[Fiksi] Sepasang Cangkir Kopi

Sepasang cangkir berisi kopi setengah-panas-setengah-rindu saling bersandar di meja pelataran belakang rumah. Mereka habis bertengkar tentang siapa yang paling cinta di antara mereka berdua. Kata-kata dari bulir-bulir kopi yang meriak-riak keluar cangkir, mengawang-awang di udara untuk kemudian jatuh dan membekas di meja. Untung saja meja itu kayu, jadi ia tidak begitu masalah pada kata-kata dua cangkir kopi yang menempel terus di tubuhnya. Sementara, sepasang cangkir itu masih juga sama-sama merasa paling besar cintanya.

“Sebanyak tetes yang ada di dalam tubuhku yang tidak bisa kau takar,” kata kau.

“Aku… cintaku itu tidak bisa dikalahkan oleh banyaknya butir gula yang dituangkan padaku,” aku bilang.

“Kau pikir itu hebat?” kata kau.

“Iyalah, hebat. Mana bisa pula kau hitung banyaknya butir gula yang kecil-kecil-tapi-memaniskan yang masuk dalam tubuhku begitu cepat itu?” cuping cangkirku nyaris melengkung lebih tajam.

“Memang tidak bisa. Tapi, aku memang selalu mencintai apa yang tidak bisa dihitung. Seperti banyaknya mimpi dan rencana-rencana masa depan yang aku ingin habiskan dengan kau. Semua tentang kau dan tidak terhitung,” kau berucap santai.

“Gombal betul,” aku menyipitkan mata.

“Lho, gombal dan cinta itu bagai ibu jari dan kelingking. Kelihatannya saja berjauhan, tapi ia dengan mudah saling menempel. Dekat sekali,” kau bilang.

“Ah, gombal itu tidak nyata. Kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya malam-malam kau itu dikelilingi kunang-kunang terang yang datang cuma buat mengejek tentang kerinduanku terhadap kau,” aku menggertak tapi tidak mau dianggap marah.

“Lho, rindu itu anugerah. Rindu itu ada biar senja punya teman bicara, begitu sebaliknya. Jadi nikmati sajalah,” cangkir kau kembali sok tahu.

“Rindu itu kadang-kadang saja indah. Kadang-kadang, kalau kau tidak datang-datang, rasanya jadi nyeri betul sekujur badan,” aku lesu.

“Nikmati saja, aku bilang. Toh rindu itu memang tidak pernah bakal bisa lunas. Pun dihabisi berkali-kali,” suara kau terdengar tegas.

“Iya, memang. Tidak bisa lunas,” aku masih lesu.

“Jadi…,” kata kau.

“Jadi apa?” aku bingung.

“Jadi, sudah capek kau berargumen tentang siapa yang paling besar cintanya?” cangkir kau mengetuk-ngetuk alas ke meja.

“Ah iya, aku lupa,” aku sudah nyaman di pundaknya, tenang.

Sementara, di teras belakang rumah, sinar jingga sang senja mulai menelusup ke sela pinggang sepasang cangkir kopi itu. Setelah berargumen ke sana kemari, sepasang cangkir kopi itu bergeming dan saling bersandar, lalu mengaitkan cuping-cuping mereka dan saling mengecup saling berpagutan, sampai senja malu sendiri melihatnya, lalu pamit tanpa kata-kata.

2 Comments Add yours

  1. penapasifik says:

    kreeeen

    1. Atre says:

      Terima kasihhh, Fattahhh🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s