Behind the Scene: Wonderful Indonesia

Shooting trekkingTuhan katanya bersama para freelancer, kata para freelancer. Lain lagi kata pejalan. Kata mereka, Tuhan bersama para pejalan. Nanti begitu lihat freelancer dan pejalan bilang begitu, arsitek, dokter, polisi, dan segala macam profesi yang ada di dunia jadi mau ikut bilang, Tuhan bersama mereka. Sah-sah saja, karena sebetulnya Tuhan bersama mereka yang percaya pada-Nya. Tidak peduli apa profesinya.

Kenapa kok saya bawa-bawa Tuhan sebagai pembuka? Tidak ada alasan. Mungkin karena saya menuliskan ini di pukul 02.30 dini hari, waktu seperempat malam ketika Tuhan memang lagi dekat-dekatnya pada kita–atau cuma saya saja yang baper macam ini. Di luar itu, saya juga memang percaya bahwa Tuhan saya, Allah SWT, bersama saya, hambanya yang (kebetulan statusnya adalah) freelancer.

Bagaimana tidak, jalan hidup membawa saya ke tempat-tempat indah di dunia. Jalan profesi saya memungkinkan pula saya bisa melakukan hal yang saya cintai sebagai pekerjaan, yaitu menulis. Kerja itu main. Kerja yang terus-menerus membuat saya selalu gemas dan bersemangat berlebihan setiap kali hendak memulai project baru. Tidak terkecuali yang satu ini.

Sejak awal ketika rumah produksi tempat saya kini lebih banyak berkarya, Wonderwall Pictures, menyuarakan bahwa hendak memproduksi video promosi pariwisata untuk Kementerian Pariwisata Republik Indonesia (Kemenpar) dan bekerja sama dengan Google Indonesia, saya excited betul. Bagaimana tidak, untuk kali ini, video tersebut akan ditayangkan tidak di Indonesia, tetapi di 5 negara, yaitu Malaysia, Singapura, Hong Kong, Jepang, dan Australia.

Saya dan kawan-kawan biasa bekerja dalam tim kecil. Bagi saya pribadi, tim kecil tapi solid jauh lebih baik ketimbang tim besar tapi ricuh. Untuk project Wonderful Indonesia ini, ada saya sebagai penulis naskah dan penata kostum, Giri Prasetyo sebagai sutradara, Sukma Kurniawan sebagai produser dan asisten sutradara, Ponti Ramanta sebagai second cameraman, Fajar Shodiq bertugas sebagai soundman, Samuel Respati sebagai komposer, Arik Rahman sebagai manajer lokasi, dan kawan-kawan di Canting sebagai editor.

Karena sasaran pasarnya adalah turis luar negeri, talent yang dicari adalah sepasang orang yang satu mewakili bangsa Asia, dan yang lain adalah bule. Untuk Asia, ada model bernama John Wong, orang Indonesia yang berketurunan Jepang. Untuk bule, terpilih model asal Hungaria bernama Rebecca Kovari. Selama 15 hari, kami akan berkeliling beberapa pulau beberapa kota di Indonesia untuk masa produksi, dimulai dari Jakarta, Bandung, Batam, Yogyakarta, Bali, Lombok, lalu Flores.

Shooting

Dalam cerita, John memerankan Maru dan Rebi memerankan Sandra. Mereka sempat bertemu secara tidak sengaja. Tapi, lalu mereka berpisah karena memang mereka datang ke Indonesia untuk mengeksplorasi interest yang berbeda. Sandra adalah penari, ceritanya, dan Maru adalah musisi. Sudah tertebak, Sandra menelusuri Indonesia untuk mengetahui beragam kekayaan seni tari, kemudian Maru mengeksplorasi keindahan seni musik di Indonesia.

Shooting hills

Untuk project ini, kami mengelilingi beberapa wilayah di Indonesia, yaitu Jakarta, Bandung,
Batam, Yogyakarta, Bali, Lombok, dan Flores. Produksi dilakukan selama 15 hari, mulai dari 1-15 November 2015. Jakarta, Bandung, dan Batam berjalan lancar. Hanya ketika memasuki Yogyakarta, langit mendung mulai turut campur. Kami sempat ketar-ketir ketika awan mendung bergayut di hari terakhir kami syuting di Yogyakarta. Kebetulan, hari itu adalah jadwalnya kami mengambil shot matahari terbit dan senja; dua hal yang begitu ditentukan oleh cerahnya langit. Hasilnya, lihat sendiri di video yang sudah rampung nanti ya. He-he-he.

