Surabaya dan Kampung-kampung Etnis

Dalam tiap-tiap kunjungan, Surabaya selalu mengejutkan. Dari mulut Ketua RT di Banyu Urip, saya mendapati bahwa kampung-kampung Surabaya punya banyak situs atau makam tua tidak terjamah. Dari mulut supir taksi, saya mendengar cerita sembari melihat sendiri rumah-rumah di Darmo yang megah-megah dan indah-indah. Dari banyak mulut, banyak pula bertambah isi di kepala saya.

Surabaya masih panas, dan juga macet sesekali. Semestinya saya sudah mengira demikian, mengingat Surabaya adalah kota terpadat kedua setelah Ibukota. Ketika menemui Mad Cahyo di noMADen Studio bahkan pernah mengatakan, “Salah-salah, Surabaya bisa jadi akan sama nasibnya kayak Jakarta.” Tentu saja, yang kita bicarakan adalah perihal kemacetan, polusi, dan kepadatan yang seperti sulit ditangani di Ibukota.

Di kali kedua kunjungan, ketiga, dan selanjut-selanjutnya, Surabaya menjadi kota yang lebih menyenangkan. Tri Rismaharini, walikota Surabaya yang sudah menjabat sejak 2010, saya dengar-dengar tahu betul bagaimana membuat kota ini jadi nyaman. Dan, ya sedikit-banyak berhasil.

Sekali waktu saya tahu-tahu sampai di Jalan Ondomohen. Ini salah satu kawasan teduh di Surabaya. Dengan pohon-pohon rindang di kiri-kanan jalan, Ondomohen mungkin salah satu bukti bahwa Surabaya tidak identik dengan gersang.

Agak OOT. Di luar itu, ada warung makan sate klopo yang endes di Ondomohen. Terkenal betul sampai keluar Surabaya; Sate Klopo Bu Asih.

IMG_9810
Ini sate klopo di Ondomohen, Satu Klopo Bu Asih.

Sedikit tentang sate klopo, ini adalah sajian sate yang kabarnya cuma ada di Surabaya. Agak beda dari sate yang biasa kita temui di mana-mana–yang hanya dibakar lalu dibumbui–, sate klopo ini sebelum dibakar dalam pemanggang, bertusuk-tusuk sate itu dilumurkan pada parutan kelapa yang sudah berbumbu. Jadi, ketika dibakar, kelapa dan bumbu-bumbu, serta lemak sapi yang turut meleleh meresap dalam daging sapi yang digunakan sebagai bahan utama sate klopo. Setelah dibakar, sate disajikan dengan bumbu kacang dengan irisan cabe rawit, bawang, dan tomat kalau suka. Bah, jadi laper…

***

Jika melihat rencana tata ruang wilayah Surabaya tahun 2012 yang disusun Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, kawasan permukiman menjadi wilayah paling luas dibandingkan kawasan perkantoran, industri, atau perdagangan.

Ini juga menarik, apalagi mengetahu bahwa di Kota Pahlawan ini, sekitar 70% kebutuhan untuk permukiman pada tahun 1988 berasal dari kampung-kampung.

Kampung, bukan yang lain. Dan, kalau bicara kampung-kampung Surabaya, kita tidak akan bisa lepas dari yang namanya sejarah.

Sejak Sri Susuhunan Pakubuwana II—raja terakhir Kasunanan Kartasura (kelanjutan dari Kesultanan Mataram)—menyerahkan penguasaan Surabaya kepada VOC pada 1743, Surabaya resmi berada di bawah kedaulatan kolonial Belanda. Pemerintahan pun berada di tangan Belanda. Di zaman kolonial tersebut, Belanda membagi-bagi masyarakat dalam kampung-kampung berdasarkan etnis. Sampai akhirnya kita mengenal ada Kampung Pecinan, Kampung Arab, Kampung Bumiputra (inlander atau orang-orang Jawa/Melayu), serta Kampung Eropa.

Picture1
Sumber: Bapekko Surabaya

Kampung-kampung etnis ini muncul karena peraturan Wijkenstensel yang berisi setiap etnis harus menempati kampung etnisnya masing-masing. Juga, peraturan Passenstensel yang menyatakan bahwa seseorang harus menunjukkan surat jalan jika hendak keluar dari lingkungan. Kedua peraturan ini menyebabkan akses keluar-masuk di kawasan Kampung Arab, Pecinan, atau pribumi menjadi sulit.

Saya sempat ngobrol dengan Andri Ariyanto, sosiolog yang juga dosen sejarah di Universitas Wijayakusuma, Surabaya. Bertemu di sebuah kampung yang namanya Kampung Buku. Kampung yang semua isinya adalah buku. Banyak rak buku berjajar di tiap tepinya. Mengingatkan saya pada Kwitang di Jakarta, tapi Kwitang tidak serapi ini.

