[Iceland Trip] The Impeccable Beauty: Golden Circle

Selama ini, Iceland sukses bersinggungan dengan saya ‘hanya’ lewat melodi-melodi apik Sigur Rós, Of Monsters and Men, atau múm. Sesekali juga lewat lanskap-lanskap indah yang masuk bingkai adegan Game of Thrones atau Interstellar. Baru pada Februari 2016, perwujudan Iceland yang selama ini mendekati surreal, jadi nyata seada-adanya. Yes, I came to Iceland!

Perjalanan panjang dari Indonesia ke wilayah Skandinavia memang sempat bikin gentar hati. Saya membayangkan yang tidak-tidak tentang turbulensi besar selama penerbangan yang kalau ditotal mencapai lebih dari 13 jam. Juga tentang pantat yang mati rasa dan kaki yang kaku karena terlalu lama duduk.

Banyaknya berita kecelakaan pesawat di dunia beberapa hari sebelum akhirnya saya dan partner perjalanan, Giri Prasetyo, berangkat, juga bikin hati semakin kerdil. Tapi, rupanya di menit-menit akhir sebelum terbang, gelisah sudah berkurang, berganti dengan excitement yang susah dikendalikan. Tercapai juga mimpi bisa ke Iceland sebelum usia 30.

Islandia punya pepatah, “Kemst þó hægt fari.” Artinya kira-kira seperti ini. Lebih baik jalan agak lambat, asal yakin. Atau, arti lainnya, tak apalah jalan lambat, karena toh akhirnya kita bakal sampai tujuan pula. Tapi, rasanya pepatah itu susah diterapkan di perjalanan ini. Karena terlalu banyak tempat yang ingin dikunjungi, berlambat-lambat itu seperti haram. Seperti menyeduh kopi dengan air dingin. Haram. Jadi, kami putar otak untuk bisa mendatangi sebanyak mungkin tempat di waktu yang hanya seminggu di negeri es dan api ini. Putar otak juga supaya liburannya masih tetap santai dan nyaman.

Alhasil, kami punya strategi untuk membatasi itinerary setiap harinya; minimal 3, maksimal 7. Ini seperti mengamini Nietzsche, yang tidak terlalu pro pada segala sesuatu yang berlebih-lebihan. Katanya, “The mother of excess is not joy but joylessness.” Salah-salah, kalau terlalu banyak itinerary dalam satu hari, bisa-bisa traveling malah jadi tidak membahagiakan.

Mengetahui yang Wajib di Iceland
Lalu, kami mulailah pelesir Iceland ini dengan tempat-tempat yang kabarnya wajib. Entah oleh mazhab yang mana, tapi katanya wajib.

Beberapa kawan yang pernah mengunjungi Iceland, seperti Kenny Santana yang empunya situs travel KartuPos.co.id, bilang kalau sesaat setelah tiba di negeri ini, lebih baik disegerakan datang ke Blue Lagoon. Ini karena Blue Lagoon dekat dari Keflavik International Airport; hanya 30 menit.

Sebenarnya di lubuk hati, memikirkan harus keluar ruangan hanya dengan swimsuit di suhu udara yang terbentur di -3°C, saya enggan—malah cenderung ogah. Tapi saya langsung ingat, Blue Lagoon ini salah satu geothermal spa yang terunik di dunia. Sayang juga kalau sudah sampai sini, lalu tidak mencoba berendam.

Terletak di Grindavík, Reykjanes Peninsula, Blue Lagoon (Bláa lónið) adalah sebuah laguna berair hangat yang kaya akan mineral sulfur dan silica. Suhu air laguna berkisar 37-39°C. Maka, setelah selesai mengganti baju di ruang ganti (perempuan dan lelaki dipisah) dan menyimpan barang-barang di loker yang terkunci, saya setengah berlari menuju laguna, lalu lingsir di air hangat. Meski sebetulnya dangkal, saya memilih berjalan merangkak supaya tubuh tetap terendam air. Supaya tetap hangat.

Warna air serupa biru susu sungguh menarik di mata. Begitu berendam di dalamnya, air ini terlihat semakin cantik. Warna biru ini berasal dari kandungan mineral silica.

Beberapa orang kelihatan menempelkan mineral-mineral dari laguna yang berwarna putih di wajah mereka. Seperti masker. Mineral ini memang baik untuk kulit, bahkan mampu mengobati penyakit kulit.

Semakin sore, uap air semakin tinggi. Lampu-lampu di sekitar laguna hanya mampu menerangi secara remang-remang. Pengunjung semakin banyak. Laguna ini baru akan tutup pukul 21.00. Sesungguhnya ia benar-benar “surga geothermal” jika saja tidak terlalu ramai. Tapi ya, apa mau dikata.

Seiring dengan berkembangnya pariwisata di Iceland, wisatawan yang mengunjungi negeri ini juga bertambah. Secara statistik bahkan mencapai penambahan rata-rata 20% per tahun, sampai 1 jutaan wisatawan pada 2015.

This slideshow requires JavaScript.

