Menulis Lebih Baik

Bagi yang tidak suka menulis, pekerjaan menuangkan pikiran dalam kata-kata seperti hal yang mustahil dilakukan. Bagi para penulis sendiri, bahkan, ada masa ketika ide tidak muncul, kebuntuan melela, dan di akhir hari, lembaran putih tetap kosong tidak ada isi.

Buat Pramoedya, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Menulis seperti menciptakan prasasti tentang diri kita yang jejaknya bisa dilihat bertahun-tahun kemudian. Membuat kita merasa ada.

Saya pribadi, jauh sebelum tahu tentang Pram, sudah gemar menulis. Sejak SMA, pelajaran Bahasa Indonesia jadi salah satu studi favorit. Mengarang, terutama. Hingga kemudian, saya belajar menulis lewat sekolah di Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.

Menulis kemudian jadi vitamin jasmani dan rohani. Bagi jasmani, menjadikan tubuh bergerak terus selama mencari ide, ‘memaksa’ otak berputar karena mencerna kreativitas, lalu jantung berdebur karena adrenalin yang terpacu setiap kali semangat menulis menumpuk. Sementara, bagi rohani, menulis apa yang ada dalam pikiran dan hati, membuat jiwa lebih tenang.

Menulis kemudian menjadi napas bagi saya. Menjadi sumber pendapatan. Menjadi sofa empuk tempat mengadu. Menjadi apa pun yang menenangkan. Seperti hidup, ilmu pun sebisa mungkin jangan berhenti tumbuh dan berkembang.

Saya selalu percaya, kita ini sebetulnya adalah murid seumur hidup. Tidak akan pernah berhenti belajar.

Soal menulis pun begitu. Karena itu, saya mengikuti berbagai kursus, banyak ngobrol dengan orang-orang hebat, juga banyak membaca, sehingga jadi seperti diri saya kini.

Nah, karena berbagi itu menyenangkan, saya akan berbagi beberapa tips agar kemampuan menulis kita semakin membaik.

Menulislah Sering-sering dan Selalu
Salah satu kawan #AcerExplorer dari program #KerjaItuMain-nya Acer Indonesia dan Intel Indonesia pernah sekali bertanya pada saya, bagaimana cara supaya tulisannya bagus? Langkah-langkahnya bisa jadi panjang, tapi yang terpenting adalah menulislah, mulai dari sekarang, detik ini juga.

Menulis, menurut saya, seperti mempelajari bahasa. Jika tidak dilatih, akan kaku, lalu terlupakan.

Oleh karena itu, menulislah setiap hari atau dalam waktu yang berkala. Bukankah latihan itu pangkal kesempurnaan?

Bagaimana jika tidak tahu apa yang mau tulis? Saya biasanya menulis apa saja yang muncul di kepala saya. Bisa hanya tulisan xxxxshhhgashashjshjkahskjatehuhahhak, atau jika saat itu sedang kepikiran komik favorit, saya bakal menuliskan nama-nama karakternya saja; Monkey D. Luffy, Roronoa Zoro, Nami, Chopper, Sanji, Nico Robin, Franky, dan lain-lain. Apa pun asal lembaran kertas tidak kosong. Sebab, kertas kosong bisa mengintimidasi, lalu membuat kita menyerah.

Kadang-kadang, ketika datang ide yang tentang sebuah topik, saya akan langsung menuliskannya sampai habis. Menulis terus, tanpa dilihat. Jika sudah selesai, baru dilihat kembali dari atas dan diedit atau ditambah-tambahkan.

Outline, Outline
Sebelum menulis, buatlah outline dari ide yang hendak kita realisasikan jadi tulisan.

Outline membantu kita tetap dalam jalur pembahasan, dan tidak melebar ke mana-mana.

Sama seperti kerangka karangan, outline menjabarkan satu per satu bagian dalam tulisan. Mulai dari apa yang ingin kita tulis dalam pembukaan, apa isinya (mengenai konflik dan permasalahan), dan apa yang ingin kita masukkan dalam penutup. Outline juga membuat kita selalu sadar akan angle yang kita pilih.

