Tembakau Terbaik di Pulau Lombok

Dari jendela-jendela besar di Bandara Internasional Lombok, Pulau Lombok siang itu kentara betul panasnya. Jakarta sudah lama tidak hujan. Ternyata, Lombok juga demikian. Entahlah ini betul-betul ada pengaruhnya dengan El Nino yang belakangan digadang-gadangkan atau tidak. Yang ada di pikiran saya saat itu hanya nasi ayam balap puyung dengan sambalnya yang pedas itu, atau ayam taliwang yang berdampingan mesra dengan pelecing kangkung. Glek.

Bicara Lombok, kita memang bicara soal makanannya yang sedap. Saya pribadi suka hampir seluruh makanan Lombok yang menghormati betul selera makan saya yang gandrung pada makanan pedas. Bahkan, ketika menuliskan ini pun, air liur saya mbuncah mengingat betapa membaranya plecing sayur di hari pertama saya datang di Lombok akhir Agustus itu. Toge, bayam, kangkung, ah… Tapi, jangan dulu terlena ’cuma’ karena makanannya. Lombok itu seperti pacar setia yang bakal memeluk kita hangat-hangat setiap kali kita datang dari perjalanan yang panjang.

Saya masih ingat ketika terakhir kali ke pulau ini bulan April lalu. Dengan cintanya, Lombok memanjakan saya dengan senja emas di Pantai Klui, pantai berair jernih yang tersembunyi di Tanjung Beloam, The Gilis yang magis, Segui yang seperti lingkaran zen favorit saya, pasir merah jambu di Pantai Tangsi (Pink Beach), sampai pantai berkerikil warna-warni di Gili Petelu. Kalau SGA baru mampu bilang, ”Ini sepotong senja buat pacarku,” Lombok bahkan lebih mesra lagi. Ia berikan tidak hanya senja, tapi juga pantai, pasir putih, bukit, tanjung, teluk, gunung, sampai dasar laut buat pacarnya.

senja lombok

 

***

 

Tanjung Aan di Lombok Tengah sore itu tidak terlalu ramai, tidak terlalu sepi juga. Saya duduk-duduk bersama teman-teman travel blogger yang jumlahnya ber-15 dari berbagai kota; Jakarta, Yogyakarta, Magelang, sampai Surabaya.

Di akhir perjalanan itu, saya mendaki bukit kecil di Aan, melihat lanskap yang lebih luas lagi dari atas sana. Angin kencang sore itu. Tapi, rebah-rebahan di sana tetap nikmat, sampai bikin tertidur.

Foto: Sutikno "Tekno Bolang"
Foto: Sutikno “Tekno Bolang”

Saya bermimpi, Christophorus Columbus berdiri gagah di atas kapal besarnya, menerjang ombak. Tangan kanan memegang tiang kapal. Tangan kiri menempelkan gulungan daun kering yang menyala di ujungnya, di selipan bibirnya. Asap menguar ketika ia membuka mulut. Lalu, tiba-tiba tidak tahu dari mana munculnya, ombak sangat besar menimpa kapal Columbus. Bunyinya serupa ”byur” sangat keras. Saya terbangun. Suara byur sangat dekat di telinga saya. Saya masih di Tanjung Aan.

Perjalanan tiga hari belakangan ini mungkin yang bikin saya jadi mimpi soal Columbus. Karena sesuatu yang saya baca sebelumnya. Sekitar tahun 1492, Columbus pernah menjumpai Suku Indian di Kuba sedang menghisap gulungan dedaunan kering yang ternyata daun tembakau. Columbus sedang dalam perjalanan menjelajahi samudera saat itu.

Tembakau kering itu mungkin mirip dengan rumput bukit yang sedang coklat. Seperti yang sudah saya katakan, Lombok sedang kering. Semua rumput menyoklat.

Kalau dipikir-pikir, Indonesia (atau bisa dibilang ”Pulau Jawa”) tertinggal lebih dari 100 tahun soal pengetahuan tembakaunya. Setidaknya, dari yang dikatakan Babad Ing Sangkala, bahwa tembakau ’baru’ masuk ke Pulau Jawa bersamaan dengan mangkatnya Panembahan Senopati Ing Ngalaga pada 1523 Saka atau 1602 Masehi.

Sembari menunggu senja sore itu di Tanjung Aan, helai-helai daun tembakau yang lebar-lebar berkibar-kibar di kepala saya. Lain daripada rumput-rumput yang sedang kering, daun-daun tembakau di Lombok justru sedang hijau-hijaunya. Bagaimana bisa?

 

***

 

Pak Iskandar, lelaki paruh baya, berkacamata, dan kedapatan selalu berjalan tergesa-gesa, baru saja membakar rokok kreteknya. Kami biarkan dulu ia menghisap rokoknya dalam-dalam, sampai akhirnya ia siap untuk ngobrol lagi.

