Ahmad Tohari: Religius Belum Tentu Beragama

Ada yang tahu novel Ronggeng Dukuh Paruk? Novel keluaran 1982 yang ditulis Ahmad Tohari ini dengan gamblang menceritakan masyarakat Dukuh Paruk, Jawa Tengah yang digambarkan bodoh dan karena kebodohannya dengan mudah dipengaruhi oleh komunis (PKI) tanpa mereka sadari.

Novel yang sempat dipotong paksa pada 1980-an, pada 2003 muncul lagi dengan versi lengkapnya. Diketahui setelahnya, bagian yang disunat paksa ini adalah bagian yang menggambarkan bagaimana tentara menghadapi tahanan yang diduga komunis.

Ahmad Tohari adalah penulis yang—dari karya-karyanya terlihat—humanis. Tak hanya novel, cerpen dan esainya pun tak jauh dari masalah sosial. Rakyat kecil kerap menjadi AKU dalam setiap karyanya. Banyak pelajaran tentang hidup yang bisa diambil dari wawancara ini. Berikut cuplikannya.

Wawancara I
Kediaman Ahmad Tohari, Jatilawang, Jawa Tengah, 26 Januari 2007
ATRE (A): Kapan pertama kali ke Jakarta dan apa alasan utamanya?
TOHARI (T): Saya ke Jakarta beberapa tahap. Tahap pertama, waktu jadi mahasiswa kedokteran pada 1967—1969, tapi tidak selesai. Lalu, pulang ke Banyumas. Pada 1970, saya ke Jakarta lagi ikut kakak kerja di BNI ’46 di Beos sebagai pengelola majalah BNI honorer. Bosan, saya pulang lagi ke Banyumas pada 1972. Nah, di tahun ini saya mulai menulis cerpen.

Pada 1975, saya ikut lomba Radio Netherland dan “Jasa-jasa Buat Sanwirya” menang. Pada 1977, saya menang lagi penulisan novel, Di Kaki Bukit Cibalak. Pada 1979 pergi ke Jakarta lagi, langsung jadi redaktur di Majalah Merdeka. Dites, dan lulus.

Pada 1981, saya pulang ke Banyumas naik vespa sambil membonceng mesin tik. Ronggeng Dukuh Paruk mulai terpikir, membuat kerjaan di Jakarta tidak tenang. Setelah trilogi selesai, pada 1986, teman-teman di Jakarta mengundang saya ikut jadi redaktur Majalah Amanah. Daripada bengong, akhirnya saya ikut.

Sampai 1992, saya kembali ke Banyumas. Sudah cukup jadi orang Jakarta. Di Jakarta tidak bisa menjadi manusia seutuhnya. Betul?

A: Kenapa?
T: Segalanya harus diperebutkan. Naik kereta berebut, antre tiket berebut, ke WC, semua. Sama sekali tidak manusiawi. Walau gemerlap, tapi tidak manusiawi. Tidak cocok dengan saya. Mending pulang kampung.

Di Jakarta, akal berhenti, sensasi semua. Kamu (sambil menunjuk saya) juga jadi korban sensasi, tidak merasa saja. Ada satu iklan yang menurut saya sangat sensasional. Iklan pemutih kulit. Gila betul. Di Indonesia, orangnya, kan, tidak akan putih walau dicat berapa kali pun.

Mimpinya terus dibangun agar wanita bisa berkulit putih. Lelakinya juga dibangun, yang cantik itu adalah yang berkulit putih. Dan, tidak ada perempuan Indonesia yang berontak, malah tunduk pada iklan itu. Padahal, katanya, kita memperjuangkan HAM, membela hak-hak wanita. Lalu, bagaimana dengan hak-hak wanita Papua dengan iklan itu? Kekejaman luar biasa toh? Tapi, kenapa kita diam? Sensasi.

A: Jadi, secara tidak langsung keluarga membentuk karakter Bapak menjadi religius. Benar?
T: Ya. Saya hidup dalam masyarakat miskin. Jangan bayangkan desa ini sekarang. Ketika saya kecil, pada 1950-an, desa ini luar biasa miskin. Sawah masih tadah hujan ketika itu. Panen setahun sekali. Itu pun kalau beruntung, tidak ada hama, dan sebagainya.

Orang yang bisa makan nasi sehari tiga kali itu orang kaya. Saya sendiri sampai tamat SD, makan nasi dicampur oyek. Jangan harap ada anak pakai sepatu. Waktu saya SD banyak anak yang hanya pakai celana tanpa baju. Kalau masuk musim kemarau (paceklik), halaman rumah saya banyak anak yang bermain, dengan harapan ada makanan dikeluarkan. Dan, ibu saya sangat peka, biasa melihat anak-anak lapar. Ia pasti akan tahu.

