Jakarta Hidden Gems

Saya masih ingat samar-samar ketika Jakarta adalah sebuah kota yang nyaman dan sepi. Dulu, ketika saya SD, medio 1990-an awal, ketika jalan tol di Jalan TB Simatupang belum dibangun dan saat ongkos angkutan umum hanya Rp500 perak, jalanan Jakarta masih tertib. Kendaraan bukan penguasa jalanan. Anak-anak kecil seperti saya, sangat aman jalan kaki pulang-pergi sekolah.

Kala itu pula, Jakarta masih adem. Banyak pohon besar di mana-mana. Kebun luas yang kosong juga masih banyak. Saya bicara Jakarta Selatan, karena saya tinggal di Pasar Minggu. Lingkungan inilah yang berada di sekeliling saya ketika saya tumbuh.

Jadi, mari bicara di selatan Jakarta saja, untuk awalannya. Mengutip dari data yang didapat oleh Harian Kompas, Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) 2005 (1985-2005) mengatakan, kawasan yang menjadi bagian daerah aliran Sungai Krukut ditetapkan sebagai kawasan permukiman dengan pengembangan terbatas karena mengemban fungsi sebagai daerah resapan air. Tidak heran, dulu, Jakarta Selatan begitu rindang. Kawasan hijau masih luas. Hutan di tengah kota masih lestari. Namun, sejak tengah 1990-an, kawasan ini berubah jadi kawasan komersial penuh dengan restoran, hotel, sampai pertokoan.

Kini, jalan tol sudah dibangun di sepanjang Jalan Tahi Bonar Simatupang. Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta, namanya, dan dibangun mulai 1995. Di tepi Jalan TB Simatupang, kini juga sudah berdiri gedung-gedung tinggi yang gagah-gagah: Gedung Nestle, Plaza Oleos, atau 18 Office Park. Kawasan ini jadi salah satu kawasan perkantoran ramai.

Ingatan saya samar-samar, tapi saya pernah mengalami saat Jakarta masih lucu-lucunya.

Jakarta yang kita kenal sekarang adalah sebuah kota yang berisik, penuh asap kendaraan, bunyi klakson tiada henti, dan kelihatannya di mana-mana orang senang melanggar aturan. Menerobos antrean adalah hal biasa–padahal itu menyebalkan. Menyoret-nyoret fasilitas umum jadi hal lumrah–padahal banyak yang terganggu, tapi pura-pura tak tahu. Melanggar lalu lintas jadi perkara yang tidak istimewa–banyak orang melakukannya; yang bertahan untuk tidak melanggar, malah dianggap ‘salah’.

Khusus soal pelanggaran di jalan raya, Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya sudah merangkum, bahwa sepanjang 2015, tercatat mencapai 1.037.828 pelanggar lalu lintas di Jakarta. Artinya, jumlah ini meningkat sampai 14,9% dibanding tahun 2014 yang berjumlah 865.197 pelanggar. Saya cuma sedikit merenung, apa program “86” di salah satu stasiun televisi lokal punya andil setidaknya menekan jumlah pelanggaran lalu lintas?

Wah, Jakarta memang keras, Bung!

Keras, sudah pasti. Tapi, apa iya ketika bicara tentang Jakarta, kita hanya bicara soal yang
jelek-jeleknya saja? Jangan buru-buru ber-choir “iya”.

Sama seperti kota lain di dunia ini, Jakarta juga punya sejarah hingga akhirnya menjadi Jakarta yang sekarang. Ini yang kerap kita lupa. Kenapa lupa? Karena seperti manusia kebanyakan, kita cenderung mengingat yang buruk-buruk saja, ketimbang baik-baiknya.

Kata Profesor Naas, co-authored The Man Who Lied to His Laptop: What Machines Teach Us about Human Relationship, melakukan penelitian. Hasilnya, otak kita menangani informasi positif dan negatif di belahan otak yang berbeda. Emosi negatif cenderung melibatkan pemikiran yang lebih, dan informasi itu diproses lebih menyeluruh ketimbang yang positif. Hingga, kita cenderung untuk merenungkan lebih dalam tentang kejadian-kejadian tidak menyenangkan daripada kejadian yang bahagia.

Saya cuma bisa bilang, Jakarta memang seringnya seperti tetangga yang berisik, tapi egois. Berkoar-koar setiap hari, tapi tidak pernah mau tahu perasaan orang lain.

