Bagian I: Kejutan Menyenangkan dari Pesisir Gunung Kidul

“Mau ke Wonosari? Kenapa ke Wonosari?”

Itu hal pertama yang kebanyakan orang katakan saat tahu saya berencana untuk melakukan perjalanan ke Wonosari. Mungkin, karena sebagian besar orang sedang gandrung pada destinasi-destinasi di luar Jawa, seperti Flores, Sumba, atau Papua. Jadi, seperti meleset dari perkiraan banyak orang ketika saya menyebutkan destinasi traveling saya selanjutnya ya ke Jawa Tengah.

Indonesia Timur memang semakin naik daun di dunia pariwisata. Tapi, bukan berarti Jawa telah terlalu usang untuk dijelajahi. Dan kini, pertanyaan yang tepat sebetulnya adalah, “Kenapa nggak ke Wonosari?”

Saya pernah ke dua pantai di Wonosari, tepatnya di kawasan Gunung Kidul, yaitu Pantai Ngobaran dan Pantai Ngrenehan. Letak keduanya itu tidak jauh, bahkan bisa disebut berdampingan. Karena alasan waktu, saat itu saya hanya bisa menikmati dua pantai bersih yang masih sepi itu hanya sebentar saja. Sejak itu, saya merasa punya janji dalam hati untuk kembali ke Wonosari untuk menggenapi perjalanan yang tempo lalu itu masih ganjil.

Pada 19-22 Oktober lalu, saya berangkat ke Yogyakarta untuk kemudian menempuh jalan darat ke Wonosari. Total, hanya 2 hari saya menghabiskan waktu menjelajah Wonosari. Sisanya, saya berada di Jogja untuk bertemu beberapa kawan dan sekaligus mampir ke beberapa kafe enak di Jogja (akan dibahas dalam tulisan terpisah).

Dalam 2 hari itu, saya sempat mampir ke beberapa pantai di pesisir Gunung Kidul. Beberapa di bawah ekspektasi, beberapa yang lain justru sungguh membuat hati kegirangan. Kali ini, saya ditemani kawan bernama Adhisty Prameswari, perempuan berambut kuning yang baru wisuda S2-nya di ISI yang biasa dipanggil Adhis. Untung anak ini baik banget mau menemani saya menginap di Wonosari–sampai cuti kerja.

Atre dan Adhis

Iya, untuk alasan efektivitas, kami menginap di Wonosari, tepatnya di Wisma Joglo Samiaji yang bersih dan nyaman. Kalau harus bolak-balik Gunung Kidul-Yogyakarta kenyataannya agak tidak praktis dan tentu saja capek di jalan. Menginap di Samiaji ini pun masih terasa jauh dari kawasan pesisir. Ketika kami ke sana langsung, baru tahu kalau ternyata ada penginapan yang jauh lebih dekat ke wilayah pesisir ketimbang Samiaji yang jarak tempuhnya sekitar 45 menit ke kawasan pantai.

Karena punya waktu 2 hari kurang lebih, saya dan Adhis membagi trip telusur Gunung Kidul ini jadi dua. Pertama, kami ke area pesisir yang lebih jauh, tempat di mana Pantai Siung, Pantai Nglambor, dan Pantai Jogan letaknya berdekat-dekatan. Di hari kedua, kami baru mendatangi kawasan pesisir yang lebih dekat tempat Pantai Watu Kodok, Watu Lawang, dan Pantai Drini betul-betul bersebelahan.

Hari 1: Pantai Siung-Pantai Nglambor-Pantai Jogan
Dari penginapan di Jalan Sumarwi, saya dan Adhis motoran ke arah pesisir dan menghabiskan waktu sekitar 50 menit di jalan. Jalan raya sepanjang perjalanan sudah begitu mulus dengan rute yang berkelok-kelok. Sama sekali tidak ada kemacetan, tapi kadang-kadang ada razia kendaraan bermotor di tengah-tengah jalan. Makanya, siapkan STNK dan SIM jika memang membawa kendaraan pribadi.

Saya pribadi begitu menikmati perjalanan menuju pesisir. Pantat memang agak kebas, sih, tapi tenang betul melihat di kanan-kiri jajaran pohon jati yang sedang meranggas dan tersisa hanya ranting-rantingnya saja.

“Kayak di Eropa,” kata Adhis. Saya cuma ketawa lebar. Sesekali bermain-main dengan GoPro dan monopod, sementara Adhis asyik mengendarai motornya yang dinamai Kris.

