[MyCupOfStory] Warung Kopi Senja

SETIAP SORE, AKU akan selalu mendapati ibu duduk di sofa kesayangannya di perpustakaan rumah. Sembari menghadap jendela yang terbuka, kuintip ibu dari balik pintu sedang membuka-buka sebuah buku usang. Kadang-kadang, wajahnya tersenyum. Kadang-kadang, air mukanya suram.

Beberapa kali, aku pernah menginterupsi waktu sore ibu di perpustakaan. Tapi, begitu mendengar bunyi derit pintu yang terbuka, ibu akan segera menyembunyikan apa pun yang ada di tangannya dan menyimpannya dalam peti kulit. Dari situ aku tahu diri, ibu tak suka jika ia diganggu di tengah waktu lamunannya itu. Aku akan datang hanya jika ibu sudah memanggil.

“Geemmm… Geeemmm…,” suara ibu terdengar ketika aku sedang di kamar.

“Yaaaaa, Buuuuuu. Wiiiiih, pisang gorengggg,” aku melihat ibu di dapur, baru selesai menggoreng pisang. “Ini boleh dimakan sekarang apa tahun depan aja?”

Ibu menatapku tajam, berusaha mencerna apakah anak bungsunya itu bercanda atau tidak. “Masih panas. Mending bikinin ibu kopi dulu.”

Aku cuma terbahak melihat ibu yang bingung. “Lagi mau kopi item, atau instan?”

Item aja, yang Flores.”

“Okeee.”

Aku lalu membuatkan ibu kopi Flores dengan takarannya yang biasa. Kopi dua sendok dan gulanya satu sendok. Sementara, aku cukup dengan teh hangat manis saja.

“Masmu belom pulang, Gem?”

Tauk, lagi nggak Whatsapp-an. Paling masih di kampus. Ini kan lagi zamannya ospek mahasiswa baru. Ibu tanya aja gih,” aku siap-siap mengambil remote TV saat ibu menghentikannya.

Dengerin musik aja deh malam ini.”

“Yah Bu, ini lho di TV lagi ada Sherlock.

Hush, sana ambil piringan Fariz RM ibu di peti perpus. Ibu mau telepon Rama dulu.”

Aku melangkah ke perpustakaan. Aku hanya beberapa kali membuka peti kulit ini, dan semuanya atas izin ibu seperti hari ini. Isi peti sebagian besar adalah barang-barang kuno kesayangan ibu. Antara lain, beragam koleksi piringan hitam milik ibu sejak ia masih muda; Duran Duran, Fariz RM, Chrisye, dan lain-lain. Ada pula barang lain, seperti kotak musik, dan tentu saja, buku usang misterius itu.

Tak pernah ada keinginanku sebelumnya mengutak-atik isi peti ibu. Tapi, hari ini entah kenapa, rasa penasaranku membuncah. Ketika melihat ibu masih asyik menelepon Mas Rama, aku menyelipkan buku ibu di balik kaos. Aku melipir sebentar ke kamar dan menyimpan buku ibu. Pikiranku, aku bakal mengembalikannya sebelum besok sore supaya ibu tidak sadar bukunya tak ada. Lalu, melihat ibu tidak curiga, aku segera memasang vinyl Fariz RM di gramofon keemasan kesayangan ibu.

Senada cinta bersemi di antara kita menyandang anggunnya peranan jiwa asmara.

 

 

AKU TIDAK PERNAH sebahagia ini seumur hidupku. Hati ini berdegup-degup. Terima kasih kamu sudah mengajak aku jalan-jalan hari ini. Aku rasa aku jatuh cinta.

Rupanya, ini buku harian ibu. Di catatan yang baru aku baca, tertanggal 7 Juli 1985. Sepertinya ini sebelum ibu menikah dengan bapak. Aku mengira-ngira siapa “kamu” yang dimaksud.

Aku sempat mesam-mesem juga. Ibu ternyata bisa juga alay seperti ini. Dan, bingung juga aku, ibu dulu tidak suka kopi? Mana mungkin?!

PRAM MEMINTAKU JADI PACARNYA!