Golden Circle
Tidur saya nyenyak setelah berendam air hangat Blue Lagoon. Ketika terbangun karena alarm pukul 06.00 waktu Iceland, saya kaget juga melihat hari masih gelap. Tergoda untuk tidur lagi, tapi tidak. Alih-alih kembali bermimpi, saya bersiap untuk menjelajahi kawasan Golden Circle sehari penuh.

Karena ini musim dingin, saya peduli pada apa yang saya kenakan. Toh lebih baik jaga-jaga daripada menyesal kemudian. Maka, saya kenakan long john rangkap dua untuk atasan, ditambah kaos, sweater, inner jacket, lalu outer jacket. Sementara untuk bawahan, saya lapisi lagi si long john dengan tights rangkap dua, serta celana. Tidak lupa sarung tangan, kupluk, dan boots.

Begitu keluar dari penginapan di Skipholt, Reykjavik, yang ‘dijaga’ oleh pemanas ruangan, udara dingin langsung menelusup ke celah-celah pakaian dan menampar wajah. Malam sebelumnya rupanya salju turun lagi. Tumpukan es di trotoar dan jalan raya kembali tinggi. Semak-semak di tepi trotoar juga tertutup salju lebih tebal.

Saya lihat Giri berdiri di sudut teras, menggosok-gosok telapak tangannya. Lalu beberapa lelaki berjalan sendiri-sendiri di trotoar. Salah satunya menghisap rokok yang terselip di jemarinya. Yang lain berjalan agak tergesa, mungkin terlambat bekerja. Sementara, jalan raya sepi. Mobil hanya sesekali saja lalu lalang, dengan bunyi khas salju yang terlindas. Kressss… kressss… kressss…

Pelan-pelan, sebuah lagu berputar di kepala. Sigur Rós – Góðan Daginn.

Ó, góðan daginn. Ég úr þér ríf ísjaka og grýlukertin og harðfenni og hendi út á haf, Þar sem sjórinn flæðir og salt ísinn bræðir.”

(Oh, good morning. I pull from you icebergs and icicles and frozen snow and throw out to the sea, where the sea flows and salt melts the ice.)

 Sebuah bus putih bertuliskan Bustravel Iceland berwarna merah di badannya, berhenti di hadapan saya dan Giri. Ia sukses menghentikan lamunan. Bus ini yang menemani kami menjelajahi wilayah Golden Circle.

Sekadar informasi, banyak operator tur yang menawarkan trip Golden Circle, selain Bustravel Iceland. Tinggal pilih. Atau kalau ingin lebih privat, saya sarankan untuk menyewa mobil dan mulai roadtrip secara independen.

Dari kaca jendela, Iceland terlihat begitu putih. Salju di mana-mana, menutupi segala lahan rumput atau area hijau saat winter. Kuda-kuda berbulu tebal selintas kelihatan nyaman bermain di padang glacier. Beberapa sungai yang kami lewati ada yang membeku, ada juga yang terus mengalir. Rumah-rumah kecil dari kayu yang bercat berbeda-beda mempermanis lahan putih. Seperti lukisan berwarna di atas kanvas para pelukis.

Golden Circle sendiri adalah rute turistis populer yang terletak di Islandia Selatan. Cakupannya sekitar 300 km dari Reykjavik, dengan ragam destinasi mulai dari air terjun sampai taman nasional.

Waterfalls
Iceland terkenal akan air terjun beraneka wujud yang kesemuanya mengagumkan. Ketika menjelajah Golden Circle, ada dua air terjun yang sempat kami datangi. Pertama, Faxi, lalu Gullfoss.

Faxi atau Vatnsleysufoss adalah tempat kami pertama kali berhenti, dalam rangkaian Golden Circle. Air terjun ini terletak di Sungai Tungufljót. Letaknya tidak jauh dari area Geysir.

Air terjun ini memang tidak sepopuler Gullfoss, tapi tidak kalah indahnya. Pertama kali melihatnya, saya terpikir akan Niagara versi mini. Faxi adalah air terjun satu tingkat yang memanjang, dengan aliran air di bawahnya yang semakin menyempit sampai jauh. Di sekelilingnya, rumput-rumput atau bunga-bunga liar mengering karena kedinginan.

Kabarnya, Faxi terkenal sebagai tempat untuk berkayak. Mungkin karena musim dingin, tidak ada satu kayaker pun yang mendayung di perairan Faxi.

Sementara, air terjun satu lagi; Gullfoss. Ia adalah air terjun tiga tingkat, dengan kedalaman tertinggi sekitar 35 m. Sangat wow. Tidak heran ia disebut juga dengan nama Golden Falls. Ia juga dikenal sebagai air terjun bervolume terbesar di Eropa.

Lagi-lagi karena ini winter, saya tidak mendengar debur air terjun yang membahana di sekitar Gullfoss. Sebagian air mengeras. Tapi, di lain waktu, rata-rata air yang terjun di Gullfoss paling tinggi bisa mencapai 2.000 m³/s. Bisa dibayangkan betapa menggelegar suaranya?

This slideshow requires JavaScript.

Remain Surprise by Geysir

“To see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life.” -The Secret Life of Walter Mitty.

