Pertanyaan tentang Perjalanan

Pertanyaan besar tentang perjalanan yang seringkali saya dengar adalah, “Untuk apa kita traveling? Kenapa kita traveling?” Jawaban yang muncul macam-macam.

Ada yang bilang, bahwa kita traveling untuk keluar dari rutinitas dan menemukan kedamaian di luar aktivitas sehari-hari. Ada juga yang lebih sepakat dengan jawaban bahwa kita traveling untuk kembali menemukan diri kita sendiri, karena perjalanan itu sendiri menjernihkan kembali pikiran kita yang mungkin sempat keruh karena beban kerja yang padat. Atau, siapa tahu ada yang bilang, kita traveling karena kita punya uang banyak dan bingung ingin diapakan. Sah-sah saja.

Saya sendiri jatuh cinta pada perjalanan karena berbagai rasa yang muncul akibatnya.

Perasaan bersemangat karena menjejakkan kaki di tempat-tempat baru. Perasaan penasaran yang kadang-kadang memenuhi dada, sampai-sampai bikin berdebar-debar, karena bertemu banyak orang menarik dengan kepribadian beragam serta cerita yang berbeda-beda. Perasaan terkejut karena menyicip makanan khas setempat untuk pertama kalinya. Sampai perasaan hangat yang sepertinya dalam sekali terasa di hati karena lanskap yang tidak bisa dijelaskan indahnya. Tapi, yang mungkin terjadi juga, adalah ketika kita merasakan perasaan risau karena menghadapi masalah saat traveling, atau ngeri karena perjalanan tidak selancar yang kita bayangkan.

Saya sendiri pernah beberapa kali terperangkap dalam ketakutan karena kejadian mendebarkan ketika traveling. Seperti misalnya, di suatu siang yang sangat cerah di perairan Flores, ketika saya dan beberapa kawan travel blogger sedang asyik snorkeling dan berenang-renang di perairan dekat Pink Beach, TN Komodo, kaki kanan saya tiba-tiba kram. Saya tidak sering terserang kram kaki seperti ini. Biasanya terjadi kalau kedinginan atau kelelahan karena habis main futsal, tapi tidak sering-sering amat. Maka, ketika tiba-tiba kram ketika sedang snorkeling sendirian (yang lain menyebar dan terlampau jauh dari keberadaan saya), sontak saya panik. Sebab, kalau sudah kram begini, kaki saya bakal mengalami beberapa fase—yang kesemuanya sama sekali tidak ada baik-baiknya di kondisi saya yang sedang ada di tengah laut seperti waktu itu.

Foto: Lucia Nancy
Foto: Lucia Nancy

Fase pertama adalah kaki tidak bisa digerakkan sama sekali. Artinya, saya tidak bisa membuat tubuh saya tetap berada di atas air (alias tenggelam). Saat itu, saya tidak menggunakan jaket pelampung. Fase kedua, kaki akan kebas tidak terasa apa pun, yang singkatnya juga masih belum bisa bergerak sempurna. Padahal, kalau dipikir-pikir sekarang, saya bisa saja langsung memposisikan diri telentang dan mengapung. Tapi, namanya juga panik.

Saya sebisa mungkin melambai-lambaikan tangan setinggi-tingginya saat itu. Tapi, beberapa orang menganggap saya bercanda. Sisanya, tidak melihat. Maka, ketika akhirnya saya tenggelam dan minum banyak air, saya sudah dalam keadaan antara pasrah saja menenggelamkan diri tapi juga di saat bersamaan, tidak mau pasrah lalu tetap mengepak-kepakkan kaki supaya tetap mengambang. Untung saja, ada satu kawan yang sadar saya tidak bercanda, Lucia Nancy, dan akhirnya memanggil sekoci penyelamat untuk menjemput saya.

Pengalaman risau lainnya adalah ketika kekurangan logistik saat sedang mendaki Gunung Tambora di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Biasanya, kalau naik gunung, saya tidak pernah yang namanya tidak siap logistik. Tapi, karena waktu itu kebetulan tujuannya adalah syuting (kerja, katakanlah begitu), jadi saya dan kawan-kawan menyerahkan urusan logistik pada satu pihak yang bertugas menyediakan logistik.

 

tambora atre

 

Sial bagi kami, kerja mereka kurang becus. Jadi, saat naik dari Pos III ke bibir kaldera, mereka hanya mempersiapkan beberapa potong biskuit dan kopi, sementara saat itu kami kerja—bukan sekadar leyeh-leyeh. Sungguh kekurangan.

Kalau dipikir-pikir kemudian, lucu juga sebetulnya. Kami akhirnya ngemil gula pasir banyak-banyak untuk asupan energi di tubuh, saking tidak adanya makanan sama sekali. Tidak seluruhnya lucu sih. Kalau diingat-ingat, banyak juga kesalnya. Untung saja, tidak terjadi suatu apa. Karena kekurangan logistik sebetulnya salah satu problem paling major saat naik gunung.

Pertanyaannya kini bukan lagi, kenapa kita traveling? Sebab, kalau Anda tanya saya, saya mungkin bakal tanya balik, apa traveling butuh alasan-alasan?

Perjalanan ada karena kita hidup. Jadi, selama kita hidup, kita akan terus bergerak, kita akan terus beperjalanan (traveling)—walaupun artinya tidak melulu ke tempat jauh atau ke destinasi eksotis.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi “kenapa”, tapi “apa”. Apa yang ingin kita temukan?

Apa yang ingin Anda temukan dalam perjalanan?

2 Comments Add yours

  1. azharifauzi says:

    Halo mbak Atre, salam kenal

    Blog nya menarik dan asyik sekali. Apalagi banyak yang mengulas mengenai penulisan, buku dan jalan-jalan yang saya juga suka. Ditulis apik dengan gaya tulisan renyah namun dalam, saya banyak belajar dari wordpress ini🙂

    Oh ya, saya newbie di jagat per-WP-an. Boleh tau, itu cara nyisipin link website dan blog teman-teman di laman kita caranya gimana ya? Saya cari-cari di widget gak ada, hehee…

    Nuhuns
    ~Ade

    1. Atre says:

      Hai, Azharifauzi…

      Glad you like every content in this blog yaaaa. Keep reading!

      Untuk blog dan website, di halaman back end (dashboard), ada “Tautan”. Di situ kita bisa masukkan nama sekaligus website kawan-kawan kita. Selamat mencoba.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s