Ingin Jadi (Travel) Writer?

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu penulis favorit saya. Bukan hanya karena jalan hidupnya yang inspiratif–kalau tidak bisa dikatakan “rumit”–, tapi juga termasuk karya-karyanya yang bahkan sudah mendunia; tetralogi Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, Arus Balik, Bukan Pasarmalam, Cerita dari Blora, dan lain-lain.

Pram tidak berhenti menulis, meski dirinya sedang dalam pengasingan. Seperti halnya apa yang Pram sendiri katakan, bahwa cerita tentang kesenangan seseorang tidak terlalu menarik. Maka, cerita tentang hidup Pram menjadi menarik karena terjalnya jalan hidup, ditahan Belanda, sampai diasingkan di tempat yang jauh oleh rezim Orde Baru.

Masa-masa itu, hidup beberapa seniman dan sastrawan rasanya begitu riskan. Menulis tajam sedikit, ditumpulkan. Jika masih kelewat tajam, sang sastrawan ditekan bahkan dihilangkan.

Jangan bakar buku, kata Efek Rumah Kaca. Karena setiap abunya membangkitkan dendam yang reda. Karena setiap dendamnya menumbuhkan hasutan baka.

Tapi toh buku-bukunya Pram kena juga dibakar oleh Pemerintah Orde Baru. Karya-karyanya juga dirampas, dilarang beredar. Karena hidup di zaman ketika penulis tidak punya ruang gerak yang bebas, itu sebabnya mungkin Pram bilang, menulis itu
butuh keberanian.

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Impresi yang dalam akan kesulitan menulis di zaman Pram, melekat betul di hati saya. Ini yang menyebabkan saya akhirnya menolak untuk berhenti menulis–walaupun tekanannya berbeda (jika Pram perkara hidup dan mati, kita kini mungkin
lebih kepada mau atau tidak mau).

***

Beberapa kali saya pernah terpikir bahwa setiap orang bisa menulis. Urusan cakap atau tidak cakap, itu belakangan. Jelasnya, setiap orang bisa menulis. Lalu, apa istimewanya semua yang saya kerjakan sekarang? Berkali-kali ingin berhenti, tapi berkali-kali pula diingatkan bahwa selalu akan ada orang lain yang membaca tulisan kita di mana saja, dan terinpirasi oleh apa yang kita tulis.

Dan di sinilah saya sekarang, masih menulis apa saja yang disukai, mulai dari sajak sampai tulisan perjalanan. Semangat berapi-api lagi karena banyak orang yang kerap mengingatkan saya dan mengatakan kata semangat yang indah-indah tentang apa yang saya tulis, tentang perjalanan yang saya lalui.

atre - acer explorer

 

Kebetulan, beberapa tahun terakhir, saya kerap menulis cerita perjalanan yang terbit tidak hanya di blog, tapi juga di majalah-majalah dan travel video (sebagai narasi). Profesi
sebagai kuli tinta yang dijalani selama nyaris 7 tahun, rupanya membawa berkah tersendiri bagi saya. Pun setelah memutuskan menjadi pekerja lepasan. Mungkin, di postingan ini bisa saya bagi cara untuk memulai menjadi penulis perjalanan, dan supaya tulisan bisa terbit di majalah.

Mulai dari Blog
Jika selama ini Anda tidak begitu suka menulis tapi baru saja sadar bahwa begitu banyak cerita yang ingin Anda bagi karena Anda suka traveling (siapa juga yang tidak suka traveling ya kan?), maka saran sederhana dari saya adalah mulailah menulis di blog. Kalau sudah lama menulis di diary atau buku harian,

Menulis di blog sebetulnya tidak jauh berbeda. Hanya saja, kalau di diary, isi buku tersebut sepenuhnya milik pribadi (apalagi kalau diary-nya sampai ada gemboknya. JRENG!). Sementara, di blog, ya selayaknya semua karya yang sudah dirilis ke internet yang sifatnya umum, maka tulisan Anda pun juga akan menjadi milik publik. Artinya, bisa dibaca siapa saja–kecuali postingan diprivat dan diberi password (yang bikin kita berpikir “NGAPAIN POSTING DI BLOG KALO GITU?”).

Kirim ke Media
Kalau sudah mulai percaya diri, Anda bisa mulai mengirim tulisan-tulisan perjalanan Anda ke media. Sebagian besar majalah travel atau majalah gaya hidup di negeri ini membutuhkan kontributor untuk mengisi beragam rubrik di majalah mereka, termasuk rubrik travel. Lebih menyenangkan karena ada fee untuk tiap tulisan yang diterbitkan. Yeay, ‘kan?!

Hanya saja, tiap majalah memiliki gaya selingkung tulisan yang berbeda-beda. Maksudnya, antara satu majalah dengan majalah lain punya gaya berbahasa yang beda. Bisa saja satu lebih santai, sementara yang lain fokus pada tulisan yang lebih in-depth. Baiknya pelajari dulu gaya suatu majalah sebelum mengirimkan karya.

Jangan lupa, karena bicara tentang traveling, kita tidak hanya bicara tentang tulisan yang apik. Ada elemen lain yang tidak kalah penting. Yak, foto. Maka, ingat betul ketika sedang traveling, create foto yang betul-betul merepresentasikan keindahan tempat yang kita datangi. Tulisan perjalanan sejatinya membiarkan imajinasi pembaca melayang-
layang ke destinasi tertentu, untuk kemudian membuatnya tidak sabaran ingin juga datang ke tempat itu. Foto-foto yang bagus adalah salah satu faktor penentunya.

Be Nice, Even Nicer
Sebetulnya, tidak ada untungnya juga sih ya jahat sama orang lain. Hidup akan jauh lebih membahagiakan ketika kita punya hubungan yang baik dengan sebanyak mungkin orang–alih-alih mencari-cari musuh. Maka, baik-baiklah dengan orang lain.

Untuk urusan pekerjaan, misalnya, seorang editor majalah akan lebih senang mengontak penulis yang menyenangkan ketimbang penulis yang terlalu ribet atau be em (alias banyak mau). Jadi, baik-baiklah. Sebab, orang yang kita temui selintas, mungkin akan jadi kawan baik atau bahkan klien di kemudian hari.

Untuk mengapresiasi Pram, setidaknya kita bisa terus menulis dan berani untuk terus menulis. Ada satu lagi quote Pram yang manis tentang “menulis”, diambil dari buku pertama rangkaian tetralogi Buru, Bumi Manusia. Ini saat Nyai Ontosoroh bicara pada menantunya, Minke.

Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.

Nah, makanya ayo rajin menulis supaya banyak yang sayang!🙂

4 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Hore! Jadi lebih semangat lagi buat menulis setelah membaca ini. Thanks for being so inspiring ya, Mbak. Menulis memang banyak bonusnya kalau mau ditekuni dengan ikhlas dan serius (semua kegiatan yang ditekuni juga pasti akan menghasilkan, pada suatu saat) namun menurut saya juga yang paling utama adalah mesti fun dulu dengan kegiatan menulisnya, supaya hasilnya murni yang terbaik dari hati. Ya siapa tahu di luar sana ada editor majalah yang membaca tulisan di blog, dan kemudian terkesan?

  2. nonadita says:

    Pingin deh bisa kayak Atre, banyak nulis dan banyak jalan-jalan:mrgreen:

    1. Atre says:

      Ayok Nona, nulis sama jalan-jalan lagi, Nona!

  3. omnduut says:

    Nulis di blog udah. Kirim ke media, udah mulai dikit-dikit, tinggal semangat dan konsistensinya aja ini >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s