[Travel Tips] Hiking Essentials

Hiking Tambora - atre

Kenapa banyak orang mendaki gunung? Ketika merujuk pada Everest, pasti semua orang akan berteriak, “Because it’s there!” sembari mengacungkan jari telunjuk ke arah pegunungan dingin itu. Artinya, kenapa tidak?

Seorang karakter bernama Mark Obmascik bahkan pernah mengatakan, bahwa ia menyukai pegunungan karena, “They help me sort out what’s important in life.

Saya sendiri dekat dengan dunia pendakian sejak SMA. Bukan dalam artian saya sering naik gunung saat itu, tapi karena kawan-kawan adalah anggota PA. Zaman itu, saya masih tidak diperbolehkan pergi yang berisiko oleh mama. Maklum, anak bungsu.

Dulu, di masa itu, setiap anak yang terlibat ekstrakulikuler pencinta alam alias PA, mendapat pandangan takjub. Kalau laki-laki, dianggap “laki banget”. Kalau perempuan, dianggap keren. Walaupun mungkin tidak bisa disamai dengan popularitas anak-anak
ekskul basket yang pasti populer; entah karena ketampanan atau aura bercahaya mereka karena jago men-drible bola basket. Atau, ketenaran anak-anak Paskibra yang biasanya enak dipandang serta tinggi semampai, dan tentu saja, terlihat wow dengan seragam serba putih mereka.

Saat menuliskan ini saja, saya sampai senyum-senyum sendiri.

Betapa zaman dulu, tingkat kekerenan di mata kita adalah ‘hanyalah’ persoalan popularitas seseorang dalam pergaulan. Dan, problematika hidup paling rumit adalah PR Kimia.

Dalam perjalanannya, hidup saya kemudian diarahkan kepada jalan traveling. Pengetahuan bertambah dengan sendirinya seiring saya terjun di dunia jalan-jalan ini secara aktif. Jangan sebut saya anak gunung, karena memang tidak mengkhususkan diri ke sini. Anak pantai pun tidak. Saya cuma pencinta alam semesta, yang kebetulan punya pekerjaan menulis. Jadi, kadang-kadang naik gunung, kadang-kadang berenang-renang di pantai, kadang-kadang mblusukan di kampung adat, apa pun ditelusuri.

Hanya saja, bicara gunung, saya lalu mengingat perjalanan ke Gunung Tambora di NTB pada April 2015. Masih segar dalam ingatan saat perut kelaparan di puncak tertinggi Tambora, di ketinggian 2.751 mdpl. Ada komunikasi yang saling salah mengerti di antara saya dan kawan-kawan sependakian. Sehingga, hasil akhirnya adalah tidak ada makanan saat kami tiba di puncak tersebut. Padahal, kami bakal bekerja cukup lama di puncak, dan butuh asupan energi.

Saya ingat saat itu matahari begitu menyengat. Angin bertiup kencang. Camilan mulai habis, dan kopi juga tandas sejak lama.

Sebelum pekerjaan selesai, kami belum bisa turun. Sebab, kami hanya ke puncak satu kali. Beberapa di antara kami mulai pusing, karena kurang energi dan kurang minum. Beruntung masih ada gula pasir untuk kopi. Akhirnya, kami ngemil gula pasir tersebut untuk tambahan tenaga. Meski tetap lapar, setidaknya kami masih bisa bertahan dan pusing sedikit hilang.

Hiking memang salah satu aktivitas yang harus dipersiapkan dengan matang. Kurang suatu apa bisa berakibat fatal di gunung.

Berikut adalah hiking essentials yang wajib dibawa jika ingin mendaki gunung.

Pakaian yang Layak
Beperjalanan ke gunung berbeda dengan ke pantai yang tidak sulit persiapannya. Di ketinggian, udara begitu dingin.

Kita harus mempersiapkan pakaian yang bisa melindungi diri dari dingin.

Untuk baju, pilih bahan katun bukan sifon, misalnya. Untuk jaket, sebaiknya memilih jaket yang waterproof yang tidak basah saat hujan, dan windbreaker yang mampu menahan angin menembus tubuh. Pilih juga warna terang untuk jaket, yang memungkinkan kita mudah dikenali meski berjarak relatif jauh.

Jangan lupa pula untuk membawa celana berbahan polar yang mampu menyerap keringat, tetapi mudah kering; sarung tangan, topi hangat (kupluk), serta jaket cadangan.

Alat-alat Navigasi
Jangan pernah meremehkan gunung. Saya mendengar banyak cerita yang mengatakan kalau semua gunung punya tingkat kesulitannya masing-masing. Bahkan, gunung kecil sekalipun. Bahkan, gunung yang sudah memiliki jalur yang jelas sekalipun.

Saya malah percaya, gunung itu seperti Tanah Suci, yang bisa jadi merealisasikan pikiran-pikiran kita, atau menghukum jika kita melakukan hal yang dilarang. Di gunung, etika itu penting. Berlaku sembarangan bisa jadi bahaya. Banyak cerita berseliweran tentang orang-orang tersesat di gunung karena menyepelekan gunung tersebut. Atau, bahkan orang hilang di gunung karena salah jalan.

Selain mengontrol perilaku dan etika, kita harus siap membawa alat-alat navigasi agar tidak tersesat.

Sebut saja kompas, peta, GPS, dan altimeter. Jangan bergantung pada aplikasi kompas, peta, atau GPS dari ponsel. Sebab, kadang-kadang kita kehabisan baterai. Bawalah peta dan kompas manual. Jaga-jaga jika teknologi mengecewakan kita.