Tidak sulit untuk sampai ke kawasan pesisir ini, karena jalanan utama memang hanya satu. Kita cukup mengikuti jalan, lalu cermat melihat penunjuk jalan yang mengarahkan kita ke pantai-pantai yang kita inginkan. Di hari pertama ini, saya sempat melihat pertigaan jalan; ke kiri adalah Pantai Siung dan kawan-kawan, ke kanan adalah Pantai Drini dan kawan-kawan. Kami kali ini belok ke kiri. Tidak berapa lama dari pertigaan, ada portal dan pos registrasi yang meminta biaya masuk yaitu Rp5.000/ orang.

Pantai Siung
Sekitar 5 menit dari pos tersebut, kami mulai melihat tanda panah menuju ke beberapa pantai. Pemberhentian pertama kami adalah Pantai Siung yang masuk wilayah Kecamatan Tepus. Karena kami tiba di sana ketika jam hampir memasuki pukul 11.00, pantai ini sedang panas-panasnya. Langit terlihat putih saja, tak ada awan. Angin juga sedang kencang. Air laut kelihatan pasang. Hanya ada beberapa orang saja yang sedang asyik duduk-duduk di bawah pohon di pinggir pantai. Saya dan Adhis sebelum beranjak ke tepian pantai, menyempatkan diri makan siang dan memesan es teh manis di salah satu warung yang
berjajaran di dekat area parkir kendaraan.

“Makan dulu, Mbak, baru ke pantai,” kata Mas si tukang parkir menggoda. Adhis langsung memesan nasi rames dengan lauk ikan dan sisanya saya tidak ingat. Saya mencukupkan diri hanya dengan es teh manis. Segar betul di tengah panas yang teriknya alamakjan. Yang mengagetkan, semuanya hanya Rp8.000! Wakkk, murah! Senaang…

Setelah membaluri seluruh badan dan wajah dengan sunblock, saya mengenakan topi lebar hijau kebanggaan saya untuk melindungi kepala dari panas, sedangkan Adhis bermodalkan scarf hitam. Begitu menyusuri pantai, saya merasakan pasir putih menepuk-nepuk telapak kaki. Agak panas, tapi juga halus. Saya juga sempat melihat beberapa perahu sedang bersandar di tepi pantai. Sebuah tulisan lalu menarik mata saya. Dilarang berenang di pantai. Wah, ternyata Siung bukan pantai untuk berenang. Jelas sih mengingat
ombak-ombaknya begitu ganas (yang tadinya saya pikir hanya karena sedang pasang), serta karang-karang di dasar.

Siung - atre

Ada sebuah bukit dengan tangga-tangga yang sudah tersedia di sebelah kiri pantai. Di atas sana, untuk mengistirahatkan diri dari terik matahari, ada gazebo-gazebo kayu yang boleh digunakan untuk berteduh.

Dari atas, kita bisa melihat lekukan Pantai Siung yang di kanan-kirinya dibatasi oleh bukit karang yang besar. Seperti ingin menyembunyikan pantai ini dari mangsa siapa pun. Saya ingat saya sempat bergidik melihat ombak-ombak pecah berhambur setelah menabrak karang. Dan, siapa saja sadar bahwa warna air pantai di sini begitu gelap, menandakan bahwa karang-karang berada di dasarnya.

Siung - atre 2

Siung nyatanya memang bukan pantai untuk renang-renang santai. Ia dikenal sebagai kawasan panjat tebing. Kabarnya, kini Siung memiliki hingga 250 jalur pemanjatan. Saya sendiri baru tahu, dan sayangnya, ketika saya dan Adhis datang ke sana, tidak ada satu pun pemanjat sedang beraksi. Mungkin karena weekdays?

Pantai Nglambor
Adhis agak sedih melihat saya yang sudah siap basah, tapi gagal menceburkan diri di Siung karena pantai itu jelas tidak aman untuk berenang. Ia lalu segera mengajak saya beranjak ke pantai sebelah, yaitu Pantai Nglambor. Nama pantai ini jujur baru sekali ini saya dengar. Kata Adhis, Nglambor biasa jadi destinasi orang-orang yang ingin snorkeling. Wah, kedengarannya seru, kata saya dalam hati.

Siung-Nglambor hanya berjarak 5 menit saja. Berbeda dengan ke Pantai Siung, akses ke Nglambor cukup rusak, dengan batu-batu kerikil di sepanjang jalan. Alhasil, pas baru hampir tiba di parkiran Nglambor, Kris ternyata kehabisan udara. Ban motor Adhis kempis. Untung saja, di area Nglambor ada tempat pengisian angin untuk ban. Kris sudah diselamatkan.