Tulis Ide Segera

Bicara soal ide, ketika ia muncul di benak, segera tuliskan.

Entah di buku jurnal kesayangan, atau di ponsel. Lalu simpan. Ide-ide sebrilian apa pun kerap terlupakan, dan ketika ingin diingat-ingat, tidak lagi bisa kembali. Maka itu, langsung tulis begitu muncul di kepala. Jangan tunda-tunda.

Perhatikan Kalimat
Saya pribadi kerapkali terjebak pada kalimat yang berbunga-bunga dan panjang. Banyak yang mengatakan, diksi indah jadi kekhasan saya. Tapi, banyak juga yang bilang, bahasa berbunga-bunga ini harus diefektifkan. Selama jadi jurnalis, kalimat berbunga-bunga memang bukan anak emas. Kalimat panjang membuat pesan yang ingin disampaikan jadi rancu atau bias. Tidak sangkil, dan tidak mangkus.

Karena itu, ini menjadi salah satu poin penting bagi saya pribadi dan bagi kamu yang ingin menulis lebih baik lagi.

Gunakanlah kalimat pendek, lagi kuat.

Kalimat Naratif
Saya bukan orang yang gemar pada tulisan-tulisan kaku. Oleh karena itu, saya menyempatkan diri untuk belajar menulis dengan gaya jurnalisme sastrawi. Kalau masih asing dengan frase “jurnalisme sastrawi”, mungkin bisa mengintip tulisan-tulisan karya Truman Capote atau Andreas Harsono.

Jurnalisme sastrawi menggunakan cara penulisan seperti dalam karya sastra.

Alih-alih menggunakan kalimat yang kaku seperti dalam jurnal penelitian, kita bisa menulis dengan kalimat naratif yang lebih menarik dibaca.

 

Buat Jadwal Rutin
Jika kamu adalah penulis fulltime di kantor, jadwal menulis sudah tidak bisa diganggu gugat. Semua sudah terencana sesuai target tulisan setiap harinya. Yang berbahaya justru para penulis lepas. Berbahaya karena kita tidak memiliki deadline yang menekan, semenekan bos, katakanlah. Hal yang seringkali terjadi pada para penulis lepas adalah penyerahan pekerjaan yang molor karena tidak bisa mengatur waktu dengan baik.

Bagi saya, untuk bisa membuat segala deadline terpenuhi tepat waktu, adalah memiliki jadwal menulis harian. Tidak menulis di saat-saat terakhir atau di saat jatuh tempo.

Semakin menumpuk pekerjaan, semakin tidak maksimal hasil akhir pekerjaan kita.

Karena itu, biasakan bekerja (menulis) setiap hari sesuai waktu yang paling nyaman menurut tiap kita. Ada orang yang lebih nyaman dan produktif untuk menulis di pagi hari. Ada yang bahkan lebih fokus menulis di tengah malam. Bebas saja. Asalkan jadwal tersebut ditaati.

Grammar Nazi
Bukan, bukan karena saya lulusan Sastra Indonesia lantas begitu peduli terhadap ketentuan penulisan yang sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau SPOK.

Tulisan tidak akan pernah enak dibaca jika grammar-nya berantakan.

Dalam bahasa Indonesia, misalkan, sudah bukan lagi zamannya kita salah menuliskan kata peduli dengan perduli, di depan dengan didepan, atau kapan menggunakan koma, titik, titik koma, apostrof, dan sebagainya.

Baiklah, mungkin tidak semua orang memahami grammar mana yang benar dan salah, seperti anak-anak Sastra Indonesia. Atau, beberapa orang terlalu menggantungkan diri pada editor bahasa yang akan mengedit tulisan mereka, sehingga mereka merasa sah saja untuk menulis berantakan. Tapi, sekali lagi, bukankah kita adalah murid seumur hidup? Jika tidak tahu, maka cari tahu. Dan, jika malas, maka binasa.

