Jalan-jalan Virtual dan Berbudaya ala Google Indonesia

Google Indonesia hendak merilis Google Street View secara resmi versi Candi Borobudur dan 10 candi lain, seperti Prambanan dan Ratu Boko, sekaligus memperkenalkan Google Cultural Institute untuk pertama kalinya di Indonesia.

 

Boots hitam saya tanpa disadari, berdebu. Warnanya berubah jadi kecoklatan. Sempat saya coba bersihkan debu-debu itu dengan tisu kering, tapi ketika saya kembali menaiki satu demi satu tangga hingga ke puncak, boots itu kembali berdebu. Maka, akhirnya saya biarkan saja begitu. Ada yang lebih menarik untuk diperhatikan ketimbang sibuk mengurusi sepatu yang kotor.

Yogyakarta termasuk salah satu daerah di Indonesia yang masih mengalami kemarau. Seperti juga Jakarta yang sudah lama tidak turun hujan. Untuk urusan cuaca dan musim, saya percaya pada apa kata Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dan kata mereka, Indonesia bisa jadi masih akan kemarau hingga akhir tahun. Penyebabnya, karena fenomena El Nino. Bahkan, kabarnya, jika dipantau dari Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan milik BMKG, beberapa wilayah di Jawa, Sulawesi Selatan, Lampung, Bali, NTB, dan NTT sudah kering sejak Mei 2015—mengutip berita di Berita Satu.

Kali ini saya datang ke Jogja khusus memenuhi undangan dari Google Indonesia. Mereka hendak merilis Google Street View secara resmi versi Candi Borobudur dan 10 candi lain, seperti Prambanan dan Ratu Boko, sekaligus memperkenalkan Google Cultural Institute untuk pertama kalinya di Indonesia.

Candi Borobudur - acer explorer

Kita mungkin sudah familiar dengan Google Maps Street View, ya. Ketika ingin mengeksplorasi suatu lanskap dalam bentuk 3D, baik itu di ponsel atau komputer, sebagian besar dari kita mungkin segera membuka Street View. Tidak kepikiran yang lain-lain lagi. Saya sendiri sebagai travel blogger dan travel writer bisa dikatakan tidak bisa lagi lepas dari teknologi ini. Memudahkan saya untuk mengetahui suatu destinasi sebelum betul-betul berada di sana.

Di Indonesia—selain Borobudur dan candi-candi—, tempat yang sudah bisa dieksplorasi secara virtual lewat Street View, antara lain Museum Nasional, Jimbaran, Padang Padang, Dunia Fantasi, Taman Safari, sampai tempat-tempat ibadah seperti Vihara Neca (Nezha).

Saya kembali melihat boots saya yang berdebu, untuk kemudian mengamati seorang lelaki dengan ransel berbentuk unik di punggungnya berdiri di hadapan saya. Pemandangan yang tidak biasa.

Cinthya Google Street View

“Itu robot, ya, Mbak?” seorang pengunjung Borobudur dengan logat Jawa yang medhok bertanya kepada saya.

Saya tersenyum sejenak, tapi ketika ingin menjelaskan, si ibu itu sudah pergi karena sibuk menjaga anak balitanya yang berlarian ke sini-sana.

Lelaki itu masih berdiri di hadapan saya, dengan ransel di punggungnya. Bersama saya, hadir pula seorang kawan travel blogger, Josefine Yaputri, dan beberapa kawan dari media, seperti Koran Sindo, NET TV, Kompas TV, Kompas.com, Femina, dan The Jakarta Post.

travel blogger - atre sefin

Lelaki itu belakangan saya ketahui bernama Eko Pramono. Ia menggendong sebuah alat bernama Street View Trekker yang berbentuk ransel. Ialah platform kamera Street View dilengkapi sistem kamera dengan 15 lensa yang yang mengarah ke berbagai penjuru, di atasnya. Sehingga, menghasilkan potret panorama 360 derajat. Seperti lollipop bulat yang besar mencuat dari dalam ransel.

