My Trip My Adventure x Garuda Indonesia: Ya’ahowu, Nias

Di akhir Mei 2016, tepatnya 23-27 Mei, saya traveling ke Nias bareng tim My Trip My Adventure (MTMA) dengan host kali ini ialah Marshall Sastra, tim Garuda Indonesia, dan Gemala Hanafiah. Mau tahu keseruannya? Baca terus, ya!

Semua berawal dari kuis yang diadakan oleh Garuda Indonesia melalui media sosial mereka. Pertanyaan kuis mereka sederhana saja: berikan tantangan kepada Marshall Sastra dari My Trip My Adventure saat ia berkunjung ke Nias. Saya pribadi belum pernah ke Nias yang termasuk dalam Provinsi Sumatra Utara itu. Maka, ketika melihat kuis tersebut, hal pertama yang dikejar adalah bisa berangkat ke Nias. Karena itu, saya akhirnya ikut kuis #GAExploreNias ini lewat Twitter.

Mungkin ada kaitannya dengan kuliah yang berhubungan dengan linguistik—mungkin juga tidak—, tapi saya tertarik menantang Marshall untuk bicara bahasa Nias. Yang saya tahu, bahasa Nias itu luar biasa menarik.

Li Niha ini unik karena setiap akhiran katanya berakhiran huruf vokal, sama sekali tidak ada yang berakhir konsonan. Selain itu, bahasa ini juga mengenal enam huruf vokal, yaitu a, e, i, u, o, dan ditambah ö.

Sementara, dalam bahasa Indonesia, kita hanya mengenal lima vokal, yaitu a, e, i, u, o. Tidak hanya persoalan vokal, ternyata ada juga konsonan dalam bahasa Indonesia yang tidak ada dalam bahasa Nias. Seperti, c, j, q, v, dan x.

Saya mengepos tantangan pada 16 Mei, dan pada 18 Mei diumumkan bahwa saya menang kuis! Happy berat. Wohooo, berangkat ke Nias bersama Garuda Indonesia dan tim MTMA. Dari sini saya baru tahu, bahwa fans Marshall Sastra luar biasa banyak. Beberapa dari mereka bahkan terang-terangan mention dan mengungkapkan keiriannya karena saya bisa jalan-jalan bareng Marshall. Mereka literally histeris.

Pengumuman pemenang kuis #GAExploreNias via Twitter. Yay!
Pengumuman pemenang kuis #GAExploreNias via Twitter. Yay!

 

D-Day: Fly with Garuda Indonesia

Hari yang ditunggu-tunggu datang juga. Begitu tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, saya langsung menuju Terminal 2 untuk check-in penerbangan ke Nias (transit di Medan). Saya lupa, padahal sebetulnya kalau dengan Garuda Indonesia, kita bisa web/ mobile check-in sebelumnya; bisa pilih posisi duduk, jauh lebih praktis.

Di bandara, saya pertama kali bertemu dengan tim Garuda Indonesia; Prina Eka Putri (Brand Manager GA), juga duo Aziman Fadhli dan Imandaru Candraningtyas (Digital Marketing Analyst GA). Baru kemudian datang tim MTMA yang dipimpin oleh Pak Produser, Christianus Hutanijaya dan Marshall Sastra. Ada juga Salini Rengganis, peselancar muda (usianya baru 17 tahun, oh my God I feel old!) berkulit eksotis (bikin iri) asal Pacitan.

Kejutan terakhir adalah ketika tiba-tiba di bandara datang Gemala Hanafiah, perempuan peselancar yang ternyata ikut juga ke Nias. Terakhir ada project bareng Al itu ketika kami membuat film pendek bersama yang bisa dilihat di sini: Tambora: The Trail of Ancestor. Jadi, kejutan yang menyenangkan pas tahu bisa traveling bareng Al lagi.

Meeting point: Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ayo berangkat!
Meeting point: Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Ayo berangkat!

Penerbangan dari Jakarta ke Nias (Bandara Binaka, Gunungsitoli) harus transit di Medan (Bandara Internasional Kualanamu) terlebih dulu. Dari Jakarta ke Medan, kita menempuh waktu terbang sekitar 2,5 jam dengan menggunakan pesawat Boeing. Lalu, dari Medan ke Nias, kita terbang sekitar 1 jam 10 menit dengan menggunakan pesawat ATR.

Kami naik ATR mungil ini dari Medan ke Nias.
Kami naik ATR mungil ini dari Medan ke Nias.

Begitu sampai di Nias, langit mendung. Awan gelap di mana-mana. Tapi, tentunya tidak menghalangi semangat semua orang untuk mengeksplorasi Nias. Ya’ahowu, Nias!

Ya’ahowu adalah ucapan salam khas Nias, digunakan setiap saat, baik pagi, siang, sore, atau malam.

 

Day 2: Catch the Waves

Begitu sadar bahwa yang ikut trip kali ini adalah Al dan Salini—yang notabene adalah peselancar—, saya baru ngeh, well, d’uh, ini kan Nias. Nias adalah salah satu destinasi selancar terbaik. Ia diagung-agungkan oleh para peselancar, lokal ataupun internasional, karena ombaknya yang fantastis. Karena itu, first thing first: mari mengejar ombak.

