Bagian II: Kejutan Menyenangkan dari Pesisir Gunung Kidul

Better to see something once than hear about it a thousand times.

Saya mendengar begitu banyak “katanya” tentang Gunung Kidul. Katanya pantai-pantainya indah. Katanya jarak dari satu pantai ke pantai lain berdekatan. Katanya ombaknya besar. Katanya mistis. Katanya akses untuk mencapai pantainya sulit. Katanya ini, katanya itu, dan katanya yang lain-lain.

Well, saya tidak mau hidup hanya berdasarkan fondasi “katanya”. Kalau ada yang bilang, “Katanya kamu anaknya seru,” kepada saya, ya, apa yang ada di pikiran saya adalah orang-orang seperti tidak yakin bahwa saya memang seru banget anaknya. Ha-ha-ha (sekali-sekali narsis). Saya tidak mau puas hanya dengan sekadar “katanya”. Saya mau, “Kamu anaknya seru!”. Titik. Tanpa ada kata “katanya”. Berarti sahih. Berarti valid.

Atas fondasi inilah, saya akhirnya berangkat ke Gunung Kidul. Maka, saya di sini untuk membuktikan bahwa Gunung Kidul lebih dari sekadar kata orang-orang, lebih dari sekadar “katanya”.

Toh setiap “katanya” butuh pembuktian.

Dalam postingan sebelum ini, saya sudah cerita hari pertama saya dan Adhis (teman traveling saya kali ini; perempuan Batak, kuliah di Jogja, besar di Jakarta) road trip ke beberapa pantai di Gunung Kidul. Jujur, di hari pertama itu, perasaan saya campur-aduk. Sesekali kecewa, tapi lebih seringnya terkejut. Kejutannya menyenangkan pula. Seperti ketika menerima sebuah kotak yang ketika dibuka adalah benda yang lama sudah diidam-idamkan. Ada perasaan gembira yang melesat sampai ke ubun-ubun.

Kali ini, saya dan Adhis punya cerita tentang hari kedua kami di Gunung Kidul. Tapi, hari kedua ini diawali dengan perasaan saya yang agak sendu. Topi hijau kesayangan saya ternyata semalam hilang terbawa angin, saat motoran dari kawasan pesisir ke penginapan. Hari memang sudah malam waktu itu. Adhis mengendarai Kris (nama motornya) begitu ngebut. Saya yang sedikit punya trauma terhadap kebut-kebutan karena pernah beberapa kali kecelakaan, mungkin agak paranoid lalu lupa menjaga topi yang saya pegang dengan kedua tangan. Apalagi, kalau sudah masuk malam, jalanan Gunung Kidul itu minim penerangan, dan jarang ada kendaraan lain yang bersama kita. Gelap selalu berhasil bikin saya grogi.

Rencana hari ini, kami main-main ke pesisir yang letaknya lebih dekat dari area pesisir Siung dan kawan-kawan yang kemarin kami datangi. Jika kemarin butuh waktu hingga nyaris 1 jam, pesisir kali ini bisa dicapai sekitar 45 menitan dari penginapan: Wisma Joglo Samiaji.

Perjalanan masih seputar pohon-pohon meranggas yang hanya tersisa ranting-rantingnya saja, serta jalan beraspal mulus yang berkelok-kelok. Sesekali ada pedagang belalang goreng di pinggir jalan. Wonosari ternyata memang terkenal dengan kudapan belalang goreng seperti yang bisa kita temui di Thailand atau negara-negara Asia Tenggara lain. Rasanya pun beragam; manis, pedas, dan gurih. Saya sendiri tidak sempat berhenti untuk mencicipi, karena jujur tidak yakin.

Ketika sudah tiba di sebuah pintu gerbang, tempat kita harus membayar biaya masuk Rp10.000/ orang, itu pertanda kita sudah tiba di kawasan pesisir Pantai Drini dan kawan-kawan. Ini bagian terbaiknya: di sini, dalam satu kawasan, ternyata saya bisa sekaligus mengunjungi tiga pantai yang letaknya persis bersebelahan: Pantai Watu Lawang, Pantai Watu Kodok, dan Pantai Drini. Adhis tidak pernah menyebutkan ini sebelumnya. Mungkin, ingin jadi kejutan menyenangkan. Hell, yeah!

Watu Lawang

Pantai Watu Lawang
Letaknya paling kanan dari ketiga pantai yang saya sebutkan tadi. Ini pantai paling kecil, dengan letak yang sangat tersembunyi karena di kanan-kirinya mengapit bukit tinggi. Perlu menyusuri jalan setapak terlebih dulu sekitar 5 menit untuk kemudian bisa tiba di pantai ini; pantai dengan pasir putih, ombak yang besar, dan suasana yang sepi.

Pantai Watu Kodok
Ia berada di tengah-tengah jajaran tiga pantai itu. Mirip dengan Watu Lawang, Watu Kodok juga diapit oleh bukit tinggi. Bedanya, pesisir Watu Kodok lebih panjang ketimbang Lawang.

Watu Kodok

Ombaknya masih sama besar. Pasir pantainya juga masih sama putih dan bersih. Hanya saja, agak sulit untuk berenang di Watu Kodok. Selain karena ombaknya yang besar dan agak menghisap ke kedalaman saat pasang, juga karena banyak batu kerikil yang menyatu bersama ombak. Saya sendiri menyempatkan untuk membasahi diri di Watu Kodok. Tapi, baru beberapa saat, lutut sudah berdarah dan betis terluka karena hantaman kerikil tadi.