Jakarta ini gemerlap, tapi kering betul, kata Ahmad Tohari, seorang sastrawan senior Indonesia kepada saya suatu hari di tahun 2007.

Tapi, biar sebesar apa pun dosanya Jakarta, saya toh tetap menganggapnya rumah. Selalu ada bagian dari Jakarta yang berharga, meskipun dideru-deru berisiknya kota.

Saya pikir hanya saya yang menganggap masih ada harapan di Jakarta. Untung, saya tidak sendirian. Begitu bertanya-tanya ke beberapa teman tentang Jakarta, masih banyak juga yang menganggap Jakarta adalah kota yang (masih) tepat untuk dijadikan tempat bertualang. Masih ada permata di kelabunya langit Jakarta. Ini beberapa tempat andalan kawan-kawan di Jakarta.

 

wira-ganteng-1Wira Nurmansyah, Travel Blogger
“Gue selalu suka sepanjang Jalan Thamrin, tapi… (ternyata ada tapinya) cuma pas lebaran. Tiap tahun gue pasti ke sana, biasanya lebaran hari kedua. Adem liatnya,” jawab Wira cepat saat ditanya tempat paling disukainya di Jakarta.

Wajar, karena jalanan Jakarta saat lebaran begitu sepi. Sebagian besar orang mudik, pulang ke kampung halaman masing-masing. Yang tersisa di Jakarta pas lebaran adalah warga asli Jakarta, atau mereka yang sedang tidak ingin mudik.

Spot favorit Wira biasanya di depan Sarinah atau Bundaran Hotel Indonesia.

“Biasanya, nongkrong di tengah jalan, tapi hati-hati ada TransJakarta. Dan, menurut gue, ini
adalah sisi Jakarta paling ganteng. Soalnya, cakep difoto, kelihatan gedung-gedung pencakar langitnya,” kata Wira yang karyanya bisa diintip di wiranurmansyah.com.

Jakarta Sepi - Wira Nurmansyah

Lepas dari semua alasan itu, Jalan Thamrin adalah tempat Wira Nurmansyah terkenang mantan. Alasan satu ini saja cukup untuk menjadi Thamrin adalah tempat paling favorit Wira di Jakarta.

Satu saja itu cukup, Mz Wir.

Foto: Dokumentasi Pribadi Wira Nurmansyah

 

Rendy Supratman 20160118_200809Rendy Supratman, Arsitek
Arsitek asal Surabaya yang sempat tinggal 2 tahun di Jakarta ini, bergairah betul saat diajak bicara tentang “permata-pertama tersembunyi” di Jakarta. Jawabannya tidak jauh dari arsitektur.

“Yang paling menggiurkan adalah bisa menikmati dan mengunjungi objek-objek arsitektur apa pun. Karena, karya seorang arsitek itu seperti manifestasi dari sang arsitek sendiri. Seringkali, mengunjungi karya arsitektur membuat kita seperti berdialog dengan sang arsitek, kenal maupun nggak,” kata Rendy.

Ia menyebutkan beberapa arsitektur favorit di Jakarta yang membuatnya selalu kembali dan kembali lagi ke sana. Satu yang paling menarik minatnya adalah Potato Head di SCBD, Jalan Jenderal Sudirman.

“Dasarnya, aku suka tempat karya-karya Andra Matin. Salah satunya, Potato Head. Tempat itu sangat fullrustic yang menurutku salah satu perwujudan dari modernisasi material lokal dan bentuk lokal. Jendela-jendela di Potato Head tau, ‘kan? Itu jendela bekas dari pasar loak Madura yang dikolase. Jendela-jendela itu akhirnya membentuk pola mozaik dengan warna pastel yang random. Itu jenius,” urai Rendy.

Potato-Head-Brasserie-4

Sumber Foto: Asia Bars

 

IMG_20160117_141808Irfan Ramly, Penulis Naskah Film
Lelaki asli Maluku ini adalah orang di balik naskah Beta Maluku, Filosofi Kopi, dan Surat dari Praha yang bakal tayang akhir Januari ini. Selama mengenal Iphank–begitu panggilannya–, lelaki ini punya cara tersendiri untuk mengungkapkan pikirannya. Termasuk, ketika saya bertanya tentang bagian Jakarta kesukaannya.

Jawabannya tegas. Blok M.

“Kenapa?” kata saya.

“Karena pusat keramaian di luar mal di selatan, selain Kemang ya Blok M,” kata Iphank.