Tertanggal 24 Juli 1985. Pram. Teman-teman ibu yang sekarang masih berhubungan tidak ada yang bernama Pram. Siapa Pram? Sepertinya ini cinta pertama ibu. Kubuka lembar demi lembar buku harian ini. Hanya ada satu lelaki yang dibicarakan ibu di sini. Dan, ah, ada selembar foto memotret ibu dan seorang lelaki bertubuh tinggi tegap. Ini pasti Pram.

 

 

“HAI…” PRAM MENYAPA Maya yang termenung di tepi jalan Melawai, di depan Toko Kodak. “Sudah lama?”

“Oh hai. Baru kok.”

“Ayo.”

“Kita mau ke mana, Pram?”

“Ikut aja dulu, pacarku.”

Maya tak bisa menahan rasa malunya mendengar panggilan Pram untuknya. Pipinya memerah.

“Ini dia. Kamu suka main sepatu roda kan?” Pram menebak-nebak.

Wajah Maya langsung cerah. “Kok tahu?”

“Linda cerita, kamu suka berat sama sepatu roda.”

“Eh, tapi, aku nggak bawa sepatu. Kamu sih nggak bilang.”

“Tenaaannng. Nih,” Pram tiba-tiba mengacungkan dua pasang sepatu roda.

Mereka asyik bermain sepatu roda di sebuah arena di Melawai. Selain mereka, ada banyak orang lain yang juga bersenang-senang di atas roda.

Deeuhh, Pram, asyik bener nih,” salah satu kawan Pram meledek saat berpapasan.

“Bisa aja loe!” Pram mencoba memukul ringan kawannya, tapi tidak teraih.

Setelah hari kian sore, orang-orang mulai bubar. Sebagian pindah ke tempat hangout lain. Sebagian lagi, pulang ke rumah. Pram yang masih ingin bersama Maya mengulur-ulur waktu pulang Maya.

Ajojing yuk habis ini?” kata Pram.

“Aku nggak suka ajojing.”

“Oh, gitu. Mau ke Parkit? Apa Menteng?”

“Pasti ramai ya di sana?”

“Maya nggak mau ke tempat yang ramai-ramai?”

Maya menggeleng.

“Ke warung kopi yang waktu itu aja yuk. Masih di sekitar sini kan?” saran Maya.

“Kamu suka Senja? Kamu kan nggak suka kopi.”

Nggak apa-apa. Yuk.”

Pram membonceng Maya ke Warung Kopi Senja dengan CB100 warna biru telur asin kesayangannya. Dalam perjalanan, Pram tiba-tiba meraih tangan Maya dan melingkarkannya di pelukan Pram.

Saat membaca diari ibu, aku seperti masuk dalam film Catatan Si Boy klasik versi Onky Alexander. Seolah ingin men-cuit cuiittt isi cerita, tapi tak jadi karena isinya tentang ibu sendiri. Sungkan. Hanya saja, ketika sampai bagian terakhir diary, aku paham alasan ibu selalu kelihatan sendu hati.

 

 

DI WARUNG KOPI BIASANYA, Pram dan Maya duduk berhadap-hadapan. Wajah mereka muram. Pram cenderung marah. Sebelah tangannya terkepal di atas meja. Sementara, Maya hanya bisa tertunduk.

Maafin aku, Pram. Aku selalu sayang sama kamu.”

“Aku juga sayang kamu, Maya. Makanya, aku mau ketemu orangtuamu. Sekarang kalau perlu.”

“Maaf, Pram. Aku nggak bisa. Aku harus pulang sekarang. Selamat tinggal.”

“Maya…”

Maya tidak mungkin menceritakan alasan putusnya mereka karena ia telah dijodohkan. Bahwa orangtuanya berutang banyak pada calon besan mereka. Dan cara untuk melunasinya adalah dengan perjodohan kedua anak mereka.

 

 

PRAM SELALU DATANG KEPADA Senja, tempat ia dan Maya biasa datangi. Ia menghabiskan sore-sorenya sendiri di sana, mulai dari masa sekolah sampai lulus kuliah dan bekerja. Ia biasa memesan Kopi Toraja kegemarannya—sering juga Kopi Aceh, dan sesekali bersama pisang goreng atau roti bakar. Kadang-kadang, lagu-lagu tenar di tahun 80-an menemaninya.