Kamu (sambil bertanya kepada saya) mengerti tidak anak lapar? Saya tahu. Ininya masuk (sambil menekan bagian tengah lekukan leher), wajahnya pucat, kalau disalami tangannya dingin. Ini anak kelaparan, pasti.

Orang-orang itu pasti suka diundang ke rumah oleh ibu. Pura-pura disuruh kerja apa gitu, tapi setelah itu diberi makan. Situasi itu sangat mempengaruhi saya. Ketika kemarau itu kan sedang terang bulan. Itu kan indah sekali, ya. Tetapi, saya sering gagal mendapat teman bermain karena mereka lebih baik duduk diam karena lapar. Saya ingin bermain, tapi saya sendiri yang kenyang, orang-orang kelaparan.

Saya sebetulnya mengenal agama dari perilaku ibu saya. Suatu hari, dulu, ibu saya melihat ada pencuri mengambil pisang dari pohon. Orang mencuri pisang itu hanya satu alasannya: lapar. Pencuri itu ditangkap basah, pisangnya dan pencuri itu dibawa ke rumah saya. Pisangnya digotong, diletakkan di pojok rumah. Pencurinya dikasih makan, setelah itu sebelum pulang dikasih beras.

Mencuri pisang, dikasih makan, dan dikasih beras. Wah, itu melekat terus sampai sekarang di dalam diri saya. Itulah agama. Bukan dalil-dalil. Itu religiositas saya. Dan, semua mempengaruhi.

Seluruh motivasi karya sastra saya itu, ternyata masyarakat sekarang salah dalam memandang. Jadi, beribadah selalu untuk Allah. Pertanyaan yang penting adalah apakah Tuhan butuh ibadah kita? Tidak. Masa Allah butuh sesuatu?! Jadi, Allah sebetulnya tidak butuh iman kita, ibadah kita. Semuanya untuk kita sebetulnya.

Ini ditegaskan dalam suatu riwayat hadits yang menceritakan percakapan antara orang di neraka. Orang yang terakhir menggugat Tuhan. Orang itu bingung kenapa dia bisa masuk neraka. Setahunya, ia orang baik dan rajin beribadah.

Tuhan menjawab orang itu masuk neraka karena dia tidak menjenguk Tuhan ketika Tuhan sakit. Orang itu bingung apakah Tuhan bisa sakit. Sakitnya tetanggamu adalah sakitku, kata Tuhan.

Artinya apa? Orang sakit itu memanggul amanat Tuhan. Tidak usahlah ibadah kita usik. Cukuplah Dia sebagai niat saja tapi Tuhan sendiri tidak butuh ibadah kita, yang butuh itu manusia sakit. Orang sakit, orang miskin, orang teraniaya, orang tergusur, orang PKI yang tidak salah ditembaki, orang-orang yang tidak mendapat hak-hak, mereka itu perwakilan Tuhan yang harus kamu jenguk.

A: Sebesar apa Bapak berusaha menyadarkan pembaca dari segi religiositas itu sendiri?
T: Terus terang, saya mempunyai kepentingan untuk membantu masyarakat menjadi masyarakat yang membantah. Dan, ini saya lakukan dengan dialog-dialog, misalnya dengan anak-anak SD, SMP, dan semua.

Ibu-ibu jangan cuma memberikan anak-anak mainan dan Taro, sekali-sekali kalau ke mal itu jajan buku. Memang, saya prihatin dengan situasi itu. Coba kemarin (kuliah umum di SMA Yos Sudarso, Sukaraja, Pak Tohari sebagai pembicara) dari sekian ratus orang itu saya tanya siapa yang pernah membaca Salah Asuhan, tidak ada, Atheis juga tidak ada, apalagi ketika saya tanya Pahlawan Minahasa tulisan M. R. Dayoh. Ah, dengar saja baru. Padahal, itu mahasiswa jurusan Sastra Indonesia. Kayak apa nanti sarjananya.

A: Kalau ditanya penyebab pergeseran orientasi Bapak itu apa, jawab Bapak?
T: Fakta di depan mata saya. Di desa ini, urbanisasi sudah sangat terasa. Kaitannya dengan terdesaknya bahasa lokal, orang-orang sini (Banyumas) bicara lebih kepada bahasa bahasa gaul. Bahasa gaul kan bahasa urban.

Urbanisasi itu terjadi di depan mata saya, dan mempengaruhi karya saya. Jelas, karena karya-karya saya mengangkat realita. Penyakit-penyakit Jakarta sudah sampai sini, iya, dan orang jadi konsumtif. Sepuluh tahun lalu ibu-ibu di sini sudah nonton film porno. Jangan kira.

