Teriknya Bima Saat Musim Panas

CGK-DPS-BMU. Setelah sekitar tiga jam di udara dan sempat transit di Denpasar, saya dan Gemala Hanafiah (Al) tiba di Bima, NTB. Bandara kecil yang dinamai dengan nama sultan terakhir Kesultanan Bima, Sultan Muhammad Salahuddin, mengingatkan saya akan bandara di Labuan Bajo; Bandara Komodo Labuan Bajo; dengan  landasan pacu yang tidak terlalu luas dan sistem pengambilan bagasi yang masih manual.

Bandara Sultan Muhammad Salahuddin

Begitu tiba di pelataran bandara, hawa panas segera menelusup ke kulit, lalu pelan-pelan menular hingga ke seluruh tubuh. Kala itu Oktober, dan Indonesia di bagian tengah dan timur di bulan itu sedang kering-keringnya, termasuk Bima. Lebih panas ketimbang Surabaya, tapi masih lebih panas lagi Pekanbaru, IMO.

Saya dan beberapa orang; Al, Giri Prasetyo, Gilang Tama, Sukma Dede; merencanakan delapan hari dari sisa usia yang kami punya di Pulau Sumbawa. Kami ditemani beberapa orang lokal, yaitu Alvi, Dean, dan beberapa nama lain nantinya.

Bima, atau Tana Mbojo, adalah area pertama di Sumbawa yang kami akrabi. Kawasan di ujung timur Pulau Sumbawa ini adalah kota terbesar di Sumbawa. Kami menyewa dua Avanza dan satu Jeep Land Cruiser untuk jalan-jalan kami hari itu.

Jeep

Bima dikenal sebagai kota yang didominasi oleh penduduk bermata pencarian petani, peternak, dan pedagang. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan oleh sawah-sawah yang sedang istirahat, ladang-ladang garam dengan tumpukan garam yang putih berkilau-kilau di beberapa titiknya, dan pepohonan meranggas yang tanpa daun. Rasanya, kala itu, Bima begitu coklat, begitu kemerahan.

Bima dry season

Jelas berbeda dengan jalanan Jakarta, jalanan Bima yang beraspal mulus bebas dari kemacetan. Mobil hanya melintas jarang-jarang. Motor lebih dominan. Dan, jangan heran jika tiba-tiba macet terjadi karena banyak sapi atau kerbau yang main-main di tengah jalan, tidak mau menepi. Waktu seolah melambat di sini. Terik, sih, tapi menenangkan.

Bima macet

Memasuki senja, langit mulai kuning keemasan. Langit seperti senada dengan rumput-rumput yang sedang kecoklatan. Dan, bukit-bukit serta dataran tinggi yang mengelilingi Bima, kelihatan hanya bayangan, membentuk siluet yang abu-abu. Hari pertama tidak mengecewakan.

Selanjutnya: tahukah Anda, bahwa naskah kuno yang menuliskan detik demi detik letusan Tambora tersimpan di sebuah museum di Bima?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s