Do’s and Dont’s: What to Bring When You Go to Switzerland

Saya membuat kesalahan. Di kawasan bersalju abadi, saya tidak membawa perlengkapan yang cukup untuk menghangatkan saya. Jika tidak ada orang baik yang menolong, mungkin saya tidak akan bisa menikmati perjalanan karena terus-terusan menggigil kedinginan. Bahkan, bisa saja saya jatuh sakit. Semua karena tidak siap.

Jungfrau Region

Pada 2013, di musim semi yang berangin, saya traveling ke Switzerland. Sampai kini, ini adalah perjalanan terjauh saya jika jaraknya diukur dari Indonesia. Sempat gugup karena jadwal perjalanan ini begitu mendadak. Karena itu, segalanya serba terburu-buru. Mulai dari persiapan pakaian, sampai persiapan riset untuk tahu lebih banyak tentang Swiss sebelum benar-benar berangkat.

Bekal pengetahuan saya tentang Swiss saat itu hanyalah negara tempat pegunungan terkenal Alpen dan gunung legendaris yang menginspirasi film Nordwand (North Face) karya Philipp Stölzl yang rilis tahun 2008, yaitu Gunung Eiger, berada. Keduanya adalah
pegunungan glasier alias salju abadi. Artinya, negara tersebut adalah kawasan dingin. Tapi, karena waktu itu musim dingin telah lewat dan Swiss bersiap menyongsong musim panas, kontak saya di Swiss mengatakan, “Oh, Swiss mulai hangat.”

Saya ingat betul saat itu adalah masa ketika saya baru saja berhenti dari pekerjaan fulltime saya, dan memutuskan untuk freelance. Jadi, bisa dibilang, waktu itu adalah masa transisi yang chaos; kaget karena yang sebelumnya punya pendapatan pasti setiap bulan, lalu harus buka jaringan sini-sana dan mencari penghasilan. Jadi, tidak sempat saya menanyakan lebih lanjut, “Apakah hangatnya Swiss sama dengan hangat di Indonesia?”

Kesalahan-kesalahan saya sudah terjadi. Meskipun kadang-kadang kesalahan itu menyenangkan karena rasanya spontan atau mengejutkan, tapi ada kalanya juga kesalahan itu berdampak serius atau berbahaya. Semoga Anda yang ingin berangkat ke Swiss tidak perlu lagi melalui kesalahan yang sama dengan saya. Mari belajar dari kesalahan.

Riset Cuaca
Kala itu, saya lebih fokus mengeksplorasi Jungfrau Region, termasuk di dalamnya Interlaken, kawasan yang dikenal sebagai area resort untuk turis tertua di Swiss, yang tepatnya berada di Bern. Wilayah Bern dan Interlaken jika musim dingin bisa mencapai
hingga -22 derajat C. Sementara, ketika musim panas, mereka sehangat 16-17 derajat C. Jelas berbeda dengan hangatnya (kalau tidak bisa dibilang panasnya) Indonesia saat musim panas yang bisa mencapai 40 derajat C.

Jadi, jika Anda seperti saya yang bakal menelusuri kawasan Switzerland bagian salju abadi, mestilah bersiap pakaian-pakaian tebal dan boots tahan air meskipun berangkat saat musim panas.

Persiapan Pakaian Dingin

Tulipses
Kala itu, saya sudah yakin betul cukup jika membawa satu jaket yang biasa digunakan untuk naik gunung, serta sweater berbahan wol yang tebal. Saya juga hanya mengenakan boots kulit tinggi. Tapi, begitu tiba di First Mountain setinggi 2.167 mdpl dan Jungfraujoch di ketinggian 3.454 mdpl yang tertutup salju, keyakinan saya goyah. Dingin masih menembus kulit.

