Wohooo, Live on Board (LOB) Flores!

Flores aerial view - atre

Tanah Flores. Ia seperti sehelai selimut tebal di musim dingin. Akan selalu ada perasaan aneh yang menyenangkan ketika mendarat di tanah ini. Akan selalu ada keinginan untuk berlama-lama di sana.

Salah satu itinerary dari perjalanan 15 hari untuk project Wonderful Indonesia tempo hari,
adalah Flores. Daerah ini selalu menjadi salah satu destinasi favorit saya.

Pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Flores ialah tahun 2013. Kala itu, saya bersama 9 kawan menjelajah mulai dari Labuan Bajo sampai Taman Nasional Komodo. Itu pertama kalinya saya merasakan banyak hal untuk yang pertama kalinya; kengerian tapi bersemangat untuk ketemu hewan purba bernama komodo, terkagum-kagum karena keindahan bawah lautnya, sampai geleng-geleng kepala karena semua makanan lautnya yang segarnya nikmat dan sambal dabu-dabunya yang bikin napsu makan membuncah.

Perasaan-perasaan menyenangkan itu membuat hati jadi hangat. Maka, ketika mengingat Flores–walaupun hanya dalam pikiran–, memori yang muncul menyebabkan tidak ada yang lain kecuali kebahagiaan. Ketika pun akhirnya ada rencana untuk kembali ke sini, girangnya bukan main.

Saat tiba di Bandara Komodo, Labuan Bajo, kali ini, saya rada takjub. Bandara baru saja kelar direnovasi. Bangunannya modern, dengan kaca-kaca menjadi dinding luarnya. Saking barunya, bandara ini masih sangat sepi dan bersih. Sangat berbeda dengan bandara lama.

Ketika akhirnya keluar bandara dan menyusuri jalanan Labuan Bajo sampai akhirnya tiba di
dermaga untuk bersiap live on board (LOB), jelas terasa ada yang berbeda dari Labuan Bajo. Dulu, saya hanya melihat di kanan-kiri jalan adalah pepohonan atau bukit berundak-undak. Sekarang, Labuan Bajo lebih ramai. Banyak masyarakat Labuan Bajo yang mulai membuka usaha sendiri. Entah membuka warung sederhana, sampai penginapan. Orang yang lalu-lalang di jalanan pun berkali-kali lipat banyaknya.

“Wah, sekarang kadang-kadang jalanan sudah macet, Mbak. Saking sudah banyaknya mobil sama motor di sini,” kata sopir yang menjemput kami dan mengantar dari bandara ke dermaga.

“Masyarakat sini tapi ikut merasakan juga, kan, perkembangan pariwisata di sini?” ini pertanyaan saya.

“Lumayan, Mbak, kayak ada yang buka penginapan, sewa kendaraan, sampai jadi pemandu wisata,” kata sang sopir lagi.

Untunglah.

Di hari pertama ketika baru tiba, saya dan kawan-kawan segera berangkat ke pelabuhan, tempat kapal yang akan jadi tempat menginap 2 hari 1 malam, bersandar. Ini pengalaman LOB kedua setelah tahun 2013.

Mikael Nongko adalah orang yang menemani selama kami di Flores. Senang sekali bisa bertemu dengannya sejak pertemuan terakhir pada 2013. Ia kelihatan menua, tapi tidak kurang bahagia–hanya sedikit mengurus.

Pada LOB sebelumnya, saya mengunjungi beberapa pulau andalan Taman Nasional Komodo, seperti Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Sabolon, Nisa Purung, sampai Pulau Seraya. Kali ini, destinasi kami tidak banyak, tapi untungnya, datang ke tempat-tempat baru.

Berdasarkan pengalaman menyenangkan di setiap detiknya pada LOB sebelumnya, saya berharap banyak pada LOB kali ini. Ketika akhirnya berkenalan langsung dengan kapal yang bakal menjadi rumah kami selama LOB, saya sudah tenang. Sebab, salah satu faktor penting agar LOB menyenangkan adalah kapal yang nyaman. Kapal dengan satu tiang kapal di bagian depan ini memiliki atap untuk santai-santai, dua kamar (satu kamar di bawah dengan 4 ranjang, serta satu kamar di belakang kendali nakhoda), satu toilet, satu tempat duduk panjang untuk makan, dan dapur.

Live on board Flores Komodo - atre

Hari pertama, tepat setelah mendarat di Labuan Bajo dari Bali, kami langsung menuju Pulau Padar. Air laut sedang tenang siang itu. Birunya menandakan betapa dalam perairan itu. Langit biru. Angin meniup sepoi-sepoi. Daratan di pulau-pulau yang kami lewati kelihatan coklat. Pertanda musim kemarau belum usai. Kami segera berlayar sekitar 3 jam ke pulau yang dekat dengan Pulau Rinca dan masih dalam kawasan Taman Nasional Komodo.

