Berendam Air Panas di Maribaya Hot Spring Resort, Mengingat Blue Lagoon

MARIBAYA, YANG TERMASUK DALAM WILAYAH LEMBANG, Jawa Barat, punya cerita-cerita klasik tentang asal-usulnya.

Setidaknya, ada 2 hingga 3 cerita berbeda di sana. Salah satunya adalah cerita seorang anak perempuan cantik bernama Maribaya yang memiliki ayah bernama Raksa Dinata yang ‘melahirkan’ sumber air panas yang mengandung belerang di Maribaya. Semua dilakukan si bapak untuk mengamankan Maribaya dari para pemuda yang mungkin akan memperebutkan anaknya.

Sumber air panas ini kemudian menjadi objek wisata yang dikelola oleh Eyang Raksa Dinata sejak 1835. Ketika ia meninggal, tempat tersebut diwariskan kepada Maribaya—sang anak—yang akhirnya juga menjadi nama tempat tersebut.

Maribaya sendiri dalam bahasa Sunda berasal dari kata mari berarti “sehat” dan baya berarti “bahagia”.

Banyak orang percaya, sumber air panas di Maribaya memang menyehatkan (mari). Sebab, air tersebut mengandung belerang yang dapat menyembuhkan beberapa penyakit. Sementara, untuk elemen baya, siapa juga tidak berbahagia jika merasa sehat?

 

SAYA DAN DUA SAHABAT PEREMPUAN—Tantri dan Echi—sejak pagi sudah memacu kendaraan dari Jakarta Selatan, menderu di atas aspal tol, menuju Bandung.

Kami berangkat hari Selasa. Yes, weekday, karena sudah bukan rahasia lagi, pergi ke Bandung saat weekend sama saja cari mati. Alias, selamat menikmati kemacetan panjang!

Jalanan sangat bersahabat hari ini. Tidak ada kemacetan yang berarti. Yang lebih mengkhawatirkan justru cuaca. Sejak pagi, langit mendung-terang tidak jelas mau ke mana arahnya. Beberapa kali gerimis, tapi kemudian cerah lagi. Dalam hati saya berpikir, agak kurang nyaman juga kalau berendam di pemandian air panas sembari kehujanan. Tidak cuma persoalan petir yang bisa tiba-tiba menyambar, tapi saya kurang sreg juga memproduksi foto wisata saat langit gelap dan hujan turun.

Akhirnya, kami memasuki wilayah Jawa Barat. Echi mengarahkan mobil keluar gerbang Tol Pasteur. Saya sempat ketiduran memang, tapi sudah mengecek waktu di jam tangan. Waktu tempuh Jakarta-Bandung saat weekdays sekitar 3 jam (belum termasuk waktu istirahat makan siang di rest area). Setelah memasuki Bandung, dengan bantuan Google Maps, kami menuju Maribaya Natural Hot Spring Resort.

Saya sempat beberapa kali bertanya via Whatsapp kepada kawan-kawan yang tinggal di Bandung soal tempat ini, tapi sebagian besar tidak ada yang tahu. Mereka malah sangsi, apa betul tempat itu menarik—membuat ragu argumentasi saya yang mengatakan tempat ini sepertinya menyenangkan.

Rupanya, tempat ini memang baru saja direnovasi. Penampilannya dirombak sedemikian rupa sehingga menjadi lebih apik, rapi, modern, dan tentu saja nyaman. Namanya pun berubah menjadi Maribaya Natural Hot Spring Resort and Waterfall. Kalau ini bukan hasil bertanya, tapi hasil googling.

Hari mulai siang. Lagu-lagu dari Spotify yang dipilih oleh Tantri masih menguar-nguar di mobil. Rata-rata lagu upbeat dan Top 40.

Google Maps mengarahkan kita ke kawasan Lembang; melewati Institut Teknologi Bandung, menyisiri Jalan Ir. H. Djuanda, lalu ke Jalan Dago Giri.

Mulai dari sini, jalan aspal mulai tidak halus (alias berkerikil-kerikil), berkelok-kelok, dan naik-turun. Hingga akhirnya, satu jam kemudian, kami membaca tulisan besar berwarna hijau dengan background kayu berwarna abu-abu gelap: Maribaya Natural Hot Spring Resort and Waterfall.

Gerimis tiba-tiba datang lagi. Saya, Tantri, dan Echi saling pandang. Tapi, lalu tetap menuju loket untuk membeli tiket masuk: Rp35 ribu/ orang (per September 2016).

“Tiket ini sudah termasuk air mineral yang bisa ditukar di food court sana, Mbak, (si penjaga loket menunjuk ke suatu area makan). Juga bisa ke air terjun sama pemandian air panas yang biasa.”

Kami mengangguk. Setelah menukarkan air mineral, kami masuk ke kawasan Maribaya. Area kedatangan tempat ini cukup mengesankan. Kami langsung disambut oleh jembatan kayu yang mengingatkan saya—entah kenapa—pada Jepang. Di bawah jembatan, air mengalir deras di sebuah sungai kecil. Warna airnya begitu jernih. Sementara, sungai tersebut berbatu-batu gelap. Melewati jembatan, kami melihat kembali nama tempat ini ditulis besar (kembali lagi) dengan warna hijau.

Saya menarik napas panjang, sampai rasanya sampai di pangkal napas. Udaranya segar. Hawa agak panas, tapi sedikit gerimis. Kami bertiga berjalan santai di kawasan Maribaya itu; melewati beberapa toko yang menjual suvenir, gazebo-gazebo well-design yang diperuntukkan bagi pengunjung saat makan, taman bermain anak-anak, kebun binatang mini, ayunan, air terjun, dan kafe di tepi air terjun bernama Twig Café.