Untungnya, saat itu ada pinjaman jaket tebal berbahan bulu di dalam dan parasut di luar (sehingga tidak menyerap air yang meleleh dari salju) dan boots tebal yang tahan air
serta menjaga kaki dari dingin. Guide saya selama di Swiss-lah yang menolong saya. Kebetulan, ia selalu membawa jaket tebal cadangan. Sementara, untuk boots, ada seorang kawan bernama Pen Tiyawarakul yang meminjamkannya untuk saya. Kebetulan, ukuran kaki kami sama: 38-39.

Jadi, sebaiknya persiapkan jaket tebal khusus musim dingin yang bisa kita temukan di toko-toko outdoor, serta boots yang proper. Seorang kawan ada yang mengenakan boots berbahan suede, dan dalam sekejap, boots-nya itu kemasukan air (dari salju yang meleleh) dan kedua kakinya terjebak air di sepatunya sendiri. Membuatnya menggigil dan kulit pada kakinya mengerut karena kedinginan.

Untuk tambahan, selalu membawa topi hangat. Lebih efektif topi berbentuk kupluk ketimbang caps atau jenis lainnya. Karena topi kupluk merapat pada kepala dan bahan wolnya membuat kita lebih hangat. Dan, yang tidak kalah penting adalah kacamata
hitam–kalau tidak punya kacamata salju. Putihnya salju yang tertimpa sinar matahari lama-lama bisa berbahaya untuk mata kita jika melihatnya secara langsung dan dalam waktu yang lama. Mata bisa mengalami kesilauan yang permanen, dan pandangan jadi
terlalu terang. Seperti melihat viewfinder jika pengaturan kamera sedang dalam keadaan overexposure.

Simpan Tiket Kereta Baik-baik

Train ticket Switzerland
Menelusuri Swiss artinya kita akan sering bersinggungan dengan transportasi kereta. Waktu itu, saya memegang tiket yang bisa digunakan berkali-kali selama saya di Swiss untuk rute ke mana saja. Seperti tiket terusan, yang harganya jutaan jika dialihkan
ke mata uang Indonesia. Maka itu, simpan baik-baik tiket tersebut ke mana saja kita pergi.

Satu hal yang perlu digarisbawahi soal kereta di Swiss adalah mereka sangat tepat waktu. Jika berangkat pukul 07.04 misalnya, mereka akan berangkat tepat pukul tujuh lebih empat menit. Maka, datangnya lebih awal agar tidak perlu berlari-lari untuk tiba di peron, dan supaya tidak ketinggalan kereta.

Abadikan Momen Sebanyak Mungkin
Poin ini mungkin tidak hanya berlaku untuk Swiss ya, tapi seluruh destinasi yang kita datangi. Abadikan momen sebanyak mungkin. Mulai dari daun-daun yang gugur di rumput, seorang lelaki mengendarai motor (motor sangat jarang bisa kita temukan di jalanan Swiss), kebun tulip yang luas, sampai tentu saja pegunungan glasier yang mengagumkan. Pada saatnya nanti, bertahun-tahun setelah perjalanan itu, saat ingatan kita tidak bisa lagi kita andalkan, kita masih punya kenangan yang kita bekukan dalam foto atau video yang kita kumpulkan waktu itu (jadi melankolis!).

Jangan Lupa Coba Makanan Lokal

Rosti beef
Saya pribadi pertama kali mengenal Swiss lewat iklan Ricola. Iklan permen asli Swiss. Setelahnya, saya tahu bahwa Swiss juga adalah negara penghasil coklat yang bahkan digadang-gadang jadi yang ternikmat di dunia. Siapa coba yang tidak kenal coklat
bermerek Lindt?

Maka, ketika sowan ke Swiss, lewatkan waktu untuk mencoba beragam coklat asli sana. Tempo hari, saya tidak hanya banyak ngemil coklat dan memborong banyak coklat, tapi juga segala penganan berbau coklat, saya sikat. Mulai dari fondue coklat
(buah-buahan segar yang dicelupkan dalam coklat cair, yummm…), sampai minuman coklat panas. Saya menikmati coklat panas ternikmat seumur hidup saya di sebuah restoran di Jungfraujoch. Di puncak Eropa yang dingin, dengan pemandangan salju abadi,
lalu segelas coklat panas di tangan, well, lengkap sudah.

