Zen di Timurnya Lombok

Saya sedang menikmati sore tanpa senja di Jakarta hari ini ketika pikiran melayang ke Beloam. Duduk-duduk di teras restoran, menghadap langsung Samudera Hindia dan Selat Alas. Gradasi warna dari biru sangat muda sampai biru gelap membuat saya kalap. Kopi atau teh hangat yang disajikan begitu cocok dengan obrolan hangat saya bersama Djantjuk dan kawan-kawan lainnya. Tapi, lalu saya kembali ke Jakarta yang hari ini tanpa senja.

Selang beberapa waktu kemudian, saat merebahkan diri mencoba tertidur, yang teringat-ingat adalah angin sepoi-sepoi dengan senja gemilang di Beloam. Langit sore tidak pernah secandu ini; jingga agak keunguan dan pantulan sinarnya mewarnai laut. Langit malamnya pun demikian. Bintang-bintang seperti hendak turun ke bumi, dekat sekali dengan tanah berpijak. Di tengah api unggun, kami menyantap makan malam bermenu seafood yang segarnya minta ampun. Bahkan, ketika menuliskan ini sekarang saja, air liur saya kembali membuncah karena membayangkan cumi dan udang bakar yang segarnya begitu manis.

Rasanya seperti jatuh cinta yang kesekian kali; mengingat hal (seseorang) yang sama, senyum-senyum sendiri, sampai melenguh karena rindu.

Beloam, Beloam, Beloam. Padahal, saya datang ke sana bulan lalu. Tapi, ingatan indah tentang Beloam masih serasa dekat, membekas jelas. Mungkin seperti inilah rasanya cinta pada pandangan pertama? *mesem-mesem*

***

Di awal April itu, cuaca di Lombok tidak tertebak. Hari ini bisa panas cerah, lalu esoknya langit seharian gelap dan hujan di sore hari. Dari pesisir Senggigi di Lombok Barat, kami beranjak ke bagian timur Lombok untuk menikmati beach camp resort pertama di Indonesia; Jeeva Beloam Beach Camp Resort dari Jeeva Resorts. Beach camp ini tepatnya ada di Jerowaru, Lombok Timur.

Butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai Jeeva Beloam. Di perjalanan, mobil menderu di atas jalanan aspal yang mulus tapi agak berkelok. Beberapa kawan sempat menghentikan mobil karena tergoda membeli rambutan dan manggis yang menggiurkan di tepi jalan.

Kepala saya mulai pusing. Lapar, juga karena jalanan yang berkelok-kelok. Tapi, saya lalu melihat keluar jendela. Kami sudah tiba di jalan lebih kecil, berkerikil, dan di kanan-kiri pepohonan rindang. Sesekali, terlihat monyet-monyet liar bergelayutan di ranting-ranting pohon. Ah, ini tandanya kami sudah hampir tiba. Betul saja, beberapa menit kemudian, kami melihat plang kayu bertuliskan Jeeva Beloam.

Dalam setiap perjalanan, proses perpindahan dari satu tempat ke tempat lain memang yang paling saya suka. Tapi, proses tiba di suatu destinasi juga sebuah peristiwa yang patut dirayakan. Memperkenalkan kita pada perasaan berdegup-degup berada di tempat baru, membuka peluang untuk menggali lanskap dan pemandangan yang berbeda dari biasanya, dan memberikan kesempatan kita untuk bertegur sapa dengan orang-orang baru. Priceless.

Inilah, kami tiba di Beloam. Dengan pijakan yang sudah berpasir bersih sejak pintu masuk, Jeeva Beloam begitu memesona sejak langkah kaki pertama. Setelah pintu masuk, saya diperdaya oleh kawasan hutan yang rindang. Memasuki lebih dalam, kami melihat bangunan bernuansa kayu dengan atap jerami di beberapa titik; di tengah hutan, sebagian lagi ternyata ada di tepi pantai. Perpustakaannya pun nyaman banget.

Beruga-beruga Jeeva Beloam yang terinspirasi dari rumah tradisional Suku Sasak Lombok

Kami lalu sampai ke tenda yang terletak di pusat area yang seluas 55 hektar ini. Bentuk atapnya mengerucut tanpa dinding dan jendela (terbuka), dengan pelataran berupa sofa-sofa nyaman yang menghadap pantai. Semua orang berpikiran sama ketika melihat sofa-sofa ini.