Pencahayaan
Ini jangan sampai lupa. Kita harus tahu jalan yang ditapaki, meski malam. Maka itu, jangan pernah meninggalkan senter atau headlamp di rumah. Bawalah selalu beserta baterai-baterai ekstra.

Obat-obatan
Tidak hanya naik gunung, sebetulnya. Ke mana pun kita traveling, jangan sampai lupa membawa obat-obatan. Baik itu untuk penyakit pribadi atau penyakit-penyakit yang bisa ditimbulkan karena naik gunung, seperti patah tulang atau hipotermia. Sebaiknya jaga-jaga daripada menyesal kemudian, bukan?

Sumber Api
Bisa pemantik. Bisa belajar membuat api dari batu. Bisa apa pun. Sebab, jika tanpa api, kita tidak bisa memasak. Jika tidak memasak, kita tidak bisa makan.

Kelaparan bukan hal mengenakkan, di gunung atau di mana pun.

Api juga bisa menjaga kita dari hewan-hewan liar yang sewaktu-waktu muncul dari dalam hutan (beberapa hewan takut pada api).

Logistik
Bagian ini sangat penting. Kadang-kadang, kita menyepelakan membawa makanan atau minuman yang cukup saat naik gunung, hanya karena takut membebani pundak. Jangan pernah takut. Bawalah sebanyak mungkin nasi, lauk-pauk, camilan, buah-buahan, sampai air minum ke gunung.

Makanan yang berlimpah selalu lebih baik ketimbang kekurangan.

Dengan begitu, jangan lupa membawa trangia untuk memasak, botol minum sebagai cadangan air untuk minum. Jangan lupa simpan selalu sampahnya.

Kacang-kacangan
Waktu hiking di Western Australia, jagawana kami yang bule membawa setoples penuh kacang-kacangan. Isinya mulai dari kenari sampai mede.

Ternyata, selain coklat, kacang-kacangan adalah pilihan bagus sebagai camilan selama hiking.

Dalam kacang-kacangan, terdapat banyak protein dan kalori yang bagus untuk tubuh.

Sunscreen
Meski di daerah pegunungan, di siang hari, tetap saja kulit bisa terbakar saat hiking. Matahari seperti lebih dekat ke arah kita.

Pernah ketika mendaki Gunung Papandayan, saya mengenakan kaos lengan panjang dengan kerah bulat agak lebar. Merasa sudah aman dengan tangan panjang, saya tidak mengoleskan tabir surya ke kulit. Tanpa sadar, keesokan harinya, ternyata leher saya terbakar matahari. Ketika terkena air, rasanya perih.

Maka itu, gunakan selalu tabir surya ketika naik gunung–kecuali kalau mendaki malam ya (d’oh).

Pelembap Anti-Nyamuk
Jangan salah, di gunung juga banyak nyamuk. Malah, nyamuk di gunung cenderung lebih besar ketimbang nyamuk di wilayah perkotaan. Untuk itu, lindungi kulit dengan pelembap anti-nyamuk. Pelembap ini bisa jadi menghindarkan kita dari gigitan nyamuk, tapi juga penyakit-penyakit yang disebabkan oleh nyamuk, seperti malaria.

Pisau Lipat
Bukan mau sok-sok jadi McGyver, tapi pisau lipat pasti diperlukan jika kita mendaki gunung. Entah untuk mengiris makanan (karena membawa pisau masak terlalu besar), memotong tali, dan sebagainya.

 

Don’ts: Hiking Essentials
Berikut daftar yang jangan pernah dilakukan sebelum atau saat hiking.

  • Jangan buang air besar atau kecil di sungai atau aliran air. Sebab, bisa jadi, itu menjadi sumber air orang-orang yang sedang mendaki gunung, bahkan masyarakat setempat. Khusus untuk buang air besar, gali lubang terlebih dulu untuk kemudian menutupnya jika sudah selesai.
  • Jangan pernah mendaki dengan sepatu gunung yang baru dibeli. Dijamin, kaki-kaki akan lecet karena bahan sepatu yang masih kaku.
  • Jangan sekalipun mengganggu hewan-hewan di gunung saat mereka nyaman di habitatnya (rumahnya). Bisa jadi, mereka akan membahayakan kita sebagai gantinya.
  • Jangan memetik bunga atau tanaman lain di gunung. Take nothing but memories, leave nothing but footprints, remember?
  • Jangan memasang musik atau bicara terlalu keras. Sebagian besar orang mendaki gunung untuk menikmati ketenangan dan kedamaian. Kita harus hormati.
  • Jangan buang sampah sembarangan. Selalu bawa kantong untuk mengumpulkan sampah-sampah, untuk dibawa hingga akhirnya menemukan tempat sampah.
  • Jangan menggunakan parfum selama di gunung. Parfum bisa menarik serangga di sekitar, dan mereka akan mengikuti ke mana kita pergi.

One Comment Add yours

  1. Gara says:

    Kalau pakai parfum saat naik gunung, dikiranya di puncak ada mal kali ya Mbak :hihi.
    Naik gunung memang masih menjadi sebatas impian buat saya sekarang (ogah latihan fisiknya, kakak…) tapi mengetahui apa yang mesti (dan mesti tidak) dilakukan di sana paling tidak membuat kita lebih bijak kalau ada melihat bocah ala-ala yang mau naik gunung tapi penampilan seperti pergi ke mal di sudut kota. Terima kasih!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s