Tim MTMA yang jumlahnya ada tujuh orang (banyak juga, ya) mulai sibuk dan siap-siap syuting. Tim Garuda Indonesia; Mbak Putri, Mas Azim, dan Mas Ican; juga siap-siap dengan kamera mereka.

Marshall yang kali itu hanya sendirian ngehost MTMA kelihatan butuh tidur. Ia sempat cerita, tim MTMA yang ini sebetulnya baru saja selesai syuting di Banda, Maluku. Lalu, tanpa istirahat, harus langsung terbang ke Nias.

“Kita biasanya punya waktu kosong seminggu di rumah. Tapi, kadang-kadang bisa juga kayak gini, sebulan penuh di luar terus,” tambah Marshall.

Saya jadi ingat seorang kawan yang berprofesi sebagai travel influencer, biarpun kerjaannya jalan-jalan, kadang-kadang suka jenuh juga. Apalagi kalau badan sudah terlampau lelah, tapi tetap harus traveling.

Saya pikir juga begitu. Ketika traveling menjadi pekerjaan, kenikmatannya menjadi berkurang. Maka itu, kebanyakan yang bekerja di bidang ini, lebih senang menghabiskan waktu liburnya dengan santai di rumah, pijat mungkin, atau tidur yang banyak (aduh, ini enak banget—apalagi setelah lama ngetrip). Eh, kok jadi curhat.

Oke, kembali ke ombak. Destinasi ombak kita adalah Pantai Sorake dan Pantai Lagundri. Keduanya adalah pantai yang terkenal akan ombaknya—meskipun berbeda jenis. Keduanya terletak di Desa Botohilitano, Kecamatan Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. Dari Gunungsitoli atau kawasan bandara, membutuhkan waktu sekitar 4 jam.

Sorake dan Lagundri letaknya berdekatan, hanya beberapa menit jaraknya antara satu sama lain. Di dua pantai ini, kita juga bisa melihat pesisir pantai dipenuhi oleh jajaran penginapan, atau orang-orang menyebutnya surf camp. Sebab, mereka yang memilih menginap di sini adalah para peselancar yang mengejar ombak. Musim terbaik berselancar di sini kabarnya adalah pada April-September.

Keduanya juga sama-sama ramai oleh para peselancar. Ombak di dua pantai ini bisa sama-sama tinggi, bahkan sampai mencapai 7 meter (HAH?!), dengan karakter barrel sepanjang 200 meter, dan sama-sama langsung menghadap ke Samudera Hindia.

Meskipun seperti kembar identik, tetap saja Sorake dan Lagundri punya perbedaan.

Sorake adalah pantai dengan karakter yang cenderung berkarang. Tepi pantai dan dasar lautnya adalah karang. Karena itu, Sorake lebih cocok untuk para peselancar yang sudah profesional. Sementara, Lagundri berkarakter pasir. Tepi pantai dan dasar lautnya adalah pasir putih yang bersih. Karena itu, Lagundri lebih cocok untuk para peselancar pemula atau mereka yang baru mulai belajar berselancar.

Enak nih sore-sore duduk-duduk di tepi Sorake, sembari ngopi.
Enak nih sore-sore duduk-duduk di tepi Sorake, sembari ngopi.

Saya sendiri tidak surfing. Maka, ketika di Sorake, saya dan Marshall membiarkan Al dan Salini asyik berburu ombak. Mereka jagoan banget. Beberapa kali memang mereka kelihatan dijatuhkan ombak, tapi lebih sering lagi terlihat mereka berdiri gagah di atasnya. Ada juga Pak Dolin, surfer setempat yang juga memiliki penginapan di tepi Sorake. Jika ada yang pernah ke Sorake, pasti kenal dengan Pak Dolin.

Baru di Lagundri, Marshall mulai belajar surfing, dengan mentor dua perempuan jago: Al dan Salini. Sekali lagi, untuk belajar, Lagundri jauh lebih aman mengingat dasarnya adalah pasir. Marshall beberapa kali berhasil menaklukkan ombak, tapi seringnya terjengkang. Ha-ha. Mungkin, inilah yang bikin ia akhirnya curhat soal jodoh di tengah laut. Ombak bikin Marshall baper. Curhatnya bisa dilihat di video buatan Al ini. Atau, bisa scroll sampai bawah.

This slideshow requires JavaScript.

Day 3: Asu

Bukan, saya bukan bermaksud mau misuh-misuh, dan bilang kalian “anjing”. Tapi, hari berikutnya di Nias adalah perjalanan MTMA x GA #GAExploreNias ke Pulau Asu. Ya, namanya memang Pulau Asu. Saya juga penasaran kenapa.

