[Travel Tips] Keindahan Potret dari Kamera Ponsel

Ketika mendengar kata “fotografi”, entah kenapa yang tergambar pertama kali di benak saya adalah samar-samar wajah James Nachtwey berganti-gantian dengan Kevin Carter. Spesifiknya, Nachtwey lewat foto-foto para penyintas kamp di Rwanda dengan wajah mereka yang penuh jahitan, dan Carter lewat foto pemenang Pulitzer-nya yang memotret anak Sudan yang dikuntit oleh burung bangkai.

Sekali lagi, entah kenapa saya mengingat dua jurnalis foto ini, ketimbang mengingat Joseph Nicéphore Niépce, William Henry Fox Talbot, atau James Clerk Maxwell, misalnya, yang hidup di era abad 17-18. Selintas informasi, yang satu disebut sebagai pionir fotografi, yang satunya lagi adalah satu di antara sekian banyak orang yang mencoba menyempurnakan proses fotografi (ia penemu proses positif/negatif dalam fotografi yang disebut Tabotype), sedangkan yang terakhir adalah orang  yang memperkenalkan foto berwarna pertama di dunia. Orang-orang penting mereka ini. Tapi, kenapa saya malah mengingat Nachtwey dan Carter?

Pembenaran saya begitu lemah. Jadi, saya tidak akan mencoba untuk membela diri. Saya cuma hanya akan cerita, bahwa mungkin, alasannya adalah karena di suatu masa saat masih jauh lebih muda dari sekarang dan cita-cita masih liar, saya ingat betul bermimpi ingin jadi jurnalis perang—walaupun berakhir dengan ‘hanya’ menjadi jurnalis saja, tanpa embel-embel “perang”. Mimpi itu semakin membara ketika dalam sebuah percakapan tengah malam, saya dan Giri Prasetyo (panggil saja Djantjuk) bicara tentang mimpi kami yang seirama. Ia rupanya punya mimpi ingin jadi fotografer perang. Itu percakapan (sangat) panjang kami yang pertama. Di tengah malam sampai jelang pagi. Percakapan yang jauh dari romantis untuk ukuran dua orang yang sedang “pedekate” (maafkan diksinya). Kami malah bicara perang, alih-alih saling rayu.

Saya kadang-kadang membayangkan, jika Niépce, Talbot, atau Maxwell melihat masa kini, saat fotografi sudah semakin “dimudahkan” seiring dengan teknologi yang berkembang, apa yang bakal mereka katakan? Apa mereka sepakat? Apa mereka turut merayakan era fotografi sekarang, yang menjadi kesuksesan mereka pula? Atau, mereka bahkan mencibir seperti laiknya kaum konservatif yang tidak bisa menerima kebaruan?

Yang mana pun itu, sebuah foto kini jauh lebih mudah dihasilkan, salah satunya dengan kamera ponsel. Beberapa tahun belakangan ini, banyak merek bahkan berlomba-lomba untuk membenamkan kamera sebagus mungkin sebagai salah satu daya tarik fitur ponsel.

But, hey, anonymous said, “It’s not the camera, but who’s behind the camera.”

Artinya, meskipun ‘hanya’ dari kamera ponsel, foto pun bisa tetap memesona, dan mengandung makna lebih dari ribuan kata, seperti foto-foto lainnya. Bagaimana caranya.

Saya menyempatkan diri untuk mewawancara orang-orang yang gandrung motret. Mereka mungkin berasal dari beragam latar belakang profesi, mulai dari (yang memang) fotografer, penulis, videografer, sampai event designer, tapi mereka sama-sama passionate pada dunia fotografi, dan menghasilkan foto-foto luar biasa mengagumkan yang bisa dilihat di galeri Instagram mereka. Dan, di sini, mereka berbagi tips dan trik bagaimana menghasilkan foto yang bagus lewat kamera ponsel. Ini dia.

Alexander Thian - AtreAlexander Thian, Penulis
Simpel, sih. Foto yang menarik itu yang cahayanya cukup, detailnya kelihatan, dan komposisinya menarik. Yang penting lagi adalah kemampuan dan kejelian menangkap momen.

Makanya, cahaya harus cukup.

This slideshow requires JavaScript.

Apps editing andalan: fitur editing Instagram, PS Express, Snapseed.