The Restaurant - Jeeva Beloam

Serentak kami segera mengambil posisi duduk terenak, bersandar, lalu menikmati angin yang membelai-belai sukma, Pantai Beloam yang memesona, sampai kecantikan bukit hijau dan tebing kapur di kejauhan yang dikenal dengan Tanjung Ringgit. Kami baru beranjak ke vila masing-masing ketika hari mulai gelap. Itu pun karena tersadar bahwa perut mulai keroncongan.

Pantai Beloam menjadi halaman depan Jeeva Beloam

Jeeva Beloam adalah salah satu dari beberapa project Jeeva Resorts yang lain di beberapa kota, yaitu Jeeva Klui Lombok Resort, Lombok Barat; Jeeva Saba Bali Estate, Gianyar, Bali; dan Jeeva Kaap Cape Town Villa, Afrika Selatan.

Vila di Jeeva Beloam sendiri begitu unik. Kebun ilalang tumbuh di halaman depan beruga. Iya, tiap vila di Jeeva Beloam khusus disebut beruga, sebab terinspirasi dari model kamp nelayan tradisional Suku Sasak, suku asli Lombok. Beruga-beruga ini dibangun dari kayu daur ulang dan bambu, dengan atapnya terbuat dari alang-alang. Di dalamnya pun, ranjang besar yang dilengkapi kelambu dirakit dari kayu, termasuk segala furnitur, seperti rak, bangku-meja, hingga kursi berbantal yang nyaman di balkon.

Jeeva Beloam

Tiap beruga memuat maksimal 3 orang dewasa, dengan tambahan extra bed. Harganya berkisar US$305-345 per beruga. Awalnya, saya pikir mahal juga. Tapi, ketika tahu bahwa harga yang dibanderol ini sudah termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam 2 orang per beruga selama stay di Beloam, jenis minuman tertentu, antar-jemput bandara, sampai berbagai aktivitas yang disediakan di Beloam, seperti kayaking, trekking, sampai islands hopping.

Setelah sibuk mengenali beach camp ini, saya dan kawan-kawan tergesa menuju restoran. Lapar merajalela! Di malam pertama, disediakan menu makan malam bertema seafood dengan konsep BBQ dan kita diarahkan untuk makan malam di area outdoor tepi pantai dengan mengelilingi api unggun, beratapkan langit penuh bintang, dan ditemani live music dari para musisi lokal Lombok. Mantap betul. Apalagi begitu di gigitan pertama mencoba cumi bakarnya, alamaakkk, segarnya. Tidak hanya cumi, seafood lain pun segar pula; udang, ikan, kerang, alhamdulillah ya Allah!

Malam di Jeeva Beloam

Bagian paling terbaik dari Jeeva Beloam, mungkin, adalah betapa minimnya sinyal telepon dan internet. Hanya ada satu titik tertentu di tepi pantai, tempat kita bisa menerima sinyal. Itu pun harus berupaya keras dan sabar menunggu. Kekurangan sinyal ini membuat kita jadi punya fokus penuh untuk bicara dengan kawan-kawan yang beperjalanan bersama kita. Begitu pula yang terjadi pada kami.

Setelah makan malam yang tidak bisa terkatakan lezatnya, kami menghabiskan waktu masih mengelilingi api unggun, berbicara sambil menatap tiap wajah, berbagi kesenangan yang nyata, hingga akhirnya kami memutuskan untuk memulai permainan “tebak film” yang brutal. Sampai-sampai ketika tiba-tiba gerimis di tengah malam, kami pindah ke area indoor restoran dan melanjutkan permainan. Baru ketika sadar besok hendak trekking dan menikmati matahari terbit dari atas bukit, permainan itu harus diusaikan.

***

Hari ini adalah hari kedua di Jeeva Beloam yang meraih gelar The World’s Top Ten Best Beaches Harpers Bazaar UK tahun 2014. Saya pribadi sudah bisa menebak bahwa waktu istirahat kami tidak akan cukup jika bangun sebelum sunrise. Maka, alhasil, kawan-kawan tidak ada yang bangun pagi. Untungnya, pagi itu memang langit kelihatan sayu. Awan gelap menutupi sebagian langit. Hingga matahari terbit tidak kelihatan dari pangkalnya. Begitu tiba-tiba ia bersinar, letaknya sudah setengah meninggi. Hanya saya, Djantjuk, dan beberapa kawan yang menyambut pagi. Tapi, setelah yakin sunrise tidak gembira hari ini, kami kembali ke beruga masing-masing; melanjutkan tidur di ranjang besar yang empuk itu. Hingga tahu-tahu hari sudah sangat terang, dan waktu makan siang sudah datang.