Asu adalah sebuah pulau seluas 18 km2 yang terletak di Kecamatan Sirombu, Kabupaten Nias. Untuk bisa sampai ke pulau ini, kita harus menempuh perjalanan darat untuk tiba ke Dermaga Sirombu. Dilanjutkan dengan numpak speedboat dan tiba di Asu dalam waktu 40 menit, teorinya. Saat itu, karena ombak sedang pasang, kami akhirnya tiba di Asu setelah babak belur mual-mual dihajar ombak sekitar 1,5 jam. Asuuuuuu, asu, asu, asu. Oke, ini saya baru misuh-misuh.

Naik speedboat yang kebetulan lagi dapat yang bagus. Ini muka happy sebelum digoncang-goncang ombak.
Naik speedboat yang kebetulan lagi dapat yang bagus. Ini muka happy sebelum digoncang-goncang ombak.

Tahu nggak, Pulau Asu ini masuk dalam wilayah Kepulauan Hinako, Nias. Dan, ia adalah salah satu pulau terluar Indonesia.

Dermaga menuju Pulau Asu dari pelataran Puri Asu (salah satu penginapan di Pulau Asu).
Dermaga menuju Pulau Asu dari pelataran Puri Asu (salah satu penginapan di Pulau Asu).

Ketika tiba di Pulau Asu, langit mendung. Dan, tidak berapa lama, hujan turun. Sial betul. Buat para buruh visual, hujan ini artinya bisa jadi bencana. Langit gelap, basah, air laut keruh. Karena itu, kami akhirnya istirahat dulu sembari menunggu hujan reda. Tapi, karena waktu tidak banyak, syuting harus segera dimulai meskipun masih gerimis. Walaupun banyak rencana yang gagal. Niatnya ingin diving, tapi ternyata kompresor di pulau ini sedang rusak. Ingin surfing, tapi tidak ada dukungan penuh dari alam. Akhirnya, kami menghabiskan waktu trekking keliling pulau.

Rindang banget pulau ini dengan pohon-pohon kelapa dan rerumputan, juga dikelilingi oleh pantai yang airnya berwarna biru muda. Cantik banget.
Rindang banget pulau ini dengan pohon-pohon kelapa dan rerumputan, juga dikelilingi oleh pantai yang airnya berwarna biru muda. Cantik banget.

Lalu, ditutup dengan yoga yang dipimpin oleh Al. Rupanya, yoga ini sebuah tantangan buat Marshall. Meskipun jagoan di berbagai olahraga ekstrem, seperti menyelam, touring, sampai free dive, urusan yoga sepertinya bukan keunggulan Marshall. Di balik layar, seringkali kami ngikik tertahan karena Marshall mengaduh-aduh. Sekadar bocoran, badannya sama sekali tidak lentur. Dan beberapa pose yoga bikin Marshall tambah misuh.

Setelah yoga di tepi pantai…

Setelah yoga, akhirnya kami punya kesempatan berenang-renang kecil di tepian Pulau Asu. Airnya sejuk dan jernih. Warnanya cantik toska. Beberapa kali, anjing-anjing liar mondar-mandir melihat kami main air. Mungkin mereka iri, mungkin juga mereka sebal. Tapi, terjawab sudah kenapa pulau ini disebut Pulau Asu. Rupanya banyak anjing liar berseliweran di sini.

This slideshow requires JavaScript.

Dan, di akhir MTMA episode Nias ini, Marshall akhirnya menjawab tantangan dari saya: menutup acara dengan menggunakan bahasa Nias. Sempat ulang beberapa kali, sih, karena ternyata bahasa Nias luar biasa susah. Apalagi dipelajari hanya dalam waktu beberapa jam. Jadi, maklum saja kalau Marshall butuh contekan. Hi-hi.

Di belakang layar pas menutup acara dengan bahasa Nias.
Di belakang layar pas menutup acara dengan bahasa Nias.

Ah, pokoknya trip kali ini seru parah. Nias sangat sangat sangat mengagumkan. Suatu hari nanti, pasti bakal balik lagi. Terima kasih, My Trip My Adventure dan Garuda Indonesia atas jalan-jalannya. Terima kasih Mas Azim dan Mas Ican atas suplai foto-fotonya.

Jangan lupa, tonton MTMA x Garuda Indonesia episode Nias ini besok, 23 Juli 2016, pukul 08.30 di TransTV ya. Jangan sampai ketinggalan!

Skuad: Pak Dolin (Nias), Atre, Al, Marshall, dan Salini.
Skuad: Pak Dolin (Nias), Atre, Al, Marshall, dan Salini.

P.S.:

Buat teman-teman yang ingin melihat keseruan perjalanan MTMA x GA #GAExploreNias ini, bisa telusur hashtag #AyoLiburan dan #GAExploreNias di Instagram. Bisa juga tonton, tinggalkan komentar, juga share video buatan Al di sini:

 

 

Kalau masih belum puas, tonton lagi video behind the scene MTMA x Garuda Indonesia #GAExploreNias garapan tim Garuda Indonesia (Mas Azim dan Mas Ican) di bawah ini.

 

Perjalanan saya di destinasi lain di Nias, seperti Museum Pusaka Nias dan berburu durian, bisa dibaca di postingan berikutnya ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s