Begitu memasuki area Geysir di mata air geotermal Haukadalur, saya mulai membayangkan Walter Mitty ada di antara para pengunjung yang siang itu ramai datang untuk melihat Strokkur. Walter mungkin hanya sebuah karakter dalam film, tapi saya yakin, banyak Walter di dunia nyata yang lupa untuk menikmati hidup atau takut untuk keluar dari zona nyaman yang stagnant.

Walter Mitty adalah pemicu final hingga akhirnya saya merasa Iceland harus segera didatangi sebelum usia 30. To see the world, to feel, to recall the purpose of my life. Maka, ketika berdiri di hadapan Strokkur, melihatnya membura air panas hingga setinggi 30 meter, saya merasa hidup berkali-kali lipat lebih semangat.

Geysir ini merupakan geysir tertua yang masih aktif. Ia pertama kali ditemukan pada 1294. Sebuah gempa bumi kuat menyebabkan perubahan aktivitas geologis di wilayah ini dan menciptakan beberapa sumber air panas baru.

Geysir ini sempat tidak meletus pada 1630-1896, kemudian terjadi lagi gempa yang membuat geysir ini aktif kembali pada 1935. Hanya saja, ia lalu kembali tertidur. Kini, terdapat batu bertuliskan “Geysir” di atas area yang dulu tempat The Great Geysir sempat jaya. Mungkin seperti simbol kematian, seperti nisan.

Orang-orang kini mengelilingi mata air geotermal lain bernama Strokkur (The Churn), yang terletak 100 m dari Geysir. Dari sebuah lubang berkubang air panas berwarna biru jernih, setiap 8 atau 10 menit sekali, air ini menyembur tinggi. Bahkan, sampai sekarang saya masih bisa membayangkan gejolaknya yang menggairahkan.

Geysir, bersama dengan Gullfoss, berada dalam wilayah Taman Nasional Þingvellir (Thingvellir), yang telah menjadi taman nasional sejak 1928. Þingvellir kini berstatus Situs Warisan Dunia UNESCO. Keseruan taman nasional ini belum berakhir.

This slideshow requires JavaScript.

A Mid-Atlantic Ridge
Saat Arya Stark dan Sandor Clegane (The Hound) bersama-sama menuju Eyrie dengan berkuda, mereka melewati padang rumput yang hijau dengan pepohonan rindang dan bunga-bunga liar bermekaran di sepanjang perjalanan. Saya mengatakan ini bukan karena ingin memancing diskusi tentang Game of Thrones season terbaru yang bakal tayang April 2016. Walaupun agak tidak sabar juga menunggu rilisnya episode-episode terbaru GoT. Siapa lagi yang bakal mati, atau yang lebih penting, apa Jon Snow akan muncul lagi?

Bagi pencinta GoT, Iceland mungkin tidak lagi asing. Beberapa skena dalam GoT, seperti skena saat Jon Snow dan Ygritte bermesraan pertama kali di laguna di dalam gua atau perjalanan Arya dan The Hound di atas. Khusus untuk adegan terakhir, lokasi dilakukan di Þingvellir National Park saat musim panas. Dan, saya juga Giri melewati jalan yang sama di musim yang berbeda; musim dingin.

Di taman nasional ini, memanjang sebuah celah lembah yang berupa puncak retakan yang sudah ada sejak zaman pertengahan. Saat musim panas, lembah ini begitu hijau dengan di kiri-kanannya adalah dinding batu yang tinggi. Tapi, saat winter, jalan setapak di celah lembah itu tertutup salju. Semua serba putih. Hanya dinding batunya saja yang terlihat jelas seperti pagar pembatas besar berwarna kehitaman.

Yang paling mengagumkan adalah bahwa tempat ini terletak di dua benua sekaligus; Amerika dan Eropa; karena berada di atas piringan Eurasian dan Amerika Utara. Tempat ini kini dikenal dengan nama The Mid-Atlantic Ridge.

Punggung bukit ini rupanya memanjang sekitar 65.000 km di dasar Samudera Atlantik. Ini adalah pegunungan terpanjang di Bumi, tapi 90%-nya terletak di bawah air. Hanya beberapa bagian saja yang tampak di permukaan dalam bentuk pulau, salah satunya Iceland.

Lokasi Mid-Atlantic Ridge paling jelas di Þingvellir, adalah Almannagjá, tebing besar yang memanjang, dan kini jadi spot favorit banyak orang untuk trekking santai. Saya menyempatkan diri trekking 20 menit di sini, bersama banyak wisatawan lainnya. Dingin memang menyengat, tapi menikmati paru-paru diisi oleh udara setengah beku dan dikelilingi oleh batu-batuan tua, saya rasa kedinginan sedikit tidak masalah.

This slideshow requires JavaScript.

Hari sudah sore saat saya tiba di ujung lain ridge ini. Napas setengah habis. Tapi, hati senang. Saya tinggal butuh kopi panas, roti bakar keju-coklat, dan kamar berpemanas saja, untuk menutup hari ini jadi tambah sempurna. Sampai jumpa di petualangan berikutnya, Iceland. Sjáumst síðar!

 

(Tulisan ini terbit di Majalah Maxim Indonesia edisi Mei 2016)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s