A long long time ago, there was a volcano…,” lagu dari film animasi Disney Pixar berjudul
Lava berulang-ulang kali dimainkan lewat gitalele. Di atas kapal, ditemani semilir angin, kopi hangat, senandung-senandung, serta kawan-kawan seperjalanan yang menyenangkan, tidak ada lagi yang kurang.

I have a dream I hope will come true, that you’re here with me and I’m here with you. I wish that the earth, sea, the sky up above will send me someone to lava…

Flores Sea - atre

Sejam di tengah laut, ketika nyanyian mengecil, kopi hampir habis, kantuk datang. Satu per satu mencari tempat untuk terlelap. Beberapa, termasuk saya, malah ketiduran di luar, selonjoran di area makan berbantal, dengan angin yang menerpa langsung, lalu pulas. Saya terbangun karena bau kopi tiba-tiba menguar di udara. Beberapa kawan sudah bangun dan berbincang-bincang. Ketika saya bangun dari rebahan, kami sudah hampir tiba. Pulau Padar sudah ada di depan mata.

Pulau Padar ini adalah pulau ketiga terbesar di TN Komodo, setelah Pulau Komodo dan Pulau Rinca. Agak senang karena ternyata saya sudah mengunjungi ketiga pulau terbesar di kawasan taman nasional ini.

Melihat daratan yang sangat kering, saya bertanya pada Pak Mikail tentang kondisi ini. Ia bilang, musim kemarau berkepanjangan juga terjadi di Flores, termasuk Padar. Hujan lama tidak turun. Rumput-rumput berubah warna.

Karena siang itu air sedang surut, kapal kami bisa sampai ke tepian pantai. Dan, sejak injakan kaki pertama, saya sudah melihat bentuk Padar memanjang dan berbukit-bukit. Air laut di tepian pantai yang berwarna emerald jernih saat itu sedang dingin. Pasir putih Padar begitu bersih. Pesisirnya memanjang berkelok-kelok. Ada dua bukit di kanan dan kiri yang bisa didaki.

Saya dan kawan-kawan mulai trekking di siang hari ketika matahari sedang ada di puncak kepala. Panas yang teramat membuat keringat lebih banyak keluar. Maka, untuk mendaki Padar, jangan pernah lupakan membawa air minum yang cukup. Yang jelas, jangan menganggap ringan perjalanan mendaki ini. Memang butuh waktu sebentar, sekitar 30 menit kemungkinan untuk mendaki tiap bukit. Tapi, jalan setapak yang berdebu dan berkerikil membuat kita bisa terpeleset. Hati-hati.

Saya pribadi begitu ngos-ngosan ketika tiba di bukit-bukit itu, dan haus, lalu memandangi kulit tubuh yang terbakar. Oh iya, jangan lupa bawa topi. Karena, panasnya Padar bisa membuat otakmu meleleh.

Padar Island - atre

Tapi, dengarkan saya, segala kesulitan, keringat, dan napas yang pendek-pendek ini terbayar dengan panorama dari atas bukit. Saya teringat pada gambar 3D pada Google Earth ketika melihat dari atas Pulau Padar ini. Daratan berwarna cokelat, dibatasi oleh warna biru karena laut. Mengagumkan.

Pengalaman paling magis adalah ketika sedang asyik duduk-duduk di bukit Padar, lalu
bercengkrama dengan kawan-kawan seperjalanan, tapi lalu wajah kita tersiram cahaya keemasan.

Waktu senja adalah waktu saat saya merasa paling jatuh cinta pada dunia. Maka, ketika senja di Padar menjingga, hati saya hangat, seperti dipeluk kekasih dambaan.

Pancaran sinar senja tercermin pada air laut. Karena melihatnya dari atas bukit, keseluruhan daratan dan lautan seperti berubah warna keemasan yang bercahaya. Karena itu, sinarnya bisa sampai di wajah kita.

Padar Island sunset - atre

Pesisir yang melekuk-lekuk yang membatasi pasir yang bersih putih dan air laut yang kebiruan, turut berubah warna dari kecoklatan bercampur putih dan biru, menjadi semuanya jingga. Saya bisa duduk-duduk di sini lama sekali kalau yang ada di hadapan saya adalah ini.

Batu Bolong
Di tengah perairan Flores, saya melihat dari kejauhan sebongkah batu kecil di sebelah batu
besar. Sesuai namanya, karang ini disebut Batu Bolong. Sederhana, karena karang ini memiliki lubang di tengahnya. Ini adalah titik terkenal di Flores untuk menyelam. Karena itu, saya melihat beberapa kapal sedang berdiam di sekitar area tersebut. Para awak kapal seperti sendirian di atas kapal.