Sendiri berjalan di tengah malam nan sepi kian jauh melangkah semakin gelisah.

Chrisye mungkin tidak tahu betapa sepinya hati Pram saat ini. Tapi, ia nyanyikan jugalah lagu “Sendiri” itu, bikin air muka Pram tambah suram saja.

Suatu hari, Pram mendengar suara ribut-ribut dari balik meja kasir. “Iya gawat. Kita harus cepat-cepat cari kerja di tempat lain ini.” Perbincangan mereka terdengar tegang.

“Ada apa, Mas?” Pram menghampiri meja kasir.

“Oh ini, Mas Pram, bos kita baru bilang, warkop mungkin bakal tutup. Bangkrut, Mas.”

Ada ketakutan dalam diri Pram membayangkan Senja ini tiada. Ia tidak rela melepaskan kenangan akan Maya yang tersimpan di tiap sudut serta tiap cangkir kopi warkop ini.

“Tutup, Mas?” dijawab dengan anggukan dari para karyawan. “Sayang betul.”

 

 

AKU BARU SADAR kalau selama ini ibu tidak benar-benar bahagia. Pantas, ketika bapak yang pemabuk berlaku kasar dan memukul ibu bertubi-tubi, oma-opa masih berharap mereka rujuk.

Baru ketika ibu masuk rumah sakit karena wajahnya babak belur dan beberapa tulangnya patah, oma dan opa tersadar kalau hubungan pernikahan ini harus diceraikan. Sebanyak apa pun sayangnya aku pada bapak, aku lebih memilih agar ibu tetap selamat dan baik-baik saja.

Aku tidak tahu apa ibu tumbuh untuk mencintai bapak sebelum bercerai. Atau, aku dan Mas Rama adalah anak-anak yang dipersiapkan tanpa cinta. Aku tak tahu. Tapi, aku tidak peduli. Dalam hidup, kadang-kadang yang lebih penting adalah yang nyata di hadapan kita. Bukan apa yang sudah-sudah. Ibu selalu penuh kasih terhadapku, juga Mas Rama. Aku tahu ibu menyayangi kami berdua.

Sebelum mengembalikan buku ibu ke peti esok pagi, aku sempatkan memotret beberapa bagiannya. Untunglah ibu tidak pernah curiga bahwa aku sempat membaca bukunya itu.

“Mas Rama, sini deh,” Mas Rama baru keluar kamar ketika aku baru selesai dari perpustakaan.

Mas Rama menghampiri dan aku menyeretnya ke kamarku. “Aku lho mau mandi, mau ngampus.”

“Sebentarrr. Coba liat ini deh, Mas.”

Mas Rama meraih ponselku. “Apaan sik ini? Kecil-kecil amat tulisannya.”

“Ihhh, jangan kenceng-kenceng. Ini dari diary punya ibu waktu muda,” suaraku setengah berbisik.

“Wihhh, cerita soal ibu sama bapak waktu muda?”

“Baca duluuu.”

Mas Rama mulai menampakkan gejala-gejala aneh pada wajahnya. Sebentar-sebentar merengut, sebentar-sebentar mengernyitkan dahi, sempat juga teriak, “Astagah, ibu alaayyy.”

Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. “Kalian lagi ngapain? Tumben akur?” kepala ibu menyembul dari balik pintu.

Berusaha sok cool, Mas Rama mengacung-acungkan ponselku, “Ini si Gemboy minta dibantuin install aplikasi di handphone, Bu.” Aku cuma nyengir ala kadarnya, berupaya tidak kaku.

Begitu ibu hilang di balik pintu, Mas Rama refleks melanjutkan bacaan. Bermenit-menit berlalu. Begitu selesai membaca semuanya, Mas Rama seperti layu. “Pram ya. Kalau gitu, ibu…”

“Ibu sayang pasti sama kita Mas. Tapi, ibu harus happy. Ibu berhak buat happy lagi ya kan, Mas?”

“He eh. Oke gini, Mas ngampus dulu. Nanti malem, kita omongin ini lagi. Kamu nggak sekolah?”

“Sabtu kali, Mas. Libur.”

“Oh iya…”

Aku merebahkan diri di kasurku, memikirkan rencana terbaik untuk kebahagiaan ibu. Tapi lalu terbangun sontak, berhadapan dengan laptop, karena harus ada yang dicari di internet.

