Destinasi Rahasia

“All journeys have secret destinations of which the traveler is unaware,” Martin Buber bilang begitu. “Secret”. Hmmmh, terdengar begitu misterius, dan … seksi.

Buber, filsuf kelahiran 1965 kebangsaan Austria ini dikenal dengan filosofinya tentang sebuah bentuk eksistensialisme; philosophy of dialogue. Saya sendiri sontak pening begitu bicara filsafat. Terlalu sederhana, tapi juga terlalu dalam. Salah-salah nanti saya bisa tenggelam di kubangan penuh filosofi. Maka, kita mesti kembali lagi ke kalimat pertama paragraf pertama. Selalu ada destinasi rahasia (kalau tidak bisa dikatakan “tidak terduga”) dalam setiap perjalanan yang kita lakukan. Buber bilang, bisa jadi kita tidak sadar. Tapi, bisa jadi juga kita sadar.

Mengingat latar belakangnya sebagai seorang filsuf, Buber bisa jadi punya arti lain tentang “secret destination” di kutipan tersebut, ketimbang destinasi rahasia dalam artian “tempat tujuan yang tersembunyi atau tidak diketahui banyak orang”. Tapi, saya ingin mengartikannya sebagai yang kedua—pengertian yang lebih mudah.

Saya selalu percaya, di setiap perjalanan yang kita lakukan, akan selalu ada kala kita salah belok atau tiba di tempat yang bukan kita rencanakan. Jika tidak pernah mengalami hal ini, berarti perjalananmu perlu diperbanyak dan dibuat lebih seru. Salah tujuan kok seru? Saya pikir, iya. Sebab, kita berhasil mengelabui pikiran kita, dengan menyodorkan destinasi yang sama sekali tidak direncanakan. Kita membiarkan kaki kita merahasiakan sesuatu dari imajinasi kita. Maka itu, lepas dari ketersesatan, sampailah kita di destinasi rahasia kita.

Bicara soal destinasi rahasia ini, artinya bisa tempat ini jauh lebih buruk dari tempat utama memang. Tapi, bagaimana jika lebih indah? Atau, bagaimana jika seperti apa yang Tan Malaka pernah serukan, bahwa benda (manusia juga benda) adalah satu rantai, satu karma yang merantai hidup kita. Bahwa tidak akan tiba kita di destinasi akhir jika kita tidak lebih dulu salah langkah dan menemukan destinasi rahasia. Bahwa tiap-tiap destinasi yang kita datangi semuanya perlu untuk didatangi; tidak ada yang utama, tidak ada yang tidak utama, tidak ada yang rahasia. Semua satu jenjang, dan sama-sama penting.

Semula, artikel ini akan bicara tentang destinasi tersembunyi (rahasia) yang belum banyak orang tahu akan keindahannya. Tapi, saya lalu gamang.

Segala destinasi tersembunyi itu biasanya adalah reward bagi kita yang telah menjajaki tempat-tempat ramai, lalu memutuskan untuk mengeksplorasi lebih dalam, dan akhirnya tiba serta menemukan kecantikan yang tersembunyi itu. Singkatnya, temukan dulu destinasi utama untuk kemudian sampai di destinasi rahasia.

Bayangkan saja, alangkah hambar jika kita tahu-tahu tiba di Pulau Seram, tanpa singgah di Ambon, lalu menderu di atas jalan aspal menuju Desa Saleman, dan melewatkan perasaan campur-aduk—antara lelah dan gembira—karena Pulau Seram sudah di depan mata.

Foto: Giri Prasetyo
Foto: Giri Prasetyo

Atau, jika kita tahu-tahu sampai di puncak Pulau Komodo, tanpa tahu rasanya ngos-ngosan berjalan dari gerbang ke puncak, tanpa tahu betapa mendebarnya pengalaman bertemu muka dengan hewan purba luar biasa si komodo, atau tanpa tahu indahnya pepohonan jarak yang meranggas dan pepohonan kapas yang mengering lalu gembulan kapasnya beterbangan.

 

Pulau Komodo meranggas - atre

 

Atau, ketika kita langsung saja tiba di Conto’s Field Camp, tanpa melewati fase trekking di jalur sangat indah di Cape Leeuwin-Naturaliste, menyentuh bunga-bunga liar di sepanjang jalan, menikmati pemandangan dari puncak bukit karang, menemukan pantai tersembunyi yang bersih, melihat para rockclimber mendaki Bob’s Hollow, lalu menikmati senja saat hampir tiba di Conto. Saya pribadi tidak akan mau memilih jalan pintas dan melewatkan ini semua.

Foto: Giri Prasetyo
Foto: Giri Prasetyo

Jadi, ketika kita bicara tentang destinasi rahasia, setiap orang bisa menyimpan rahasianya itu masing-masing, seperti saya yang ingin menyimpan rahasia saya sendiri.

Not until we are lost do we begin to understand ourselves.
-Henry David Thoreau

So, let’s get lost!

2 Comments Add yours

  1. sutiknyo says:

    kalau main sambil kerja gimana mbak?

  2. ghozaliq says:

    nyasar itu seru😀
    “lebih baik nyasar daripada kebanyakan nanya”

    nyasar rencana kegiatan juga seru, seperti lupa bawa frame tenda pas naik gunung, alhasil perjalanan pendakiannya akan lebih…. seksiiii….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s