Bisa ditebak, ia tidak begitu suka keriaan mal. Ia lebih suka cangkruk di kedai kopi kecil atau tempat-tempat intim lain yang membuatnya terkoneksi dengan manusia lain.

“Siang ke sore, di Blok M Square ada buku bekas, makanan murah, tukang gambar pesanan (yang kalau buatku karena sudah sering, akhirnya beberapa jadi teman). Kalau malam, ada lesehan (ramah di kantong) dan ngebir di Dai Tokyo,” cerita Iphank.

IMG_9248

Ia pada akhirnya selalu kembali lagi ke kawasan Blok M karena mudah diakses dari tempat
tinggalnya di Cipete.

“Oh, setahun terakhir aku juga sering ke Post Santa di Pasar Santa. Meski toko buku kecil, semangat yang punya dan cara mereka mengurasi buku yang dijual di sana menarik. Buku-buku yang dijual kebanyakan nggak ada di toko buku besar,” tambahnya.

Iphank berkata lagi, “Buat orang dari jauh kayak aku begini, Jakarta itu perpustakaan gagasan, lab manusia, dan peristiwa. Kaya. Hampir tidak ada repetisi di Jakarta. Tiap hal punya gayanya sendiri. Otentik.”

Foto: Dokumentasi Pribadi Irfan Ramly

 

Saphira Zoelfikar 20160118_201408Vira Tanka, Sketcher Separuh @indohoy
Pekerja lepas yang sehari-hari sibuk antara menulis naskah untuk program televisi, sketching, dan mengurus @indohoy ini, punya beberapa tempat favorit di Jakarta. Sudah bisa ditebak, karena kesukaannya menggambar sketsa, pilihannya tidak jauh dari tempat-tempat yang menarik untuk digambar dan tenang.

“Dulu, suka banget Freedom Institute, tapi baru tutup.”

Freedom Institute adalah sebuah perpustakaan di Menteng yang menyediakan buku-buku beragam genre.

Begitu perpustakaan tersebut tutup, Vira menyebutkan tempat lain yang memikat hatinya.
Kunstkring.

Sketching Kunstring

“Gue suka Bread Corner Kunstkring, di samping restorannya. Rotinya dikirim langsung dari roti bluder di Blitar. Suasananya juga santai dan musiknya selalu old jazz. Pengunjungnya bukan tipe ABG berisik. Orang-orang biasa, nggak aneh-aneh.”

Karena suasananya santai, jadi enak buat sketching.

Favorit Vira untuk menghabiskan waktu di tempat itu: memesan roti, teh hangat, sambil
menggambar atau baca.

Foto: Dokumentasi Pribadi Vira Tanka

 

Sabai DIeterSabai Dieter, Ibu Hamil
Perempuan berkulit putih yang tidak doyan dandan (tapi udah cakep banget, ya Allah!) ini ngakunya tidak begitu suka nongkrong di luaran. Ia menyebut dirinya sebagai anak rumahan. Ya, rumahnya bersama Ringgo Agus Rachman di kawasan Ciganjur memang bikin mager, sih. Wajar kalau bikin betah di rumah.

Tapi, begitu ditanya tentang hidden gem di Jakarta, Sabai menyebutkan beberapa tempat makan. Entah karena memang sedang hamil (jadi yang ada di pikirannya melulu soal makanan), atau entah ada alasan lainnya.

“Aku sih selalu ke Common People Kemang. Makanannya biasa, ya. Tapi, buat nongkrong enak karena tempatnya nggak rame.”

Dan, sekali lagi, karena mungkin sedang hamil, Sabai juga menyebutkan, “Belakangan, aku suka makan di Dai Tokyo Sakaba di Blok M. Makanannya enyak! Tapi, kalau ramen, di Menya Sakura Gandaria City juga enak.”

Saya tidak sempat menghentikan atau mengendalikan jawaban Sabai. Ia sendiri yang akhirnya sadar, dan bilang, “Eh, kok, jadi bahas makanan ya?” Ha-ha-ha.

Foto: Dokumentasi Pribadi Sabai Dieter

 

Mohammad Istiqomah Djamad, Nyanyi di Payung Teduh
Sejak mengenal Is ketika sama-sama main-main di Teater Pagupon, FIB UI, Is sudah bertubi-tubi menghasilkan lagu-lagu berlirik puitis yang membikin siapa saja yang mendengarkan mellow seketika. Maka, ketika akhirnya band-nya bersama Comi, Ivan, dan Cito mulai diapresiasi banyak orang, mau tidak mau saya ikut bangga juga.