Watu Kodok - atre 1

Akhirnya, saya dan Adhis memutuskan untuk naik ke bukit yang berada di sebelah kiri Watu Kodok. Begitu tiba di atas, angin bersiup sangat kencang. Cuaca memang terik, tapi angin di atas bukit itu adalah jenis angin yang sanggup membuat kita masuk angin hanya dalam hitungan menit.

Kami sempat lama di atas bukit tersebut, berteduh di payung-payung jerami yang banyak berdiri di sana. Sepertinya, semula kawasan bukit ini adalah tempat berdagang. Entah kenapa juga, yang tersisa sekarang adalah tempatnya saja tapi tidak ada orang yang berdagang. Semacam ditelantarkan.

Payung

Dari atas, terlihat jelas garis batas antara pasir yang putih dan air laut yang biru. Layer-layer ombak yang menghasilkan warna putih juga kelihatan jelas. Di atas bukit itu, kami memutuskan untuk menghabiskan camilan yang sempat kami beli di perjalanan: kopi kalengan dan roti sobek rasa keju-coklat. Saya ingat, siang itu kami cerita tentang banyak hal, mulai dari kekasih, destinasi selanjutnya, sampai rencana masa depan. Saya selalu mengidam-idamkan Islandia sejak lama. Sementara, Adhis minta didoakan supaya niat ke Spanyolnya bisa terkabul (ia penggemar berat Barcelona FC). Amiin buat semua rencana baik.

Bukit Drini Watu Kodok - atre

Ada cerita lucu saat kami di atas bukit. Adhis sebetulnya sudah pernah (hanya) ke Pantai Drini. Ketika santai-santai di atas bukit, kami bisa melihat Watu Kodok di sebelah kanan kami. Tapi, ada jeritan kaget dari Adhis ketika ia menoleh ke sebelah kiri.

“Ya ampunnn, itu kan Drini!” katanya.

Ternyata, bukit yang kami daki ini adalah perbatasan antara Watu Kodok dan Drini. Jadi, ketika kita menoleh ke kanan akan melihat Watu Kodok, dan Drini jika melihat ke kiri. Ha-ha-ha. Inilah alasan saya tidak begitu menikmati solo traveling. Kalau ada kejadian-kejadian apa pun, mulai dari konyol sampai “the it moment“, kita berbagi langsung pada teman perjalanan. Kalau solo traveling? Entahlah, saya merasa saya akan selalu kesepian jika harus traveling sendirian.

Setelah main bego-begoan dan tertawa tanpa henti, saya dan Adhis bersiap untuk turun dari bukit, menuju ke pantai berikutnya. Pantai Drini, kami datang!

Pantai Drini
Drini itu memiliki karakter yang mirip dengan Watu Kodok. Ya tentu saja, letaknya pun bersebelahan. Hanya saja, ada hal yang membuat kita bisa segera mengenali Drini dari jauh. Di tepi pantai, ada kapal-kapal nelayan yang bersandar. Di tepi pantai juga, banyak warung makan berjajaran, tempat kita bisa memesan, mulai dari ikan bakar sampai es kelapa. Jasa potret-langsung-print juga ada di Drini.

Pantai Drini - atre

Agak kurang nyaman juga ketika sudah menyesuaikan diri dengan Watu Kodok yang sepi, tapi kemudian ketika tiba di Drini, pantai terlihat lebih ramai. Sebagian besar para pelajar yang datang ke sini–hari itu. Tepi pantai di Drini sangat dangkal di ratusan meter pertama, dengan batu-batuan menutupi dasar lautnya. Sementara, di kejauhan, terlihat ombak-ombak pecah di karang-karang. Air lautnya cenderung kehijauan, karena rumput laut yang ada di dasar laut menutupi bebatuan.

Drini - atre

Beberapa orang, alih-alih berjemur di tepi pantai atau berenang, lebih memilih untuk naik ke bukit yang ada di tengah pantai atau duduk-duduk saja di gazebo dan menikmati es kelapa mereka.

Karena tidak terlalu suka keramaian, saya dan Adhis akhirnya kembali ke Watu Kodok. Kami lihat langit mulai biru, dengan awan-awan yang banyak. Di sebelah kanan, terlihat matahari mulai turun.

Di akhir hari, beberapa “katanya” tentang Gunung Kidul sudah terjawab. Bahwa Gunung Kidul itu mistis, saya tidak merasa demikian. Bahwa pantai-pantai di pesisir Gunung Kidul itu indah, saya mau tak mau sepakat–khususnya di beberapa pantai, tidak di pantai lainnya. Bahwa jarak dari satu pantai ke pantai lain berdekatan, ini sahih banget. Bahwa katanya ombaknya besar, ini betul. Maka, berhati-hatilah.

Dan kini, setidaknya saya sudah pernah satu kali datang ke kawasan ini, tidak hanya sekadar mendengar ceritanya. Ah, rasanya masih ingin kembali lagi ke Gunung Kidul untuk mampir ke pantai-pantai atau destinasi menarik lain yang belum sempat dikunjungi. Sampai jumpa lagi, Gunung Kidul!

3 Comments Add yours

  1. kazwini says:

    Ke timang ga kak?

    1. Atre says:

      Nggak Kaz. Kemaren itu cuma ada waktu 2 hari di Wonosari, jadi nggak semua pantai bisa dijamah. Kayaknya memang mesti balik lagi ke Gunkid. Kamu udah ke Timang?

      1. kazwini says:

        Kesana bentar, pengennya sih naik gantolenya, Cuma dulu ga Ada yg nunggunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s