Dari area parkir, perlu jalan menurun untuk sampai ke tepi pantai Nglambor. Dari atas, terlihat satu bukit karang kecil di dekat pantai. Lalu, ada beberapa orang yang hanya sekecil ujung jari terlihat sedang berkumpul di pantai. Begitu sudah dekat, saya melihat mereka sedang snorkeling di tepi pantai tersebut. Saya sempat bingung karena mereka snorkeling begitu dekat dengan bibir pantai. Dan, begitu saya melihat dasar laut, begitu banyak batu-batu kehijauan (ternyata rumput laut) di sana. Saya hanya terduduk di bawah pohon di tepi pantai, dan memandangi mereka yang berbahagia dengan itu. Tidak bisa saya hindari untuk tidak membayangkan keindahan bawah laut Flores atau (sekadar) Karimun Jawa. Meski weekdays, Nglambor tidak pernah sepi.

Nglambor - snorkeling - atre

Tidak sampai setengah jam di Nglambor, kami lanjut ke destinasi berikutnya; Pantai Jogan.

Pantai Jogan
Saya datang ke Jogan dengan harapan bisa melihat sendiri air terjun yang mengalir langsung ke laut. Ya, Pantai Jogan memang terkenal akan air terjun ini. Tapi agak sial rupanya, saat saya datang tempo hari, di saat kemarau panjang sedang mendera, air terjun di Jogan ternyata mengering.

“Iya, aliran airnya dialihkan buat ladang-ladang sayur di desa,” cerita Pak Min yang memiliki warung sederhana di area Pantai Jogan.

“Kalau tidak kemarau, air melimpah sampai ke bawah jembatan itu, Mbak,” Pak Min menunjuk jembatan yang terbuat dari bambu.

Saya hanya bisa saling pandang dengan Adhis. Sempat agak buntu pikiran, kami akhirnya duduk-duduk sebentar di warung Pak Min, lalu menenggak pesanan es teh manis dingin.

Setidaknya, Jogan sepi. Praktis hanya kami yang kala itu ada di area Jogan. Saya pribadi senang menikmati pantai jika keadaannya sepi. Zen moment. Solitude. Maka, di area yang biasanya mengalir air terjun, saya dan Adhis duduk-duduk di atas bebatuan menghadap laut luas. Di bawah kami karang-karang seperti rindu pada runtuhan air terjun dari atas mereka.

Jogan - leyeh-leyeh - atre

Hari menjelang sore. Ombak semakin keras beradu-adu ke tebing-tebing kapur di kanan-kiri Jogan. Burrr…buuuur…

Kalo air terjunnya lagi deras, orang-orang sering rappeling dari atas sini ke bawah, Mbak. Seru, jadi badannya kesiram air terjun,” cerita Pak Min lagi. Lalu, katanya lagi, ketika tiba di bawah, orang-orang bisa menikmati siraman air terjun yang tawar dan segar itu.

Ah, sayang saat itu semua sedang mengering.

Seperti melihat kekecewaan di mata kami, Pak Min segera membisikkan sesuatu yang akhirnya membuat hari kami ditutup dengan sempurna. Meski tanpa air terjun, hari itu tetap menyenangkan karena kami berada di tempat yang tepat untuk menyaksikan senja. Saya selalu punya kecintaan yang berlebih terhadap senja, dan ilalang, dan dandelion, dan … (jadi banyak).

Pantai Jogan trekking - atre

Pantai Jogan trekking - atre 1

Tidak banyak orang yang tahu, kita bisa trekking di areal perbukitan tepat di sebelah pantai, untuk kemudian tiba di titik tempat kita bisa menikmati senja yang terhampar di Samudera Hindia.

Pantai Jogan - atre

Saya dan Adhis segera trekking dengan jalur yang sudah tersedia. Pelan-pelan, sampai sekitar 15 menit kemudian, kami tiba di spot sunset viewing yang dimaksud oleh Pak Min. Kebetulan, sore itu senja begitu menakjubkan. Sembari ngemil-ngemil kecil (jangan sampai lupa Lay’s rasa rumput laut!), kami saksikan senja turun perlahan ke batas laut, melihat perubahan langit yang tadinya jingga keemasan, jadi ungu kemerahan.

Well, Jogan jelas menjadi highlight trip kami hari ini!

Sunset Pantai Jogan

 

Bersambung ke Bagian II: Pantai Watu Kodok, Pantai Drini…

 
Fast Track:
Wisma Joglo Samiaji

Jl. Sumarwi, Gang Mayang RT06/RW12, Gadungsari, Wonosari
Telp.: (0274) 391222, 081328745089
Harga: Rp100.000 (Kipas Angin), Rp150.000 (AC), Rp175.000 (VIP)
Jarak: 45 menit-1 jam ke kawasan pesisir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s