Ke Purwokerto Bareng Itong Hiu

SaveSharks Indonesia

Purwokerto menyambut saya dengan gerimis tipis yang malu-malu di malam 13 Agustus 2015. Jalanan lengang yang membentang mulai dari Stasiun Purwokerto menuju Wisata Niaga Hotel–tempat saya menginap–menentramkan hati karena keheningannya. Dalam gelap, saya hanya bisa melihat deretan toko yang sudah tutup, dan tugu di tengah kota yang dibelit-belit oleh lampu-lampu kecil.

Ini kali kedua saya bersama kawan-kawan dari #SaveSharks Indonesia datang ke Kota Mendoan yang bersahaja ini. Kedatangan pertama sudah terjadi sekitar 2 tahun yang lalu. Kali ini, sama seperti kunjungan pertama, #SaveSharks Indonesia menggelar acara untuk berkampanye tentang penyelamatan hiu di Purwokerto khususnya, dan Indonesia serta dunia pada umumnya.

Sejak beberapa tahun belakangan, saya terlibat dalam sebuah pergerakan cinta hiu bernama #SaveSharks Indonesia. Dengan direktur kampanye Riyanni Djangkaru, kami dengan rutin mengadakan beberapa program kampanye. Salah satunya adalah Itong Goes to School (IGTS), yaitu bertemu langsung dengan para pelajar, baik itu di sekolah sampai universitas. Dan, kali ini pun, saya bersama Itong Hiu, Adhisty Prameswari, dan Anindha Hasna mampir di Purwokerto untuk IGTS yang masih dalam rangkaian tur kampanye beberapa kota. Setelah Semarang, Bandung, dan Jakarta, #SaveSharks Indonesia dan Greenpeace Indonesia datang ke Purwokerto dalam bendera bernama IGTS Purwokerto Sayang Hiu, yang bertempat di SMAN 1 Purwokerto, Jalan Jend. Gatot Subroto 73 Purwokerto, Jawa Tengah.

Bekerja sama dengan Greenpeace Indonesia, pada 15 Agustus 2015, di pagi hingga siang hari di Perpustakaan SMAN 1 Purwokerto, kami pada dasarnya mengajak para siswa dari beberapa sekolah yang bergabung di acara ini, untuk seru-seruan berdiskusi tentang laut, hiu, dan kelestarian ekosistem laut.

Kenapa kita harus #savesharks? Karena ketika hiu lestari, ekosistem laut seimbang dan kelestarian laut tetap terjaga.

Hiu sendiri berada di tingkat teratas dalam susunan piramida ekosistem laut, diikuti oleh tingkat di bawahnya adalah ikan-ikan besar seperti salmon dan tuna, lalu tingkat terbawah adalah kategori crustacea (udang-udangan), seperti cumi-cumi, udang, dan kerang. Saat populasi hiu si predator utama berkurang drastis atau punah karena perburuan yang merajalela, ikan-ikan besar di bawahnya jumlahnya berlebihan, dan memakan crustacea hingga nyaris tak tersisa. Sedih, kan, kalau hiu punah, maka kita juga tak bisa lagi memakan seafood yang lezat itu?

Lho, tapi kenapa #SaveSharks Indonesia dan Greenpeace Indonesia malah mampir ke Purwokerto, daerah yang bahkan tidak terletak di pesisir? Meskipun tidak berada di kawasan pesisir, Purwokerto tetap menjadi target pemasaran hiu.

“Seringkali, kampanye kelautan dianggap hanya milik para nelayan, sehingga kegiatan-kegiatan diskusi yang berkaitan dengan konservasi spesies ataupun perikanan secara umum dianggap tidak berkaitan dengan orang awam. Padahal, masyarakat adalah pendorong kekuatan pasar. Oleh karena itu, kegiatan ini sangat terbuka untuk umum, agar lebih membuka mata publik mengenai situasi yang sebenarnya mengenai dampak permintaan pasar terhadap kelestarian ekosistem laut,” tutur Riyanni Djangkaru, direktur kampanye #SaveSharks Indonesia.

