[Iceland Trip] A Journey to Iceland: Where Should I Begin My Story?

Þú hatta fjúka lætur í loft
Þú regnhlíf snú á hvolf allt of oft
Ó nei, ekki, ó

Þú þök að fjúka út á brot sjó
Þú hári strjúka faldinum sló
Óhræsisstrákur

 

(In English)
You make hats fly into the air
You turn umbrellas inside out too often
Oh no, don’t, oh

You blow roofs out into the stormy sea
You stroke hair and blow hems
Prankster boy

 

Saya mendengar musik cerah ceria lewat YouTube. Suara-suara hentakan dan strumming gitar yang cepat. “Goobbledigook” saat ini terdengar, bikin semangat.

Lalalala lalalala Lalalala lalalala.

Sejak bekerja sebagai reporter di sebuah publisher di Lebak Bulus, kisaran 2008-2011, saya sudah terkesima betul pada musik Sigur Ros. Bjork tidak terlalu, tapi tetap kagum pada kegigihannya bermusik dan karakternya yang khas. Saya lupa pernah membaca di mana, tapi Bjork bilang, di kampung halamannya, cara ia berbusana kerap mendapat cibiran atau tatapan aneh. Karena itu ia pindah dan kini menetap di Inggris.

Kembali ke Sigur Ros. Lagu pertama yang menarik perhatian saya adalah “Goobbledigook”, lagu yang sekarang sedang saya dengarkan berulang-ulang. Dulu, saya peduli pada Goobbledigook bukan karena apa yang terdengar, tapi karena kawan saya Nindira Sekar, punya suami–Catra Ditya–yang memilih “goobbledigook” sebagai username-nya di beberapa akun media sosial.

“Goobbledigook” ini aslinya masuk dalam album Með suð í eyrum við spilum endalaust (With a Buzz in Our Ears We Play Endlessly). Rilis pada 2008. Baru setelahnya, saya tahu ada band yang ternyata asalnya dari Iceland (yang nun jauh di sana–waktu itu saya pikir begitu), dan lagu-lagunya epik luar biasa.

Saya mulai mendengarkan mereka, dalam basis keseharian. Juga, menonton dokumenter mereka; Heima. Musik Sigur Ros adalah salah satu yang selalu masuk dalam daftar musik andalan tiap saya menulis. Bukan sok pintar. Saya memang tidak tahu arti lirik-lirik mereka (yang kebanyakan berbahasa Islandia) kecuali harus cari di internet. Saya juga tidak bisa sing along, kecuali lagu-lagu mereka yang berbahasa Inggris. Itu pun hanya beberapa. Tapi, musik mereka seperti membius, seperti membawa saya ke alam lain (padahal, menurut saya, murni hanya karena bahasanya yang nggak familiar aja. Ha-ha-ha…).

Setelah beberapa kali pindah kantor dan akhirnya memutuskan menjadi penulis lepas, kegandrungan pada lagu-lagu “ajaib”-nya Sigur Ros tidak pudar. Malah semakin jadi. Kerapkali saya berangan-angan bisa bertemu mereka di sebuah konser mini, lalu kami akan bicara tentang hal-hal absurd, seperti logika atau ego.

Iceland akhirnya jadi salah satu negara impian yang ingin dikunjungi. Setelahnya, banyak pengaruh yang bikin saya tambah kebelet hendak ke sana. Seperti Top Gear UK episode Iceland, Game of Thrones (tentu saja!), sampai yang terbaru, film The Secret Life of Walter Mitty.

Ketika pada 2013, saya traveling ke Switzerland, negara Eropa yang tidak kalah cantiknya, Sigur Ros juga jadi salah satu soundtrack perjalanan saya. “Ara Batur” jadi lagu favorit, sampai sekarang. Rasanya, ada urgensi berlebihan untuk memutar lagu-lagu Sigur Ros saat berada di negara-negara bersuhu adem. Maka, ketika saya melihat salju pertama saya di Top of Europe: Jungfraujoch, Interlaken, Switzerland, lagu paling utama yang saya ingat adalah lagu-lagu Sigur Ros.

Lagu mereka cocok sekali jadi soundtrack trip yang kala itu tenang dan syahdu. Di situ saya lalu membayangkan, mungkin kesyahduan ini bakal berlipat-lipat rasanya jika didengarkan di negara asal mereka. Yak, itu dia.