Batu Bolong - atre

Sementara, di bawah laut terlihat samar-samar tidak hanya ikan-ikan warna-warni dan terumbu karang, tetapi juga orang-orang lengkap wetsuit dan kaki katak yang sedang menikmati pemandangan bawah laut. Ikan-ikan yang bergerombol kelihatan juga terbirit-birit lalu bubar ketika para penyelam mendekati kerumunan mereka. Sesekali, penyu besar mengambang di permukaan laut. ‘Rumah’-nya berkilau-kilau karena tertimpa cahaya matahari.

Kali itu, saya tidak turun untuk berenang. Hanya melihat dari atas kapal keindahan di
sekitarnya. Kami pun tidak lama di titik. Kami harus segera beranjak ke destinasi berikutnya.

Manta Point
Dari kejauhan, saya melihat kapal kami menuju sebuah wilayah perairan yang bergejolak. Ada sebuah daratan kecil di sana. Daratan itu dikelilingi oleh aliran arus yang melingkar. Jika dilihat dari atas kapal, ia seperti aliran sungai yang bergemericik di satu sisi dan
bergelombang seperti jacuzzi di sisi lain.

Kata Gilang Tamma yang pernah menyelam di spot ini, arus tersebut dapat menyeret para penyelam hingga jauh. Bisa berakhir bahaya, bisa juga tidak.

Underwater Manta Point - atre

Spot ini bernama Manta Point, atau dalam bahasa setempat disebut Karang Makassar. Meskipun berarus dalam yang besar, titik ini tetap menjadi target menyelam banyak orang. Kenapa? Sebab, sesuai dengan namanya, di sinilah pari manta-pari manta yang besarnya bisa sampai 4 m, dapat dilihat secara langsung di dalam air dan dalam keadaan hidup.

Manta-manta ini termasuk dalam daftar hewan yang hampir punah saat ini. Banyak yang memburunya demi ingsangnya yang kabarnya bisa menyehatkan. Padahal, tidak ada bukti valid tentang ini.

Apa pun itu, yang jelas pari manta seharusnya berada di lautan, di habitat aslinya, sehingga mampu keluar dari zona nyaris punah. Manta lebih indah jika kita melihat ia menari di lautan bersama kita.

Selain manta, di Manta Point terdapat dinding karang yang terbentang mulai kedalaman 2-9 meter. Jika menyelam atau bahkan sekadar snorkeling, keindahan di sana begitu nyata. Agak ngeri begitu mendengar tentang para penyelam yang menjadi korban arus dalam Manta Point sih, tapi tetap rasanya ingin segera kursus untuk dapat lisensi menyelam.

Pulau Sebayur
Semula kami hendak berangkat ke Kanawa, sebuah pulau cantik tempat resort milik orang Italia, berada. Tapi, Pak Mikail mengakui kalau Kanawa kini sudah terlalu ramai. Sebab itu, seorang kawan mengusulkan untuk mengunjungi Pulau Sebayur yang cenderung lebih sepi.

Sebayur Flores Komodo - atre

Hanya kurang dari sejam untuk tiba dari Padar, maka kami berangkat ke Sebayur. Dalam
perjalanan, saya berpapasan dengan kapal-kapal lain berisi para penyelam yang sudah siap mengenakan wetsuit-nya. Beberapa nelayan juga lalu-lalang. Langit cerah.

Begitu tiba di Sebayur, saya menengok ke kedalaman air laut. Warnanya begitu gelap di satu bagian, tapi sangat meriah–toska cerah dan ikan-ikan–begitu tiba di ‘pelataran’ pulau.

Di Sebayur, saya tidak bisa tidak untuk tidak berenang sebentar. Sempat kaget karena airnya dingin sekali meski hari siang. Ikan-ikan lalu lalang di dekat saya. Menimbulkan sensasi yang menyenangkan.

Special mention…
Apa yang membuat tagihan dari bepergian dengan LOB, di luar ambience luar biasa ena’ lengkap dengan kebersamaan dan lanskap lautan tak terbatas, ialah makanannya. Saya sendiri yang biasanya tidak terlalu sering makan, di atas kapal di perairan Flores, bisa makan sampai 3 kali sehari. Makan berat. Lalu, kopi. Kemudian, ngemil.

Ikan dan seafood yang segar memang selalu nikmat, bagaimana pun racikannya. Apalagi ditambah sambal dabu-dabu atau sambal pelecing pedas, dicampur nasi hangat. Kenyataan bahwa yang memasak adalah anak buah kapal, semakin menambah kekaguman.

Sampai jumpa lagi, Flores!

Padar Island top - atre

 

Guide dan informasi di Flores: Mikael Nongko (081339326502)

One Comment Add yours

  1. omnduut says:

    Tiap kali melihat foto terakhir itu, aku selalu bertekad, “nanti harus foto di sana!”

    Aaaak, Indonesia cakep beneeeer!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s