 

Idham Rahmanarto - renjanatujuIdham Rahmanarto, Jurnalis Foto
Untuk hasil maksimal, gunakan fitur autofocus (AF) pada ponsel untuk ketajaman. Atur pencahayaan dari ponsel—beberapa ponsel ada fitur exposure meter untuk mengatur gelap-terangnya foto. Terus, ya, paling explore kreativitas dengan medium ponsel ini. Toh, murah meriah dan hasilnya bagus. Oh iya, cari tahu tentang komposisi atau hal-hal yang berkaitan dengan fotografi.

Memotret dengan ponsel pun perlu disiplin ilmu agar bisa menghasilkan gambar bagus.

Jadi ya, camera whether phone or professional is just the medium. Selebihnya, kreativitas dan keberuntungan (waktu dan tempat).

This slideshow requires JavaScript.

Apps editing andalan: Snapseed, Vscocam, Instagram.

 

Foto Yunaidi JoepoetYunaidi Joepoet, Fotografer National Geographic Indonesia
Sama seperti motret dengan kamera DSLR, cuma kalau dengan kamera HP kita dimudahkan karena tidak berpikir soal teknis kamera lagi. Lebih ke arah angle, komposisi, dan timing kapan harus menekan shutter. Untuk angle, kita bisa ciptakan angle yang tak biasa, karena ponsel memudahkan kita untuk menempatkan HP pada posisi apa pun.

Kalau untuk meminimalisasi blur, pilih mode autofocus.

Shake (foto goyang) sebenarnya terjadi kalau shutter speed lebih rendah daripada yang seharusnya diinginkan oleh kamera untuk menangkap subjek. Biarkan posisi tangan steady, kokoh untuk menahan goncangan. Jika ada pengaturan exposure pada kamera HP, bisa diturunkan exposure-nya supaya kamera bisa mengkompensasi shutter speed.

This slideshow requires JavaScript.

Apps editing andalan: Snapseed, aplikasi bawaan Instagram.

 

mahwari sadewa jalutama - renjanatujuMahwari Sadewa Jalutama, Fotografer
Cahaya itu kunci paling penting dalam fotografi apa pun. Apalagi, untuk kamera HP yang punya keterbatasan di daerah kurang cahaya.

Kalau bisa, tidak menggunakan zoom di kamera HP dan gunakan manual untuk setting exposure.

Cari angle-angle unik, seperti bermain dengan perspektif, kontras warna, bayangan, minimalis, dll. Pokoknya, jangan kebanyakan berpikir. Ambil foto kapan pun kamu mau dan ingin, sebanyak-banyaknya. Yang penting senang. Jangan terlalu serius. It just for fun!

This slideshow requires JavaScript.

Apps editing andalan: Vscocam.

 

Azis Abdul - renjanatujuAzis Abdul, Event Designer
Harus sering motret; apa aja yang menarik di sekitar. Dengan sering motret, kita jadi terlatih dengan komposisi, paduan warna, keseimbangan, dan sisi estetik lain. Foto bagus juga tergantung pencahayaan yang bagus juga. Jadi, harus tahu timing.

Jangan terlalu banyak editing. Banyak apps instan yang bikin foto biasa tambah wow. Tapi, over-editing malah bikin foto jadi nggak real dan dipaksakan.

Mostly objek yang bagus, pencahayaan yang pas, dan komposisi oke yang dihasilkan dari ponsel hanya butuh retouch; diterangin, digelapin, atau dikontrasin.

Syukur-syukur kalau motret yang punya story di dalamnya dan maksud fotonya tersampaikan. Terakhir, kalau kata Alice Gao, kamera hanya alat, kreativitas yang memegang peranan penting buat menghasilkan foto bagus—meski cuma dari ponsel.

This slideshow requires JavaScript.

Apps editing andalan: Snapseed, Vscocam.

 

Giri Prasetyo - renjanatujuGiri Prasetyo, Videografer
Kamera terbaik adalah kamera yang ada di tangan ketika kita membutuhkan. Kamera ponsel seringkali kedapatan jatah jadi kamera favorit saya. Sebagai seorang sutradara, saya harus melihat objek tidak hanya sebagai sebuah objek, tapi mempunyai cerita dan daya tarik. Jangkauan cepat terhadap ponsel jadi alasan mengapa ponsel adalah kamera favorit saya.

