[Travel Tips] Food Essentials While Traveling

Saya pencinta makanan pedas. Cabai adalah kecintaan, sedangkan sambal adalah wujud nyata dari kasih sayang itu sendiri. Di luar itu, berhubung orang Indonesia tulen, saya tidak bisa merasa komplet jika belum makan nasi. Jadi, pun saat bepergian ke mana-mana, dua hal itu yang paling dicari dan didamba-damba.

You cannot buy happiness, but you can buy ice cream, chocolate, spicy noddles, pecel ayam, bebek penyet, or any kind of food. And that’s kind of the same thing.

Berkuasa betul makanan ini. Ia bisa disamakan dengan kebahagiaan. Padahal, standar kebahagiaan itu sendiri tidak jelas ukurannya, juga beda-beda takarannya. Tapi, makanan ini saking jagonya, bisa menentramkan hati yang gundah dan menciptakan kebahagiaan pada jiwa-jiwa yang lara. Cuma gara-gara makanan. Mungkin karena itu juga ya ada pepatah yang mengatakan kalau rahasia kesuksesan hidup ini salah satunya adalah bisa makan apa saja yang kita suka. Bahkan, salah satu kriteria orang hebat di dunia ini adalah mereka yang suka makan.

People who love to eat are always the best people. -Julia Child

Nom nom nom…

Saya suka makan. Tapi, saya juga suka jalan-jalan. Perkara besar ketika jalan-jalan yang paling bikin pening adalah ketika kita menghabiskan waktu di destinasi yang sama sekali berbeda dari kampung halaman kita, seperti Eropa. Sekali lagi, saya ini orang Indonesia tulen. Tidak bisa jauh dari nasi dan makanan pedas.

Eh, Tre, tapi bukannya untuk bisa lebih mengenal suatu destinasi, kita mesti eat like local

Saya sepakat dengan kutipan yang satu itu. Bukan berarti saya tidak mencoba icip-icip makanan-makanan khas tiap destinasi yang saya datangi. Tapi, namanya juga orang kampung. Pasti lidah dan perut bakal minta kembali lagi ke nasi dan sambal. Permasalahannya, kadang-kadang saya kesulitan menemukan nasi atau sambal saat traveling. Karena pengalaman itu, saya kini membawa bekal yang bakal bisa membuat makanan jadi lebih cocok dengan selera. Inilah food essentials versi saya.

Cabai Kering
Bentuknya bisa macam-macam. Mulai dari chili powder yang biasa dijual di supermarket, sampai yang sudah berkemasan, seperti merek BonCabe. Yang terakhir ini memang paling praktis, dan bisa bertahan lebih lama. Gunanya pun tepat sasaran. Apalagi jika kita ke Eropa atau Australia, dan yang sehari-hari kita temukan selama traveling adalah makanan yang lebih creamy serta berkeju-keju.

Taburan cabai kering di atas makanan creamy seperti oase di tengah padang pasir.

Mie Instan
Kalau ini, penting sekali dibawa jika traveling ke negara di luar Asia dalam waktu minimal
seminggu. Bagi saya pribadi, pilihan mie instan tiada duanya memang Indomie Goreng dan Indomie rasa Soto Ayam. Jika bosan dengan makanan yang tidak terlalu gurih atau berempah, cukup masak Indomie Goreng atau Indomie Soto Ayam dengan taburan cabai kering (kalau ada, cabai rawit segar), serta telur rebus. Gurihnya bikin rindu Indonesia segera terobati.

Ada pengalaman menarik tentang mie instan ini. Ketika hampir 2 minggu traveling di Western Australia, saya dan beberapa kawan seperjalanan rupa-rupanya sama-sama ngidam Indomie. Tepatnya, Indomie Goreng. Kebetulan pula, saat itu, dari 10 orang, tidak ada satu pun yang berbekal mie instan tersebut. Setelah jalan-jalan hari itu selesai sore, kami langsung minta diarahkan ke supermarket terlengkap di Margaret River, WA. Kami lalu diberi waktu beberapa saat di supermarket, dan untungnya, Indomie Goreng idaman ada di sana. Sekaligus, kami juga membeli telur dan cabai kering. Setelah belanja, kami langsung kembali ke hotel.

Lucunya, saat ngidam ini, kami sedang menginap di Pullman Bunker Bay Resort, Margaret River. Seperti yang kita tahu, Pullman Hotel adalah hotel bintang 5 dari Accor Hotels yang menyajikan berbagai kemewahan dan kelengkapan fasilitas.

Bisa dibayangkan betapa kagetnya guide kami yang bernama Chris, saat kami menolak makan malam di restoran hotel dengan menu steak, dan memilih untuk memasak Indomie Goreng di kamar. Bisa dibayangkan pula, dalam satu kamar, kami bersepuluh memasak Indomie Goreng telur (sebagian memang memasak–terutama para perempuan–, sebagian lagi berbincang-bincang). Saking harumnya si Indomie Goreng itu, sampai-sampai di backyard kami, muncul seekor rubah besar (hampir menyerupai serigala) dari balik semak-semak. Keajaiban Indomie Goreng!