Mr. Trekker

Eko adalah seorang operator Trekker yang sudah dilatih selama sekitar 1 tahun oleh Google. Tugasnya adalah menelusuri jalan setapak dengan berjalan kaki, dan selama itu, mengumpulkan gambar. Kedengarannya mudah, tapi sama sekali tidak. Saya sempat mencoba menggendong ransel Trekker itu tidak sampai 1 menit, tapi beban di punggung dan pundak sudah menggigit. Rupanya, berat Trekker itu memang mencapai 20 kg. Luar biasa!

trekker

Di hari Minggu yang terik, 27 September 2015, saya melihat sendiri Mr. Trekker (begitu istilah penyebutan untuk operator Trekker) berkeliling dari pelataran Candi Borobudur, pelan-pelan, hingga ia akhirnya tiba di puncak. Sebetulnya, untuk pengambilan gambar 360 derajat, Google memiliki mobil yang juga dilengkapi kamera dengan 15 lensa bernama Street View Car. Tapi, khusus untuk daerah-daerah terpencil yang hanya bisa diakses dengan kaki, mereka punya Trekker ini.

Street View Car

Trekker sendiri sudah digunakan sejak 2012. Ia sudah mengelilingi dunia, mulai dari Grand Canyon, Taj Mahal, Gunung Fuji, Pulau Galapagos, jalur pejalan kaki yang bersejarah di Venice, beberapa tempat lain di dunia, hingga kini pertama kalinya hadir di Indonesia.

Kenapa Borobudur dan 10 candi lain jadi destinasi awal untuk penggunaan Street View Trekker di Indonesia? Tidak hanya karena pernah masuk dalam daftar 7 Keajaiban Dunia dan sudah berstatus Warisan Dunia versi UNESCO, komplek Candi Borobudur adalah salah satu yang tertua di dunia, bahkan mendahului komplek Angkor Wat selama 300 tahun. Hal ini dikatakan oleh Lailly Prihatiningtyas, Direktur Utama Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Alasan lain, karena ini sesuai dengan tema Google untuk memperkenalkan pertama kali Google Cultural Institute. Jadi, kita tidak hanya bisa sekadar menikmati keindahan panorama Indonesia secara virtual, tapi sekaligus juga mempelajari sejarah dan budaya di balik destinasi-destinasi tersebut. Teknologi ini memungkinkan warisan budaya Indonesia semakin terekspos ke dunia internasional, dan membuat para wisatawan terpikat untuk melihat destinasi-destinasi ini secara langsung.

“Misi Google adalah untuk mengorganisasi informasi dunia, membuatnya mudah diakses dan bermanfaat bagi semua orang. Dengan menghadirkan gambar Street View Borobudur dan kisah sejarah di Cultural Institute untuk pertama kalinya, kami berharap ini bisa membantu pelestarian budaya dan sejarah bagi generasi penerus bangsa, dan menginspirasi lebih banyak orang di Indonesia dan seluruh dunia untuk mengunjungi dan mengapresiasi warisan budaya bangsa kita,” kata Shinto Nugroho, Head of Public Policy & Government Relations, Google Indonesia.

Sedikit tentang Google Cultural Institute, ia adalah kerjasama global antara Google dengan 800 institusi budaya di lebih dari 60 negara agar karya seni dapat diakses oleh siapa saja, di mana saja, kapan saja. Hingga kini, sudah lebih dari 180 ribu karya seni dan 6 juta foto, video, manuskrip, dan dokumen seni, kebudayaan, serta sejarah dapat dilihat online dan beresolusi tinggi. Kita bahkan bisa berdiskusi tentang karya seni favorit kita di tempat ini. Cukup mengunjungi situs Google Cultural Institute di sini.

Cultural Institute

Well, selamat rilis Google Cultural Institute. Untuk para pejalan, selamat mengeksplorasi Indonesia, guys! Semoga tidak hanya secara virtual lewat Google, tetapi juga segera berkemas dan berangkat ke destinasi-destinasi impian. Wohoooo~

One Comment Add yours

  1. ghozaliq says:

    Hari minggu do Borobudur, perlu waktu buat ngumpetin pengunjung biar gak masuk frame ya mba?😀

    semoga gak cuman sekedar 3 dimensi saja, bisa juga 4 dimensi dengan memasukan dimensi waktu.
    sepertinya akan lebih menarik melihat perubahannya dalam kurun waktu tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s