Kamera ponsel sangat optimal untuk memotret human interest. Mengapa? Memotret manusia membutuhkan pendekatan personal, juga kecepatan. Seringkali dalam perjalanan, orang-orang yang baru kita temui akan merasa terintimidasi dengan peralatan kamera Pro DSLR/ Mirrorless. Di sinilah kamera ponsel beraksi. Kamera kecil ini bisa ‘sembunyi-sembunyi’ memotret; bisa sambil ngobrol atau bilang “buat kenang-kenangan, Pak/ Bu.”

Arah dan intensitas matahari juga menentukan kesempurnaan foto ponsel. Sensor yang dimiliki kamera ponsel tidak sama dengan kamera DLSR/ Mirrorless. Karena kita membicarakan ukuran sensor, jumlah dot pixel tidak bisa kita bicarakan. Jumlah dot pixel yang tinggi, kalau tidak didukung oleh ukuran sensor yang memadai, malah akan menambah efek moiré atau noise dalam foto.

Matahari adalah sumber daya paling mutakhir dan murah, maka manfaatkan. Baiknya memotret di jam 7-10 atau 15-17.

Saya juga tidak pernah menggunakan zoom pada kamera ponsel. Digital zoom is sucks. In optical zoom we trust. Lagipula, kata Robert Cap, “If your picture is not good enough, you’re not close enough.”

Sudut pandang juga merupakan core dalam suatu hasil foto. Kenali jenis lensa ponsel. berhentilah sok-sokan menambah efek blurring seperti kalau pakai kamera DSLR/ Mirrorless. You will never done that, kecuali untuk foto macro. 

Story. Ini adalah core utama. Cerita yang bagus akan menambah daya tarik foto. Cerita yang terlalu bagus akan membuat orang-orang lupa kualitas foto juga.

This slideshow requires JavaScript.

Apps editing andalan: Snapseed.

 

Ringgo Agus - renjanatujuRinggo Agus, Penjaga Istri Hamil
Kalo gue, selalu siasatinnya cari wilayah yang langitnya bagusssss. Makanya, foto gue kebanyakan pantai. Tips dan trik mah nggak ada. Selama punya ponsel berkamera, jepret aja semuanya.

Jangan biasain selfie.

Ambil objek yang lain dulu aja, trus cari aplikasi edit di ponsel yang sesuai selera.

This slideshow requires JavaScript.

Apps editing andalan: Vscocam.

 

Well, mau dari mana asal foto itu—entah dari camera obscura, kamera film, atau bahkan kamera ponsel—, ada satu hal yang tidak berubah. Sebuah foto akan lebih dari sekadar alat pengingat seseorang terhadap memori tertentu yang terpotret. Ia, di sisi lain, akan selalu menjadi gambar yang menyimpan ribuan kata yang tidak terucapkan. Pictures say more than 1.000 words. Selamat seru-seruan motret, kalau begitu!

 

***

 

We keep this love in this photograph
We made these memories for ourselves
Where our eyes are never closing
Our hearts were never broken
Times forever frozen still

Ed Sheeran – Photograph

 

P.s.: Terima kasih banyak buat pacar dan kawan-kawan yang sudah menyediakan waktu untuk diwawancara. Such a blast!

6 Comments Add yours

  1. Akarui Cha says:

    Karena kamera ponsel ga cuma buat selfie. Keren keren banget fotonya

  2. Gara says:

    Makin bertambah nih pemahaman tentang fotografi setelah baca postingan ini :hehe. Terlepas dari banyak pakem yang harus ditaati supaya sebuah foto bisa bagus secara teoretis, yang paling penting dari kegiatan memotret justru kepuasan bisa mengabadikan momen dalam guratan warna dan rupa–selebihnya, biarkan kemampuan terasah dan lambat laun, semua itu pasti akan terakumulasi dan setiap orang pun bisa jadi penangkap citra yang bercerita :hehe. Lagipula kalau kita mau sederhana, memotret kadang bisa jadi semudah menekan tombol, kan :hehe :peace.

  3. sutiknyo says:

    aku kan mantan model kamera ponsel, kok gak di wawancaraaaa *sedih

    1. Atre says:

      Kamu nanti aku save buat kalo temanya travel video ajaaaa lhoooo yaaaa~😀

  4. ghozaliq says:

    Jadi teringat beberapa bagian di buku Kisah Mata oleh Seno Gumira Ajidarma,
    Fotografi adalah pengabadi perdaban.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s