“Pak Iskandar ini manajer senior perusahaan di Lombok sini. Udah 30 tahun berkutat di dunia tembakau,” bisik Nuran Wibisono, salah satu travel blogger yang juga jurnalis di Majalah GeoTimes, Jakarta.

Saya mengangguk-angguk tipis.

“Sudah sejak 1985, kami membangun bisnis kemitraan yang bersinergi antara perusahaan dan petani tembakau di Lombok. Mungkin kecil, tapi kami ingin memberikan manfaat bagi lingkungan, terutama dari industri hasil tembakau,” buka Pak Iskandar, yang saat itu bicara mewakili PT Djarum.

Lombok? Tembakau?

Saat pertama kali Nuran mengajak saya untuk ikut ke Lombok untuk Jelajah Tembakau ini, saya heran juga. Persis seperti di atas itu. Lombok? Tembakau?

Saya sendiri tahunya tembakau yang jempolan ada di Jawa. Mulai dari Yogyakarta, Lumajang, Probolinggo, Jember, Temanggung, sampai Madura. Bukan mau jawasentris, tapi memang sebatas itu pengetahuan saya. Maka, setelah melewati fase heran, saya akhirnya mengiyakan ajakan kawan saya yang selain jurnalis jagoan, juga adalah penggemar bakmi (ia bisa mblusukan di mana-mana buat mencari-lalu-mengganyang bakmi yang sedap).

Di sela jelajah tembakau, menikmati kelapa muda. Nuran tengah.
Di sela jelajah tembakau, menikmati kelapa muda. Nuran tengah.

Lombok bukan pulau cabe (cabe dalam Bahasa Sasak—suku di Lombok—adalah sebia). Lombok sendiri asal katanya dari kata lombo yang artinya lurus. Entah apanya yang lurus. Yang jelas, Lombok jadi salah satu daerah penghasil tembakau Virginia terbaik di Indonesia. Untuk tembakau Virginia sendiri, memang hanya ditanam di Lombok, Blitar, Ponogoro, Lampung, sedikit di Bali.

“Lombok malah jadi penghasil tembakau Virginia yang kualitasnya terbaik nomor 4 di dunia ,” tambah Pak Iskandar. Konon, setelah Amerika, Zimbabwe, dan Brazil. Mantap juga!

Proses hulu dan hilir tembakau rupanya begitu panjang. Tembakau sendiri disebut sebagai tanaman manja karena proses perawatannya yang butuh banyak perhatian. Mulai dari pemilihan tanah, pengairan, pemupukan, pemetikan, sampai akhirnya dioven dan diklasifikasikan sesuai grade di gudang. Salah-salah rawat, tembakau bisa dilabeli grade rendah dan berharga jual juga rendah.

Salah satu aktivitas di gudang tembakau.
Salah satu aktivitas di gudang tembakau.

Ketika akhirnya diajak mampir ke kebun tembakau di Lombok Tengah dan Lombok Timur, saya baru melihat sendiri keindahan tembakau. Saya tidak merokok. Tidak pernah mengisap-isap tembakau dalam bentuk apa pun, tapi ada kenikmatan tersendiri memang melihat daun-daun lebar tembakau itu tumbuh hijau dan tak terjangkit hama.

Sabarudin, salah satu petani tembakau di Lombok yang melakukan kerja sama kemitraan dengan perusahaan mitra, kelihatan sumringah. Panen tahun ini bagus, katanya. Sejak mulai membeli lahan untuk dijadikan kebun tembakaunya di Lekor pada 2008, kehidupan Sabarudin membaik.

“Kemitraan itu membiarkan petani untuk memiliki dan mengolah lahannya sendiri. Perusahaan lebih berfungsi untuk mendampingi,” kata Pak Iskandar.

Tembakau memang bukan satu-satunya hasil pertanian yang berkembang di Lombok. Masih ada hasil tani yang lain, seperti padi, sayur-mayur, bahkan cabe. Tapi, mengingat potensi lahan untuk tembakau di Lombok seluas 58.000 hektar dan yang digunakan baru sekitar 35%-nya, rasanya jalan untuk mengoptimalkan hasil tembakau di Lombok masih panjang. Siapa tahu, suatu saat tembakau dari Indonesia tidak hanya masuk 10 besar sebagai tembakau berkualitas terbaik. Tapi, sebagai yang nomor 1.

kebun tembakau

6 Comments Add yours

  1. indrijuwono says:

    yap, sama. aku juga tidak merokok, tapi penasaran bagaimana sih tembakau itu?

  2. wizamrobbani says:

    wangi kalo dihirup daunnya, sesak kalo dihirup asepnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s