Mimpi Fiksi

Astri Apriyani

Saya selalu percaya, bahwa setiap mimpi bisa dicapai, yang besar sekalipun. Mimpi-mimpi itu memang ada untuk bisa diraih, bukan hanya untuk ada di awan-awan dan mengawang-awang saja. Merekalah yang membuat kita terus hidup. Mereka membiarkan kita bebas, tapi juga membuat kita tahu arah ke mana kita menuju.

“We may place blame, give reasons, and even have excuses; but in the end, it is an act of cowardice to not follow your dreams,” kata Steve Maraboli, life-changing speaker asal New York.

Follow your dreams. Kata-kata sederhana, tapi bisa menghantui dan bermakna besar.

Sepanjang usia, salah satu mimpi saya di antara yang banyak itu, adalah menelurkan karya yang diapresiasi baik oleh masyarakat, lalu karya tersebut bisa dibukukan dan dinikmati. Kenapa? Pertama, karena saya suka sekali membaca. Karena dekat dengan buku, saya paham betapa berharga dan bertenaganya buku-buku ini. Beberapa ada yang mampu menyenangkan hati para pembacanya. Beberapa mengembalikan krisis kepercayaan yang ada. Beberapa bahkan bisa sampai mengubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik.

Di luar itu, selamanya saya memang punya cap sebagai “lulusan Sastra Indonesia”. Saya, sejak kuliah, sudah telanjur jatuh hati pada dunia sastra sedalam-dalamnya. Hidup tak lengkap tanpa ‘mengunyah’ fiksi. Dan, buku adalah medium yang paling menggenapi buat saya. Tapi, ada jalan panjang untuk bisa menghasilkan karya yang apik dan diterima. Tidak sulit, tapi juga tidak mudah.

Saya pribadi menganggap diri sendiri sebagai orang yang terlalu pemikir. Sampai detik saya menuliskan ini, saya sudah menerbitkan buku antologi bersama-sama dengan penulis lain; dua antologi sajak, satu antologi cerpen, dan satu lagi antologi bersama-sama para penulis muda Ubud Writers and Readers 2013. Tapi, kemudian, dua tahun berselang saya masih juga berpikir, apa saya sudah cukup siap untuk menerbitkan karya sendiri yang utuh?

Mungkin, seperti pernikahan (kata orang-orang), bahwa selamanya kita tidak akan pernah betul-betul siap, kecuali mencobanya. Maka, ya, tahun ini semoga buah hati kebanggaan sendiri bisa segera terbit. Setidaknya, mencoba menjadi penulis fiksi yang brilian, seperti idola saya; Putu Wijaya, Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, atau Seno Gumira Ajidarma.

Kalau ada di antara kita tertarik untuk menjadi penulis fiksi, tapi merasa bingung harus memulai dari mana, itulah tujuan utama tulisan ini dibuat. Saya mungkin belum apa-apa, tapi biarlah setidaknya saya mencoba untuk membantu mencerahkan jalan fiksi kita. Jadi, ini beberapa upaya agar impian menjadi penulis fiksi bisa terwujud.

Menulis di Internet
Kita bisa memulainya dengan menulis atau mengunggah karya-karya fiksi kita di internet. Mediumnya bisa banyak, seperti situs atau blog.

Para editor dari penerbit buku kerap mencari penulis-penulis baru yang berbakat di internet, melalui situs atau blog. Maka, jangan pernah berhenti menulis. Mungkin butuh lama baru ada yang memerhatikan kita, tapi jika karya-karya kita telah cukup matang, para editor itu pasti bisa mengendus talenta kita dari jarak jauh.

Surat Kabar atau Media Lain
Selalu ada ruang untuk karya-karya fiksi di media cetak negara kita. Kompas punya rubrik Cerpen dan Puisi yang ada di Kompas Minggu. Koran Tempo dan Jawa Pos juga sama. Belum lagi majalah-majalah yang lebih ‘santai’, seperti Gadis atau Femina.