Saya sangat tidak ingin membayangkan betapa ramainya tempat ini saat weekend. Saya cuma ingin bergembira hari ini, menikmati sepinya Maribaya Natural Hot Spring. Lalala…

This slideshow requires JavaScript.

SAYA MELIHAT KOLAM AIR PANAS berwarna toska jernih yang kosong. Di beberapa sudut, ada batang-batang bambu yang mengucurkan air ke dalam kolam. Mata saya berbinar. Kosong!

Di tepi kolam besar tersebut, ada kursi-kursi malas untuk berjemur atau untuk sekadar leyeh-leyeh setelah berendam.

“Silakan, Mbak. Pemandian air panas ini ada banyak macamnya. Mau yang biasa, yang besar ini. Ada juga yang VIP, di balik pagar bambu itu. Ada juga kamar rendam, hanya satu orang, dan indoor,” seorang perempuan penjaga loket menjelaskan.

Saya, Tantri, dan Echi kembali saling pandang. Lebih tepatnya menimbang-nimbang. Kamar rendam sungguh tak seru karena hanya bisa menikmati waktu rendam sendirian. Sementara, kolam besar ini—meskipun sepi—kok terlihat kotor karena ada bebatuan di tengah kolam.

Si pengurus pemandian, teman penjaga loket, kemudian mengajak kami melihat kolam rendam VIP. Hal yang pertama kali saya ingat adalah Blue Lagoon di Iceland—yang baru Februari lalu saya datangi. Warna airnya dan hangatnya senada. Hal kedua, kolam ini mengingatkan saya pada onsen di Jepang karena desainnya. Di tepi kolam, terdapat batu-batu yang menjadi pemanis kolam. Pagar-pagar bambu semakin mempertajam kesan kejepangannya. Akhirnya, kami memilih kolam VIP ini.

Untuk dapat menikmati berendam air panas di kolam VIP ini, kami perlu membayar Rp115 ribu/ orang. Harga itu sudah termasuk handuk, sabun, minuman hangat (pilihan bajigur, bandrek, atau teh), serta makan siang (menu pilihan: ayam bakar/ goreng atau ikan bakar/ goreng). Menurut saya, harga ini sudah sangat murah. Apalagi ditambah kita bisa berendam di kolam VIP itu tanpa batas.

Ruang ganti terletak sangat dekat dari kolam; praktis. Mereka juga punya loker dengan kunci untuk menyimpan barang-barang yang tidak kita perlukan saat berendam; aman.

Air panas di pemandian ini mengandung Natrium Bikarbonat dengan konsentrasi ion hidrogen PH 6,6-7,3. Mineral-mineral inilah yang bagus untuk kesehatan kulit. Suhu air di sini 45,1 derajat Celcius. Saya sendiri sempat kepanasan ketika baru pertama kali mencelupkan tubuh hanya sebatas paha. Pelan-pelan, saya merendamkan diri hingga ke dada. Setelah beberapa lama, air hangat ini seperti memijat tubuh tanpa diminta. Rasanya, rileks.

Memang, berendam di air hangat dapat meredakan rematik, radang otot, penyakit kulit, gangguan saraf, dan beberapa penyakit lainnya. Karena itu, berendam ini bagus dilakukan secara berkala. Tapi, ingat, ketika sedang berendam, minumlah cairan yang cukup. Sebab, jika dehidrasi saat berendam di air panas ini, kepala akan pusing.

Ahhh, trip mendadak ini sungguh worth it.

Sebetulnya, Maribaya Hot Spring Resort ini juga menawarkan penginapan dengan konsep glamour camping (glamping). Tapi, saya tidak sempat mencobanya. Mungkin lain kali. Yang jelas, tempat ini patut didatangi bagi orang-orang yang mencari destinasi wisata yang tidak jauh dari Jakarta. Atau, mereka yang membutuhkan relaksasi dengan berendam di air panas.

Informasi Lengkap:
Maribaya Natural Hot Spring
Jl. Maribaya No.105 / 212 Lembang, Bandung 40391
E-mail reservasi: reservation@maribaya-resort.com
Marketing: 081293735423/ Whatsapp 082214153019
Reservation: Mobile / Whatsapp 0821155667050

 

Objek wisata lain terdekat dari Maribaya Natural Hot Spring:
Lawangwangi Creative Space
Di sini, kita bisa melihat pameran-pameran menarik sekaligus merasakan sensasi bersantap di ketinggian (area indoor) ditemani oleh pemandangan hutan pinus serta kabut yang damai. Makanannya enak-enak!

Jln. Dago Giri No. 99A – 101, Mekarwangi, Bandung, Jawa Barat 40135
http://lawangwangi.com/
4,7 km (13 menit)

This slideshow requires JavaScript.

The Lodge Eartbound Adventure Park
Seluas 3 hektar, tempat ini memiliki fasilitas cukup beragam untuk ditawarkan. Kita bisa berkemah, outbond, berkuda, ataupun hanya sekadar ingin bersantap di alam terbuka memandang hutan pinus dan aliran sungai.

Jln. Maribaya Timur Km. 6 Kampung, Kosambi, Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391
5,1 km (17 menit)

Bukit Moko
Farm House Lembang
Selasar Soenaryo Art Space

3 Comments Add yours

  1. I’m gonna visit Maribaya this weekend. Any tips for solo traveler about this place?

    1. Atre says:

      Tips? Don’t visit this place on weekend.

      1. Wie says:

        Beneran jangan mengunjungi sewaktu weekend ya? Sangat ramai kah?😦 saya berencana mengunjungi maribaya ini saat pekan depan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s