Project Sastra: Lasem

Rembang mengingatkan saya pada Gadis Pantai, dan pada pengarangnya Pramoedya Ananta Toer, yang lahir di Blora, dekat Rembang, Jawa Tengah. Pram sendiri adalah salah satu sastrawan Indonesia favorit saya. Maka, lekat betul ingatan akan Rembang, yang beberapa kali disebut oleh Pram dalam karya-karyanya–tidak hanya Gadis Pantai.

Lasem, yang bakal saya bicarakan di tulisan ini, adalah sebuah kecamatan yang berada di Kabupaten Rembang. Ia adalah kota terbesar kedua di Kabupaten Rembang, setelah Kota Rembang sendiri. Lasem juga salah satu kota yang dilewati oleh Jalan Raya Pos, jalan sepanjang 1.000 km yang terbentang sepanjang utara Pulau Jawa, mulai Anyer sampai Panarukan, yang dibangun saat pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sekitar tahun 1809. Jalan ini dibangun untuk menghubungkan satu kota dengan kota lain yang dikuasai oleh Daendels, dan sebagai jalan penghubung untuk pengiriman surat-surat.

Jalan Babagan Lasem

Setibanya di Lasem, tepatnya di kawasan Pecinan, saya seperti terlempar ke dalam lokasi film-film Tionghoa berlatar waktu tempo dulu. Saya mengingat Wong Fei Hung atau Ip Man seketika. Di gang-gang pemukiman, berjajar rumah-rumah tua bergaya Tiongkok: pagar tembok tinggi, pintu gerbang kayu yang besar dengan atap genting yang melengkung seperti gapura yang membuat rumah tidak kelihatan dari luar, rumah-rumah kayu tua yang kebanyakan berasal dari era 1800. Beberapa rumah terlihat tidak terawat, beberapa sudah digusur dan dihancurkan, tapi banyak pula yang masih lestari dan masih ditinggali oleh penghuninya dari generasi ke generasi.

Rumah-rumah tua Lasem

Kawasan Pecinan di Lasem memang kecil, jika dibandingkan di Rembang, misalnya. Tapi, ini adalah salah satu yang masih bertahan, meskipun tidak banyak orang luar yang tahu. Orang-orang keturunan Tionghoa yang tinggal di Lasem awalnya datang dari para imigran Tiongkok di abad 14-15. Mereka datang bersamaan dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho (duta Kaisar China dari Dinasti Ming) ke Jawa untuk membina hubungan dengan Majapahit. Selain memilih tinggal di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya), mereka juga datang ke Lasem.

Tidak hanya melihat dari luar, saya berkesempatan bertamu ke beberapa rumah tua bergaya Tiongkok tersebut. Seperti rumah Opa Gandor (budayawan Lasem), Opa Jun, sampai rumah bergaya indis milik Gus Zaim yang kini bisa diperuntukkan sebagai penginapan. Saya bisa melihat rumah-rumah masih berdiri kokoh dengan dinding kayu jati, meski sudah dibangun sejak abad 19.

Rata-rata setiap rumah memiliki teras dengan seperangkat meja-kursi di sana. Di dinding teras, juga kerap bergantung foto-foto lawas (atau lukisan?) dari para nenek moyang. Foto-foto lama ini begitu hidup di mata saya. Ketika memandanginya, seperti ada tatapan balik dari foto-foto tersebut. Perasaan aneh langsung menyeruak di dalam hati.

Selain rumah, ada pula klenteng-klenteng tua yang masih terawat dengan baik di Lasem. Seperti, Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun. Mengenai tahun dibangunnya klenteng ini, tidak ada tahun yang pasti sampai kini. Ada yang menyebutkan bahwa Cu An Kiong dibangun pada era 1300-an. Yang jelas, sampai kini, sebagian besar bangunan fisik klenteng masih orisinal. Di luar itu, banyak bong (makam besar orang Tionghoa) bertebaran di Lasem berangka tahun mulai dari 1700-an. Tua sekali.

Cu An Kiong

Nuansa Tiongkok memang begitu kental di Lasem. Tapi, Lasem tidak hanya itu. Ia juga dikenal dengan banyak gelar lain, seperti Kota Batik. Ya, saya pribadi jatuh cinta pada batik Lasem. Sampai-sampai, kemarin membeli sampai 4 helai kain Lasem. Ha-ha-ha.