A: Ketika Bapak sempat merasakan kehidupan di Jakarta, apa mengubah pandangan Bapak yang religius?
T: Saya menjadi lebih kaya secara batin, iya. Lebih bisa membaca kehidupan dengan lebih komprehensif. Jakarta seperti ini, di kampung seperti itu. Ternyata, senyum orang Jakarta dengan senyumnya orang kampung itu berbeda.

Kamu berjalan di sini (Banyumas), orang akan bertanya atau mengangguk. Coba kamu berjalan di Jalan Sudirman, Jakarta, kamu pasti seperti debu yang bergerak. Tidak ada artinya. Saya di sini kalau ketemu orang mesti senyum, mesti tertawa. Kalau di Jakarta, siapa yang mau senyum sama saya? Jadi, hidup di Jakarta kering betul. Padahal, mungkin ya itu tadi, gemerlap.

Wawancara II
Sekretariat Dewan Kesenian Jakarta, Jakarta, 28 Februari 2007
A: Sebenarnya bagaimana pemahaman Bapak tentang religiositas?
T: Itu, kan, kesadaran bahwa ada kekuatan kodrati, supranatural yang pada saat tertentu tidak dapat dikalahkan. Jadi, religiositas, ya, kesadaran dan pengakuan bahwa ada kekuatan lain di luar itu.

A: Menurut Bapak, erat kaitannya dengan agama?
T: Agama itu, kan, lembaga. Menurut saya, orang bisa religius tanpa agama.

A: Caranya?
T: Ya, melalui pemahaman supra agama. Agama itu, kan, diberikan untuk orang yang tidak bisa mengembangkan diri untuk menjadi soleh, tanpa digiring, tanpa dituntut. Orang religius belum tentu orang beragama, dan orang beragama belum tentu orang religius.

A: Rasanya sulit untuk memahami makna kata religiositas itu sendiri.
T: Ya, memang luas. Peradaban manusia, menurut pemahaman saya, harus dituntun oleh religiositas, supaya peradaban tetap tergerak dalam kaidah meningkat dan selamat. Kalau tanpa religiositas itu, saya khawatir manusia berlomba.

A: Dan, menurut Bapak, religiositas itu tidak hanya sebatas agama. Jadi, seluas apa?
T: Pengakuan bahwa ada kekuatan yang mengelola realitas. Ada pengakuan bahwa realita ini sebetulnya ada yang punya.

A: Semakin hari, bagaimana kecenderungan aspek religiositas dalam karya-karya Bapak? Bertambah atau malah berkurang?
T: Saya rasa begini, saya selalu menjadi religius pada pengakuan adanya Tuhan. Tapi, untuk memahami Tuhan, saya rasa mustahil. Yang mampu kita lakukan adalah membaca dan merasakan keinginan-keinginannya. Jadi, Tuhan, kan, inginnya damai, cinta, rahmatan lil alamin. Jadi, kalau kita memberikan simpati, menolong, mengasihi, samalah dengan menuju kepada Tuhan.

A: Dan, semakin dalam pemahaman Bapak mengenai agama otomatis membuat konsep sufistik dalam karya-karya Bapak semakin banyak. Begitu?
T: Katakanlah begini, saya semakin menghargai kemanusiaan, terutama manusia yang teraniaya. Kalau kita benar-benar mencintai Tuhan, maka kita akan bela-bela menjenguk orang sakit. Sakit itu banyak jenisnya, ada sakit politik, sakit ekonomi, sakit segalanya, tidak hanya fisik.

A: Berarti secara tidak langsung Bapak mengakui bahwa religiositas bapak semakin ke sini semakin dalam dan pengaruh sufisme semakin kental?
T: Iya, tetapi dalam bentuk yang sangat sederhana. Bagi saya, religiositas bukan hanya senang berdzikir, pergi ke gereja. Tapi, sangat sehari-hari.

A: Dalam satu sms, Bapak mengatakan orientasi kepengarangan Bapak tidak berubah. Kalau dilihat dari kumpulan cerpen pertama Senyum Karyamin (1989) yang cerpen-cerpennya dibuat sekitar 1970—1980-an masih terfokus pada latar pedesaan dan tema wong cilik. Namun, dalam Nyanyian Malam (2000), tema memang masih tetap wong cilik, hanya saja latar yang diangkat sudah bergeser. Hal itu, menurut Bapak, bukan orientasi kepengarangan yang berubah?
T: Bukan, tapi habitat saya yang berubah dan itu tidak bisa dicegah. Di sekitar saya, yang rumahnya 34 kilometer dari kota, rasa urban sudah sangat jelas. Bagaimana cara berbicara orang kampung, cara berpikir, sudah urban.

