[Travel Tips] Traveling Tanpa Sinyal

Pantai Jogan - atre

Suatu hari, langit Lombok Timur begitu cerah. Air di pantai yang warnanya sejernih pikiran, berombak-ombak pelan. Di kejauhan, saya lihat sebuah bukit dan tanjung yang rindang lagi meneduhkan mata. Bentuk bukit itu seperti kurva kecil berwarna hijau. Kabarnya, butuh waktu sekitar 15 menit berjalan kaki untuk bisa sampai ke atas sana. Tapi, saya tidak bergerak, hanya duduk-duduk santai, meluruskan kaki, sembari menikmati angin yang siup-siup.

Sore itu, saya tidak sendirian. Ada beberapa kawan juga bersama saya. Semua kadang-kadang sibuk dengan pikiran sendiri, sembari mata mereka berkeliling menikmati lanskap. Tapi, seringkali kami berbincang-bincang dengan hati di beranda restoran yang letaknya langsung menghadap laut yang pasirnya putih bersih dan halusnya bikin candu. Kami bicara tentang hidup, tentang masa depan, tentang musik-musik kesukaan mulai
dari Radiohead sampai Coldplay, hingga bicara segala hal yang sepele sampai akhirnya jadi tidak sepele. Intinya, kami menghabiskan waktu untuk berkomunikasi satu sama lain.

Semua keintiman yang nyata itu bisa terwujud karena di kawasan tersebut, sinyal tidak bisa menembusnya. Koneksi internet? Apalagi. Tanpa sadar, orang-orang yang tinggal di perkotaan kebanyakan waktunya sibuk dengan gadget masing-masing. Entah laptop, entah ponsel–tapi seringkalinya, sih, ponsel.

Kita memperkuat jaringan di dunia maya, sementara menipiskan tali komunikasi dengan orang-orang nyata di hadapan kita.

Ini menyedihkan. Padahal, kita butuh bicara, kita butuh ngobrol, kita butuh bersentuhan langsung dengan orang lain. Bukan hanya karena basa-basi, tapi karena komunikasi dengan orang nyata menjadi latihan untuk otak kita agar tidak merobot lalu tidak acuh. Kita bersinggungan dengan orang lain tidak hanya karena orang lain itu ada, tapi karena bersosialisasi adalah salah satu cara agar kita menjadi lebih manusia.

Maka, perjalanan ke Lombok Timur ini menjadi salah satu trip yang paling berkesan di antara banyak trip yang pernah saya lakukan. Sebab, semua orang yang ikut serta dalam trip tersebut terkoneksi dengan optimal, tanpa terdistraksi gadget-gadget. Membuat saya merasa lebih tenang.

Jika Anda pernah kebingungan jika ternyata tahu bahwa destinasi tujuan kita tidak bersinyal, jangan lagi demikian. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan saat traveling di tempat yang tidak bersinyal.

Kenali Teman Seperjalanan
Kalau memang koneksi internet sama sekali nol, well, terkoneksilah dengan orang-orang yang menjadi teman perjalanan kita. Berbincang-bincanglah. Ini waktunya bagi kita untuk mengenali lebih dalam orang-orang yang ada di sekitar kita. Cari spot paling nyaman untuk mingle-mingle dengan mereka.

Saya pribadi paling suka ngobrol-ngobrol di dermaga saat senja, atau saat berenang santai di pantai.

Ada beberapa fakta baru yang kadang-kadang baru saya tahu tentang teman-teman saya ketika kami chit-chat saat traveling. Mungkin, perjalanan membuat orang lain lebih rileks sampai akhirnya lebih mood untuk berbagi cerita.

Jika memang traveling sendirian, kita bisa saja berkenalan dengan masyarakat setempat. Lalu, mengenal kehidupan mereka yang menarik. Siapa tahu ada cerita mengagumkan di balik itu.

Buku Pilihan
Jika tidak begitu suka bicara atau ngobrol, kita selalu bisa membaca. Untuk itu,

Ingatlah untuk selalu membawa buku pilihan ketika hendak traveling.

Masukkan dalam tas, dan keluarkan jika sedang ingin. Saya pribadi selalu membawa satu buku setiap kali traveling. Kadang-kadang buku baru yang sama sekali belum dibaca satu lembar pun. Kadang-kadang juga buku yang saat itu sedang dibaca, dan sudah habis setengahnya.

Go Outside
Daripada leher linu karena menunduk terus ke layar ponsel sembari menunggu mukjizat datangnya sinyal, ya lebih baik letakkan ponsel lalu
keluarlah. Jika di pantai, kita bisa menghabiskan waktu dengan permainan air, seperti renang, jet ski, banana boat, snorkeling, dan lain- lain. Atau, jika di gunung, kita bisa berburu foto menarik, sembari menikmati lanskap yang tidak bernilai.

Improvisasi
Buat acara-acara menyenangkan untuk menghabiskan waktu traveling bersama teman seperjalanan. Misalnya, dengan menggelar api unggun, BBQ-an,
main games, seperti monopoli atau galaksin, sampai bikin kuis yang santai tapi menyenangkan.

Intinya, saat traveling adalah saat juga kita (semestinya) berlibur dari segala kehidupan digital. Maka, ketiadaan sinyal di destinasi kita justru jadi faktor menguntungkan bagi kita saat traveling. Mungkin kedengarannya seperti gatal yang tidak bisa ditahan saat kita tidak bisa update status di social media karena tidak ada sinyal.

Jadi, arti traveling adalah tentang orang-orang yang bersama kita, bukan orang-orang yang ada di daftar kawan Facebook atau Path kita?

One Comment Add yours

  1. Gara says:

    Setuju… :hehe. Mengeksplor gawai bisa dilakukan kalau tidak sedang traveling, jadi ketika di tempat tujuan, disimpan dulu sebentar ya gadgetnya… :hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s