[Iceland Trip] Fear of Travel

Saya takut. Saya merasakan detak jantung yang jauh lebih cepat dan konstan selama beberapa hari sebelum hari H. Tidur tidak terlalu enak. Pikiran gelisah. Berulang-ulang kali mengecek jadwal penerbangan, walaupun sebetulnya sudah hafal benar.

Biasanya yang sudah-sudah, jelang traveling, yang dirasakan cuma excitement berlebihan. Atau, kurang tidur (karena mesti membereskan semua pekerjaan sebelum pergi). Paling maksimal gugup. Tapi, di #IcelandTrip ini, muncul rasa takut. Kenapa?

Saya tidak aviatophobia, atau memiliki ketakutan untuk terbang. Tidak juga memiliki phobia-phobia lain yang berkaitan dengan perjalanan. Untunglah. Maka, kenapa perasaan takut ini muncul, bahkan mengalahkan gairah menjelajah salah satu destinasi yang telah jadi wishlist saya sejak lama; Iceland? Saya juga bertanya-tanya sendiri.

Saya cerita ketakutan ini kepada Giri, pacar yang sekaligus orang yang sudah sering bepergian kemana-mana. Yang mengejutkan, ternyata ia juga merasa hal yang sama. Kami menduga, ini karena #IcelandTrip adalah perjalanan kami terjauh sampai kini.

Kabarnya, ketakutan-ketakutan perjalanan muncul saat kita keluar dari zona kenyamanan. Atau, ketakutan ini datang karena kita memikirkan hal-hal yang sama sekali asing; “fear of the unknown”. Keduanya memang beberapa dari banyak hal yang ada dalam pikiran kami.

Kami datang ke negara Nordik nun jauh di sana, sekitar 10+ jam perjalanan. Negeri yang sebagian besar daratannya ditutupi salju, sama sekali asing. Negeri yang sepi. Negeri tempat makhluk-makhluk mitos hidup; elf, raksasa, sampai troll. Perasaan hanya tahu sedikit—walaupun sudah banyak googling dan riset—tentang negeri ini, membuat otak berpikir macam-macam.

Pernah di satu hari, saya seharian di depan laptop hanya mencari berita-berita tentang bencana-bencana yang pernah terjadi di Iceland. Ini memang agak gila, atau cenderung paranoid. Tapi, saat itu, rasanya hanya itulah hal yang ingin saya tahu. Saya kemudian menonton lagi The Secret Life of Walter Mitty. Dan, tiba di bagian Walter harus kabur bersama seorang warga lokal untuk selamat dari letusan gunung berapi bernama Eyjafjallajökull (Eyjafjalla Glacier). Woof…

Apa yang lalu membuat ketakutan ini reda, dan hilang? SIAPA BILANG AKHIRNYA HILANG? (huruf kapital untuk menggambarkan kepanikan) Ia tetap ada, bahkan sampai naik pesawat. Tapi, yang cukup mengurangi perasaan takut itu adalah ingatan akan apa yang Pakde Camus bilang.

What gives value to travel is fear. It is the fact that, at a certain moment, when we are so far from our own country, we are seized by a vague fear, and an instinctive desire to go back to the protection of old habits, this is why we should not say that we travel for pleasure.

Jadi, ketakutan ini lumrah. Manusia, selama ia hidup, akan selalu berhubungan dengan rasa takut. Bahkan, fear makes us human.

Jalan satu-satunya selain menikmati rasa takut itu sendiri—karena toh tidak bisa hilang—ya, mengalihkannya. Jadi, yang saya lakukan adalah mempersiapkan segalanya untuk kebutuhan perjalanan seapik-apiknya. Pokoknya, siap-siap.

#IcelandTrip ini saya lakukan saat Iceland bermusim dingin. Jadi, pakaian adalah variabel utama yang mesti dipersiapkan baik-baik. Beberapa bulan sebelum keberangkatan, saya sudah berburu pakaian hangat. Kabarnya, jika musim dingin, Iceland bisa mencapai -20-an° C atau lebih.

Sempat kocar-kacir karena ketika mau berangkat, Februari 2016, toko-toko andalan untuk mencari pakaian dingin, seperti H&M, Stradivarius, Marks & Spencer, Zara, dll, sudah tidak lagi menyediakan koleksi winter-nya. Musimnya sudah lewat. Pull & Bear se-Jakarta bahkan sedang tutup, karena kabarnya hendak ganti konsep toko. Ada toko khusus perlengkapan musim dingin di Pondok Indah Mall, tapi modelnya kok ya terlalu “outdoor” dengan harga yang selangit. Hvft. Sementara, persiapan pakaian belum ada 50%-nya. Setengahnya sudah ada karena kebetulan Eiger Adventure mendukung perjalanan ini dengan menyediakan beragam “alat tempur”, mulai dari celana hiking yang tebal dan waterproof, outer jacket, drybag, sandal gunung, sampai daypack.