Batik Lasem atau Laseman ini sudah ada sejak era awal Laksamana Cheng Ho tiba di Lasem. Anak buah kapal Cheng Ho beserta istri, Bi Nang Un dan Na Li Ni, yang mengajarkan masyarakat setempat kala itu untuk melukis di atas kain. Mereka dulu memilih menetap di kawasan Babagan, Lasem. Kawasan Babagan kini dikenal sebagai kampung penghasil batik Lasem. Beberapa merek dagang batik yang bisa kita temukan di jalan itu, antara lain Pusaka Beruang, Sekar Kencana, dan lain-lain. Karena itu, batik Lasem mendapat pengaruh Persia dan Tiongkok sekaligus.

Batik Lasem

Pengaruh Tionghoa dalam batik Lasem terdapat pada warna khas batik yang dulu dikenal, yaitu merah tua, dan motif klasik, seperti tiga negeri atau empat negeri. Tapi, dalam perkembangannya, kini batik Lasem tidak hanya berwarna gelap. Ia menawarkan warna-warna terang, seperti oranye, biru, pink, dan sebagainya, dengan alasan batik Lasem ini adalah batik pesisir dengan warna-warna yang menyolok mata.

Yang langsung terpikir dalam benak ketika menjelajahi hari per hari di Lasem. Betapa suasana kota ini begitu hangat. Meski banyak bangunan tua, alih-alih menyeramkan, Lasem malah memberikan ketenangan yang mutlak. Ketenangan ini membuat inspirasi lahir dan ide menggila.

Dimulai dari setiap pagi, warga Lasem terbiasa untuk datang ke warung-warung kecil. Saya pribadi jatuh cinta pada kopi lelet dipadu ketan manis dan tahu goreng di pagi hari. Warung andalan saya adalah Warung Jinghe di Karangturi. Mereka berguyub, sembari sarapan gorengan, ketan, nasi campur, sampai kopi lelet. Berbagai latar belakang, mulai dari Tionghoa atau Jawa, Muslim atau Kristen, semua berbincang-bincang santai, mulai dari keadaan kampung sampai politik. Sebagian besar dari mereka biasanya ngobrol sembari meleletkan (melekatkan) ampas kopi yang sudah dicampur dengan susu krimer ke rokok mereka. Rokok tersebut kemudian dinamai rokok lelet. Rasanya? Kabarnya, cenderung lebih pedas ketimbang rokok biasa. Mungkin karena kafein dalam kopi berpadu dengan nikotin pada rokok.

Kopi Rokok Lelet

Ketika hampir siang, satu per satu orang berangkat kerja. Ketika berpapasan di tengah jalan, mereka saling sapa. Lalu, saat sore, mereka kadang-kadang berkumpul di depan rumah, duduk-duduk, lagi-lagi berbincang-bincang. Menjelang malam, semua orang masuk rumah. Lasem terlihat sepi saat malam, kecuali di jalan utama, yang adalah Jalan Pantura. Kian malam, truk-truk besar kian banyak berlalu-lalang, membunyikan klakson yang berbunyi uoooong keras.

Satu hal lain yang saya sadari, bahwa semua makanan yang ada di Lasem enak-enak! Entah karena saya memilih tempat makan yang tepat, atau memang begitulah adanya. Di tulisan terpisah, akan saya bagikan daftar tempat makan enak di Lasem. Rata-rata hanya berupa warung kecil, tapi sajiannya yummm. Bahkan, bagi saya yang tidak terlalu suka makan, selama di Lasem, saya bisa makan sampai 3 kali sehari!

Gulai Sumsum Lasem

Ah, Lasem. Setelah berkeliling sana-sini, saya pikir sudah memiliki bahan yang cukup untuk proyek sastra saya pribadi dalam waktu dekat. Doakan semoga kreativitas on terus. Proyek sastra apakah itu? Doakan dulu supaya segalanya lancar. Dan, baca terus cerita saya di sini, karena pasti bakal saya kabari perkembangannya lewat renjanatuju.

Salam.

*Travelogue ditulis secara berpisah

2 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Lasem dan waktu yang seolah berhenti pada kota itu :)). Suka dengan bagaimana resiknya Lasem–seakan di sana tak pernah ada setan bernama kekotoran dan vandalisme yang meraja di kota-kota lain. Tak heran inspirasi terjun deras di sini. Produk sastranya ditunggu, Mbak!

  2. kazwini says:

    Ditunggu proyek nya kak atree

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s