Selagi di Swiss, jangan lupa pula menyantap makanan-makanan khas negara ini. Salah satu favorit saya adalah rosti. Semacam kentang yang dipanggang hingga garing lalu dilengkapi sajian daging sapi atau telur dan sayur-sayuran (favorit saya asparagus).
Setidaknya, icip sekali saja. Karena begitu pulang ke Indonesia dan mencari rosti, tidak ada yang selezat rosti di negara asalnya.

Terakhir, ini yang paling pecah sih, setidaknya buat saya yang suka banget keju. Yes, yes, so yes for cheese fondue. Jadi, mirip dengan chocolate fondue, cheese fondue ini adalah daging-daging yang dicelupkan ke keju cair hangat. Bahkan, hanya membayangkannya saja, air liur sudah membuncah. Tidakkkk~

Bawa Saus atau Bon Cabe
Dulu, saya lupa bawa yang pedas-pedas dari rumah. Selama di Swiss, makanan yang seringkali kita temukan adalah berkisar pada daging, mentega, keju, salad, dan kentang. Jarang sekali bertemu nasi, apalagi makanan pedas. Bagi yang suka pedas, maka akan
merasa makanan-makanan ini kurang mantap, meski semewah apa pun. Untuk mengakalinya, bawalah sambal-sambalan dalam kemasan dari
rumah (seperti Sambal Korek Ibu Rudi) atau Bon Cabe.

Oleh-oleh Pisau Victorinox
Swiss memang terkenal akan merek pisaunya, yaitu Victorinox. Merek ini legendaris, sudah ada sejak 1884 hingga kini. Saya sejak dari Indonesia sudah membatin, ingin menjadi bagian dari legenda tersebut dengan membawa pulang oleh-oleh Victorinox yang
belinya langsung dari Swiss. Satu untuk mama (seperangkat pisau dapur). Satu untuk pacar (pisau lipat dengan ukiran nama Tjuk di badan pisaunya).

Ada cerita lucu tentang oleh-oleh pisau ini. Saat di Bandara Zurich, koper saya sempat digeledah karena ada pisau-pisau di dalamnya. Petugas bandara hampir saja menyita pisau tersebut. Katanya, berbahaya. Kata saya, “Tolonglah, ini untuk ibu saya di
rumah. Apa artinya ke Swiss kalo nggak beli Victorinox?”

Si petugas bandara sempat termenung sebentar. Ia lalu menyarankan agar koper saya dimasukkan bagasi (bukan kabin), dengan begitu ia bakal meloloskan pisau-pisau tersebut. Dan, memang akhirnya seperangkat pisau bergagang warna merah selamat sampai ke tangan ibu saya. Pelajarannya, jika ingin membeli pisau, simpan baik-baik dalam koper yang akan dimasukkan bagasi. Jika disimpan dalam tas yang dibawa ke kabin, kemungkinan akan langsung disita.

Lipgloss dan Pelembap Tubuh
Wah ini. Karena ini pertama kalinya saya datang ke negara dingin dan traveling ke daerah bersalju (ini pertama kalinya juga saya lihat dan bermain-main dengan salju. Yiha!), maka baru tahu kalau negara dengan udara dingin lebih cepat membuat kulit kering dan bibir pecah-pecah. Meskipun sebagian besar waktu mengenakan jaket, tidak otomatis kulit kita terlindungi. Maka itu, jangan lupa membawa pelembap tubuh dan pelembap bibir. Setiap kali akan keluar, gunakan keduanya.

Akhir kata, selamat menikmati Switzerland dan segala keindahannya. Have a great time!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s