Sekarang ini, para petani, padi tidak masuk ke lumbung, tapi langsung dijual di pasar. Itu, kan, pikiran urban, bukan desa. Itulah urban dengan alam industri. Lingkungan saya sendiri yang berubah. Misalnya alam saja, burung-burung sudah hilang, elang atau gagak sudah tidak ada, ikan-ikan di kali sudah sedikit, lebih banyak plastiknya (sampah).

Ketika TV sudah masuk ke daerah yang paling jauh (paling terpencil maksudnya), setan TV membuat rakyat konsumtif, terpengaruh kota.

A: Nah itu, latar yang berubah otomatis membuat permasalahan-permasalahan yang Bapak angkat dalam cerpen pun berubah. Bukan begitu?
T: Tetap, orang miskin tapi dalam latar yang sudah berubah. Contoh paling dekat si Dawir (dalam cerpen Dawir, Kusmi, dan Totol, Horison edisi Januari 2007). Itu, kan, orang miskin di tengah perkotaan. Sekarang, kalau misalnya si Dawir itu digambarkan dengan melukiskan alam yang seperti tahun 1970-an, sudah sangat sulit dicari. Nyatanya, tidak ada. Radio, TV, kafe, nonton film porno, jaipongan, lengger, ronggeng sudah sangat kompleks. Perubahan situasional itu tidak mungkin dicegah.

Yang saya katakan orientasi kepengarangan itu karena orangnya bukan latarnya. Yang justru berdampak parah malah miskinnya.

A: Semakin banyak yang bekerja ke Jakarta, tapi malah semakin miskin?
T: Iya, sekarang ini banyak yang pakai sepatu bagus, tapi miskin secara akal. Dulu begini, orang punya baju tiga saja sudah kaya, sudah tentram.

A: Semakin banyak tahu, semakin butuh lebih…
T: Iya, dan masing-masing didorong untuk jadi konsumtif. Orang semakin didorong untuk merasa butuh. Dulu, sabun mandi dan sabun cuci itu sama, satu saja di kali. Peningkatan itu dibuat oleh orang-orang melalui TV, iklan.

A: Zaman bersesuaian?
T: Ya, kerbau sudah jadi mesin. Kalau dulu panen itu orang punya padi satu ton, itu mereka sudah nikmat. Tapi sekarang, petani kalau panen, padi dijual, bisa untuk bikin keramik, dan sebagainya, bahkan tanah pun bisa dijual untuk beli Honda (motor).

Kalau di desa sudah tidak tertolong, pada lari ke kota. Tapi sebenarnya, perasaan membutuhkan banyak itu yang membuat konsumtif.

A: Tapi, kalau tidak sesuai dengan misalnya tingkat ekonomi dan sosialnya itu berbahaya juga, bukan?
T: Iya, maka akibatnya merombak pola kekerabatan di sana (di desa). Saudara pukul-pukulan karena berebut warisan.

A: Banyak terjadi di desa, Pak?
T: Iya. Terakhir itu, ada anak SMP yang minta dibelikan HP. Karena orangtuanya miskin, tidak dibelikan. Dia gantung diri. Dan, sebetulnya yang mengubah pola itu orang desanya sendiri. Repotnya, tidak mungkin dicegah.

A: Tidak bisa…
T: Iya, paling-paling diminimalisasi dengan pendidikan. Orang kalau berpendidikan beda tidak (pemikirannya)? Pasti akan “yang saya butuhkan ini…ini…” bukan “yang saya inginkan ini…ini…”

A: Ya, keinginan dan kebutuhan. Jelas beda.
T: Sekarang kapitalis mendorong orang untuk ingin ini, ingin ini. Dan itu tidak ada batas.

A: Apalagi di Jakarta. Gila-gilaan sekali…
T: Iya, Jakarta. Minta belikan sepatu yang ada di TV, apa-apa yang ada di TV. Iklan itu gila.

A: Dalam cerpen Bapak (spesifik cerpen saja), perbandingan antara cerita-cerita yang berdasarkan kisah nyata dan yang fiksi murni itu bagaimana?
T: Sebetulnya saya tidak bisa menulis cerpen kalau tidak berangkat dari pengalaman. Tapi kan pengalaman hanya pemicu. Karena mungkin dibangun dan dikembangkan menjadi bangunan cerpen yang ditambahkan banyak imajinasi, banyak fiktif. Selalu dipicu oleh pengalaman pribadi.

A: Bisa dibilang 100% cerpen Bapak berdasarkan kisah nyata?
T: Iya, jadi sebetulnya itu sebuah laporan yang difiksikan.

Foto: Dok. pribadi

2 Comments Add yours

  1. dedi efendi says:

    indah…sungguh indah jawaban pak tohari..
    salam kenal pak

  2. Ryan Gito Wiyono says:

    banyak belajar dari beliau……kisah-kisah dalam tulisannya..keberpihakan pada wong cilik….terus berkarya pak!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s