Kirimkanlah karya-karya, baik itu cerpen atau puisi, ke media-media tersebut. Publikasi bagus untuk kita. Bukan tidak mungkin, seperti Eka Kurniawan (penulis yang kita kenal dengan karya Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau), karya-karya yang terbit di media itu, dibukukan. Eka Kurniawan juga pernah menulis tentang “Bagaimana Sebagai Penulis Pemula Saya Menerbitkan Karya Pertama Kali” di situsnya. Tulisan ini bisa bermanfaat.

Sayembara atau Kompetisi
Ketika mengikuti sayembara Tulis Nusantara 2013 yang digagas oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, PlotPoint, dan Nulis Buku, saya tidak punya ekspektasi berlebihan. Saya hanya ingin mengirimkan karya saya (kebetulan, kali itu berupa sajak), lalu melihat apakah sajak saya cukup bisa diperhitungkan. Saya lalu mengirimkan satu saja sajak yang sesuai dengan tema yang tahun itu diusung, yaitu “Indonesia”. Siapa nyana kalau akhirnya saya menjadi Pemenang Pertama Tulis Nusantara 2013 untuk Kategori Puisi di antara banyak sajak yang masuk ke meja panitia. Banyak hadiah yang diterima, tapi yang paling membikin senang adalah ini kali pertama sajak saya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dalam buku berjudul sajak pemenang pertama (yang adalah sajak milik saya sendiri), Ibu Nusantara, Ayah Semesta. Bukan main senangnya.

Begitu mengirimkan sajak-sajak saya untuk Ubud Writers and Readers Festival 2013 pun, saya merasa nothing to lose. Lama tidak ada kabar, sampai akhirnya ketika sedang berada di tepi Pantai Ora, Pulau Seram, Maluku, saya menerima kabar bahwa saya terpilih menjadi salah satu dari 16 Emerging Writers yang diundang pada UWRF 2013. Bahagia betul. Sampai sekarang, itu salah satu pengalaman paling luar biasa dalam hidup saya; menjadi bagian dari panel-panel UWRF bersama para penulis internasional serta bertemu banyak penulis berbakat dari seantero dunia.

Pelajaran utamanya adalah jangan menyepelekan diri sendiri. Kita tidak pernah tahu kekuatan dan kehebatan kita jika kita tidak mencoba. Maka itu, jika rasanya kita memiliki karya yang baik, kirimkan saja ke sayembara atau kompetisi fiksi/ sastra yang kompeten, seperti UWRF atau Sayembara Dewan Kesenian Jakarta. Jika gagal, coba lagi. Jika masih gagal juga, terus coba lagi.

Jadi, sekarang terserah kita. Apakah mimpi menjadi penulis fiksi ingin diwujudkan, atau hanya ingin jadi sebatas angan-angan? Jika memang serius, kita akan mulai menulis sekarang, setiap saat, sampai apa yang kita tuliskan bukan apa-apa, menjadi terbentuk, dan akhirnya bisa dinikmati, bahkan bermanfaat untuk orang banyak. Selamat berkarya!

3 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Mesti tetap semangat memupuk mimpi sebagai seorang penulis dengan terus menulis sepenuh hati, ya Mbak :hehe. Terima kasih sekali Mbak, karena sudah berbagi dan sangat menginspirasi dengan tulisan ini. Saya jadi semangat lagi buat usaha memupuk mimpi sebagai penulis fiksi, nih :hihi. Siapa tahu Tuhan sudah menilai usaha saya cukup jadi bisa ikutan mengecap indahnya jadi juara kompetisi menulis atau melihat karya dibukukan :amin. Dirimu keren sekali! Saya banyak belajar dari tulisan ini :hehe.

  2. Wah, kami tunggu ya karya tunggalmu! Kasih bocoran sedikit dong, bukunya tentang apa dan kapan bisa dicari.🙂
    – Maesy & Teddy

    1. Atre says:

      Waahhh, udah ketauan duo dusty. Aku jadi bebaannn. *halah*

      Baru bisa ngasih bocoran sebatas: novel berlatar belakang sejarah, Kak. Kalau lancar, akhir bulan rampung. Doakann…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s