Mas Andri lalu mengatakan, pembagian kampung berdasarkan etnis ini juga terjadi bukan karena etnis-etnis tersebut mengeksklusifkan diri atau tidak mau berbaur. Namun, ini adalah upaya Belanda untuk mengontrol populasi dan kriminalitas di Surabaya dan cara Belanda melakukan pengawasan.

“Kalau misalnya ada kerusuhan atau pemberontakan, intel Belanda mudah mencari tersangka. Cirinya bagaimana? Apakah itu pakai gamis, cheong-sam, atau sarung, mereka tahu harus cari orang itu ke mana,” kata Andri.

Seiring waktu, kampung-kampung ini mengalami perkembangan, baik itu positif ataupun negatif. Ada kampung etnis yang mengalami perluasan, tetapi ada pula yang hanya meninggalkan bangunan fisiknya sementara manusianya tidak tersisa.

Kampung Pecinan, misalnya, adalah kampung yang mengalami perkembangan. Pada awalnya, Kampung Pecinan terbentuk di Chinesche Voorstraat atau Pecinan Kulon (kini Jalan Karet) yang menghadap Sungai Kalimas. Konon, posisi ini dapat membawa keberuntungan.

Di masa-masa awal, Kampung Pecinan juga muncul di Jalan Tepekong (kini Jalan Coklat). Sebagai penanda, ada klenteng tertua di Surabaya bernama Hok An Kiong (klenteng Dewa Mazu) yang berada di kawasan Jalan Coklat. Kini, kampung orang-orang Tionghoa ini berada di kawasan Kembang Jepun, dengan dibatasi kawasan Ampel di utara; Pasar Atum, Stasiun Semut, dan Jagalan di selatan; Simokerto, Kali Pegirikan, dan Kapasan di Timur; serta Kalimas dan Jalan Rajawali di barat.

Kalaupun Anda ingin melihat bukti kejayaan Tionghoa di Surabaya, Anda bisa ke Jalan Kembang Jepun. Jalan ini juga tanda bahwa orang Tionghoa berperan penting membangun perekonomian kota. Kawasan ini bahkan menjadi penghubung antara kawasan perdagangan Eropa (Heerenstraat) dan kawasan lain yang berkembang di selatan Surabaya.

Penanda Kembang Jepun adalah sebuah gapura tinggi besar dengan ornamen dua naga di atas gapura yang sudah ada di situ sejak 2003. Naga itu berhadap-hadapan; kanan dan kiri. Tulisan Kya Kya tertulis di gapura itu. PT Kya Kya bekerja sama dengan Pemkot Surabaya sempat berupaya mengembalikan lagi kejayaan Kembang Jepun di masa lalu.

IMG_9747

Tapi, kemudian, Kembang Jepun datar-datar saja. Meski tidak mati sama sekali, setidaknya kawasan yang dulunya menjadi pusat hiburan termegah di Surabaya ini tidak bisa semenghibur atau seramai dulu.

Jajaran toko masih penuh di kanan-kiri jalan Kembang Jepun. Gapura Kya Kya pun masih menampakkan kemegahannya, saya pikir. Tapi ya begitu saja. Sudah muncul tempat keramaian lain di luar Kembang Jepun yang menjadikan pusat keramaian di Surabaya tidak lagi terpusat di sana. Banyak mal atau taman kota yang menyainginya.

Kampung etnis yang menarik lain adalah Ampel atau Kampung Arab. Hingga kini masih ramai dan tentu saja, banyak orang Arab. Hehe…Kalau ke sana lagi, lebih baik mampir dulu untuk makan; Roti Maryam atau Kambing Oven yang juicy yummy. Haduh, lapernya semakin akut!

IMG_9757
Ini si Kambing Oven, banyak di sepanjang Ampel.

Kampung Arab ini diawali pada zaman Majapahit. Raja kala itu, Bhre Kertabumi, memberikan sebidang lahan di Ampel Denta kepada Sayyid Ali Rahmatullah sebagai rasa terima kasih atas bantuan Sayyid Ali mengatasi kemorosotan di Majapahit.

Ampel Denta kemudian berkembang sebagai pusat ilmu agama Islam. Di luar itu, kawasan ini juga menjadi kawasan perdagangan yang diramaikan oleh (sebagian besar) pendatang dari Arab.

Tahukah Anda, Pasar Ampel adalah pasar tertua di Surabaya dengan pusat jual beli yang sudah terjadi sejak tahun 1420?

Kini, Kampung Arab berkembang dengan batasan di sebelah utara adalah Jalan Danakarya, selatan Pasar Pabean, timur kali Pegirian, dan barat adalah Sungai Kalimas. Terbentuk menjadi kampung yang islami, dari segi bangunan, Kampung Arab dihiasi oleh bangunan-bangunan lama berarsitektur Melayu, seperti rumah kampung, pasar, masjid, dan lain-lain.

