Perempuan Berhak Orgasme*

Pernah orgasme? Pentingkah pertanyaan ini diajukan kepada perempuan Indonesia, mengingat menurut penelitian hanya 30% yang pernah mengalami orgasme? Bagi Firliana Purwanti, mempertanyakan orgasme bukan hanya menggugat kesetaraan, tapi juga mengubah cara pandang terhadap seks. Siapakah dia? Apa yang kemudian dilakukannya?

Perempuan dengan tawa menggelegar ini meminta disapa Firli saja. Namanya menjadi perbincangan setelah bukunya, The Orgasm Project (Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), menyentakkan kesadaran masyarakat betapa perempuan pun memerlukan wadah berekspresi, khususnya kehidupan seksualnya.

Perempuan kelahiran 1977 ini telah cukup lama menekuni isu hak asasi perempuan. Ia menjadi peneliti di Pusat Kajian Wanita & Gender, FIB UI, pada 2001-2003, mendalami gender dan feminisme. Ia juga bekerja di Hivos Asia Tenggara, Jakarta, sejak 2004. Firli tercatat pula sebagai lulusan kursus gender dan seksualitas GAYa Nusantara pada Juli 2009 di Surabaya. “Saya tidak pernah mempelajari feminisme melalui pendidikan formal. Tapi sambil bekerja, ngobrol sama orang, penelitian, seperti itu,” katanya dalam sebuah perbincangan di Jakarta pada akhir April lalu.

Latar belakang pengetahuan itulah yang kemudian mendasari Firli untuk mengangkat topik orgasme perempuan sebagai penelitiannya. Hasil penelitian itu kemudian ia tuangkan dalam buku The O Project.

Orgasme dan kesetaraan gender
The O Project disusun dari kepingan-kepingan cerita 16 perempuan dengan tipe dan latar belakang berbeda-beda; perempuan heteroseksual, perempuan pekerja seks komersial, perempuan lesbian, perempuan istri kedua, perempuan biseksual, perempuan yang kelebihan berat badan, perempuan transgender, sampai perempuan yang terjangkit HIV positif. Mereka berasal dari Aceh, Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, dan Makassar. Riset dimulai pada 2008, The O Project rampung pada 2010.

The O Project memang bukan buku pertama di Indonesia yang mengangkat tema seksualitas. Sebelum itu setidaknya sudah ada Saskia E. Wieringa – peneliti sejarah asal Belanda – atau Julia Suryakusuma yang banyak menulis tentang seksualitas perempuan. Tapi The O Project bisa dikatakan buku pertama yang mengangkat tema orgasme perempuan.

Apakah konsep orgasme dipahami secara merata oleh perempuan Indonesia? Berdasarkan riset dengan metode interviu kualitatif, Firli meyakini bahwa perempuan Indonesia tahu apa yang dicari ketika berhubungan seks, yaitu klimaks kenikmatan alias orgasme. Tapi masalahnya, banyak yang tidak menganggap orgasme penting. Muncullah pelbagai pertanyaan konyol: Apa harus orgasme? Apa kenikmatan seksual hanya melalui orgasme? Ini tergambarkan pada hasil riset yang menunjukkan, hanya 30% perempuan di Indonesia yang pernah mengalami orgasme.

The O Project mencoba membuka mata para perempuan Indonesia bahwa orgasme bukanlah soal kenikmatan seksual semata, tapi juga berkaitan dengan kesetaraan. “Saya ingin membuktikan dugaan bahwa kalau orgasme perempuan lebih rendah dari laki-laki, berarti ada yang salah. Kalau perempuan tidak mencapai orgasme, ia harus periksa, apakah sudah memiliki hubungan setara dengan pasangan. Jangan-jangan hubungan seksual yang dijalani selama ini adalah paksaan,” kata Firli.

Di luar soal kesetaraan, kalau perempuan sampai tidak menikmati kehidupan seksualnya sendiri, bisa jadi pendidikan seks yang diperolehnya sangat terbatas. Bagi Firli, pendidikan seks yang buruk adalah pendidikan seks yang tidak membiarkan perempuan bernegosiasi di tempat tidur.

Tapi sekali lagi, bagaimana jika pihak perempuan sendiri tidak merasa orgasme penting? Atau, perempuan sendiri merasa tidak perlu bernegosiasi di tempat tidur? Itulah kenyataan di negara tampat kita berbijak. Kita bicara tentang seksualitas di Indonesia. Di negara ini, seks – apalagi lebih spesifik: orgasme – adalah topik yang jarang dijamah, dianggap tabu dibicarakan.