Is memang senang menghabiskan waktu di Depok. Selain karena nongkrongnya di UI, juga karena tempat tinggalnya pun ada di sana. Maka, ketika ditanya tempat andalannya di Jakarta, jawaban pertamanya adalah UI–sekitar belakang Balairung atau depan perpustakaan UI. Ia baru sadar ketika UI tidak termasuk dalam kawasan Jakarta yang saya maksud.

Ia akhirnya menepati jawabannya, “Aku paling suka ke Cikini. Nggak jelas lihat orang-orang atau anak-anak latihan tari di sekitaran TIM.”

Foto: Astri Apriyani - tari cikini

Jawaban yang syeni. He.

Foto: Dok. Pribadi Is & Astri Apriyani

 

IMG-20160105-WA0003Nuran Wibisono, Penulis
Penulis yang berumah di nuranwibisono.net ini punya gairah besar–selain terhadap Rani, sang istri–juga pada makanan. Pernah saya dan Nuran bicara panjang lebar cuma membahas tentang bakmi.

Saya suka banget bakmi, begitu juga Nuran. Tapi tak seperti Nuran, referensi saya tentang bakmi enak di Jakarta masih sangat sedikit. Karena itu, saya menjura Nuran karena ia fasih betul menyebutkan bakmi-bakmi mana saja yang lezis di Jakarta. Bikin lapar.

Maka, ketika ditanya tentang “permata tersembunyi”-nya Jakarta, jawaban Nuran adalah Glodok dan sekitarnya.

“Paling menarik, Gang Gloria,” katanya. “Di sana, banyak makanan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu. Ada Kopi Es Tak Kie, Nasi Tim A Ngo, Kari Lam ala Medan yang halal, juga makanan-makanan yang langka namun agak ngeri ngeri sedap (uwena‘) kalau buat aku, seperti pi oh.”

Suasa-pagi-di-Tak-Kie

Tambahan dari Nuran. Kalau malam, di sekitar Glodok dan Kota Tua, banyak makanan enak, tapi ya kebanyakan non-halal. Seperti, Bakmi Kadut, Bakmi Lung Kee, sampai kuo tie pinggiran tapi enak. Jancuk, lapar cuk.

Kata Nuran lagi, “Aura Glodok itu magis, sih. Apalagi kalau kita orang yang tumbuh besar dengan mengagumi khazanah kebudayaan (termasuk makanan) Tiongkok. Percakapan bahasa Mandarin. Gedung tua yang berlumut. Penjual obat herbal. Bau dupa. Penjual lilin klenteng. Asyik lah pokoknya. Seperti bukan di Indonesia.”

Foto: Dokumentasi Pribadi Nuran Wibisono

 

Mengutip kalimat yang diucapkan Iphank. “Jakarta itu kota yang chaos, tapi puitis. Syarat menikmati jakarta itu cuma satu; jalan lebih pelan dari yang lain.”

Jadi, jika kita selama ini mengenal petualangan hanya lewat perjalanan keluar tempat tinggal, mengapa tidak mengubah itu? Mulailah merasakan petualangan di kota sendiri. Masih banyak permata di Jakarta yang belum terungkap. Masih banyak rasa yang belum dicoba di Ibukota.

Selamat mulai jalan-jalan di Jakarta!

9 Comments Add yours

  1. Duh mb aku dah ada yang punya. Kalo banyak yang naksir kamu harus tanggung jawab!

    1. Atre says:

      Lho, Mz, itu risiko pablik figur mz kalo nantinya banyak yang naksir. Kamu harus embraceeee~

  2. Gara says:

    Jadi dapat referensi baru soal tempat seru di Jakarta :)).

    1. Atre says:

      Thank you, Gara!🙂

  3. Philardi ogi says:

    Duh kuliner di Gloria, belum kesampaian mulu…kalo nuran bilang bakminya enak,pasti istimewa hehe

    1. Atre says:

      Bikin siapa saja tergugah ya, review-nya Mas Nuran🙂

      Aku juga belom sempet ih explore Glodok.

  4. Makasih Atreee😀

    1. Atre says:

      Me, thanks to you, Mz.

  5. rudyhan says:

    Jakarta memang ‘keras’, tapi tetap aja ada bagian-bagian yang ngangenin🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s