Yang paling menarik sebetulnya apa yang terjadi pada Kampung Eropa. Kita sudah tidak bisa lagi menemukan satu kampung lengkap dengan warga keturunan Eropa di dalamnya. Yang tersisa hanyalah bangunan-bangunan tua bergaya Eropa di beberapa titik di Surabaya, seperti Darmo kini.

Ceritanya begini. Pada 1870-an, di Jalan Rajawali dan Jalan Veteran didirikan banyak perkantoran dan pertokoan berarsitektur Belanda. Pada 1890-an, arsitektur Eropa ada di selatan Surabaya, yaitu sepanjang Ketabang hingga Darmo. Hingga, ketika perdagangan di Kampung Eropa tumbuh subur pada 1900-an, kawasan ini meluas hingga ke Gemblongan, Tunjungan, dan Kaliasin.

Orang-orang Eropa seolah lesap ditelan bumi akibat adanya “masa bersiap” pascakemerdekaan, atau disebut juga masa nasionalisasi. Kala itu, semua orang bersiap akan kedatangan bangsa Belanda yang akan kembali menjajah Indonesia. Sementara, orang-orang Belanda yang memang masih ada di Indonesia boleh tinggal di kawasan perumahan mereka (di Darmo), dengan syarat tidak boleh ke mana-mana.

Pada masa bersiap tersebut, para pejuang mengambil secara sepihak rumah-rumah orang Belanda. Karena sudah kalah, orang-orang Belanda itu ingin mengklaim kembali rumah-rumah mereka, tapi sulit. Opsinya hanya dua: tinggal di Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia, atau pulang ke Belanda. Mereka seperti dipaksa untuk pulang ke negaranya sendiri. dan kenyataannya, banyak yang lebih memilih untuk mudik ke Belanda. “Jadi fisik bangunan ada, tetapi penghuninya tidak ada,” kata Nikki Putrayana dari Surabaya Tempo Dulu.

IMG_9741
Gedung Aperdi di Jembatan Merah; salah satu peninggalan Eropa, dulu merupakan gedung perusahaan asuransi.

Ketika tempo hari saya bertemu Dukut Imam Widodo, penulis Hikajat Soerabaya Tempo Doeloe, ia sempat bicara sedikit tentang masa bersiap ini. Bahwa, hilangnya bangsa Eropa di Surabaya tidak semata-mata hanya karena mereka pulang ke negara asalnya.

“Dulu, ada bunker di Balai Pemuda. Saat itu, Balai Pemuda masih bernama Simpangsche Societeit. Ketika masa nasionalisasi, orang-orang Belanda yang ditahan di kamp interniran dibebaskan. Oleh para pemuda Indonesia, orang-orang Belanda digiring ke Balai Pemuda. Semua dibunuh dan mayatnya disimpan di bunker itu,” cerita Dukut.

Yang jelas, Kampung Eropa kini hanya tersisa bangunan-bangunannya saja. Kampung-kampung etnis yang sampai kini masih ada dalam peta dinamika Kota Surabaya adalah Kampung Pecinan, Kampung Arab, Kampung Bumiputra atau pribumi.

Ini semua saya teliti dalam rangka kerja untuk Majalah Intisari. Sampai akhirnya, saya juga menemukan bahwa kampung-kampung di Surabaya itu tidak hanya berhenti sebatas kampung-kampung etnis saja.

Kampung-kampung ini tumbuh menjadi apa yang kini kita kenal sebagai kampung tematik.

9 Comments Add yours

  1. johanesjonaz says:

    Dukut Imam Wibowo ato Dukut Imam Widodo?

    1. Atre says:

      Oh Tuhan! Iya, saya salah tulis. Danke, Johanes untuk ralatnya. Yang betul memang Dukut Imam Widodo🙂

      1. johanesjonaz says:

        🙂

  2. Hamida says:

    hello mbak, perkenalkan saya hamida, saya lagi studi nih, saya ingin meneliti satu perkampungan di surabaya, yang berhubungan dengan Surabaya tempo dulu, kalo boleh, saya boleh minta kontak Abah Duku Imam Widodo? makasih

    1. Atre says:

      Hai, Hamida…

      Ini nomornya Pak Dukut ya: 0811335755. Semoga nomornya belum ganti. Dan, semoga membantu ya.

  3. kunudhani says:

    Hai mba salam kenal, suka banget sama tulisanya, aku juga suka sama hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, semoga lain waktu bisa diskusi bareng🙂

    1. Atre says:

      Wah, terima kasih yaaa kunudhani. Kamu tinggal di mana? Semoga bisa bertemu ya kapan-kapan.

      1. kunudhani says:

        surabaya, amin semoga. semangat nulis ya mba, aku pengagum tulisanya mba😀

      2. Atre says:

        Terima kasih banyak ya, sudah membaca. Means a lot🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s