Sunrise Beloam yang mendung tapi tetap memesona

Mengenai menu makanan di Beloam sendiri, para chef mengutamakan menu-menu masakan Indonesia. Appetizer yang biasanya diisi salad, berganti jadi urap. Pencuci mulut yang biasanya mungkin puding atau tart, diganti cendol. Sangat Indonesia, dan semuanya enak. Jadi bisa dibilang, pengalaman bersantap di Beloam selalu menyenangkan.

Begitu sore tiba, langit untunglah mulai cerah. Langit kembali biru. Awan-awan gemuk kembali cerah. Pantai di pelataran Beloam seperti menggoda untuk direnangi. Sebelum air pasang saat petang, kami meresap banyak-banyak cuaca sore yang cerah itu, dan air laut jernih yang ternyata tidak-dingin-tapi-juga-tidak-hangat-hangat-amat. Beberapa pasangan perjalanan–Ringgo dan Sabai, Ferry dan Pru, juga Ernanda dan Sese–memutuskan untuk mencoba berkayak dari Pantai Beloam ke pantai tersembunyi di sebelahnya. Karena ombak sesekali membesar, kayak sempat beberapa terbalik ketika dinakhodai Ringgo-Sabai.

Kayaking Jeeva Beloam

Sementara Djantjuk masih asyik mengambil gambar, saya mencoba bermain bodyboard tapi kesulitan. Ternyata, tidak mudah mengendalikan papan untuk tetap berada di tubuh kita. Saya sendiri juga tidak tahu persis bagaimana cara memainkan bodyboard, tapi coba dulu saja. Sampai akhirnya capek sendiri, lalu saya duduk-duduk saja di pinggir pantai, di tempat tubuh saya masih terkena debur ombak yang pelan-pelan. Hmmm, zen.

Zen Jeeva Beloam

Saya nikmati waktu zen itu sendiri, sampai tahu-tahu Djantjuk sudah selesai bekerja, menyimpan kameranya, kemudian ikut nyeburrr. Wohooo…

Pantai Beloam

Sore itu mungkin langit ikut senang karena kami semua senang dan sudah berkumpul di lautan. Maka, langit yang cerah itu mulai menyemburatkan sinar-sinar lembayung yang tipis, lalu pelan-pelan keemasan terang. Belum selesai sampai di situ. Ketika senja elok itu kami pikir adalah klimaksnya, tiba-tiba muncul dua pelangi di dua tempat yang berbeda sore itu. Satu di batas laut yang jauh di sana, tempat kami biasa memandang ke Pulau Sumbawa yang kelihatan samar. Satu lagi, tepat di atas Jeeva Beloam. Kami cuma bisa berwow-wow lewat kata-kata serta memuji-muji Tuhan masing-masing dalam hati. Oh, sungguh penutup hari yang indah.

***

Lagu The Weepies yang sayup-sayup terdengar dari laptop, membuyarkan mind-throwback saya ke Beloam. “I was made for sunny days, and I was made for you…

Panasnya Jakarta hari ini hampir sama dengan panasnya Beloam kala itu. Sebelum pikiran saya melayang lagi ke sana, saya sudahi dulu tulisan kali ini, ya. Esok saya update lagi, masih cerita dari Lombok Timur. Tepatnya, cerita tentang berkeliling ke beberapa titik ciamik di kawasan ini. Sampai jumpa!

 

Info Renjana:
Jeeva Beloam Beach Camp Resort
Alamat: Jalan Pantai Beloam, Tanjung Ringgit, Sekaroh I Jerowaru, Lombok Timur I Lombok, Indonesia
Telp: +62 (0) 370 693 035
Faksimili: +62 (0) 370 693 036
Website: www.jeevabeloam.com
Reservasi: camp.host@jeevabeloam.com
Harga: US$345/ malam, termasuk sarapan, makan siang, dan makan malam untuk dua orang per kamar; minuman-minuman, seperti kopi, teh, air putih, dan jus sepuasnya; antar-jemput bandara (minimum stay 2 hari); serta beragam aktivitas, seperti snorkeling, kayaking, soft trekking, dan bersepeda.

 

Foto-foto oleh Giri Prasetyo dan Astri Apriyani.

2 Comments Add yours

  1. Gara says:

    Ah, Beloam. Saya yang pernah lama di Lombok saja belum pernah ke situ :hihi. Meski tidak ke resortnya (itu mahal banget :haha), pantai-pantai Lombok Timur memang surga tersembunyi dalam artiannya yang paling asli :)).
    Keren!

  2. Akarui Cha says:

    Wah, indah sekali. Saya jadi kangen jalan-jalan lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s