Siti Maryam Salahuddin, Pendiri Museum Samparaja

Dalam sebuah percakapan di dalam Land Cruiser tua yang berjalan, seorang lelaki dan seorang perempuan
mengelilingi Kota Bima, NTB, di siang hari yang saat itu terik sekali.

Kala itu bulan Oktober. Nusa Tenggara Barat rupanya sedang musim kemarau. Nadya, nama si perempuan, dan Joje si lelaki, semula membicarakan padang rumput di Bima yang berubah kecoklatan, pohon-pohon yang hanya menyisakan ranting sementara daun-daunnya sudah gugur karena kering, juga jalan beraspal yang mulus dan tanpa macet. Sampai akhirnya, karena sesuai mereka sedang berada di Bima, obrolan semakin serius. Joje menyebut nama Ibu Hj. Siti Maryam Salahuddin. Nama yang sangat disegani di Bima, mungkin juga di Indonesia.

Kota Bima sendiri dulunya merupakan pusat Kesultanan Bima. Jadi, lazim adanya jika banyak artefak, prasasti, dan manuskrip soal Kerajaan atau Kesultanan Bima di kota itu. Seperti prasasti misalnya. Ada dua prasasti yang bisa diliat di barat Teluk Bima; satu berbahasa Sansekerta, satu lagi Jawa Kuno.

Kesultanan Bima memiliki sebuah naskah kuno bernama Bo Sangaji Kai, yang berisi catatan sejarah Bima mulai dari abad 14. Bo Sangaji Kai dianggap sebagai dokumen sejarah Kesultanan Bima yang terpenting di antara Bo yang lain. Alasannya, beberapa Bo yang lain terbatas cerita soal masa pemerintahan seorang sultan saja. Sementara, Bo Sangaji Kai menceritakan segala peristiwa penting di Bima, mulai dari peperangan, silsilah sultan, hubungan Bima dengan kerajaan-kerajaan lain, perjanjian Bima dengan Belanda, sampai catatan detik demi detik terjadinya letusan Gunung Tambora pada 1815.

Bo Sangaji Kai adalah kitab penting. Kitab ini telah ditulis ulang ke bahasa Arab Melayu abad 19. Dan, baru-baru ini, kitab tersebut selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan dalam bentuk buku. Siapa lagi yang menerjemahkan kalau bukan Ibu Maryam. Ia menghabiskan waktu sampai 5 tahun untuk menerjemahkan naskah ini. Dan, naskah kuno Bo Sangaji Kai yang masih beraksara Arab-Melayu ada di Museum Samparaja.

Bo Sangaji Kai - atre

Ibu Hj. Siti Maryam Salahuddin adalah anak ketujuh (atau terakhir) dari sultan terakhir Kesultanan Bima, yaitu Sultan Muhammad Salahuddin. Sultan terakhir ini jugalah yang namanya diabadikan menjadi nama bandar udara utama di Bima.

Ibu Maryam yang lahir pada 13 Juni 1927 ini dikenal Bima tidak hanya karena statusnya sebagai puteri sultan. Ia sejak muda tekun melestarikan dan menjaga berbagai peninggalan Kesultanan Bima, mulai dari porselen hingga naskah kuno. Ia kemudian mendirikan Yayasan Museum Samparaja pada 1985, dilanjutkan pendirian Museum Samparaja pada 1995 sebagai wadah untuk menjaga koleksi-koleksinya yang kian lama kian banyak itu di museum bernama sama, Museum Samparaja. Museum ini berada di Jalan Gajah Mada, Bima. Letaknya tepat bersebelahan dengan rumah Ibu Maryam.

Joje akhirnya mengajak Nadya yang penasaran ke rumah Ibu Maryam. Mumpung mereka sedang di Bima. Mumpung Ibu Maryam sedang ada di Bima. Maklum, Ibu Maryam ini punya jadwal padat. Di usia senjanya, ia masih aktif menjadi pembicara di berbagai forum diskusi. Ia juga kerap diundang dalam acara-acara yang berkaitan dengan sejarah Bima. Maka, ia secara kontinu beperjalanan dari satu kota ke kota lain, mulai dari Mataram, Bandung, juga Jakarta.

Joje mengetuk pintu rumah Ibu Maryam, sementara Nadya berdebar-debar gugup di belakang Joje. Ibu Maryam dengan senyum sumringah di wajahnya yang banyak berkeriput tapi masih cantik dan jilbab abu-abu sederhana, membuka pintu.

Masuk usia 87 tahun, Ibu Maryam masih bugar. Pendengarannya masih awas. Penglihatannya masih wajar, meski kacamata plus bertengger di hidungnya. Tubuhnya kecil, tapi pelukannya hangat. Ia ucapkan selamat datang di Bima, dan mempersilakan saya masuk ke ruang tamunya yang penuh lemari berisi penuh buku.

Ibu Maryam bilang sudah senang membaca sejak kecil. Ia cerita, dulu waktu remaja, ia sempat harus berhenti sekolah karena perang pecah. Waktu itu ia sekolah SMA di Malang. Ia pun kembali ke Bima. Menggantikan belajar di sekolah, ia meminta buku-buku yang banyak sekali kepada ayahnya, Sultan Muhammad Salahuddin, sultan terakhir Bima. Ia tidak melanjutkan sekolah lagi. Menurut tradisi Bima, perempuan yang sudah beranjak dewasa tidak boleh lagi sekolah. Hingga akhirnya, ia diperbolehkan sekolah lagi dan berangkat ke Jakarta untuk sekolah di SMAN Boedi Oetomo lalu lanjut ke Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ia juga telah menyelesaikan pendidikan doktor di bidang filologi di Universitas Padjajaran Bandung. Ia juga bekerja di Departemen Luar Negeri. Ia juga sempat menjadi anggota MPR/DPR RI.