Tidak perlu menjadi grammar nazi. Setidaknya, kita mau belajar untuk tahu mana yang salah dan benar, lalu mengaplikasikannya dalam tulisan kita.

Menyingkirkan Gangguan
Saya pribadi tahu diri kalau sedang banyak pekerjaan, tidak bakal memulai atau bahkan memikirkan untuk membuka file di folder berjudul Grey’s Anatomy di laptop. Saat ini, serial tersebut adalah distraksi terbesar saya. Yang semula berniat hanya menonton satu episode, berakhir dengan satu musim, lengkap dengan mata sembap dan wajah bengkak-bengkak karena sedih.

Kenali diri sendiri.

Jangan pernah mendekat dari hal-hal yang menjadi gangguan untuk diri kita. Apa pun itu bentuknya.

Sebab, di akhir hari, bisa jadi lembaran kertas putih akan tetap putih, dan deadline tidak terpenuhi.

Banyak Baca
Belajar tidak hanya dari kamus, tapi juga dari para penulis lain.

Oleh karena itu, banyak-banyaklah membaca.

Tidak hanya mendapatkan banyak ilmu tambahan, pengetahuan kita juga semakin kaya seiring dengan semakin banyak kita membaca. Baik itu tentang referensi kata, sampai gaya penulisan. Hanya saja, kita harus hati-hati. Jangan sampai terjebak pada plagiarisme.

Hindari Kesalahan yang Biasa Dilakukan
Saya sudah mengakui sebelumnya, bahwa kelemahan saya adalah kalimat yang kerapkali berbunga-bunga. Untuk penulisan fiksi, gaya ini mungkin malah jadi kelebihan saya; dengan detail, perasaan, dan kalimat yang berjiwa. Tapi, untuk tulisan jurnalistik, kalimat yang terlampau panjang itu tidak efektif.

Saya menyadari hal ini. Karena itu, adalah tugas saya untuk tidak mengulangi kesalahan yang biasa saya lakukan. Caranya, pertama, jelas sadar apa yang saya tulis; apakah karya fiksi atau jurnalistik. Kedua, lebih peka saat pengeditan. Ya, setiap kali selesai menulis, penulis yang baik akan membaca lagi tulisannya, lalu mengedit ejaan, tanda baca, logika, sampai efektivitas kalimat. Biasanya, ini saat saya memotong banyak bunga-bunga pada kalimat saya.

Sekian tips dari saya untuk bekal meningkatkan kemampuan menulis kamu. Semoga bermanfaat. Selamat menulis!

12 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Terima kasih buat ilmunya Mbak. Saya minta izin untuk menyimpannya supaya bisa selalu saya baca ketika saya membutuhkan penyegaran soal bagaimana menulis itu sebenarnya :)). Mudah-mudahan kebaikan selalu ada di kehidupan Mbak soalnya sudah berbagi ilmu yang sangat berharga ini :amin.

    1. Atre says:

      Aduh, doanya baik banget Gara. Terima kasih yaaa. Amiinnn buat yang baik-baik.

      1. Gara says:

        Sama-sama :)).

  2. audris says:

    Ini bagus bangett! Izin ngecapture beberapa poin ya kak?

    1. Atre says:

      Silakaannn, jangan sungkaannn~🙂

  3. Keren Atre, Tipsnya jadi bahan pembelajaran saya…🙂

    1. Atre says:

      Wogh, ada Mang Galih!

      Silakan atuh Mang, sikat wae!

  4. .

  5. darwinarya says:

    Tulisannya mantap kali, Kakak … Ngalir bagai air sejuk pegunungan. Dan yang terpenting adalah mencerahkan … ^_^

    1. Atre says:

      Wah terima kasih banyak ya, @darwinarya. Aku ini jadi ngerasa kayak air mineral yang bersumber dari air sejuk pegunungan🙂

    2. aguspinokio says:

      Buat saya sendiri jk baca kalimat satu kali saja sdh paham, berarti diksinya tepat hehe. Salam kenal…

      1. Atre says:

        Terima kasih banyak yaaaaaa. Salam kenal juga Agus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s