Sereal
Saat menginap di penginapan terbaik di Wonosari, penginapan tersebut tidak memiliki fasilitas sarapan, restoran, kafe, atau sekadar etalase kedai. Minimarket tidak ada. Warung-warung pun jaraknya tidak begitu dekat dari penginapan. Saya ingat betul saat itu bersyukur karena membawa bekal roti dan beberapa camilan sejak dari Jogja. Tapi, saya menyayangkan satu hal: tidak membawa sereal, salah satu jenis sarapan praktis yang cepat saji.

Sekarang, jika hendak traveling ke wilayah yang cukup terpencil dengan penginapan yang
sederhana, saya berupaya membawa sereal, yang kebetulan juga jenis sarapan favorit saya. Biasanya, kalau membawa sereal (kadang-kadang oatmeal, kadang-kadang muesli), harus juga diikuti dengan membawa susu. Kalau ingin praktis, kini sudah ada sereal berbentuk mangkuk untuk satu kali makan. Di dalamnya, sereal sudah dilengkapi dengan susu dan sendok. Praktis, dan perlu.

Kopi
Meski terakhir, bukan berarti tidak penting. Kopi ini salah satu yang mesti dibawa ketika traveling, terutama jika saya traveling ke tempat yang bukan dikenal dengan kopinya. Kenapa harus bawa? Kadang-kadang memang tidak disediakan atau susah dicari, tapi alasan utamanya sih karena saya memang sering cranky kalau tidak ada kopi. Dan, saya punya kopi andalan sendiri.

Belakangan, saya sedang getol untuk memesan kopi di kawan saya, Jeffrey Satria. Dulu, si Kokoh Ujep (saya biasa memanggilnya begitu) adalah kawan di Majalah Intisari, Kompas Gramedia. Kami sama-sama jurnalis di sana. Saat saya resign, tidak lama ia juga demikian. Saya fokus menjadi penulis perjalanan dan penulis fiksi. Kokoh fokus ke kopi.

Koh Ujep kini punya merek kopi bernama Kopi Kohlie. Bisa dicek di Instagram mereka @kopikohlie. Ia membakar biji kopinya sendiri. Lalu, mengemasnya saat masih berbentuk biji. Kita hanya tinggal menggiling, lalu menyeduhnya. Ada beragam jenis kopi yang bisa dipesan di Kopi Kohlie, seperti Flores Manggarai, Toraja, Mandailing, Gayo, dan sebagainya.

Karena saya baru membeli 1 kilogram kopi Flores Manggarai dari Kopi Kohlie, maka kopi yang belakangan sering saya bawa ke mana-mana pas traveling ya si Flores Manggarai ini.

Ini saja food essentials versi saya setiap kali traveling. Mungkin Anda berbeda? Ayo silakan di-share.

6 Comments Add yours

  1. rahneputri says:

    Aku suka bawa energen sereal, trus kalo lagi di hostel suka ditinggalin di dapur buat the next guest, sapa tau mereka laper kan ya.😀

    1. Atre says:

      Kamu baik sekali bumiiilll. Aku lebih sering ninggalin Indomie sik. Hahaha. Suka kelebihan kalo bawa.

  2. Gara says:

    Indomie goreng memang makanan sejuta umat Indonesia, Mbak! Saya tak bisa membayangkan bagaimana akan hidup jika tak ada makanan satu itu–sumpah menurut saya penemuan indomie goreng adalah salah satu penemuan terbaik dalam sejarah umat manusia :hihi. Saya belum pernah traveling ke negeri yang jauh dalam waktu yang lama, jadi saya belum bisa berbagi soal makanan apa yang akan saya bawa, tapi justru saya belajar dari sini bahwa kalau saya traveling ke tempat yang jauh, bawalah indomie goreng! *kemudian promosi*.

  3. ellen says:

    indomie!

  4. vira says:

    gua belum bisa setuju dengan quote mbak Julia Child itu, karena kalo makannya kebanyakan malah gak baik buat badan, jadi di mana “best”nya?
    soal makanan pedas, gue juga suka, tapi gue kira tadinya gue gak masalah gak makan pedas. sampe pada akhirnya… gue di yunani sebulan, susaaaaaah banget nemu makanan pedas.. di situ saya merasa merana tanpa makanan pedas :))) 2 minggu tanpa pedas itu maksimal deh kayaknya!
    jadi, food essential gua kalo lagi traveling, gak ada.. kecuali kalo udah lebih dari 2 minggu😛

    1. Atre says:

      Aku tak bisa tanpa makanan pedas, Kakpir, barang sehari dua hari. Rasanya hidup hampa, seperti hidup tanpa Masgir #eh :)))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s