[Travel Tips] Kenyamanan Travel in Style

atre- kerja itu main

Suatu hari, seorang kawan cerita dengan semangat yang jompak-jompak dan wajah yang sumringah—meski kulitnya jadi agak keling karena terbakar matahari. Ia baru turun dari sebuah gunung di Jawa, yang belakangan ini sedang berlipat-lipat tingkat popularitasnya. “Bagus banget, tapi rame!” katanya.

Ketika akhirnya dia selesai cerita tentang magisnya keindahan gunung dan perjalanan yang tidak terlalu berat tapi juga tidak mudah-mudah amat juga, ia lalu tiba di tahapan cerita saat ia mulai berkeluh kesah. Setiap peristiwa dalam hidup ya memang mestilah begitu; tidak ada yang sempurna. Dan, manusia cenderung punya cukup ruang dan waktu untuk berbagi tentang ketidaksempurnaan yang dialaminya. Karena itu program infotainment laku keras. Karena itu tayangan drama yang pemeran utamanya kayaknya kok sial terus, juga banyak ditonton orang.

“Salah juga, sih, ya aku. Naik gunung, tapi pake sepatu yang baru banget dibeli, sepatu yang masih keras. Jadi aja kaki-kaki lecet. Sepatunya nggak nyaman,” katanya.

Maka, ketika bicara tentang travel in style, bagi saya ini bukan hanya persoalan merek pakaian yang kita kenakan, betapa stylish tatanan rambut yang kita atur, atau tebalnya lipstik dan pupur yang kita sapu di wajah. Bukan. Buat saya, travel in style sebetulnya soal ini.

Kenyamanan. Lha ya buat apa beli sepatu baru buat mendaki gunung kalau akhirnya malah bikin kaki lecet? Padahal, kalau belum tahu, sepatu adalah salah satu elemen terpenting untuk mendaki. Jika belum tahu lagi, yang paling enak memang menggunakan sepatu yang sudah sering atau beberapa kali kita pakai. Sepatu baru itu keras, kerapkali justru melukai kaki.

Di luar sepatu pun semestinya demikian. Kita memastikan segala perlengkapan dan segala apa yang kita kenakan membuat kita nyaman. Sebab, nyaman memang lebih penting ketimbang anyar atau stylish—apalagi saat kita dalam perjalanan.

Tidak saltum. Sebelum akhirnya melakukan perjalanan, saya sendiri punya kiat untuk menghindari saltum, yaitu riset tentang destinasi yang bakal kita kunjungi. Konsep bejana kosong kadang-kadang baik, tapi kadang-kadang lebih baik jika kita tahu apa yang bakal kita hadapi. Agak zong juga, kan, ketika tahu-tahu destinasi kita adalah kawasan pesisir yang tropis, tapi kita malah membawa pakaian hangat nan tebal. Agak pias juga ketika kita datang ke destinasi pegunungan, tapi yang kita bawa malah outer kesayangan bermerek internasional yang terbuat dari sutra. Mungkin mahal, tapi apa iya bahan tipis yang mahal tapi tidak bisa melindungi tubuh kita dari dingin lebih penting ketimbang jaket tebal yang tidak bermerek internasional tapi toh akhirnya jaket inilah yang membuat kita hangat. Saltum itu bukan hanya bikin malu, tapi di kondisi-kondisi tertentu juga bisa membuat kita terjebak di situasi yang berbahaya. Seperti hipotermia karena kedinginan yang penyebabnya karena kita tidak siap membawa jaket tebal saat hiking.

Details matter. Ini bukan bicara soal membawa topi atau kacamata hitam yang lucu banget dan kayaknya bisa membuat kita bagus untuk difoto lalu unggah Instagram. Bukan. Travel yang “in style” adalah ketika kita siap, bahkan sampai ke printilan-printilan-kecil-tapi-penting. Contohnya, jangan sampai lupa membawa sunblock saat liburan ke pulau. Atau, jangan lupa membawa obat-obatan pribadi dalam perjalanan karena menganggap “ah, itu bisa diatur. Gampanglah”. Mereka yang tidak memerhatikan segala hal yang rinci dan detail, tidak akan mampu melihat garis besar akan sesuatu.

Ini travel in style versi saya. Bagaimana dengan travel in style versi kamu?

3 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Saya masih harus belajar soal menyiapkan hal-hal yang memang perlu dibawa dan bukan cuma sekadar keinginan buat tampil keren sih Mbak, jadi tips yang ada di sini soal riset dan “membayangkan apa yang akan dilakukan dan dihadapi di sana” kayaknya bagus banget, soalnya kemarin dulu sempat alpa bawa sunblock padahl island hopping, walhasil kulit ngelupas semua (tapi tetap berusaha untuk tidak mengeluh :haha). Terima kasih sudah berbagi :)).

    1. Atre says:

      Hahhaa, kalo kulit kebakar itu udah paling ga enak banget deh. Semoga bermanfaat ya artikelnya.

      1. Gara says:

        Sip, terima kasih Mbak :)).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s