Di lemari itu, beragam buku tersusun rapi di sana, mulai dari buku lawas yang masih bersampul kulit tentang Bima, sampai buku baru tentang sejarah. Uniknya, kebanyakan bukunya itu berbahasa asing, entah Inggris atau Belanda–meski di antaranya juga terselip buku-buku berbahasa Indonesia bahkan Arab-Melayu. Kini, Ibu Maryam menguasai banyak bahasa, mulai dari Inggris, Belanda, Prancis, Jepang, dan tentu saja Arab. Belakangan, ia sedang mempelajari aksara Bima, untuk kemudian menerbitkan buku tentang itu pada 2013.

Ibu Maryam kemudian pamit ke belakang sebentar. Langkahnya masih gesit. Tidak lama, ia kembali lagi dan membawa buku besar bersampul kulit yang sudah lusuh. Itu adalah Bo Sangaji Kai. Nadya dan Joje terpesona. Ibu Maryam membuka naskah kuno yang besar itu di hadapan Joje dan Nadya. Ini adalah naskah versi yang sudah ditulis ulang di abad 19, katanya. Aksaranya masih Arab-Melayu. Kertasnya adalah kertas Eropa yang tebal dan bertekstur khas. Di beberapa halaman, ada bagian yang pudar dan tidak terbaca.

Kitab babon Bo Sangaji Kai beraksara kuno Bima yang ditulis di atas daun lontar. Baru pada abad 19, kitab ini selanjutnya ditulis di kertas dengan aksara Arab-Melayu.

Ibu Maryam menceritakan proses penerjemahan naskah ini yang sampai 5 tahun. Semakin ia tua, ia semakin tidak punya stamina sekuat dulu untuk duduk berlama-lama menerjemahkan naskah ini. Lima tahun itu waktu penerjemahan ditambah dengan waktu rehat ia yang sibuk, juga sulitnya menerjemahkan bagian-bagian yang sulit terbaca. Hingga akhirnya, naskah ini selesai dan dirilis Yayasan Obor Indonesia dalam bentuk buku setebal 642 halaman pada 1999.

Bo Sangaji Kai Yayasan Obor - atre

Ibu Maryam memang digadang-gadang sebagai budayawan Bima yang memahami sejarah Kesultanan Bima. Tidak hanya karena ia keturunan langsung kesultanan tersebut, tapi karena ia juga mempelajarinya. Ia menerbitkan banyak buku tentang sejarah Bima, seperti Pemerintahan Adat Kesultanan Bima (1992) dan Katalog Naskah Bima (2007).

Meski banyak yang mengatakan bahwa ia satu-satunya orang yang memahami bahasa Bima, Ibu Maryam berupaya merendah dan mengatakan bahwa ia juga masih belajar. Bahasa Bima itu diakuinya sulit. Di Bo Sangaji Kai, ia juga menemukan bahasa Bima yang sempat tidak ia kenali. Ia semula mengira itu adalah bahasa Bugis, tapi ketika ia berkomunikasi dengan peneliti bahasa Bugis berkebangsaan asing dan peneliti itu memastikan itu bukan bahasa Bugis, Ibu Maryam kembali mencari dan menemukan bahwa itulah bahasa Bima.

Nadya dan Joje terkagum-kagum melihat kerja keras Ibu Maryam untuk Bima. Dan turut bersedih pula ketika Ibu Maryam berbagi kisah bahwa masih sedikit sekali orang yang peduli akan sejarah Bima. Itu terlihat dari sedikitnya orang yang belajar tentang sejarah Bima. Kondisi Museum Samparaja juga seolah telantar. Ibu Maryam kesulitan merawat museum itu sendirian. Ia juga mengakui kekurangan dana untuk pemeliharaan bangunan dan perawatan koleksi-koleksi di museum itu.

Semoga akan ada penerus Ibu Maryam yang peduli pada sejarah dan budaya Bima, terutama naskah-naskah kuno yang bernilai historis tinggi. Dan, kelestarian budaya Bima tetap terjaga.

Land Cruiser kembali menderu di atas aspal Bima yang panas. Langit sudah mulai menjingga. Tapi, Nadya dan Joje sibuk dengan pikiran masing-masing, terutama tentang betapa konsistensi dan passion seorang manusia mampu membuat dunia lebih baik.

Ibu Siti Maryam Salahuddin dan Atre

 

 

Info Renjana:
Museum Samparaja
Alamat:
Jalan Gajah Mada 1, Bima, Nusa Tenggara Barat
Telp.: +62 374 420-10
Jam Buka: Selasa-Kamis mulai pukul 08.00-14.00 WITA, Jumat pukul 08.00-11.00 WITA, Sabtu-Minggu pukul 08.00-14.00 WITA (Senin dan hari libur nasional tutup)
HTM: Gratis

One Comment Add yours

  1. ts47 says:

    Reblogged this on ts47 and commented:
    mba bisa minta kontaknya ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s