Mimpi memang semestinya mampu bikin kita termotivasi jadi lebih baik. Supaya bisa mewujudkan mimpi tersebut, dan kembali bermimpi yang lebih besar.

 

Vindur í hárinu – úú
Lalalala lalalala Lalalala

 

(In English)
Wind in the hair – ooh ooh
Lalalala lalalala Lalalala

 

Saya kerja keras. Jangan sangka freelancer bisa santai-santai. Kalau ada mimpi, mau itu freelancer atau fulltimer, kerja keras itu penting. Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi ia bisa membeli es krim atau bahkan tiket pesawat dan lain-lain untuk traveling ke Iceland, kan?

Saya pribadi punya mimpi ingin ke Iceland sebelum usia 30. Entah kenapa. Mimpi ini tercetus begitu saja dalam hati. Mungkin karena 30, kata beberapa orang, adalah awal dari hidup. Jadi, saya ingin membuat awalan hidup saya itu indah dan magis, seperti Iceland. Cheesy, tapi benar adanya.

Dan, mimpi yang satu ini rupanya bisa jadi nyata. Februari 2016, saya berangkat ke Iceland. Alhamdulillah.

Postingan ini sebetulnya tidak sama seperti yang saya bayangkan ketika awal ingin menuliskan prolog. Saya membayangkan akan menulis artikel pembuka yang tidak kebanyakan “curhat” macam ini. Tapi, ya tiba-tiba saya merasa perlu untuk menggambarkan latar belakang hasrat saya pada Islandia.

Akhirnya, datang ke negara tempat Jón Þór “Jónsi” Birgisson, Georg “Goggi” Hólm, dan Orri Páll Dýrason lahir dan tinggal. Negeri dingin yang penuh api. Dingin, tapi berapi? Well, cerita tentang perjalanan di Iceland bakal saya bagi dalam beberapa postingan mendatang. Saya punya beberapa ide akan membaginya dalam beberapa kategori.

But first, let me know, what do you want to know the most about this Iceland trip? Don’t hesitate to leave a comment for me ya.

 

A photo posted by Freelance Writer (@atre7) on Mar 1, 2016 at 7:06pm PST

8 Comments Add yours

  1. awansanblog says:

    Negeri yg selalu buat saya penasaran, negeri dingin tapi penuh gunung berapi, ditunggu artikel selanjutnya😀 ,
    Request cerita ttg transportasi umum di daerah dingin kayak iceland hehe

    1. Atre says:

      Siaapppp, tunggu yaaaa.

  2. Gara says:

    Saya request cerita tentang bagaimana perasaan betulan menjejakkan kaki di sana dan menghirup udara di sana :hihi. Awal yang menggugah, Mbak. Bisa berkunjung ke tempat yang dekat dengan hati dan sudah lama dimimpi itu pasti sangat menggelorakan semangat banget! Pasti rasanya sangat membahagiakan. Sebagai pembaca saya ingin membaca banyak perasaan seperti itu–bagaimana seseorang bisa jadi seperti anak kecil ketika melangkah di negeri impiannya :)).

    1. Atre says:

      Rasanya justru takut. Tapi ini baru mau ta’ ceritain di postingan berikut. HIhihi. Thanks ya Gara.

      1. Gara says:

        Sama-sama!

  3. keren ceritanya🙂
    jadi tertarik , pasti pengalaman yang mengasyikan

  4. Kartini Kongsyahyu says:

    Halo Mba, saya December mau ke iceland, boleh tahu disana untuk koneksi internet pakai apa ya ? Hanya bisa berharap wifi hotel atau ada alternative lain seperti simcard local mungkin ? Makasih sebelumnya mba

    1. Atre says:

      Hai, Kartini. Jadi, karena tempo hari trip ke Iceland-nya memang kebanyakan ke entah berantah, ga ada gedung, ga ada wifi, jadi aku memang beli sim card Iceland. Namanya Siminn. Itu sih direkomendasikan orang-orang sana. Bisa beli di bandara Keflavik. Jadi usulku kalo memang mau mblusukan banget gitu, mending beli sim card🙂

      Semoga membantu ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s