Persoalan kembali terjadi ketika kru kecil ini harus kehilangan satu awak, Mas Arik, karena ia harus kembali ke kampung halamannya di Surabaya di tengah produksi. Ibu mertuanya meninggal dunia. Istrinya membutuhkan ia ada di sisinya. Maka, pulanglah ia ketika kami masih syuting di Bali.

Kendala yang lebih bikin otak produser kami, alias Bang Dede, lebih runyam lagi adalah ketika dua bandara, Bandara Lombok Internasional dan Bandara Ngurah Rai di Bali sempat buka-tutup karena meletusnya Gunung Batu Jari, Gunung Rinjani di Lombok. Debu vulkanik letusan tersebut sempat mengganggu penerbangan, sampai-sampai bandara harus ditutup. Peningnya adalah karena waktu tutupnya bandara bertepatan dengan jadwal kami syuting di Lombok dan Flores.

Tibalah saat kami harus ke Lombok dari Bali. Sempat ingin menunggu saja hingga bandara buka, tapi ada timeline yang harus ditepati dan dipenuhi. Maka, kami terbuka untuk segala macam alternatif. Akhirnya, kami numpak kapal feri dari Pelabuhan Padang Bai ke Pelabuhan Lembar di Lombok. Jika biasanya naik pesawat tidak lebih dari 1 jam, dengan feri, kami menempuh perjalanan sekitar 4 jam. Bukan soal waktu tempuhnya yang jadi lebih lama, sih, tapi lebih kepada geret-geret koper, angkat-angkat barang-barang bawaan yang luar biasa banyaknya. Untungnya, sekali lagi untungnya, tiap orang dalam tim berpartisipasi, dan membawa senang keadaan yang ngenes sekalipun. Jadi, masih seru meski lelah.

Begitu tiba di Lombok, kami sempat menginap di Desa Sembalun, kaki Gunung Rinjani. Betul saja, dari desa ini, kelihatan Si Batu Jari masih menyala-nyala. Lavanya masih meletup-letup. Warna oranye terang begitu kontras dengan langit yang gelap. Kami, meski kedinginan, menikmati pemandangan magis itu dari padang rumput luas di depan penginapan. Pemandangan ini begitu langka. Sayang untuk dilewatkan. Pada akhirnya kami menerima untuk bersusah payah naik feri, ketimbang terbang dengan pesawat tapi tidak aman.

Shooting Lombok

Setelah Lombok, jadwal produksi berlanjut ke Flores. Untuk sampai di Flores, kami harus terbang ke Labuan Bajo. Nah, penerbangan Labuan Bajo hanya ada dari Bali. Maka, mengulangi proses sebelumnya hanya saja sebaliknya, kami naik feri dari Lombok ke Bali malam hari. Kami tiba di Bali dini hari, untuk kemudian melanjutkan penerbangan Bali-Labuan Bajo di pagi hari.

Well, pekerjaan memang kadang-kadang membutuhkan kesabaran dan energi yang lebih, untuk hasil yang paripurna. Apa pun itu, saya pribadi menikmati perjalanan 15 hari untuk project yang satu ini. Di sela beragam kendala, terselip keseruan-keseruan yang tidak bakal terlupakan, mulai dari lava Rinjani sampai sengatan ubur-ubur saat snorkeling di Taman Nasional Komodo.

Shooting underwater

Sekarang, tinggal menunggu dengan sabar hasil akhir video ini. Sejauh ini, semua masih dalam proses post-production, yaitu pengeditan sampai pewarnaan. Kalau sudah rampung, saya bakal kabari ya bisa dilihat di mana videonya.

Create more.

4 Comments Add yours

  1. viraindohoy says:

    Awesome! Semoga sukses projeknya Kak! Setuju, tim kecil tapi solid gak ada yg nandingin (ada sih, tim besar yg solid, tapi itu agak jarang terjadi). Selamat maen2 sambil berkarya terus Kak!

    1. Atre says:

      Waaaahh, ada Kakpir. Makasih udah mampiiiirrrrr…

  2. Gara says:

    Tak sabar menunggu videonya yang sudah selesai :hihi, semoga hasilnya bisa jadi yang terbaik. Indonesia memang indah!

  3. salam kenal Bung…
    Saya dari kota Batu Malang. di kaskus sering dipanggil dengan id : TigerClan
    Insha Allah hafal untuk area Jawa Timur
    Pantai di sini juga bagus bagus, kapan maen kesini bung?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s