 

 

“BUUU, IBUUUU…,” aku berteriak pagi-pagi di hari Minggu.

“Ini anak gadis pagi-pagi kenceng banget bunyinya,” ibu mencak-mencak dari teras depan.

Aku terbahak. Aku paling senang membuat ibu bawel. Gemas. “Bu, aku sama Mas Rama mau keluar jalan-jalan hari ini. Ikut yuk.”

“Ke mana? Kalau ke tempat rame-rame ibu nggak mau ah.”

Nggak rame kok. Ibu pasti betah.”

“Bu, abis Dzuhur ya, Buuu,” Mas Rama teriak dari dalam kamar.

“Ini kenapa sih anak-anak ibu sukanya teriak-teriak. Pusing ibu.”

“Ibu juga ikutan teriak ha-ha-ha,” aku terbahak. Mas Rama juga terpingkal.

 

 

PRAM SIBUK DI BALIK meja kasir di Warung Kopi Senja. Sesekali ia berbincang-bincang dengan para pelanggan yang datang ke warkopnya itu. Sesekali, ia membantu barista meracik secangkir kopi.

Di saat senggang, ia sempatkan diri duduk di sudut warkop; tempat ia dan Maya biasa duduk. Pram lalu memutar pandangan ke sekeliling warkop. Desain warkop ini memang sudah direnovasi berkonsep industrial minimalis supaya tidak ketinggalan zaman. Tapi, Pram memutuskan tetap menggunakan nama asli warkop ini. Playlist lagu-lagu ‘80-an juga masih dipertahankan oleh Pram—sejak ia membeli warkop ini dan menyelamatkannya dari kebangkrutan.

“Pak, orang kopi baru dateng di gudang,” seorang karyawan memberitahu Pram.

 

 

KAMI MELAJU DI kawasan Melawai. Beberapa kali terjebak macet karena lampu merah, beberapa kali pula terdengar desahan napas ibu yang tertahan. Begitu Mas Rama melipirkan mobil untuk parkir di depan sebuah kedai kopi, napas tertahan ibu kian terdengar jelas.

“Kita ngopi dulu di sini ya, Bu.”

Suara Mas Rama hanya terdengar sayup-sayup tak jelas di telinga ibu. Pelan-pelan, ibu membuka pintu mobil, dan mendekati kedai tersebut. Warung Kopi Senja.

“Ibu kok aneh ya, Mas? Jangan-jangan ide buruk nih.” Mas Rama hanya mengangkat bahunya.

Begitu ibu membuka pintu kedai, aroma yang familiar tercium. Bau seduhan kopi segar. Ibu melayangkan pandang ke sekeliling, ke langit-langit, ke dinding kedai. Seorang pelayan yang berniat bertanya pesanan ibu, segera aku hentikan. Ibu butuh waktu.

Ibu segera menghampiri meja-kursi tempat biasa ia dan Pram tempati. Ia meraba-raba meja yang belum juga diubah. Ia kemudian duduk, dan mendengarkan lagu lawas yang diputar saat itu.

Oh thinkin’ about all our younger years. There was only you & me. We were young and wild and free.

Begitu selesai di gudang, Pram kembali ke kedai dan mendapati seorang perempuan yang familiar di hatinya. Segera ada rasa rindu yang membuncah-buncah di dada. Wajah perempuan itu menua, tapi tetap cantik jelita, kata Pram dalam hati.

“Mas Rama, ituuu…,” saking semangatnya aku menyikut pinggang Mas Rama yang sedang melihat ke arah lain. Yang semula kaget dan sepertinya hampir marah karena sikutanku sakit, Mas Rama tersenyum penuh arti melihat sosok Pram yang selama ini dirindukan ibu hadir di sini.

Pram dalam diam duduk di hadapan ibu. Tersenyum sebentar, lalu memandang wajah ibu penuh arti.

I’ve been waitin’ for so long for somethin’ to arrive, for love to come along.

“Maya…”

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku melihat ibu bahagia. Matanya berbinar-binar.

* t a m a t *

Catatan:
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory diselenggarakan oleh Giordano dan Nulisbuku.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s