Jalan-jalan ke Tana Beru, Rumah Para Pencipta Pinisi

Terbangun karena suara ombak yang sayup-sayup memang adalah salah satu cara terbangun dari tidur yang istimewa. Setelah 10 jam perjalanan Makassar-Bulukumba, tidur awal dan bangun agak siang jadi obat mujarab untuk mereduksi letih–walaupun pegal-pegal masih terasa sedikit.

Bira Beach Hotel kebetulan memang menghadap langsung ke pantai. Ya, Pantai Tanjung Bira. Tapi, kini Tanjung Bira sudah sangat ramai, mengingatkan saya pada Anyer di Jawa Barat yang sudah menjadi tujuan wisata massal yang difavoritkan. Pesisir pantai dipenuhi banyak keluarga dan para pemuda yang piknik. Sementara, di pantai, banyak orang tertawa senang menikmati beragam aktivitas, mulai dari berenang, sampai banana boat. Saya senang betul melihat kebahagiaan dan kebersamaan orang-orang itu, tapi tidak membuat saya jadi ingin menerjunkan diri ke pantai. Terlalu ramai!

Hingga akhirnya, saya mengajak Djantjuk untuk berpetualang ke tempat-tempat lain di Bulukumba yang lebih tenang. Kebetulan, Djantjuk yang pernah melakukan ekspedisi Sulawesi-Maluku tiga tahun lalu, punya beberapa tempat menarik yang menurutnya, pasti saya suka. Alih-alih mencoba banana boat atau island hopping di kawasan Tanjung Bira, kami berkelana ke tempat-tempat tenang. Mari ajak Glorya jalan-jalan!

Bulukumba Tana Beru-Atre Giri

Pertama, kami ke sebuah desa bernama Tana Beru masih di Bonto Bahari, Bulukumba. Masyarakat setempat ada juga yang menyebutnya dengan Tanah Beru. Desa ini tidak jauh dari Tanjung Bira. Jaraknya hanya sekitar 20 km dari Tanjung Bira. Kita hanya perlu menyusuri lagi Jalan Poros Bulukumba (ke arah Makassar), lalu jangan lengah memerhatikan sebuah jalan (atau gang) di sebelah kiri bernama Jalan Kampung Beru. Sebuah jalan dengan penanda warung di sebelahnya.

Tana Beru 3

Tidak jauh dari mulut gang, hanya sekitar 200-300 meter yang agak berbelak-belok, dari kejauhan mulai kelihatan pohon-pohon kelapa berjajaran. Terik mulai terasa. Bau laut mulai tercium. Laut begitu tenang. Rangka-rangka kayu yang besar dari jauh sudah terlihat megahnya. Rupanya, itu adalah rangka-rangka kapal yang setengah jadi.

Tana Beru Pinisi - Atre Giri

Tana Beru dikenal sebagai desa tempat tinggal para pengrajin kapal. Mereka sudah hidup turun-temurun di desa ini, menciptakan kapal-kapal kuat sejak dulu, mulai dari kapal nelayan hingga pinisi. Ya, pinisi, kapal tradisional masyarakat Bugis-Makassar yang menandakan ketangguhan para pelaut Bugis-Makassar, dengan bentuk kapalnya yang besar dan megah.

Menurut naskah I La Galigo, pinisi sudah ada sejak abad 14 M. Kemegahan pinisi bisa terlihat dari tiang-tiang layar di kapal yang menjadi ‘penangkap’ angin sebagai pendorong laju perahu. Namun, seiring berjalannya waktu, kini banyak pinisi sudah menggunakan mesin diesel sebagai tenaga pendorong.

Saya memandang dengan takjub rangka-rangka kayu berbentuk kapal yang dibuat tepat di tepi pantai itu. Para pengrajin kapal itu memahat dan memalu kayu yang membentuk melodi indah. Sesekali mereka melambai ke arah saya. Saya melambai balik. Tidak hanya orang lokal, ada pula orang asing di tengah-tengah kapal. Rupanya, banyak pula orang luar negeri yang belajar membuat kapal dari masyarakat Tana Beru. Mengagumkan!

Sempat saya mencari rumah makan di deretan rumah yang rapat di tepi pantai di Tana Beru itu. Tapi, tak ada. Saat itu sudah memasuki jam makan siang. Niatnya ingin makan siang di sana. Tapi karena tidak ada, kami hanya mencoba untuk yang pertama kalinya minuman khas Makassar bernama saraba, minuman hangat yang sebetulnya agak kurang pas jika diminum pas siang terik. Sebab, saraba adalah minuman jahe hangat yang di lidah saya, rasanya mirip sekali dengan kuah bubur kacang hijau.

Setelah saraba-an, kami kembali menyusuri tepian pantai, melihat dari dekat kapal-kapal kayu yang sedang dibuat itu. Tidak lebih dari 10 kapal yang saat itu sedang dibuat di Tana Beru. Sayangnya, di antara kapal-kapal itu, tidak ada satu pun pinisi.

Tana Beru 2

Seorang “juragan” kapal di Tana Beru yang pernah diajak ngobrol oleh Djantjuk mengakui, pembuatan pinisi memang cenderung lebih memakan tidak hanya waktu dan energi, tapi juga biaya yang jauh lebih besar ketimbang kapal-kapal kayu yang lain. Bayangkan, satu pinisi dapat menghabiskan hingga miliaran rupiah dengan pembuatan sampai berbulan-bulan.

Luar biasa betul melihat rangka-rangka kapal besar itu, yang nantinya akan menjadi kapal-kapal yang biasa para nelayan untuk mencari nafkah, untuk kita tumpangi saat islands hopping, atau bahkan untuk mengarungi samudera.

Ah, semoga lain kali ke Tana Beru tepat saat ada pinisi dalam pembuatan. Bakal lebih gila lagi kalau bisa coba berlayar dengan pinisi. Wohoo, dream big!

Lepas dari Tana Beru, kami beranjak ke Pantai Bira!

Tana Beru Giri Atre

 

 

Info Renjana:
Tana Beru
Alamat: Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan
Rute: 17 kilometer dari Tanjung Bira, melewati Jalan Poros Bulukumba
Jarak tempuh: sekitar 30 menit

 

2 Comments Add yours

  1. sutiknyo says:

    Aku beruntunh dong ksana dua kali bisa ngerecokin yang lagi buat kapal ha ha..penasaran sama upacara pelepasan lunas kapal ke laut sayahhh

  2. Gara says:

    Woowh, kapal-kapal itu, meski bukan phinisi, tetap demikian megahnya, siap menentang arus dan angin di laut lepas! Takjub sekali pasti melihat kemegahan itu. Dan penduduk sana ramah-ramah, nilai tambah bagi potensi wisata yang layak untuk dikembangkan dan dikunjungi. Saya paling suka dengan foto yang ada di dekat air itu, yang di kejauhannya ada pembuatan phinisi. Keren sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s