tidak heran sama sekali.

Ketika hari mulai gelap, kami baru memasuki Jalan Poros Bulukumba-Sinjai. Sama sekali tidak ada macet, tapi tidak ada pula kendaraan lain yang ada di depan atau belakang kami. Sempat ngeri juga tapi hati ini cuma bisa berdoa yang baik-baik untuk keselamatan kami. Hingga akhirnya kami tiba lagi di jalanan agak ramai, dan berhenti di SPBU untuk memberi Glorya sedikit minum.

Setelah Jalan Poros Bulukumba-Sinjai, kami tiba di Jalan Poros Bulukumba. Dari jalan poros ini, kami sudah tinggal lurus saja untuk sampai ke tujuan, yaitu penginapan di Tanjung Bira. Jangan ditanya sudah betapa kebasnya pantat kami saat itu. Dari mulai hanya kesemutan, sampai mati rasa. Ha-ha-ha.

Hingga akhirnya, ketika jam menunjukkan jam 8 malam, kami akhirnya melihat gapura besar menandai sampainya kami di kawasan wisata Tanjung Bira, Sulawesi Selatan. Alamakkk, akhirnya. Total perjalanan Makassar-Bulukumba lewat Malino termasuk singgah yang kami lakukan, adalah 10 jam. Amaziiingg~

Kami sudah memesan tempat di Bira Beach Hotel. Jika melihat situs-situs rekomendasi, seperti Agoda atau Trip Advisor, penginapan ini memang direkomendasikan. Tapi, begitu kami tiba di penginapan tersebut, bangunan bernuansa kayu itu tidak terlalu memuaskan kami. Tidak terawat, lapuk, dan yang paling mengejutkan, siang hari, air di penginapan tersebut mati. Oalah, bukankah siang hari adalah waktu terpenting kita untuk membutuhkan air karena berenang dan main air di laut? Aneh. Bira Beach Hotel mengecewakan untuk ukuran Rp350.000/ malam (vila di pinggir pantai).

Setelah melihat sendiri ke sana, masih ada penginapan lain yang lebih baik, seperti Nusa Bira Indah atau Sunshine Guest House untuk penginapan berbudget terjangkau. Sementara, jika Anda punya budget lebih tinggi untuk penginapan dengan pemandangan langsung ke lautan, ada berderet vila nyaman yang bisa kita temukan dalam perjalanan ke Pantai Bara. Pantai Bara? Itu typo? Bukan, nama pantai cantik yang masih sepi ini bernama Pantai Bara, dekat Tanjung Bira.

Cerita tentang Pantai Bara menyusul, ya. Saya dan Djantjuk istirahat dulu dari perjalanan 10 jam Makassar-Bulukumba. Selamat istirahat juga, Glorya!

And remember, always take the road less traveled.

5 Comments Add yours

  1. sutiknyo says:

    Iya bira beach emang gak recomended kak…aku selalu saranin sunshine yang bersih murah, kenal baik ma pemiliknya juga…di bara beach juga suka dpt harga temen kok, yang punya bule masih muda…duh jadi kangen menggalau diatas tebing bira sambil ngopi

    1. Atre says:

      Iya ih, ga recommended banget Bira Beach Hotel. Cuma karena di situs-situs itu, yang banyak dibahas cuma Bira Beach Hotel, jadi ya kirain bagus banget. sedih…

  2. sutiknyo says:

    Lha situsnya saling copa keknya mbak ha ha

  3. Gara says:

    Wow, perjalanannya panjang… dan sangat seru! Cerita tentang jalan itu sebenarnya selalu ada ya Mbak, kalau mau dicari, dari kehujanan sampai jas hujan biru yang istilahnya membuat badan seperti balon :haha.
    Pemandangannya keren! Hijau dan bukit bertebing, dengan rasa Sulawesi yang masih belum familiar bagi saya :haha. Apalagi dengan kamera yang bagus banget itu :hihi.
    Ditunggu cerita selanjutnya!

    1. Atre says:

      (((KAMERA YANG BAGUS BANGET ITU)))

      Hahahaha, senang bisa berbagi. Tapi ya selayaknya setiap perjalanan, di balik susah, pasti ada senang. Jadi meski kehujanan dan sempet kesel karena ga sampe-sampe, akhirnya termaafkan ya sama pemandangan yang elok banget sepanjang Makassar-Bulukumba.

      You shud try it someday, Gara!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s