Favorit saya adalah outer jacket berwarna oranye terang ini, yang sukses menahan dinginnya Iceland, sampai -20°C saat saya berburu aurora (tentu dengan tambahan long john dan beberapa ganda baju sebagai dalaman).

//platform.instagram.com/en_US/embeds.js

Saya akhirnya sempatkan keliling Jakarta seharian untuk melengkapi apa yang kurang. Bisa dibilang, mempersiapkan ini-itu memang manjur untuk mengatasi ketakutan-ketakutan berlebihan jelang perjalanan. Selain karena pikiran penuh daftar, juga karena kita akan terlalu sibuk menahan kaki-kaki yang pegal dan nyeri karena maraton di dalam mal.

Hasilnya, berikut ini.

1. UNIQLO, Jakarta
Toko UNIQLO ini ada di Grand Indonesia dan Pondok Indah Mall. Di sini, saya membeli inner jacket berwarna merah dan heattech (semacam long john). Agak terkejut, ternyata inner jacket-nya UNIQLO ini bisa diandalkan. Hangatnya sampai bisa membuat saya jalan-jalan keliling Reykjavik di suhu -4°C hanya dengan inner jacket ini.

 

2. Twig House, Bandung
Saat ada pekerjaan ke Bandung, saya menyempatkan diri untuk ke toko di Jalan Sukajadi No. 127 ini. Twig House sudah dikenal luas sebagai toko yang menyediakan perlengkapan musim dingin yang lengkap.

Setelah cek ombak, ternyata memang betul. Pilihan untuk winter coat, winter jacket, kupluk wool, long john, sarung tangan, sampai boots, bisa dibilang beragam. Cuma tercengang juga dengan winter jacket yang sebetulnya bagus dan sepertinya hangat, tetapi harganya berkisar Rp1-4 juta dengan merek yang tidak familiar. Sepertinya merek Tiongkok. Jadi, akhirnya saya membeli hanya long john, sarung tangan, syal hangat, boots merek UGG, dan kupluk yang lucu-lucu sampai beberapa (tidak bisa menahan diri!).

Setelah digunakan selama #IcelandTrip, kesemuanya cukup menghangatkan dan nyaman.

Kembali ke Twig House, kabarnya, toko ini juga buka di Jakarta, di Jalan Baru No. 111, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, tapi saya belum pernah datang. Jadi, saya sayangnya tidak bisa bercerita apa-apa.

 

3. Marks & Spencer
Untuk winter jacket, akhirnya saya menemukan yang cocok di Marks & Spencer Kemang Village. Masih ada sisa jaket hangat, walaupun hanya satu ukuran dan sedikit model. Saya beruntung, karena mungkin koleksi penghabisan, jadi ada diskon besar. Nice.

 

4. Rumah Mode, Bandung
Saya membeli satu lagi winter jacket di salah satu FO terkenal di Jalan Dr. Setiabudhi No. 41, Pasteur, Sukajadi, Bandung ini. Terima kasih untuk Handra Agniawan yang sudah repot-repot membantu mencarikan jaket (dan boots di Twig House) di menit-menit terakhir, lalu mengirimkannya ke Jakarta via JNE.

 

Well, persiapan-persiapan lain juga jangan dilupakan, seperti mie instan (ini berguna banget), camilan-camilan yang banyak, sampai lip balm dan sunblock (penting). Alhasil, perlengkapan sudah nyaris 100%. Saat sudah selesai packing dan akhirnya bisa istirahat jelang hari H, ketakutan muncul lagi. Jreng.

Akhirnya, Giri dan saya memutuskan untuk embrace, merangkul saja perasaan takut ini. Fear of travel stops us, don’t let it grow inside you. Kan begitu, katanya.

atre giri - astri apriyani

 

Ps. Ketakutan baru hilang saat kami menjejakkan kaki. Betul-betul saat kaki ini ada di daratan Islandia. Apa perasaan yang menggantikannya? Nanti ya, ada di cerita selanjutnya. Hehe.

 

 

 

 

_____________________________________

 

Little Box

 

Ada phobia-phobia lain yang kerap orang rasakan saat hendak traveling. Kamu mungkin punya, atau kamu tidak sadar?

1. Nomophobia
Ketakutan lepas dari koneksi telepon.

2. Agyrophobia
Ketakutan menyeberang jalan.

3. Autophobia
Takut akan kesendirian, atau terisolasi.

4. Pedophobia
Ketakutan terhadap anak-anak.

5. Disposophobia
Ketakutan akan kehilangan sesuatu.

6. Phobophobia
Ini semacam phobia-ception. The fear of having a phobia or fear.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s