Dan, kami bahagia sekali melihat antusiasme masyarakat Purwokerto yang menyambut baik upaya kami untuk memberitakan seluas-luasnya kampanye perlindungan hiu ini. Bahkan, mereka sudah memahami bahwa hiu itu sebetulnya berbahaya jika dikonsumsi. Wow, kami kagum. Anggapan-anggapan bahwa memakan daging, sirip, atau bagian-bagian hiu yang lain itu bisa menambah kejantanan atau stamina, disadari betul hanya mitos oleh para peserta IGTS.

Yap, mereka betul. Hiu memang justru berbahaya jika dikonsumsi, apalagi terus-menerus dan dalam jumlah yang banyak. Kenapa?

Hiu biasa memakan ikan-ikan tidak sehat atau mati di laut. Ia yang berada dalam tingkat paling atas rantai makanan di ekosistem laut, menjadi gudang terakhir bagi seluruh racun di laut. Tidak hanya hiu, tetapi seluruh spesies di tingkat teratas rantai makanan, seperti lemonfish dan rock salmon. Karena itu, hiu memiliki kadar merkuri 10.000 kali lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.

Secara ilmiah, daging hiu diketahui mengandung sebuah zat bernama methyl mercury. Methyl mercury merupakan racun aktif yang secara biologis berbahaya bagi tubuh manusia. Kita mengenal merkuri yang dalam bahasa sehari-hari kita sebut dengan nama air raksa (Hg).

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (Environmental Protection Agency – EPA) menyatakan, kandungan methyl mercury yang maksimal mampu diterima tubuh manusia adalah 0.1 mikrogram/kilogram dari total berat badan. Joint FAO/WHO Expert Committee on Food (JEFCA) menentukan maksimal mercury yang mampu diterima tubuh adalah 0.23 Hg/kg. Dalam 1 kg daging hiu terkandung sekitar 1.400 mikrogram methyl mercury.

Bagaimana jika manusia mengonsumsi daging hiu secara terus menerus? Konsumsi methyl mercury yang berlebihan dapat menyebabkan kegagalan fungsi otak, kegelisahan yang besar, kerusakan liver pada kelahiran, kerusakan ginjal, hingga kesuburan laki-laki.

Bagi perempuan hamil, konsumsi merkuri dapat membahayakan janin dan memengaruhi otak serta sistem saraf bayi. Bayi kemungkinan akan mengalami gangguan kognitif, memori, konsentrasi, kemampuan bahasa, hingga kemampuan motorik halusnya ketika sudah lahir nanti, sampai autisme.

Selain methyl mercury, hiu juga mengandung zat neurotoksin lain, yaitu BMAA. Zat ini dapat menyebabkan berbagai penyakit neurodegeneratif, yaitu penyakit penurunan pada fungsi otak manusia, seperti Alzheimer.

Jadi, masih terpikir untuk mengonsumsi hiu? Mulailah dengan bijak memilih apa yang kita makan, dan hentikan membeli daging hiu jika masih melakukannya hingga kini. Sebab, dengan menghentikan permintaan terhadap hiu, akan berkurang pula (jika tidak bisa sama sekali menghentikan) perburuan hiu yang terjadi.

Tidak berhenti di Purwokerto, #SaveSharks Indonesia akan terus menyebarkan virus sayang hiu ke pelosok Indonesia. Kalian juga bisa banget ikut bagian dalam pergerakan ini dengan menjadi volunteer. Yuk, sama-sama sayang hiu dan menjaga kelestarian ekosistem laut, lalu kita sama-sama melanjutkan perbuatan baik di masa depan.

Purwokerto Sayang Hiu

“Sharks belong to the sea, not on your plate.”
http://savesharksindonesia.org/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s