Perempuan itu tidak tunggal
“Tabu yang dihadapi perempuan seringkali jauh lebih tebal daripada yang harus dibongkar laki-laki. Misalnya, waktu saya wawancara ada satu narasumber bilang, ‘Perempuan Indonesia harus jadi perempuan baik-baik. Kalau bicara seks, kita dianggap bukan perempuan baik-baik. Saya harus pura-pura bego di tempat tidur. Saya harus perawan sebelum menikah’,” cerita Firli.

Ini merupakan indikasi bahwa pendidikan seks di Indonesia tidak utuh dan tidak kritis. Lihat juga sebagian besar media pengetahuan, baik buku maupun artikel di majalah,  menggeneralisasikan perempuan ke dalam satu kotak. Walhasil, pengetahuan seks yang diberikan hanya di sekitar cara mendapatkan orgasme berganda, cara membahagiakan Mr. P dan Mrs. V, dan semacamnya. Padahal perempuan itu tidak tunggal. Perempuan itu bermacam-macam, dan pemahaman soal seks serta orgasmenya macam-macam. Adakah bahan pengetahuan yang bisa menjawab keinginan perempuan lesbian atau HIV positif akan orgasme yang sehat? Sulit bukan? Ini disebabkan karena pendidikan seks di Indonesia hanyalah pendidikan seks mainstream, dengan konteks heterosexual relationship.

“Kita menafikan kenyataan bahwa ada 3 juta orang yang melakukan hubungan seks dengan PSK. Kita menafikan 10% dari populasi kita non-heteroseksual. Kita menafikan bahwa ada orang yang memilih tidak menikah atau tidak mau punya anak. Ini yang ingin saya seimbangkan,” tutur Firli sembari menyeruput es selasih.

Apa The O Project bisa menjadi alternatif menyenangkan untuk materi pendidikan seks di Indonesia? Mungkin saja. Firli menambahkan, pengetahuan biasa diproduksi oleh kelompok dominan. Antara lain akademisi universitas, laki-laki, heteroseksual, kaum agamawan (biasanya konservatif). “Saya ingin mengimbangi pendidikan seksual yang diproduksi oleh orang-orang dominan tersebut dengan pengetahuan baru dari orang-orang yang suaranya tidak pernah didengar. Jadi, semoga ini bisa melengkapi apa yang kurang.”

Mitos keperawanan dan stereotipe laki-laki
Kembali ke isi bukunya, Firli mengaku tak mendapat penjelasan yang definitif mengenai orgasme dari semua subyek penelitiannya. “Ada ahli seksualitas mengatakan, ‘Menjelaskan orgasme itu seperti menjelaskan pelangi kepada orang buta. You can feel it, but it’s very difficult to explain.’.”

Setiap perempuan memiliki kesan dan pemahaman sendiri mengenai orgasme. Karena itulah, orgasme adalah sesuatu yang privat sifatnya. “Tapi buat saya pribadi, orgasme itu seperti the big bang, seperti proses terjadinya alam semesta. Dahsyat. Ia mengalir dari kaki ke kepala, lalu lepas,” kata Firli.

Hal lain yang menjadi pembahasan Firli adalah belenggu mitos keperawanan. Mitos itu mengakar di dalam pola pikir perempuan, menciptakan rasa cemas dan ragu-ragu. Ragu untuk membuat banyak keputusan, termasuk keputusan untuk berhubungan seks atau tidak.

Hal lebih khusus soal keperawanan yang dibahas Firli adalah istilah hymen atau selaput dara. Bangsa ini telanjur menganggap bahwa selaput dara adalah segala-galanya. Kalau tidak berselaput dara, perempuan tak lagi dianggap utuh. “Padahal, ada atau tak ada selaput dara, perempuan itu adalah individu utuh yang punya makna,” sambung Firli.

Di dalam bab yang membahas tentang keperawanan pada buku itu Firli menggugat ketidakadilan yang dialami perempuan semata-mata karena ia tidak perawan. Adakah yang bisa menjelaskan, bagaimana dengan laki-laki yang tidak perjaka? Apakah itu penting?

Stereotipe laki-laki terdapat pada bentuk-bentuk kejantanan, bisa menyenangkan perempuan, memiliki kelebihan dalam banyak hal, dalam kekayaanmaupun seksualitas. Bagi Firli, stereotipe itu termasuk bentuk diskriminasi meski tidak setegas perempuan. “Ternyata, dalam soal seks, laki-laki juga tidak mendapat pendidikan yang memadai. Misalnya ukuran penis, standar kejantanan, dsb.”

Para perempuan harus tahu, laki-laki juga dirugikan oleh stereotipe itu. “The O Project juga menjadi pencerahan buat laki-laki. Selama ini mereka tidak tahu, perempuan juga bisa orgasme dan berhak merasakan orgasme,” tutup Firli dengan klimaks.

*Tulisan ini terbit untuk Majalah Intisari Extra Edisi Juni 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s